Romansa Rhoma

Romansa Rhoma

Perjalanannya sangat biasa saja, tapi lagu-lagu yang diputar di sebuah elf tua
berhasil membawa saya kembali ke masa lalu.

Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan

Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi…

Saya yang tadinya mau tidur, tersentak mendengar syair-syair lagu ini. Apakah ini déjà vu? Rasanya saya pernah mendengar lagu ini ketika saya naik elf jurusan Kalideres-Mauk saat hendak ke Pulau Laki, beberapa bulan lalu. Kok sekarang saya mendengar lagu itu lagi? Jangan-jangan saya… naik elf yang sama?

Saya jadi tak bisa tidur setelah mendengar lagu Pertemuan ini. Bukan karena syairnya klop dengan apa yang akan saya alami – bertemu lagi dengan Ella dalam trip ke Pulau Lancang kali ini. Namun karena lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama dan Nur Halimah ini (sumpah, saya sampai nyari-nyari di Google, Youtube, dan juga ke toko musik supaya tahu nama penyanyi wanitanya) merupakan lagu klasik yang sudah saya dengar di akhir era 80-an, sewaktu saya masih tinggal di desa saya di Brebes, Jawa Tengah, dan juga di dekade berikutnya ketika naik angkot ataupun naik bus antar-kota jurusan Semarang-Tegal sewaktu saya masih kuliah di Undip.

Elf yang saya tumpangi – full lagu-lagu Bang Rhoma.

Dulu, saat naik bus dan melewati daerah seperti Weleri, Kaliwungu, atau Pekalongan, dan mendengar lagu ini, entah kenapa, rasanya klop sekali dengan suasana yang tergambar di kiri-kanan jalan. Suasana kota kecil yang damai dan tenang, dengan dokar, becak, pasar, serta para pedagang kaki lima berjejeran di trotoar. Salah satunya pedagang kaset yang menarik perhatian pembeli dengan memutar lagu-lagu seperti Pertemuan ini.

Bagi para backpacker yang sering menjelajahi pelosok Jawa, pasti juga sering mendengar lagu-lagu dangdut jadul seperti ini diputar di dalam angkot ataupun angkutan pedesaan. Dan anehnya kok ya sampai sekarang, sudah bertahun-tahun lewat, bahkan sudah ganti milenium, lagu itu masih saja diputar, bahkan di pinggiran Jakarta ini! Apakah karena lagu-lagu itu sesuai dengan tipikal orang Jawa yang masih suka terbuai dengan romantisme masa lalu, ataukah sekadar pertanda bahwa lagu-lagu dangdut lama ini memang timeless dan lebih baik mutunya dibanding lagu-lagu yang lebih baru.

Lagu yang mellow dan romantis ini juga seperti menjadi penawar kecewa saya, yang baru berangkat dari Terminal Bus Kalideres pukul 8 pagi, padahal saya sudah janjian mau ketemu Ella –dan juga Marley dan Bolang– di perempatan Mauk pukul 9. Sementara, waktu tempuh Kalideres-Mauk sekitar 1,5 jam. Itu kalau elf berjalan cepat. Sayangnya, kali ini elf berjalan pelan sekali, mungkin dengan kecepatan 10 kilometer per jam. Sang supir tampaknya ikut terbuai oleh lagu yang diputarnya sendiri, sampai dia lupa menginjak pedal gas! Kalau saya lihat wajahnya yang kalem dan sabar, sepertinya dia orang Jawa. Jangan-jangan aslinya dari Kaliwungu! Oke lah, demi Bang Rhoma Irama dan kenangan masa lalu, dia saya maafkan. Biasanya sih pasti saya sudah teriak, “Mas! Bisa cepet dikit nggak!?”

[Kalau di Brebes, sindiran untuk angkot atau angkudes yang berjalan pelan sekali –karena mencari penumpang– biasanya lebih kasar lagi. Begini: “Mas, ini angkot apa katil!” Katil itu keranda orang mati, yang digotong oleh empat orang. Jadi, seperti katil artinya jalannya pelan sekali, sama dengan berjalan kaki biasa!]

Elf baru mulai berjalan cepat setelah melewati Penjara Wanita Tangerang. Saya, tentu saja, tidak mengerti apa hubungannya.

Rute elf Kalideres-Mauk yang saya jalani.

Sepertinya, lagu-lagu yang diputar dari CD dan dilantunkan melalui dua speaker yang sudah ditempeli stiker Michelin dan Repsol itu karya Bang Haji semua. Terutama, yang berpasangan dengan Nur Halimah atau Riza Umami. Tidak ada satu lagu pun yang merupakan duet Bang Haji dengan Rita Sugiarto atau Elvy Sukaesih, pasangan nyanyi sebelumnya.

Setelah lagu Pertemuan, lagu berikutnya berjudul Bahtera Cinta. Syair awalnya begini:

Beredar sang bumi
Mengitari matahari
Merangkaikan waktu
Tahun-tahun berlalu
 
Namun cintaku takkan pernah berubah
Masa demi masa
Kita berdua takkan pernah berpisah
Baur dalam cinta…

Aduh, duh, saya jadi mulai klepek-klepek deh mendengar lagu ini. Syair dan ritmenya itu lho, yang romantis banget. Mungkin Bang Haji memang romantis ya, secara dia akhirnya juga menikah tiga kali, hihihi!

Lagu berikutnya lagi, Tergila-gila, dinyanyikan oleh Nur Halimah:

Siapa yang tak tergila-gila
Wanita kepadanya
Bagaimana tak tergila-gila
Diriku kepadanya

Aduhai matanya, hidungnya, bibirnya
Sungguh teramat indah
Aduh pandangannya, senyumnya, gayanya
Sungguh penuh pesona…

Wahaha! Saya sampai harus menutup mulut untuk menahan tawa saat mendengar lagu ini. Ternyata wanita juga bisa ekspresif ya dalam mengungkapkan kekagumannya kepada pria. Well, mungkin sih ini Bang Haji saja yang ge-er dengan dirinya sendiri. Toh dia yang menciptakan lagu itu, hanya saja yang menyanyikan pasangan duetnya!

Lagu selanjutnya, Segalanya Bagiku, dinyanyikan Bang Haji:

Indahnya bulan
Tak seindah wajahmu
Manisnya madu
Tak semanis senyummu
 
Engkaulah Sayang
Segalanya bagiku
Engkaulah Sayang
Pelitanya hidupku…

Hihihi, ini kan sebenarnya lagu jadul banget. Saya tahu, ini lagu zamannya ketika Bang Haji masih berduet dengan Elvy Sukaesih, duluuu… sekali, ketika saya masih SD. Tapi sepertinya disisipkan ke album ini karena sama-sama mellow dan romantisnya.

Lagu selanjutnya, Antara Teman dan Kasih, dinyanyikan Riza Umami:

Kunanti lama kunanti
Datangmu duhai kekasih
Sungguh lamaku menanti
Berhari berbulan tahun berganti
 
Betapa hati kecewa
Setelah kita berjumpa
Sungguh hatiku kecewa
Karena kini kau telah berdua…

Hihihi, dilematis banget ya. Tapi karena cara menyanyikannya sedih sekali, saya tak bisa tertawa. Kalau nggak salah -sekali lagi, kalau nggak salah- ini soundtrack dari film Perjuangan dan Doa. Nggak tau deh, benar atau tidak. Lhah orang filmnya saja dah jadul banget, sampai saya lupa kapan pernah menontonnya. Yang jelas waktu masih di desa, di Brebes sana.

Setelah lagu ini, saya tak bisa lagi menahan kantuk. Apalagi angin semilir menerobos dari pintu elf, ditambah melihat pemandangan di sisi kiri dengan sawah-sawah dengan padi hijau menguning terhampar. Saya pun terlelap.

“Mauk, Mauk!” Terdengar teriakan sang kondektur. Elf sedikit terguncang-guncang akibat banyaknya lubang jalan. Saya pun terbangun dari tidur tanpa mimpi.

Oh, sepertinya hampir sampai. Saya lihat jam handphone, pukul 10 lebih 5 menit! Berarti saya sudah dua jam di dalam elf. Benar-benar lambat.

Tapi yang hampir membuat saya terpingkal, speaker di elf ini masih saja mendendangkan lagu-lagu Rhoma Irama! Sampai menjelang turun di perempatan Mauk, saya masih sempat mendengarkan dua lagu lagi. Salah satunya lagu yang berjudul Istri Salehah, dinyanyikan Bang Haji:

Setiap keindahan
Yang tampak oleh mata
Itulah keindahan
Perhiasan dunia
 
Namun yang paling indah
Di antara semua
Hanya istri salehah
Istri yang salehah…

Bisa saja nih Bang Haji bikin lagu, pikir saya. Saya pun turun dari elf begitu tiba di perempatan dengan sebuah tugu di tengahnya. Orang Mauk menyebutnya Tugu Monas. Ella, Marley, dan Bolang sudah sampai lebih dulu, dan kini sudah menunggu saya di Tanjung Kait, 4 kilometer utara Mauk, tempat kami nanti akan menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Lancang.

