10 Hours in Bohol Island

Cokelat-cokelat raksasa itu membuat saya terpana, dan si mata belo membuat saya langsung jatuh cinta.

Kapal cepat Starcraft merapat di Pelabuhan TubigonTerus-terang hati saya galau melihat langit pagi yang tertutup mendung kelabu. Padahal semalam hujan deras. Biasanya kalau malam hujan, paginya cerah. Tapi ini sayangnya tidak. Sementara saya kini sudah berada di atas kapal cepat MV Starcraft, dalam perjalanan dari Pulau Cebu menuju Pulau Bohol. Kalau mendung terus, harapan untuk bisa memotret Chocolate Hills dengan latar belakang langit biru pun menipis. Dan sayangnya, mendung ini masih menggelayut saat kami tiba satu jam kemudian di pelabuhan kota Tubigon, di sisi barat Pulau Bohol.

Kami berempat, saya, istri saya Helen, putri kami Mayumi, dan ayah mertua saya Honorato, berencana mengunjungi beberapa destinasi wisata favorit di Pulau Bohol. Di antaranya bukit-bukit mengerucut mirip cokelat raksasa yang dinamai Chocolate Hills, di kota Carmen. Kami juga ingin melihat tarsier atau tarsius, yang disebut-sebut primata terkecil di dunia, di hutan konservasinya di dekat kota Corella. Pulau Bohol sendiri bertetangga dengan Pulau Cebu, tempat asal istri saya. Dan saya sekeluarga sendiri pulang ke Cebu City dalam rangka liburan akhir tahun. Jadi rasanya sayang kalau sudah sampai Cebu tapi tidak mampir ke Bohol. Terlebih, Chocolate Hills ini merupakan destinasi wisata kebanggaan Filipina, selain Pulau Boracay.

Suasana kota kecil TubigonKalau memakai rute yang ‘biasa’, orang umumnya akan mengunjungi Chocolate Hills melalui kota Tagbilaran, ibukota provinsi Bohol, yang mempunyai bandar udara.  Namun karena dari Cebu lebih dekat ke Tubigon, rute inilah yang kami pakai. Selain lebih murah dan hemat waktu, kami juga bisa mengunjungi Chocolate Hills dua kali, yakni di Sagbayan Peak dan di kota Carmen. Kalau dari Tagbilaran, umumnya tur ke bukit-bukit cokelat itu hanya sampai Carmen.

Mr. Tony sudah menunggu kami dengan mobil sedannya di pelabuhan Tubigon. Saat mengontak Starcraft untuk pesan tiket kapal, staf customer service-nya menanyakan berapa orang yang akan tur. Ketika kami jawab berempat, ia merekomendasikan kami menggunakan jasa tur Mr. Tony di Tubigon karena lebih murah, yakni 2.500 peso  (sekitar Rp 625.000) untuk tur satu hari. Harga untuk empat orang ini sudah termasuk biaya supir dan bensin, namun tidak mencakup tiket masuk ke obyek wisata serta makan siang. Kalau dihitung-hitung, biaya ini lebih murah dan lebih nyaman dibanding kalau ikut tur dari Tagbilaran yang sekitar 1.000 peso per orang, dan bercampur dengan turis-turis lain.

Chocolate Hills di Sagbayan Peak yang tidak terlalu istimewaJalan aspal yang mulus dan lebih mirip jalan beton menyambut kami begitu meninggalkan Tubigon. Di kanan-kiri jalan asri dengan banyak pepohonan, mulai dari pohon kelapa, mangga, mahoni, yang diselingi dengan rumah-rumah beratap seng. Jalan dan rumah-rumah relatif sepi. Hanya sesekali saja kami berpapasan atau menyalip tricycle, becak motor khas Filipina, yang mirip bentor di Medan. Angkutan umum bis juga hanya sedikit kami temui, umumnya bis non-AC dengan jendela sampingnya yang tanpa kaca, jadi penumpangnya benar-benar merasakan ‘AC window’. Suasananya mengingatkan saya pada perjalanan darat di pedalaman Lampung.

Sagbayan Peak

Kami membelok ke kanan begitu sampai di pertigaan kota kecil Clarin, dan tak lama kemudian bukit-bukit kecil berbentuk kerucut menyembul di kanan kami, begitu sampai di kota kecil Sagbayan. Wow, itu dia Chocolate Hills!

Chocolate Hills bisa dibilang destinasi wisata terfavorit di Bohol. Bukit-bukit kapur kecil itu mengerucut dengan ketinggian 30-50 meter, bertebaran di area yang meliputi wilayah kota Sagbayan, Batuan, dan Carmen. Konon jumlahnya mencapai 1.268 bukit. Bukit-bukit itu tertutup rerumputan dan tanaman-tanaman perdu hijau yang meranggas menjadi cokelat saat musim kering, dan kalau dilihat dari jauh seperti permen cokelat raksasa, sehingga dinamakan Chocolate Hills. Musim hujan di Bohol umumnya terjadi bulan Juni sampai Oktober, dan sekarang bulan Desember. Namun nampaknya belum cukup kemarau karena bukit-bukit itu masih berwarna hijau. “Kalau ingin melihat bukit-bukit itu berwarna cokelat, paling baik di bulan Maret sampai April,” tutur Mr. Tony, dengan bahasa Inggris yang lancar. Memang, di Filipina ini, rata-rata penduduknya bisa berbahasa Inggris, selain bahasa nasional Tagalog dan bahasa daerah masing-masing.

Hijau dan sepi di Sagbayan Menurut Tony, masyarakat Bohol mempunyai dua legenda mengenai terbentuknya Chocolate Hills. Menurut legenda pertama, dulu ada dua raksasa yang berkelahi. Selama berhari-hari mereka saling melemparkan tanah dan batu ke lawannya, sampai akhirnya kedua raksasa itu kelelahan. Mereka lalu sepakat melakukan perdamaian, namun bekas-bekas perkelahian itu mereka ditinggalkan begitu saja, dan menjadi bukit-bukit Chocolate Hills.

“Tapi ada legenda lain yang lebih populer,” tutur Tony. “Zaman dulu, konon ada seorang pemuda raksasa bernama Arogo, yang jatuh cinta kepada gadis manusia bernama Aloya. Saat Aloya meninggal, Arogo tak henti-henti menangis, dan air matanya berubah menjadi bukit-bukit itu, sebagai bukti cintanya kepada Aloya.”

Setelah mobil berjalan menanjak –sebenarnya kami tengah menaiki salah satu bukit itu– kami sampai di pintu masuk taman rekreasi Sagbayan Peak. Beberapa kubah kawat setinggi 3 meter ada di sisi kiri kami, tapi karena sudah terlalu excited untuk melihat keseluruhan bukit, kami menapaki jalan beton yang menuju puncak bukit kecil lainnya. Bukit setinggi kira-kira 50 meter ini sepertinya khusus dijadikan ‘menara pandang’. Dari sini, terbentang pemandangan bukit-bukit hijau menyembul di depan, kanan-kiri dan belakang kami. Di depan jauh sana kami bisa melihat laut Selat Bohol dan garis Pulau Cebu.

Di depan bawah kami, segaris jalan aspal menyilang dari kiri ke kanan, dengan beberapa rumah di pinggirnya yang bergenting merah. Di samping dan belakang rumah membentang sawah yang dihiasi pohon-pohon kelapa. Beberapa rumah tampak ada di belakang, tepat di kaki bukit kecil. Suasananya sangat sepi.

Hari masih mendung, dan yang kurang ‘sempurna’ dari pemandangan di sini adalah bukit-bukitnya tidak rapat dan banyak, melainkan memencar sendiri-sendiri di berbagai sisi, sehingga kurang spektakuler secara fotografi. Jadi kami tak berlama-lama di sini.