Elf yang saya tumpangi tadi membelok ke kiri, meneruskan perjalanan ke Kronjo, meninggalkan lantunan suara Bang Haji yang makin lama makin menghilang. Saya pun segera naik ojek. Namun, di sepanjang perjalanan, ketika sudah di Pulau Lancang, bahkan hingga pulang ke rumah, di pikiran saya masih saja terngiang-ngiang syair lagu Pertemuan yang saya dengar pertama tadi.

Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan…. [T]

Catatan:
Foto utama artikel ini diambil dari sini: https://www.youtube.com/watch?v=GPnI5mD_9es

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
Pria ‘Telatan’ di Bangkok

Pria ‘Telatan’ di Bangkok

Come on, move pleaseee!

Sudah menjadi rahasia umum, orang Indonesia itu sukanya telat alias tidak tepat waktu. Entah itu telat memulai konferensi pers, telat datang ke pesta, telat ikut ini-itu, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak cuma saat berurusan dengan sesama orang Indonesia sendiri, tapi yang lebih memalukan, juga saat berurusan dengan orang-orang dari negara lain.

Sudah tentu, saya, berusaha menghapus kesan suka telat itu sebisa mungkin. Meski, ternyata, akhirnya saya masuk juga ‘menjadi bagian’ dari orang-orang yang telat itu! Tiga kali malah, dan semuanya terjadi saat di Bangkok, saat saya mengikuti event internasional tentang travel and tourism!

Jangan keburu sewot dulu. Baiklah saya jelaskan sebab-musababnya kenapa saya sendiri sampai mengalami hal yang memalukan itu sampai tiga kali.

Pertama saat mengikuti Thailand Travel Mart (TTM). Di samping diundang untuk melihat pameran wisata dan produk-produk Thailand, para undangan dari berbagai negara -termasuk saya- mendapat juga complimentary tour ke Chachoengsao, kira-kira 2 jam perjalanan ke timur dari Bangkok, lalu nanti ke Chiang Mai dan Chiang Rai, di Thailand Utara.

Gimana nggak betah kalau bisa klubing sambil tiduran di Bed Supperclub – Dok. Bed Supperclub.

Nah, masalah terjadi ketika hendak ke Chachoengsao. Malam sebelumnya, sewaktu pulang dari acara TTM, saya sudah diwanti-wanti Ms. Liem, tour guide kami, untuk sudah duduk manis di bus yang menunggu di depan hotel, tepat pukul 8 pagi. Tentunya bersama para peserta tur yang lain. Tapi, dasar baru pertama kali ke Bangkok, habis pulang dari TTM itu -baru pukul 10 malam- saya gunakan untuk pergi ke Bed Supperclub. Apa lagi, kalau bukan… liputan! (Bener loh, liputan. Tulisan tentang klub ini kemudian masuk di sebuah inflight magazine).

Yeah, saya enjoy sekali di klub ini, hingga baru pulang ke hotel ketika klub sudah tutup, yakni… pukul 2 pagi! Sebelum tidur, pukul 3 pagi, saya set alarm handphone ke pukul 5.

Perasaan, saya mematikan alarm handphone itu ketika berbunyi. Tapi kemudian saya… tidur lagi! Saya terbangun lagi oleh bunyi telepon di kamar.

“Pak Teguh, Anda sudah ditunggu di bus, sekarang juga!” suara Ms. Lim di ujung sana terdengar tegas.

Saya gelagapan. Saya lihat jam, ternyata sudah pukul 8.15! Mati deh saya. “Ok, sebentar, saya mandi dulu,” kata saya.

“Tidak usah, langsung turun saja sekarang, atau Anda kami tinggal!”

Oops, kalau saya sampai ditinggal, bagaimana reputasi saya dong. Secepat kilat saya cuci muka dan menyikat gigi sekadarnya, terus langsung turun. Kaos, celana, semuanya tidak sempat saya ganti. Jadi yang nempel di badan ya yang saya pakai semalam, dan juga saya pakai tidur.

Ms. Lim berdiri di dekat pintu bus, dan begitu saya melihatnya, saya pun ngeles. “Aduh maaf sekali, tadi malam saya liputan ke Bed Supperclub sampai pukul 2…”

Mungkin karena melihat muka saya yang kusut masai, Ms. Lim jadi nggak tega marah. Begitu saya masuk bus, dia mewakili saya minta maaf ke para peserta tur lain yang sudah cembetut. Dia bilang, “Mohon bisa dimaafkan, salah satu teman kita ini bangun kesiangan karena dia terlalu bersemangat meliput tentang Bangkok untuk majalahnya.” Yesss! Thanks Ma’am!

Sampai siang itu saya tidak mandi. Saya baru bisa mandi setelah mengunjungi Rainbow Arokaya Resort & Spa di Chachoengsao, setelah mencoba fasilitas dome spa (saya mesti naked, terus selonjor di dalam tabung yang berfungsi sebagai alat sauna). Karena keringetan banget, tentu saja ini alasan yang bagus untuk mandi, hehehe!

Telat yang kedua dan ketiga (!) terjadi lagi di waktu berikutnya, ketika saya diundang untuk menerima penghargaan Friends of Thai. Saya, bersama para penerima award dari negara-negara ASEAN, dijadwalkan untuk dinner dengan direktur Tourism Authority of Thailand (TAT) untuk kawasan ASEAN, Mrs. J, pukul 6 petang. Dari Indonesia sendiri ada dua penerima, saya dan Pak W dari sebuah budget airline. Dinner-nya di mana, nah ini yang belum jelas. Saya cuma dibilangin oleh panitianya, “Pukul 6 harus sudah di lobi bawah ya!”

Lobi utama Centara Grand Hotel Bangkok. Lobi kedua ada di lantai 23 – Dok, Grand Centara.

Saya menginap di Centara Grand Hotel, tepat di samping Centralworld, Ratchaprasong, Bangkok. Hotelnya keren dan menjulang tinggi sekali. Saya diberi tahu, lobinya ada 2, yakni di lantai dasar dan lantai 23 (Sky Lobby). Di lantai 1, lantai 23, 24, dan lantai 55 juga ada restoran-restoran. Saya sendiri menginap di lantai 41, sementara teman saya di lantai 39.

Hmm, mungkin karena keasyikan memotret kota Bangkok dari kamar hotel, saya baru mandi setelah pukul 6. Saya SMS Pak W, dia bilang dia juga baru mau turun ke lantai 1. Masih ada teman sesama telat nih, pikir saya.

Begitu turun ke lantai 1, ternyata sudah tidak ada siapa-siapa, termasuk panitia yang menyambut saya tadi. Oleh resepsionis saya disarankan ke lobi atas, di lantai 23, siapa tahu dinner-nya di lantai itu. Saya ke lantai 23, kata waitress di situ dibilang, dinner-nya di lantai 24, di Ginger Restaurant. Saya pun ke sana.

Memang benar, ada dinner di lantai 24, diadakan TAT juga, tapi ternyata itu… untuk rombongan dari Jepang dan Asia Timur! Untung Mr. N, salah seorang panitia dari TAT, ada di situ, dan dia menjelaskan ke seorang waiter, untuk mengantar saya ke Centralworld, karena dinner untuk rombongan dari ASEAN diadakan di sana. Dia menyebutkan nama restorannya -yang tidak terlalu jelas saya dengar- di lantai 6.

Saya dibawa si waiter, seorang pemuda yang masih culun dan katanya baru bekerja di situ, ke lantai 7. Ternyata dari situ ada pintu penghubung ke Centralworld, meski harus melewati tempat parkir. Setelah melewati sebuah supermarket dan foodcourt, langkah kami terhadang oleh keramaian pengunjung yang tengah mengelu-elukan seorang bintang film Thailand. Maklum, saat itu di Centralworld tengah menjadi pusat pemutaran film untuk Bangkok International Film Festival. Kami pun memutar, dan turun ke lantai 6.

Ternyata tidak mudah juga mencari restoran itu, karena seluruh lantai ini merupakan tempat berlokasinya semua restoran di Centralworld. Dan Centralworld sendiri mengklaim sebagai mal paling besar se-Asia Tenggara dan Hong Kong. Jadi bisa dibayangkan besarnya.

Setelah ngos-ngosan, kami akhirnya sampai ke restoran yang dicari si waiter (sampai sekarang saya masih lupa nama resto itu!). Tapi, setelah sampai, kok tidak ada satu pun pengunjung yang saya kenal? Pak W yang saya telepon, teleponnya nggak diangkat-angkat. Waduh, celaka deh.

Akhirnya kami balik lagi ke Centara yang di lantai 24 itu, ke Mr. N. Kali ini melalui lantai dasar mal, dan setelah keluar, kami masuk ke Centara melalui lobi lantai dasar. Mr. N tampak merasa kasihan ke saya -atau mungkin kesal- lalu dia menelepon seorang panitia temannya yang kebetulan ikut dinner di Centralworld itu. Si waiter tadi, meski tak berhasil menunjukkan saya ke restoran yang ‘benar’, saya kasih tip juga 100 baht.

Si panitia teman Mr. N akhirnya datang, dan saya diajaknya melalui rute yang diambil si waiter tadi waktu pulang: keluar dari lobi di lantai 1, terus nyebrang ke Centralworld, terus naik tangga berjalan mulai dari lantai 1 sampai lantai 6, dan akhirnya kami sampai di… restoran yang tadi!

Hiks! Ternyata grup dinner kami menempati tempat di pojok, yang tidak kelihatan dari bagian lain resto. Piring-piring sebagian sudah kosong dan orang-orang sibuk makan. Untung beberapa orang saja yang heran melihat saya baru nongol belakangan. Mrs. J, sang direktur TAT yang mengundang dinner, tergopoh-gopoh menghampiri saya dengan wajah cemas.

“Aduh, Teguh, kamu dari mana saja? Ayo, makan, makan. Mana tom yam-nya? Teguh, kamu mau wine?” Dia bukannya marah, tapi malah berusaha menyenang-nyenangkan saya. Wah, saya salut sekali sama beliau.

Tapi cerita ini belum selesai.

Besok siangnya, kami mesti menghadiri acara Friends of Thai Award di Centralworld Ballroom di lantai 22. Acaranya pukul 4 sampai 8 petang, tapi kami diharapkan hadir di ballroom ini pukul 3.15 untuk gladi resik. Karena pagi tidak ada acara, alias waktu bebas, saya gunakan untuk memotret-motret sistem transportasi kanal air di Bangkok, lalu ke Grand Palace. Well, saya sudah beberapa kali ke Bangkok, tapi belum pernah juga ke sini. Padahal menurut pameo, “Jangan bilang sudah pernah ke Bangkok kalau belum ke Grand Palace”. Jadi ya, kali ini harus mampir.

Kompleks Grand Palace yang megah dan luas.

Dan memang benar, saya akan menyesal kalau tidak mampir ke sini. Sebab ternyata istananya sungguh keren dan cantik. Benar-benar surga buat fotografer. Setiap sudut seperti harus dipotret!

Meski begitu, saya tak lupa kapan harus ‘cabut’ dari istana ini. Begitu alarm handphone saya berbunyi pas pukul 2 siang, saya pun langsung keluar kompleks istana, dan mencari angkutan umum. Waktu satu jam paling cukup untuk sampai ke hotel, pikir saya.

Tapi saya kemudian melakukan kesalahan fatal. Saya seharusnya berjalan kaki dulu ke barat kira-kira 200 meter dari benteng istana, menuju pier Tha Chang. Dari sini saya bisa naik perahu menuju Central Pier, terus nyambung naik skytrain ke stasiun Siam Central atau Chitlom, yang tak jauh dari Centara Grand Hotel. Tapi siang itu panas sekali, dan jarak 200 meter sepertinya jauh banget, jadi saya langsung menyetop taksi.

Istana-istana di Grand Palace dengan lengkung khas Thailand yang unik.

Masalah mulai timbul, karena baru sekitar 1 kilometer bergerak, jalanan macet. Tampaknya si supir mengambil rute melewati Chinatown, yang di hari Minggu ini banyak orang berbelanja. Baru berjalan berapa meter, berhenti. Jalan lagi, berhenti lagi. Banyak lampu merah juga sih di sini.

Saya mulai gelisah. Tapi yang tambah bikin jengkel, si supir itu memakai setiap kesempatan saat macet untuk… mencabut uban. Tentu saja ubannya sendiri, huhuhuu!

“Ayo, jalan!” kata saya setiap kali dia telat menginjak pedal gas saat lampu sudah hijau, gara-gara aktivitasnya itu. Begitu terus di setiap lampu merah. Stiker ‘Allah is One’ di dekat spion ternyata tak membantu saya untuk merayunya supaya lebih cepat, karena ternyata dia bukan muslim. “Jadi kenapa pasang stiker itu?” tanya saya.

“Oh, itu stiker dari supir yang sebelum saya,” jawabnya sambil lagi-lagi mencabut uban.

Dari jauh saya melihat Baiyoke Tower, yang tak jauh letaknya dari Centara Grand. Saya sedikit tenang, karena sebentar lagi pasti sampai. Namun kemudian dia mengambil rute lain, dan kali ini bayangan Baiyoke Tower itu lenyap dari pandangan. Walah, mau dibawa ke mana nih saya?

Mestinya saya pakai perahu di Chao Phraya ini supaya cepat sampai.

Entah mungkin karena memang ada verboden atau bagaimana, si supir mengambil jalan memutar, lalu dia mau masuk ke jalan layang. Di sini dia kena batunya, karena dihentikan oleh seorang polisi. Baru kemudian saya tahu, ternyata polisi Bangkok bisa disuap juga. Karena begitu si supir memberi selembar uang -kayaknya cuma 20 baht atau Rp 8.000- taksi pun bisa kembali melaju.

Kali ini saya bisa melihat Baiyoke dan Centara dari atas. Ups, ternyata masih jauh, di sebelah kiri sana! Aduh mak, pasti telat nih saya! Mana sudah pukul 3.15 lagi.

Taksi kini melewati perempatan Ploenchit, lalu belok kiri. Tinggal dua perempatan lagi nih, yakni perempatan Chitlom, lalu Ratchaprasong, sebelum kemudian saya belok kanan sedikit dan sampai.

Tapi, ya ampun, di perempatan Chitlom saja macet sekali! Dari tadi kendaraan tidak bisa bergerak. Padahal ini sudah pukul 4! Mau turun, tanggung. Tidak turun, tapi kok ya sebenarnya sudah dekat juga dengan stasiun skytrain di mana saya bisa naik kereta dan turun di Siam Center lalu jalan kaki. (Catatan: kalau memakai cara ini, kemudian saya tahu ternyata memakan waktu yang cukup lama. Dari Siam Center ke Centara Grand mesti jalan kaki melewati jembatan penyeberangan yang jauhnya melebihi jembatan busway dari depan Atmajaya sampai Komdak, Jakarta, lalu melewati Centralworld).

Kawasan Chinatown Bangkok yang sibuk karena banyak orang berbelanja.

Saya SMS Pak W mengabarkan kalau saya telat, eh, tidak dijawab juga sama dia. Seharusnya dalam keadaan begini, dia balas kek, untuk sedikit menghibur saya…

Lagi-lagi, si supir melakukan kebiasaan buruknya, mencabut uban. Makanya begitu lampu menyala hijau, dia saya bentak, “Come on, move pleaseee!”

Si supir kini mulai ikut jengkel. “Iya, iya, sabar! Macet tuh!” Mungkin begitu perkataannya kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Begitu melewati samping Centralworld dan macet, saya bayar taksi, 170 baht, lalu saya langsung keluar meski taksi masih di jalanan. Setengah berlari saya memasuki Centralworld. Berdasarkan pengalaman kesasar tadi malam, saya bisa tahu jalan cepat menuju Centara Grand.

Baru saja masuk kamar hotel, telepon berdering. Ternyata dari Mrs. J, direktur TAT ASEAN itu!

“Aduh, Teguh, kamu ke mana saja? Cuma kamu dan Pak W saja loh yang tidak ikut gladi resik! Ayo kamu ke sini, saya tunggu buat foto-foto!”

Oh, sialan, ternyata Pak W telat juga toh! Makanya dia gak balas SMS saya. Huasyeeem!

Saya baru datang ke tempat acara pukul 5 sore. Gladi resik sudah selesai, tapi acara resminya sendiri belum dimulai. Lagi-lagi, Mrs. J tidak marah kepada saya. Thanks Ma’am!

Jadi, kesimpulannya, apakah memang benar orang Indonesia selalu telat? Anda bisa jawab sendiri. Janji deh, lain waktu kalau ke Bangkok lagi saya nggak akan telat-telat. [T]

Posted by Teguh Sudarisman in Tempting Neighbors, Weekend Trips, 6 comments
Surga Baru di Sisi Barat Bromo

Surga Baru di Sisi Barat Bromo

Bagi yang suka treking maupun berburu foto-foto keren, sisi barat Bromo adalah surga yang menanti untuk dijelajahi. Jangankan turis, petualang pun jarang yang ke sini.

Tulang pipi saya mendadak terasa membeku, dan saya mesti merapatkan lagi penutup kepala dan syal yang telah bergeser akibat terpaan angin dini hari dan juga guncangan motor yang disetiri Mas Suwik, yang melaju di jalan tanah berdebu. Seluruh badan saya tertutup rapat, hanya segaris mata saja yang tersisa untuk mencoba mengamati apa yang ada di sekeliling. Namun yang saya temui hanya gelap pekat dinding bukit di sisi kiri, dan rerimbunan pohon yang memagari jalan yang hanya cukup untuk satu sepeda motor ini dari jurang yang dalam di sisi kanan. Satu-satunya hiburan pemandangan hanyalah jalur jalan setapak di depan yang tersorot lampu sepeda motor, dengan debu-debunya yang sepertinya sudah beterbangan lebih dulu sebelum roda motor kami sampai. Tonggeret dan serangga-serangga malam lainnya masih ramai bernyanyi, seperti tak terusik oleh deru motor kami.