Si Mata Belo

Kami hampir saja melewatkan kubah kawat yang ada di samping loket masuk kalau saja Mr. Tony tidak bilang bahwa di dalam kubah itu ada tarsier. Mendengar kata ‘tarsier’, kami seperti tersengat kegirangan. Itu lho, hewan primata kecil yang matanya super-belo! Tadinya kami mengira ini kubah penangkaran kupu-kupu seperti yang ada di dalam kompleks taman rekreasi. Tadi kami melongok sebentar ke sana tapi kupu-kupunya sepertinya malas terbang karena cuaca yang mendung. Jadi kami hampir saja melewatkan untuk melihat kubah yang ini.

Si imut tarsius yang punya muka innocentSeorang penjaga dengan sebuah galah kayu panjang memandu kami untuk mencari hewan-hewan imut itu. Mereka bersembunyi di balik dedaunan di pohon-pohon yang mirip pohon mangga namun daunnya bertotol-totol kuning. Segera kemudian Mayumi memekik begitu melihat seekor tarsius bertengger di salah satu batang pohon.

Ternyata memang hewannya kecil, segenggaman tangan. Beratnya konon cuma 120 gram. Bulunya cokelat kusam dan berekor panjang tanpa bulu seperti tikus, menjuntai ke bawah sekitar 25 cm. Kaki belakang tarsius ini panjang sekali, dan bersama dua kaki depannya menggenggam erat batang pohon. Tampaklah jari-jari kakinya yang mirip jari katak daun.

Tapi kedua matanya yang sangat besar dan menonjol itu yang membuat saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mata yang super-belo itu begitu innocent dan berbinar, seperti layaknya mata anak kecil yang sedang memegang erat mainan kesayangannya. Ukuran masing-masing mata itu konon malah lebih besar dari otak si hewan imut ini. Kepala tarsius juga bisa berputar 180 derajat, meski kami sekarang tidak melihat tarsius itu melakukan ‘demo’. Sang tarsius hanya menempel diam di batang pohon, dan hanya sedikit memalingkan pandangannya. Memang, tarsius ini hewan nokturnal yang hanya aktif di malam hari saat mereka mencari makan.

Ekor panjangnya mirip ekor tikusSetengah jam di dalam kubah ini, kami bisa menemukan enam ekor tarsius yang tersembunyi di kerimbunan daun. Sang penjaga sempat menawari kami untuk memegangnya, tapi kami menolak, takut membuat si imut ini stres.

Dari informasi yang saya baca, tarsius Pulau Bohol (Tarsius fraterculus) ini merupakan salah satu dari tiga jenis tarsius yang ada di Filipina. Dua lainnya adalah T. philippensis di Pulau Samar dan Pulau Leyte, serta T. carbonarius di Pulau Mindanao. Tarsius-tarsius ini memiliki kemiripan dengan yang ada di Sumatra dan Kalimantan (Tarsius bancanus) maupun Sulawesi (Tarsius pumilus, T. spectrum, dan T. dianae). Konon Tarsius pumilus di Sulawesi-lah yang ukuran badannya paling kecil. Bisa dibayangkan betapa imutnya tarsius itu, kalau yang ini saja sudah kecil sekali.

Lebih Banyak Lagi Cokelatnya!

Kami melanjutkan perjalanan ke timur, dan sekitar 20 km kemudian, setelah melewati kota kecil Carmen, kami sampai lagi di area di mana di kanan kami bertebaran lagi bukit-bukit kecil mengerucut. Jalanan mulai menanjak lagi, yang sebenarnya kami sedang menanjak salah satu dari bukit cokelat itu. Sesampai di tempat parkir yang ada di puncak bukit yang lebih kecil dan rata, kami masih harus menapaki dulu 214 anak tangga untuk sampai ke puncak bukit yang menjadi menara pandang.