Jalan Belanda, dengan Gunung Batok yang membayang seperti lukisan di kejauhan.

Saya, yang membonceng Mas Suwik tak bisa membayangkan tiga motor lain di belakang kami yang berjalan berurutan, mengirup debu yang ditimbulkan motor kami. Sekarang memang bulan Juli, dan musim kering sepertinya hampir berada di puncaknya. Tapi sepertinya bagi mereka hal itu sudah biasa karena saya dengar mereka bermotor sambil bercakap-cakap.

Kami dalam perjalanan dari Desa Ngadas Kidul menuju Pertigaan Samad, di mana dari titik itu nanti kami akan melanjutkan dengan treking berjalan kaki, menyusuri pinggiran tebing patahan bukit di sisi barat Bromo. Yang akan treking empat orang, yaitu saya, teman saya Donny yang berasal dari Malang, serta Pak Mul dan Pak Kliwon. Keduanya warga desa Ngadas Kidul yang akan menjadi pemandu kami. Pak Mul dibonceng anak sulungnya, Danton, Pak Kliwon dibonceng Mas No, sedangkan Donny dibonceng Mas Mur. Sejak pukul 3 dini hari tadi mereka sudah berkumpul di dapur rumah Pak Mul untuk menghangatkan diri dan minum kopi, dan pukul 4 tepat kami pun bergerak.

Jalan tanah yang kami susuri ini oleh masyarakat Tengger yang mendiami kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru disebut sebagai ‘Jalan Belanda’. Jalan tanah yang relatif datar karena memotong pinggang gunung ini menjadi penghubung masyarakat dari Desa Mororejo yang ada di punggung Gunung Mungal (2.480 mdpl) di sisi  barat Gunung Bromo, dengan desa-desa di punggung Gunung Iderider (2.527 mdpl) seperti Desa Ngadas Kidul dan Desa Ranupani, di sisi selatan Gunung Bromo. Kalau harus melalui Penanjakan lalu turun ke Lautan Pasir akan lebih lama karena mereka harus memutar.

Selain penduduk lokal Kawasan Tengger, jarang sekali orang melalui Jalan Belanda ini.

Disebut Jalan Belanda karena dulu pemerintah kolonial Belanda bermaksud membuat perkebunan teh di daerah ini. Sama polanya seperti perkebunan teh di daerah Puncak, Jawa Barat, dengan jalan-jalan datar di dalamnya untuk memudahkan pengangkutan teh. Cuma saat itu sudah keburu terjadi Perang Dunia II, sehingga proyek itu tak terwujud. Jalur-jalur jalan tanah di ketinggian sekitar 2.300 mdpl yang sudah jadi itu pun terbengkalai, dan hanya penduduk lokal Tengger yang memanfaatkan jalur sepi ini sebagai jalan pintas. Setahun lalu saya pernah membonceng Pak Mul menyusuri jalan ini hingga ke Mororejo dan Wonokitri, dan memang, saat siang hari pun kami hanya berpapasan dengan dua pengendara sepeda motor lokal yang melintas. Tak ada para pesepeda ataupun klub motor trail yang lewat, apalagi rombongan turis. Sisanya hanya ada kabut, desau angin dingin, dan Gunung Batok serta asap kawah Bromo yang mengepul di kejauhan.

Sekarang kami mengulangi rute itu lagi, tapi hanya sampai di persimpangan yang disebut Pertigaan Samad. Dari situ kami akan memotret matahari terbit, dilanjutkan dengan treking menyusuri tepi patahan Gunung Mungal menuju jalan aspal Penanjakan yang ada di ujung barat laut.

Hampir satu jam bermotor, kami akhirnya sampai di pertigaan itu. Hari masih remang tanah, dan para driver dan pemandu kami memarkir motor dan asyik mengobrol sambil merokok, dengan tetap menyelimutkan sarung yang diikat di leher mereka untuk melawan dingin. Saya dan Donny menuruni bukit, mencari lokasi untuk menyiapkan kamera mengantisipasi terbitnya matahari. Di depan kami, sekitar 200 meter tegak lurus ke bawah, membentang lembah luas, tertutup seluruhnya oleh kabut putih yang menggenang layaknya kapas raksasa. Ujung lembah itu di kejauhan sana adalah bayangan Gunung Widodaren yang melengkung memanjang dari selatan lalu ke barat dan utara, menyambung ke Gunung Bromo yang puncak kawahnya mengepulkan asap kelabu tak henti-henti, dan berakhir dengan Gunung Batok yang berbentuk seperti kerucut terpotong.

Sunrise istimewa yang jarang orang bisa melihatnya dari titik ini.

Semburat oranye cahaya matahari yang membias dari belakang Gunung Batok akhirnya makin lama makin terang, dan sang surya yang kami tunggu-tunggu pun muncul sempurna dari gigiran utara gunung itu dengan warnanya yang keemasan. Perlahan cahaya terangnya mengusir genangan kabut yang ada di bawah kami.

Menurut saya, melihat sunrise dari titik kami ini lebih indah daripada kalau melihatnya dari Bukit Cinta di Penanjakan. Tapi tentu saja, kalau yang dicari efek bias cahaya mataharinya supaya bisa melihat Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru berderet ke belakang, di titik kami dan juga di Bukit Cinta Penanjakan tidak akan mendapatkannya. Orang mesti melihat dari Bukit Kasih -bergeser ke timur dari Bukit Cinta- atau lebih ke timur lagi ke Bukit King Kong atau Penanjakan I.

Para driver andal yang mengantar kami menyusuri Jalan Belanda.

Keempat pengemudi yang mengantar kami sudah pulang ke Ngadas Kidul, dan kini kami tinggal berempat. Saya, Donny, Pak Mul, dan Pak Kliwon. Kami sarapan dan ngopi dari bekal nasi bungkus yang dibuatkan Bu Mul tadi pagi, lalu bersiap-siap untuk treking. Bukit di utara kami dengan jalur treking berupa jalan setapak yang tertutup ilalang adalah tujuan pertama kami. Entah berapa bukit di pinggiran Gunung Mungal ini akan kami daki. Yang jelas medannya bakal naik-turun, tidak datar dan bisa pakai motor seperti Jalan Belanda tadi.

Tapi…

“Kayaknya saya salah bawa gear nih,” kata Donny, sambil menimbang-nimbang kamera DSLR besar di tangannya, dengan lensa telenya yang berwarna putih. Tripod dan tas kamera besar yang saya duga isinya peralatan lengkap memotret, seperti ragu-ragu hendak diangkatnya.

Ooh, saya tahu maksudnya. Pasti dia tidak akan mau -atau tidak mampu- treking menanjak yang entah akan berapa lama waktunya, dengan beban seberat itu di pundaknya! Hahaha!

Menanjak bukit pertama, dengan matahari seperti sudah di atas kepala.

Akhirnya kamera dan lensa itu dimasukkan ke dalam ranselnya, dan akan dibawa oleh Pak Kliwon. Sementara tripod dan juga kamera saya akan dibawa Pak Mul. Donny hanya membawa ponsel dan sebotol air, sementara saya hanya membawa kamera poket dan juga sebotol air. Kayaknya saya juga tidak akan memakai kamera DSLR lagi di trip ini. Selain berat, tadi saya lihat tas kamera yang saya geletakkan sewaktu memotret sunrise, ternyata sudah diselimuti lapisan debu. Waduh, pasti kamera saya juga sudah kemasukan debu nih, dan mesti dibawa ke tempat servis kamera setelah pulang nanti. Makanya saya akan memakai kamera poket saja. Kalaupun kemasukan debu ya, sudah nasib.

Mendaki bukit yang pertama ini rasanya seperti menyongsong matahari, karena kini matahari seperti di atas bukit. Sinarnya menerangi ilalang yang sebagian menguning dan sebagian meranggas, dan menyisakan garis hitam jalur treking yang sebagian tertutup ilalang setinggi lutut itu. Kami berjalan satu-satu dengan jarak yang agak berjauhan agar tidak mengirup debu yang beterbangan akibat langkah kami. Pak Kliwon paling depan, diikuti Donny, saya, dan Pak Mul. Tapi akhirnya seperti biasa, saya yang tercecer paling belakang, karena memang harus memfoto-foto, meski alasan yang lebih tepat sebenarnya adalah untuk meredakan nafas yang tersengal-sengal.

Selesai menanjak bukit pertama dikuti dengan menuruni bukit, naik bukit lagi, turun lagi. Tapi jalur trekingnya masih di tepi patahan bukit dengan lembah di kanan kami yang kini tanpa kabut lagi. Hanya aliran awan debu kelabu yang mengapung di atas kami, yang berasal dari asap kawah Bromo. Debu kelabu itu menghalangi pandangan kami ke arah Gunung Iderider di selatan sana, dan Gunung Semeru yang hanya terlihat puncaknya, jauh di belakang. Lembahnya sendiri kini seperti mozaik, dengan warna tanah bercampur hitam, abu-abu, dan kelokan jalur jalan berwarna putih, mengular dari ujung lembah di sepanjang kaki Gunung Widodaren hingga menghilang di balik tikungan menuju Gunung Batok. Sepertinya itu jalur jalan kaki atau jalur trek sepeda motor. Entah berapa puluh kali ukuran lapangan bola lembah itu, saking luasnya. Tapi kami tidak akan turun ke sana karena memang tujuan kami menyusuri tepian tebing sisi barat Bromo ini.

Debu asap Bromo menghalangi pandangan kami ke puncak Gunung Semeru.

Jalur treking yang kami lalui ini dipakai oleh penduduk kawasan Tengger untuk mencari rumput ataupun jamur, dan Pak Kliwon sudah bertahun-tahun menjelajahi kawasan ini, makanya beliau kami pilih sebagai pemandu. Pak Mul, yang mantan kepala desa Ngadas Kidul, lebih berperan sebagai logistik dan porter. Sebab meski beliau penduduk asli di sini, dia mengaku belum banyak menyusuri kawasan Taman Nasional ini. Tapi karena dia mulai bergerak di bidang pariwisata dengan menyewakan jip dan juga rumahnya sebagai homestay, mau tidak mau dia mesti ikut mengiringi tamunya. Pernah, dua tahun lalu, beliau juga menemani saya menyusuri bibir kawah Bromo hingga ke Lautan Pasir Atas, dengan dipandu tetangganya, Pak Puliono. Baru kemudian saya tahu bahwa itu juga pengalaman pertama Pak Mul ke Lautan Pasir Atas. Jangan-jangan, yang treking kali ini pun pengalaman pertamanya, hahaha!

“Treking ini nanti melewati Jurang Ndingklik, dan ujungnya di jalan aspal yang ke Penanjakan,” tutur Pak Kliwon. “Kalau jalan santai ya, mudah-mudahan pukul 12 kita sudah sampai di sana.”

Tanpa sadar saya mengelap peluh di kening. Pukul 12, berarti kami akan treking selama… 5 jam? Glek. Saya menelan ludah, dan membuka botol minum untuk meredakan haus.

Mas Donny dan Pak Mul yang lebih banyak saya foto. Bagaimana mungkin kami melewatkan kesempatan untuk selfie di tempat seperti ini?

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Meski harus banyak berhenti dan terengah-engah, kami sangat dimanjakan oleh keindahan lansekap pagi ini. Meski tanpa pohon-pohon tinggi, ditambah matahari yang cetar membahana tanpa penutup awan sepotong pun, namun angin dan udara dingin di ketinggian ini cukup meminimalkan keringat. Saat berada di puncak bukit, di sisi kiri kami bisa melihat puncak Gunung Arjuna dan deretan pegunungan di sekelilingnya, anggun di bawah langit biru. Saat menuruni bukit, maka padang rumput, ilalang kering, dan pohon-pohon pakis yang berselimut debu, membentang luas di depan, hingga bertemu dengan lembah, Gunung Bromo, Gunung Batok, dan punggung-punggung pegunungan yang perlahan menghilang ditelan kabut putih. Beberapa pohon edelweis saya temui, meski tak sebanyak seperti di lereng Gunung Batok yang pernah saya daki.

Kalau kamera poket hasil fotonya seperti ini, untuk apa bawa kamera DSLR yang berat?

Saya membayangkan, kawasan ini pasti surga buat para fotografer lansekap, fotografer prewedding, atau fotografer fashion yang memakai model. Dari tadi, memotret dengan kamera poket saja hasilnya membuat mulut menganga. Kalau tahu begini, tadi saya mestinya tidak perlu bawa kamera DSLR, pikir saya.

Menikmati lansekap keren Gunung Arjuna dari kejauhan.

Hari makin siang, dan di sebuah puncak bukit kami menjumpai sebuah makam, tak jauh dari patok penanda dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berkode ‘BTS M4’. Entah makam siapa dan sejak kapan ada di sini, tapi menurut Pak Mul mungkin makam penduduk Desa Mororejo yang ingin dimakamkan di situ. Saat kami menuruni bukit, kami bertemu dua lelaki yang sedang ngarit, mencari rumput untuk pakan sapi. Mereka Mas Slamet dan Mas Karwo, dari Desa Mororejo. Masing-masing membawa motor butut yang sudah tidak karuan bentuknya. Saya heran, bagaimana cara mereka membawa rumput dengan motor itu naik-turun bukit di jalan setapak? Kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan.

Patok dari Taman Nasional. Mereka sudah lebih dulu ke sini, hahaha!

Kami mendaki bukit lagi, lalu menuruni bukit yang cukup curam, diikuti menanjak bukit sesudahnya yang nyaris vertikal. Ini rupanya yang disebut Jurang Ndingklik. Mudah-mudahan ini bukit terakhir yang kami daki.

Dalam kondisi apapun, alur-alur Gunung Bromo selalu indah untuk difoto.

Menyusuri jalur datar, kami menemukan sebuah rangka bangunan yang terbengkalai. Mungkin bekas sebuah saung atau gardu pandang, karena dari sini pemandangan indah langsung mengarah ke Gunung Batok. Beberapa menit dari situ, di sebuah tikungan datar kami menemukan tugu sesajian, yang berselimut kain putih dan kuning. Di sebuah ceruk tanah di sampingnya, ada sesajian berupa kembang tujuh rupa, satu badan utuh ayam bakar (glek!), serta beberapa sisir pisang ranum. Orang Suku Tengger yang umumnya beragama Buda Jawa -mirip dengan Hindu Bali- menamakan tempat sesajian ini padmasari, dan ada di beberapa sudut kawasan Tengger ini.  Saya pernah melihatnya ada di puncak Gunung Batok dan di pintu masuk jalur pendakian Gunung Widodaren.

Jurang Ndingklik, yang diikuti dengan menanjak bukit terjal.

Pak Mul berdoa sebentar di sini, sementara saya mengambil dua buah pisang untuk mengganjal perut. Kita memang boleh memakan sesajian itu, asal secukupnya saja dan sebelumnya ‘meminta izin’ kepada yang ‘menunggu’ tempat itu.

Saya meneruskan perjalanan sambil makan pisang dan memutar lagu-lagu house music dari ponsel, agar sedikit melupakan kaki yang sudah gempor dan sakit-sakit di ujung jarinya. Hingga tiba-tiba…

Di balik gerumbul pohon cantigi yang posisinya di atas jalur treking, saya mendengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Saya menguatkan langkah, menyibak gerumbul pepohonan itu, dan… aha! Saya melihat Pak Mul sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita yang tengah duduk di besi pembatas jalan, di sisi sebuah jalan aspal! Di belakang wanita itu, tampak Gunung Batok di bawah sana, dengan Lautan Pasir di sekelilingnya.

Alhamdulillah, berarti treking kami sudah atau hampir selesai, karena kami telah sampai di jalan aspal yang menuju Penanjakan. Turis-turis yang ingin melihat sunrise Bromo dan memakai jip selalu lewat jalur ini. Tapi karena sekarang sudah pukul… 11.30, dan juga jalan aspal di bagian bawah ada yang longsor, hanya motor saja yang bisa lewat jalur ini. Wanita tadi tengah menunggu suami dan anaknya yang akan menjemput.

Tumben Pak Kliwon mau difoto-foto dekat Padmasari.

Pak Mul sudah mengontak Danton untuk menjemput kami dengan jip, dan ternyata Danton sudah menunggu kami di Lautan Pasir, di dekat tempat parkir dan penyewaan kuda.

“Saya dan Pak Kliwon akan jalan kaki ke sana. Pak Teguh dan Mas Donny sebaiknya naik ojek saja, soalnya jauh,” saran Pak Mul.

Akhirnya ketemu jalan aspal!

“Iya Pak, kami naik ojek saja,” jawab saya dengan cepat. Tadi saya mencoba berjalan kaki di jalan aspal yang menurun pun ternyata capek sekali. Bisa-bisa nanti saya tersungkur karena lutut sudah tidak punya tenaga lagi. Belum ditambah menyusuri Lautan Pasir sejauh kira-kira dua kilometer, dengan matahari di atas kepala. Bisa-bisa saya pingsan, hahaha! Saya dan Donny pun menyewa dua ojek, masing-masing membayar Rp 50.000 untuk diantar ke tempat parkir jip.

Akhirnya, sembari menunggu Pak Mul dan Pak Kliwon, saya dan Donny kini bisa meluruskan kaki sambil ngopi di tempat parkir ini, meski itu tak lama. Mendadak saja datang badai pasir dan saya pun sia-sia menutup gelas kopi saya, hahaha!

Kuda, jip, dan kopi yang tercampur badai pasir.

Pak Mul dan Pak Kliwon datang berjalan kaki dengan wanita tadi, yang kini bersama anak perempuan dan suaminya, yang mendorong motor. Ternyata motornya mogok, padahal mereka mau ke Ranupani, yang masih satu jalur dengan arah kami pulang, ke Ngadas Kidul. Ibu dan anak itu pun ikut jip kami, sementara sang suami akan mencari bantuan di sini, siapa tahu ada yang bisa memperbaiki motornya.