Namun pegalnya lutut dan nafas yang ngos-ngosan terbayar oleh pemandangan yang bisa langsung kami nikmati saat menapaki anak tangga. Bukit-bukit mengerucut  bertebaran rapat di sisi kanan, dan begitu sampai di puncak, gundukan bukit yang paling besar langsung menyambut di depan mata. Tak bisa dihitung berapa banyak bukit-bukit cokelat di sini, saking banyaknya! Bukit-bukit itu bersusun ke belakang sana hingga jauh sekali.

Pakai apa saja yang penting berfoto di Chocolate HillsPara turis berebut tempat untuk bisa berfoto-foto di bukit pandang ini, tak peduli cuaca yang mendung kini berubah menjadi gerimis kecil. Maklum, selain bisa berfoto-foto sendiri, di sini juga ada jasa pemotretan langsung jadi, lengkap dengan properti pemotretannya. Pengunjung cukup membayar 200 peso (1 Peso = Rp 275). Yang lucu, di sini disediakan juga sapu lidi dengan gagang panjangnya. Pengunjung bisa menaiki sapu ini lalu meloncat saat difoto, jadi bergaya seperti nenek sihir yang sedang terbang di atas Chocolate Hills.

Begitu gerimis berubah menjadi hujan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota Loboc, yang terkenal akan wisata sungainya. Hujan masih deras begitu kami melewati Manmade Forest alias hutan buatan yang ada di kedua sisi jalan di kota Bilar, separuh jalan menuju Loboc. Hutan sepanjang 1,6 kilometer ini terdiri dari pohon-pohon mahoni yang menjulang tinggi dan berjejer rapi dengan bagian puncaknya saling melengkung sehingga kami seperti memasuki terowongan.

Cruise ala Loboc

Hujan sudah berhenti dan cuaca kembali cerah begitu kami sampai di kota Loboc. Mobil kami berhenti di sebuah pusat keramaian di pinggir sungai di bawah Loay Bridge, yang menjadi titik awal wisata River Cruise. Beberapa konter penjual tiket wisata sungai penuh oleh para turis yang mau membeli tiket ataupun mengambil tiket yang sebelumnya sudah dipesan. Rupanya cukup mahal juga biaya ikut tur ini. Per orang mesti membayar 450 peso, plus tambahan 100 peso untuk asuransi kecelakaan. Biaya ini sudah termasuk makan siang prasmanan di atas kapal.

Sambil menunggu, nikmati dulu lagu-lagiu dari Rondalla GroupIstri saya dan Mayumi yang sudah kecapekan memutuskan untuk tidak ikut tur. Mereka akan bersantai saja makan siang dan mencari oleh-oleh di lokasi ini. Jadi saya dan Bapak Mertua yang akan ikut tur. Rupanya di pelabuhan sungai ini ada 12 dermaga, dan kami akan ikut tur dari dermaga nomor 3 dengan waktu keberangkatan pukul 13.30, yang tinggal beberapa menit lagi. Di seberang sungai, tampak bangunan tua Loboc Church yang memanjang, dan menara loncengnya yang tinggi menjulang. Mengisi waktu luang, saya menikmati penampilan musik dari Rondalla Group yang terdiri dari enam kakek-kakek yang melantunkan musik berirama Latin dan Filipina.

Tur sungai ini akan berlangsung selama 1 jam, dan tadinya saya mengira kami akan makan sambil berlayar, jadi bisa menikmati sajian sekaligus pemandangan kiri-kanan. Ternyata tidak. Karena ternyata saat makan, kapalnya tidak bergerak, alias statis saja di dermaga, hahaha! Baru setelah selesai makan –menunya lebih mirip menu hajatan di kampung– kapal pun mulai bergerak, diiringi lantunan suara penyanyi gitar tunggal yang melantunkan lagu-lagu oldies Everly Brothers, Bee Gees, dan Julio Iglesias.

Menu prasmanan yang mirip menu hajatan di kampungYang disebut ‘cruise’ ala Loboc ini adalah dua perahu sampan yang dijejerkan dan dibuatkan rumah dari kayu dan beratap ilalang di atasnya. Para turis makan dan duduk-duduk di sini. Penggerak kapal ini sendiri sebuah perahu kecil bermotor yang terpisah di belakangnya. Jadi si supir ada di perahu kecil ini, dan bertugas mendorong cruise. Hebat juga si supir ini, karena dia kan tidak bisa melihat kondisi sungai di depan kapal. Padahal di sungai ini berseliweran kapal-kapal lain yang juga membawa banyak turis. Yang saya amati juga, Sungai Loboc ini sangat bersih dan berwarna kehijauan. Sama sekali tak ada sampah plastik yang lewat, hanya daun-daun saja yang jatuh dari pepohonan di kanan-kiri sungai.

Kapal bergerak melawan arus sungai yang tenang ke hulu, dan sepanjang pelayaran ini yang kami lihat pohon-pohon nipah dan pepohonan tinggi yang rimbun menghijau, dengan sebuah gunung yang tinggi di kejauhan sana. Sesekali kami melihat sampan dengan dua petugasnya yang berkaos hijau mendayung pelan. Mereka bertugas memastikan keamanan pelayaran, dan juga mengusir anak-anak kampung yang bermain di sungai dan beratraksi jumpalitan dari dahan pohon ke sungai, dengan harapan mendapat lemparan uang dari para turis. Memang aksi itu bisa membahayakan mereka sendiri, karena kapal-kapal ini hilir mudik di kedua sisi sungai.

Kapal-kapal hilir mudik di kedua sisi Sungai LobocKapal kami melewatkan saja sebuah perhentian berupa rumah bambu beratap rumbia yang memajang suvenir-suvenir kerajinan lokal dan juga sebuah grup musik dan tari yang terdiri dari para wanita dan anak-anak. Mereka tengah menghibur para turis dari kapal lain yang merapat. Kapal kami baru memutar setelah melewati air terjun Busay Falls di sisi kiri sungai. Air terjunnya pendek saja, mirip jeram, namun saat itu airnya tengah banyak sehingga menimbulkan bunyi gemuruh.

Kapal kami merapat ke dermaga perhentian, dan langsung para anak gadis yang berpakaian atasan hijau dan rok berbunga-bunga menari-nari diiringi nyanyian dan petikan ukulele para wanita tua yang memakai pakaian serupa namun bertopi bambu. Hanya ada satu penari lelaki di perhentian ini.

Para wanita dan anak-anak gadis menyambut tamu di perhentianSatu tarian selesai, tarian berikutnya adalah tinikling. Dua bambu dipasang sejajar dan dua orang memegang kedua ujungnya. Para gadis mencontohkan menari meloncat-loncat di antara kedua bambu yang secara teratur digerakkan ini, mirip dengan tarian lompat bambu di Indonesia. Sejurus kemudian mereka menarik tangan para turis untuk mencoba ber-tinikling. Sebuah selingan yang sederhana namun mengesankan, terbukti para turis kemudian menyisipkan lembaran-lembaran peso dan dolar di kotak amal. Hanya saja suvenir kerajinan tas dan sepatu bambu itu tak tersentuh karena kapal segera berangkat.

Para turis diajak menari tiniklingSetelah menempuh perjalanan pergi-pulang sekitar 6 kilometer, kapal pun merapat di dermaga kembali. Kami meneruskan perjalanan dengan mobil dan mampir sebentar ke Loboc Church, yang dibangun tahun 1632. Bangunannya kuno sekali, mengingatkan saya pada gereja-gereja di film Zorro. Gereja ini menjadi salah satu tempat ziarah umat Katolik Filipina karena di sini dimakamkan Pendeta Alonso de Humanes yang dianggap orang suci. Menara loncengnya terpisah oleh jalan raya, dan sekarang di bawahnya dipenuhi warung-warung. Tapi saya tak bisa masuk ke dalam gereja yang tinggi dan panjang ini, karena pintunya terkunci.