Jip pun perlahan melaju, meninggalkan kepulan debu kemarau bulan Juli, yang makin lama makin mengaburkan pandangan kami ke pegunungan di barat sana yang tadi baru kami susuri…. [T]

 

Boks:
Menjelajah Bromo dari Ngadas Kidul

Pak Mulyadi, pemandu langganan saya menjelajah kawasan TNBTS.

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) bisa dicapai melalui Surabaya atau Malang. Saya lebih suka lewat Malang karena lebih dekat dan lebih cepat, serta banyak destinasi lain seperti candi, kebun apel, dan beberapa air terjun, yang bisa disinggahi di rute Malang-Ngadas Kidul ini. Desa Ngadas Kidul ini terletak di sisi  selatan Gunung Bromo, dengan pemandangan lepas ke arah Gunung Semeru. Belum ada hotel atau penginapan di sini, jadi pilihannya adalah menginap di rumah penduduk, misalnya di rumah Pak Mulyadi. Selain menyediakan kamar-kamar untuk menginap, keluarga beliau juga menyediakan makan, mempunyai jip dan motor yang bisa disewa untuk menjelajah kawasan TNBTS, dan juga menjadi pemandu.

Untuk tarif menginap termasuk makan, juga tarif sewa jip, semuanya bisa dinegosiasikan. Biaya transportasi memang cukup mahal di kawasan ini. Dengan berwisata secara berombongan -misalnya 5 orang yang cukup untuk 1 jip- biaya traveling akan lebih murah. Pak Mulyadi dan putranya sangat berpengalaman sebagai pemandu dan bisa memberikan saran itinerary untuk menyesuaikan dengan keinginan dan lama waktu kunjungan. Kontak beliau melalui nomor 0812-3024-2304 atau 0812-4994-3394.

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 42 comments
Prime Park Hotel Bandung Best Getaway on Weekdays

Prime Park Hotel Bandung Best Getaway on Weekdays

Ingin menikmati Bandung dengan lebih santai, menyenangkan, dan berkesan? Menginaplah di Prime Park Hotel dan jelajahi Bandung saat weekdays.

Kabut putih masih belum beranjak meninggalkan pagi, dan dari rooftop Prime Park Hotel Bandung di lantai 12 ini, saya bisa melihat kabut itu menyelimuti kota Bandung di bawah sana hingga jauh sekali ke selatan. Di belakang saya, kabut juga masih melingkupi bukit-bukit yang memagari Bandung dengan kawasan Lembang.

Bandung berselimut kabut pagi, dilihat dari rooftop Prime Park Hotel Bandung.

Namun orang-orang nampaknya sudah sibuk menuju kantor masing-masing, terlihat dari kesibukan lalulintas di Jalan Mustofa di depan hotel. Maklumlah, ini hari Senin. Saya saja yang terlambat untuk menginap di sini, Baru kemarin sore saya check in.

Struktur bangunan hotel yang tinggi di bagian timur menghalagi saya melihat sinar matahari pagi yang perlahan mengusir kabut. Jadi saya habiskan waktu sebelum sarapan ini untuk berendam di kolam renang di lantai ini, hanya ditemani seorang staf hotel yang tengah mengganti bantal daybed. Tak saya duga, pagi yang mulai terang dan berlangit biru itu ternyata diiringi embusan angin dingin dari utara, memaksa saya untuk segera keluar dari kolam renang. Saya sempat melongok gym yang ada di lantai ini juga. Meski hanya ada dua treadmill, beberapa dumbel, dan sebuah tivi layar datar, tapi pemandangan ke luar ruangan itu sangat memanjakan mata di saat pagi cerah begini.

Taman depan yang cantik dan asyik buat foto-foto.

Saya agak telat untuk sarapan pagi di Terrace Café di lantai 2. Tadi mendadak saya ingat kalau Senin pagi ada serial Game of Thrones di HBO, jadi saya nonton dulu sekalian menghangatkan badan di kamar. Kamar deluxe yang saya inapi di lantai 7 menawarkan pemandangan kota juga. Meskipun tidak ada bathtub seperti di kamar tipe executive dan suite, tapi saya memang jarang juga mandi lama-lama. Dan meskipun para tamu yang sarapan hanya memenuhi separuh kapasitas resto, saya kagum dengan banyaknya pilihan menu sarapan di sini. Selain menu-menu Indonesia seperti nasi goreng, semur daging dan kentang, bubur ayam, hingga bubur kacang hijau, juga ada egg corner, toast bread, aneka salad, buah dan jus, pasta, sushi, serta berbagai jenis roti.

A gym with a view!

Menurut seorang teman, menu-menu a la carte resto ini juga enak-enak, dan itu memang terbukti di waktu berikutnya saat saya dinner dan lunch keesokan harinya. Menu-menu lokal seperti Soto Bandung, Mi Kocok, Mi Jawa, tak hanya kaya bumbu namun juga punya porsi yang besar, cukup untuk dimakan berdua.

Senin siang ini saya akan mengobrol dengan Public Relations Prime Park Hotel Mbak Fine Endah Wirawati, dan Corporate Public Relations Manager PP Hospitality, Mbak Ari Eka Putri. PP Hospitality adalah hospitality management yang mengelola Prime Park Hotel Bandung. Saya juga mengobrol dengan seorang teman lama di Bandung yang datang ke hotel. Kami mengobrol sambil menunggu dua teman lain dari Jakarta, Donna Imelda (www.ayopelesiran.com) dan Bartian Rachmat (www.bartzap.com) yang juga akan menginap di sini. Saya mencoba memainkan satu set angklung yang ada di lobi. Tapi memainkan lagu ‘Ibu Kita Kartini’ yang notnya paling mudah pun saya masih salah-salah, sampai malu sendiri, hahaha!

Kami lalu bersama-sama melihat beberapa fasilitas hotel bintang 4 yang satu grup dengan Park Hotel Jakarta dan PP University (Hotel) di Puncak ini. Dua hotel lain di dalam satu grup yang kini masih dibangun adalah Prime Park Hotel & Convention di Lombok dan Palm Park Hotel di Surabaya.

Kamar executive yang sangat lega.

Prime Park Hotel memilki 127 kamar, dan kamar executive serta suite-nya membuat saya iri. Yang executive luasnya 44 meter persegi, atau dua kali luas kamar deluxe. Kesan luas masih terasa meski ada penambahan sofa dan meja kerja di ruang tidur, serta bathtub dengan pemandangan pegunungan di kamar mandi. Yang suite lebih luas lagi, karena memiliki dua kamar tidur, living room terpisah, serta kamar mandi dengan bathtub dan toiletries yang lebih berkelas.

Delapan meeting room dan satu ballroom di hotel ini bisa memenuhi berbagai keperluan rapat, seminar, hingga resepsi pernikahan dengan 350 tamu. Selain itu juga ada business center, Kanaya Massage di lantai 9 yang menyediakan pijat, scrub, facial hingga refleksologi, dan ruang karaoke khusus untuk para tamu. Yang terakhir ini masih dalam persiapan untuk difungsikan.

Pagi dan sore hari, waktu terbaik untuk berenang di sini.

Salah satu nilai plus Prime Park Hotel adalah lokasinya yang lebih dekat dengan beberapa tempat wisata budaya, alam, kerajinan, dan wisata belanja di Bandung. Saya akan mencoba mengunjungi tempat-tempat itu dalam kunjungan ke Bandung kali ini.

Pukul 3 sore, kami berlima meluncur ke pusat wisata budaya sunda yang paling terkenal di Bandung, yakni Saung Angklung Udjo, di Jl. Padasuka 118. Saya sudah lama sekali ingin ke sini tapi entah mengapa selalu tidak jadi. Mungkin karena beberapa kali ke Bandung aktivitas saya kebanyakan di daerah Braga atau Sersan Bajuri yang cukup jauh dari lokasi saung ini. Beruntung akhirnya sore ini keinginan itu bisa terlaksana.

Tak hanya angklung, tapi juga menyanyi dan tarian dari berbagai provinsi.

Rasanya tidak perlu diperkenalkan lagi Saung Angkung Udjo ini, karena namanya sudah mendunia dan menjadi kebanggaan Indonesia. Dedikasi sang pendiri, Udjo Ngalagena, diteruskan anak-anaknya dan para murid di saung ini dalam bentuk pertunjukan musik, tari dan nyanyi dengan angklung, yang diadakan setiap hari. Senin sampai Jumat diadakan pukul 15.30, Sabtu pukul 13.00 dan 15.30, sedangkan Minggu pukul 10.00 dan 15.30. Dengan membayar Rp 60.000 per orang, pengalaman 1,5 jam mengenal, bernyanyi, dan bermain angklung di sini sungguh berharga.

Aktivitas petang berlanjut dengan mengunjungi pusat factory outlet di Jalan Riau yang berjarak 10 menit berkendara dari hotel. Kami tidak belanja, dan akhirnya berhenti di Dakken Coffee & Resto untuk ngopi, ngemil, dan foto-foto. Menyenangkan sekali di Dakken ini, karena bentuk restonya yang rumah belanda kuno dengan banyak ruangan, serta halaman dalam yang luas. Kami pulang ke hotel karena ingat mesti dinner di Terrace Café. Dan itu tadi, porsi menu kafe hotel ini yang besar, membuat kami sangat kenyang dan segera mengantuk.

Di Dakken lebih lama foto-fotonya daripada ngopi dan ngemil.

Setelah sarapan pagi, kami meluncur ke Bukit Moko atau Bukit Bintang, melalui rute ke Saung Angklung Udjo, terus ke utara sekitar 30 menit. Udara pagi yang cerah kini makin sejuk dan pemandangan berganti menjadi kebun-kebun sayur dan kota Bandung yang kini terlihat menghampar di bawah sana. Tidak mengejutkan jika di hari kerja ini pengunjung bukit adalah anak-anak sekolah SMA yang mungkin membolos atau sekolahnya masuk siang. Dan dualisme nama bukit itu baru terjawab dari info seorang bapak penduduk lokal di sini.

Nama Bukit Moko berasal dari nama Warung Moko yang berpemandangan bagus karena langsung berhadapan dengan patahan lembah di bawahnya. Sayang pemiliknya mensyaratkan setiap orang yang masuk area warung itu mesti membayar Rp 25 ribu, dan tidak ada fleksibilitas atau keringanan. Jadi kami mencari spot yang lain saja. Dan ternyata Bukit Bintang adalah spot yang lebih tinggi dari warung itu, lebih rimbun dengan pohon-pohon pinus, dan cukup berjalan kaki 100 meter. Jadi kami pun ke sini.

Menyehatkan jiwa raga dengan trekking di Bukit Bintang.

Untuk masuk Bukit Bintang ini setiap pengunjung membayar Rp 15 ribu, yang sepadan dengan apa yang didapat: hutan pinus yang instagrammable banget, Dermaga Bintang di sisi selatan, Puncak Bintang dengan camping ground di sisi utara, beberapa toilet, dan jalur trekking bagi yang mau mengeksplorasi tempat ini. Ada beberapa spot wisata lain di area ini, seperti Patahan Lembang, Sindang Geulis, dan Curug Cileat. Kami cukup berfoto-foto dan mengisi paru-paru dengan udara segar di bawah bintang raksasa, ikon tempat ini.

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir dulu ke Rumah Batik Komar di Jl. Cigadung Timur Raya 1 Nomor 5, atau sekitar 10 menit berkendara kalau dari hotel. Komarudin Kudiya, pemilik rumah batik ini, adalah seorang doktor di bidang desain, dan namanya pernah tercatat di buku Guinness Book of World Records atas prestasinya menyelimuti Gedung Sate Bandung dengan kain batik yang dibentangkan tanpa putus. Saya mengenalnya sepuluh tahun lalu saat meliput batiknya yang lain di Trusmi, Cirebon, dan juga pernah ke Cigadung ini saat membawa rombongan trip dalam rangka workshop travel writing.

Satu dari sekitar 4.000 koleksi cap batik Rumah Batik Komar.

Kunjungan singkat yang tadinya hanya untuk temu kangen dan melihat-lihat rumah batik ini, akhirnya jadi berpanjang-lebar. Mas Komar mengajak kami melihat proses pembuatan cap batik, serta melongok perpustakaan cap batiknya yang mencapai 4.000 buah. Satu cap harganya antara Rp 1-1,5 juta. Jadi koleksi capnya itu bernilai… hitung sendiri. Oh ya, rumah batik ini juga menjadi tempat tur wisata batik maupun tempat belajar membatik. Sebagian kursus membatik diadakan gratis, misalnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Mas Komar lalu ‘memaksa’ kami belajar men-cap batik di atas kain polos seukuran saputangan, dilanjutkan dengan mencanting. Dan kami menurut saja, hahaha! Ternyata tidak mudah mencanting itu, karena harus teliti mengikuti garis pola batiknya, dan juga jangan sampai malam atau lilin batik yang panas itu jatuh mengotori kain atau kena tangan. Proses mewarnai dan mengeringkan batik hasil latihan kami itu lalu dilanjutkan oleh karyawannya. Daan… kami pun pulang dengan oleh-oleh saputangan batik hasil karya kami sendiri. Benar-benar pengalaman mendadak yang sangat berkesan.

Tadaaa! Mbak Ari dengan saputangan hasil kursus kilat membatik.

Saat check out di hotel dan menjelang pamit, saya masih sempat mencicipi menu makan siang Paket Merdeka yang sedang dipromosikan hotel selama Agustus ini. Menu seharga Rp 72 ribu ini berupa tumpeng beras merah-putih beserta lauk udang balado, sate telur puyuh, sambal goreng, urap, dan dua macam sambal. Minumnya jus merah-putih yang terdiri dari jus stroberi dan soda susu, plus whipping cream. Jadi jangan salahkan saya jika selama di perjalanan pulang Bandung-Jakarta itu sebagian besar waktunya saya habiskan dengan tidur, karena capek dan kekenyangan. [T]

Prime Park Hotel Bandung
Jl. P.H.H. Mustofa 47-57, Bandung 40214
Tel: 022-8777-2000
E-mail: reservationbandung@primepark.co.id
Website: www.primepark.co.id

BOKS:
Contoh Itinerary Menginap Semalam di Prime Park Hotel Bandung:

Hari 1:
13.00 Check in lalu makan siang di Terrace Cafe
14.30 Renang di rooftop
15.00 Ke Saung Angklung Udjo
18.00 Ke Factory Outlet di Jl. Riau (Martadinata) sekalian makan malam di Dakken Coffe & Resto
20.00 Menikmati street art di Jl. Asia-Afrika, tiduran di Alun-alun Masjid Bandung, ngopi di Rustic Coffee Jl. Cikapundung
22.00 Istirahat

Hari 2:
06.00 Menikmati sunrise dari rooftop hotel
06.30 Sarapan di Terrace Cafe
07.00 Ke Bukit Bintang
10.00 Ke Rumah Batik Komar di Cigadung
11.30 Kembali ke hotel
12.00 Check out
13.00 Pijat atau facial di Kanaya Massage
15.00 Beli oleh-oleh di Kartikasari di Dago atau depan Stasiun KA
17.00 Kembali ke Jakarta dengan kereta atau shuttle service.

Posted by Teguh Sudarisman in Check In, Luxe Stay, 6 comments
My Private Islands

My Private Islands

Kepulauan Seribu punya banyak pulau resor dan pulau pribadi yang berpantai pasir putih.
Kita bisa mengunjungi, menginap, dan bermain sepuasnya.

Kalau mau sedikit berpetualang, sebenarnya di Kepulauan Seribu banyak surga tersembunyi yang bisa dijelajahi. Ya, di Kepulauan Seribu, yang hanya sepelemparan batu dari Jakarta. Dan tak harus mahal. Kadang cukup mengeluarkan uang Rp 500 ribu, selama dua hari di akhir pekan kita bisa menikmati pengalaman yang biasanya hanya bisa dinikmati orang-orang kaya.

Bagaimana caranya?

Pantai bagian belakang Pulau Semut. Rasanya seperti bukan di Jakarta.

Namanya saja Kepulauan Seribu, berarti kepulauan ini punya banyak pulau. Memang, jumlahnya tak sampai seribu, melainkan sekitar 110 pulau. Tapi, siapa yang sudah menjelajahi semua pulau, apalagi sampai hafal nama-nama dan letaknya? Pulau Onrust, Pulau Pramuka, atau Pulau Tidung, mungkin sudah banyak dikenal orang. Tapi, bagaimana dengan Pulau Kelapa dan pulau-pulau sekitarnya?

Nelayan Kepulauan Seribu menjemput rezeki di pagi hari. Difoto dari dermaga Pulau Bira Besar.

Berbeda dengan pulau-pulau populer yang letaknya di Kepulauan Seribu bagian selatan atau tengah, Pulau Kelapa ini letaknya di bagian utara, dan belum banyak dikenal orang. Pulau ini sendiri tidaklah ‘cantik’, karena sudah padat dengan penduduk. Namun di sekitar pulau ini banyak terdapat pulau resor dan pulau pribadi yang keren. Mengapa banyak pulau resor dan pulau pribadi, tentu alasannya jelas: kualitas air laut, terumbu karang, ikan-ikan, dan pantainya yang jauh lebih baik daripada pulau-pulau lain di sisi selatan. Mari kita jelajahi pulau-pulau apa saja yang menarik di bagian utara ini.

Pulau-pulau Resor

Pulau Sepa, yang kerap dijuluki The Little Bali.

Pulau Sepa. Di pulau ini ada Sepa Island Resort yang mempunyai banyak cottage. Untuk menginap per malam tarifnya mulai dari Rp 800 ribu, sudah termasuk makan dan transportasi pergi-pulang dari Marina-Ancol memakai kapal cepat milik resor. Banyak fasilitas watersport di resor ini, mulai dari banana boat, flying fish, jetski, flying fox, penyewaan alat selam, sampai marine walker – seperti masker astronot untuk jalan-jalan di dasar laut. Sayang fasilitas terakhir ini tidak dioperasikan lagi.

Menjadi astronot dasar laut di Pulau Sepa. Sayang sudah tidak dioperasikan lagi. Foto Dok. Sepa Island Resort.