Bertemu Lagi Si Mata Belo

Hari sudah jam tiga sore saat kami sampai di The Philippine Tarsier and Wildlife Sanctuary, di luar kota kecil Corella. Kantornya masuk beberapa puluh meter dari jalan raya, sepi dan teduh di kerimbunan hutan. Lembaga ini sejak tahun 1997 melakukan konservasi sekaligus mempromosikan hewan unik ini melalui kegiatan ekowisata. Mereka mengelola hutan suaka tarsius yang luasnya sekitar 8,4 hektar, dari keseluruhan 167 hektar yang meliputi daerah Corella, Loboc, dan Sikatuna. Mereka mempunyai program trekking beberapa jam bagi yang ingin belajar tentang tarsius. Namun kami akan ikut tur singkat saja karena hari sudah sore.

Kantor Tarsier Sanctuary di tengah rimbunan hutanKami diantar salah satu staf, Joannie, untuk mencari tarsius. Hutannya terletak di belakang kantor pengelola, dipagari oleh dinding kawat tinggi. Pohon-pohonnya tinggi dan rimbun dan di hutan ini hanya ada jalan tanah setapak yang sekarang basah oleh bekas hujan. Joannie menggandeng Mayumi di depan, sementara kami berurutan di belakangnya.Saya kagum juga dengan Mayumi yang baru berusia 6 tahun. Tadinya saya mengira di anak mall, namun ternyata ia asyik saja saat diajak masuk hutan.

Rupanya setiap pagi para staf di sini mengecek dulu keberadaan tarsius-tarsius itu, sehingga saat ada pengunjung, pemandu tinggal membawanya ke sana. Sebab umumnya saat siang hari, tarsius hanya mendekam di batang pohon atau gerumbul semak yang rimbun, dan baru keluar untuk berburu saat malam hari. “Makanannya serangga seperti jangkerik, belalang, kecoa, laron, kumbang, hingga kadal dan katak,” tutur Joannie. Dengan kaki belakangnya yang bertungkai panjang, tarsius bisa melompat sejauh 3 meter dari satu cabang ke cabang pohon lainnya.

Lebih sulit memotret tarsius di hutan aslinya karena lebih gelapKami menemukan seekor tarsius yang bersembunyi di dalam gerumbul pohon, tidak jauh dari tanah. Tempatnya yang tersembunyi oleh daun-daunan membuat hasil foto saya kurang tajam.

Rupanya di hutan ini juga ada beberapa pengunjung lain yang tengah dipandu staf lain. Staf itu menunjukkan ke satu arah, dan Joannie pun membawa kami ke sana. Rupanya ada dua tarsier yang tengah asyik berduaan di gerumbul pohon, dan merasa tak terganggu meski kami intip.

Tarsius keempat yang kami temui tengah bertengger di sebuah batang pohon yang melintang, tak jauh dari kepala kami. Tidak seperti pemandu tarsius di Sagbayan Peak, Joannie tidak menawari kami untuk menyentuh tarsius. “Tarsius itu punya sifat suicidal. Kalau ia merasa stres, ia bisa bunuh diri dengan membentur-benturkan kepalanya ke batang pohon.” Waah, ngeri juga. Untung tadi di Sagbayan Peak kami menolak untuk memegang tarsius.

Di hutan ini tidak banyak tarsius, karena memang setiap tarsius sebaiknya mempunyai daerah jelajah sekitar satu hektar (100×100 meter). Jadi di hutan ini sebaiknya hanya ada sekitar 8-10 tarsius saja.

Jangan lupa calamay, dodol khas Pulau BoholSekitar setengah jam, tur pun selesai. Kami mampir melihat foto-foto tarsius di kantor pengelola, dan secara kebetulan bertemu Carlito Pizarras, petugas lapangan Tarsier Sanctuary. Ia dijuluki Tarsier Man, karena sejak usia 12 sudah melakukan pelestarian tarsius dan ikut aktif di  lembaga non-profit ini sejak tahun 1997. Ia bahkan pernah ikut workshop internasional tentang tarsius di Manado tahun 2008.