Pantai Pulau Sepa luas dan berpasir putih, serta lautnya dangkal. Di sini juga ada penangkaran penyu sisik, dan banyak terdapat biawak dan burung gagak. Setiap tahun ada cruise yang mengangkut ratusan turis Eropa mampir ke sini, biasanya di bulan Juni.

Dermaga Pulau Putri yang biasanya dipenuhi speedboat dan yacht.

Pulau Puteri. Pulau ini cukup besar dan rimbun, dan selain terdapat cottage-cottage juga ada akuarium ikan hias yang besar, terowongan bawah laut, lapangan tenis, kolam renang, dan kebun binatang mini. Tarif menginap mulai dari Rp 1.5 juta per malam, sudah termasuk makan dan transportasi dengan kapal cepat milik resor.

Pulau Macan. Letaknya agak ke barat dari Pulau Putri. Pulau ini memiliki cottage-cottage yang bergaya tradisional, serta sepi, cocok untuk yang sedang berbulan madu.

Pulau Pantara Barat dan Timur. Dulu kedua pulau ini bernama Pulau Hantu Barat dan Timur. Setelah dikembangkan lalu menjadi pulau resor favorit untuk para turis Jepang. Cottage-cottagenya berjendela kaca besar menghadap ke laut. Di pulau ini juga terdapat kolam renang dan berbagai fasilitas watersport.

Pulau Bira Besar. Dulu pulau ini merupakan pulau resor yang punya banyak cottage, ada lapangan golf 9 hole, dan kolam renang. Entah mengapa kini resornya terbengkalai. Namun penjaganya masih ada. Pulau ini sering menjadi tempat mampir karena ada beberapa spot snorkeling yang bagus di dekat dermaga.

Menghabiskan waktu dengan memancing di dermaga Pulau Bira Besar.

Pulau Saktu. Ini juga pulau resor, namun kini tidak beroperasi lagi, hanya ditunggui penjaga saja. Pulau ini punya dermaga yang luas dan saung yang bagus untuk berfoto-foto.

Mencari nemo tak perlu harus menyelam kalau di Pulau Kaliage Kecil.

Pulau Kelor Timur. Bersebelahan dengan Pulau Kelor Barat yang kosong, Kelor Timur ini konon milik Tommy Suharto. Dulu ada cottage-cottage, tapi sekarang tidak dipakai. Penjaganya, Pak Dedi, pandai bermain gitar dan bernyanyi dan kita bisa duet dengannya malam-malam di dermaga. Di sekitar pulau ini juga banyak spot snorkeling yang bagus.

Pulau-pulau Pribadi

Pulau Kotok Kecil. Letaknya di depan Kotok Besar. Pulau ini milik seorang pengusaha supermarket. Dermaga utamanya bagus untuk melihat sunset, sementara pantai sisi timur asyik untuk menunggu matahari terbit. Namun bagian pantai yang indah ada di sisi belakang, yang menghadap Kotok Besar.

Pulau Semut. Sesuai namanya, di pulau ini banyak semut. Tapi pantai belakangnya berpasir putih keren dan panjang, tempat paling asyik buat foto-foto dan main air.

Turis Jepang yang sedang island hopping, mampir sejenak ke Pulau Kotok Kecil.

Pulau Tongkeng. Pulau milik pengusaha Setiawan Djodi ini sungguh cantik, dengan pantai pasir putih di dekat dermaganya dihiasi tempat-tempat duduk berwarna hot pink. Ada dua cottage di pulau ini, namun jarang dipakai. Rumah-rumah penjaganya ada di belakang. Kalau kita datang, sang penjaga segera memanjat pohon kelapa di belakang cottage, dan tak lama kemudian air kelapa yang segar dan manis mengisi kerongkongan.

Selain pemandangan keren, air di bawah dermaga Pulau Panjang Keren ini juga bening aquamarine dan dangkal.

Pulau Panjang Kecil. Letaknya persis di samping Pulau Panjang, yang rencananya akan dijadikan lapangan terbang, namun entah kapan jadinya. Dermaga pulau ini kini agak rusak dan airnya tidak sehijau beberapa tahun lalu. Namun ada sebuah cottage di tengah pulau berhias pohon-pohon cemara yang rindang dan sejuk.

Pulau Pemagaran. Letaknya di depan Panjang Kecil. Pulau ini sering disebut Pulau Anjing karena penjaganya memelihara banyak anjing. Konon pulau ini milik Probosutejo. Pulau ini mempunyai kanal air di mana dermaga perahunya ada terletak di tengah pulau, yang berbentuk seperti laguna. Warna airnya hijau emerald, paling cantik dibanding air laut di pulau-pulau lain.

Lihat airnya! Memang beda banget Pulau Pemagaran ini.

Pulau Kaliage Besar. Pulau yang letaknya dekat sekali dengan Pulau Kelapa ini milik Surya Paloh. Selain punya helipad, di pulau seluas 6 hektar ini juga uga 14 cottage, khusus untuk tamu-tamu sang taipan media ini. Stafnya saja ada 23 orang. Dermaganya keren abis untuk berfoto-foto.

Pulau Kaliage Kecil. Luasnya cuma 1 hektar, tapi ada cottage berbentuk rumah joglo yang mewah, dan sebuah rumah panggung khusus untuk pasangan bulan madu. Pulau ini bisa disewa, Rp 25 juta untuk weekend. Pemiliknya seorang pengusaha Amerika. Laut di depannya sangat dangkal, tapi banyak terdapat karang dan berseliweran ikan-ikan cantik. Kita bahkan bisa bertemu ikan Nemo di sini tanpa harus berenang. Bermain-main di sini seharian pun tidak akan bosan.

BOKS 1:
Pulau-pulau Konservasi

Selain dermaga dengan pemandangan yang adem, di Pulau Kaliage Besar juga ada helipad.

Agak jauh ke utara dari pulau-pulau resor dan pulau pribadi itu, ada empat pulau yang masuk dalam zona inti Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS). Keempat pulau itu adalah Pulau Peteloran Barat dan Pulau Peteloran Timur yang menjadi tempat mendarat dan bertelurnya penyu sisik. Lalu Pulau Penjaliran Barat, yang menjadi ‘panti jompo’ untuk monyet-monyet yang sudah tua. Lalu Pulau Penjaliran Timur, yang menjadi basecamp para penjaga taman nasional, sekaligus tempat penetasan telur penyu sisik.

Sebagai zona inti perlindungan alam, di lingkungan pulau-pulau ini dilarang melakukan aktivitas apapun, termasuk berwisata. Jadi, tidak perlu sampai ke sini, karena kita pasti akan diusir para penjaga. Lagipula di sini hanya bisa melihat telur penyu, sementara aktivitas penyu mendarat dan bertelur tidak bisa dilihat, karena terjadi di malam hari dan di bulan-bulan tertentu. Karena letaknya yang jauh di utara, ombak lautnya juga cukup tinggi dan sepanjang perjalanan bisa-bisa kita terombang-ambing seperti gabus.

 

BOKS 2:
Bagaimana Cara ke Pulau Kelapa?

Pulau Kelapa, dari jauh sudah kelihatan kalau padat penduduk.

Pulau Kelapa bisa dicapai dengan speedboat Kapal Kerapu yang berangkat dari Dermaga 21 Pelabuhan Marina, Ancol-Jakarta. Kapal ada dua (tapi kadang yang berangkat cuma satu), kapasitas masing-masing 28 penumpang, berangkat setiap hari pukul 08.30, ongkos Rp 32 ribu sekali jalan. Pulang dari Pulau Kelapa pukul 13.00. Lama perjalanan 1,5 jam. Bisa juga memakai kapal angkutan umum dari Pelabuhan Kaliadem, sebelah barat Muara Angke. Kapasitas kapalnya mencapai 100 orang lebih, berangkat setiap hari pukul 07.00, ongkos Rp 40 ribu sekali jalan. Pulang dari Pulau Kelapa pukul 13.00. Lama perjalanan 3 jam.

KM Kerapu, lebih cepat tapi lebih siang, jadi sampainya sama saja dengan kalau naik kapal kayu dari Kaliadem.

Di Pulau Kelapa -yang menyatu dengan Pulau Kelapa Dua dan Pulau Harapan- baru ada beberapa penginapan ala backpacker, dengan fasilitas yang sangat sederhana. Makanan tidak disediakan, jadi harus pesan ke warung, sekali makan Rp 20 ribu per porsi. Listrik memakai tenaga diesel, yang menyala dari pukul 18 petang sampai 6 pagi. Tapi di sini juga ada kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, kantor Polsek, Puskesmas, dan sekolah-sekolah. Sinyal semua handphone juga full. Penduduknya konon paling banyak di Kepulauan Seribu, lebih dari 7.000 orang.

 

Catatan:
Artikel ini sudah cukup lama ditulis, sehingga mungkin ada ketidakakuratan data ataupun harga-harga. Info dan koreksi dari Pembaca saya tunggu dan hargai. Terima kasih. [Penulis]

Posted by Teguh Sudarisman in Weekend Trips, 0 comments