Kami masih berkendara sekitar satu setengah jam lagi menuju Tubigon melalui kota Balilihan, lalu Catigbian, dan sampai di loket Starcraft di pelabuhan Tubigon sekitar pukul 5.30 sore. Kami sempat membeli calamay, dodol khas Pulau Bohol yang dikemas dalam tempurung kelapa, sebagai oleh-oleh. Begitu malam mulai menyapa, kapal pun bergerak meninggalkan Pulau Bohol. Selamat tinggal Chocolate Hills, selamat tinggal Tarsius Si Mata Belo…. (T)

 

BOKS:
Menuju Pulau Bohol

Kalau dari Manila, paling cepat adalah melalui Tagbilaran. Maskapai seperti Cebu Pacific atau AirAsia mempunyai penerbangan langsung ke sini. Tagbilaran merupakan lokasi yang bagus karena berdekatan dengan Pulau Paglao, destinasi pantai yang sangat populer di Bohol. Angkutan umum maupun tur-tur ke Tarsier Sanctuary, Loboc River, dan Chocolate Hills banyak ditemui di sini. Umumnya tur hanya sampai Carmen, tidak sampai Sagbayan Peak. Angkutan umum juga lebih mudah dari Tagbilaran, meskipun tidak seramai seperti di Pulau Jawa.

Loboc Church yang sudah sangat tuaKalau dari Pulau Cebu, paling cepat dan murah adalah melalui Tubigon memakai kapal cepat Starcraft (200 peso sekali jalan) yang punya banyak skedul setiap hari. Pesan tiket Starcraft melalui Ms. Fatima (+63 906 7896363) yang sekaligus juga bisa untuk pesan tur dengan Mr. Tony (+63 923 7422029). Tiket kemudian dapat diambil di konter Starcraft di dekat Dermaga I Pelabuhan Laut Cebu City.

Untuk memperoleh gambaran lebih lengkap tentang Pulau Bohol, buku panduan wisata terbaik adalah Your Guide to Bohol Philippines (595 peso) terbitan PDP Digital Inc., yang bisa dibeli di toko-toko buku di Filipina. Demikian juga untuk peta lipat Pulau Bohol (79 peso). Peta Filipina yang cukup detil terbitan Periplus juga bisa dibeli di Indonesia.

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

8 comments

Timothy W Pawiro

Wooww infonya lengkap sekali Mas … Thanks for sharing ya! 🙂

Sama-sama Mas Timothy. Selamat traveling ke Filipina, have fun!

menarik sekali,…thanks for sharing 😀

Terima kasih sudah berkunjung, Mas Haryadi. Keep shooting & writing!

Emakmbolang

Si Mata Belo bisa menjadi cerita yang sangat menarik. Kenapa saya selalu fokus sama tempat ya? *plak* belajar lagi, gali ilmu lagi 🙂

Hahaha, iyalah, traveling nggak harus tentang tempat, tapi juga orang-orang, hewan, hasil kerajinan, makanan, profesi orang, dsb, dsb. :))

Anda sudah berbagi cerita yg bagus. Sangat edukatif. Namun, Indonesia memiliki jauh lebih banyak destinasi wisata yg lebih indah dan lengkap. Semua landscape, flora – fauna, budaya,kuliner lengkap ada di Indonesia tercinta. Dan tentunya jauh lebih dekat dan murah. Kita explore negara kita spy lebih kenal dan lebih dekat di hati. Thanks mas.

Teguh Sudarisman

Dear Mbak Joyce,
Terima kasih atas kunjungan dan saran Mbak. Ada 99 artikel di blog ini dan dua pertiganya tentang Indonesia. Yang luar negeri lebih sedikit, cuma kebetulan saja itu yang lebih banyak dimuat di Vivalog (saya menduga Anda tahu blog ini dari sana). Silakan buka-buka blog ini lebih lama ya dan bantu menyebarkan cinta Indonesia dengan share via sosmed kalau sekiranya ada artikel yang menurut Mbak bagus di blog ini. Terima kasih.

Leave a Reply