A Day at the Old Port

Pernah menjadi bagian penting dari sejarah Jakarta, pelabuhan ini mencoba bertahan dari gerusan zaman.

Bergotong-royong di tengah panas menyengat.Panas matahari menjelang siang ini makin menyengat, namun empat lelaki berpakaian lusuh dan bertopi itu tak berhenti menurunkan sak-sak semen dari sebuah truk. Debu-debu mengepul beterbangan saat semen itu setengah dijatuhkan ke atas jaring tali di tanah. Tak lama, tali itu diangkat oleh sebuah derek yang ada di atas kapal, dan semen pun dipindahkan ke dalam kapal phinisi Citra Bahagia yang sandar tak jauh dari mereka bekerja. Begitu terus, sampai semua sak semen dari atas truk berpindah ke dalam kapal. Sebagian teman keempat lelaki itu, yang ternyata para awak kapal, berteduh di samping gudang di pinggir jalan, sambil merokok dan mengelap peluh di wajah-wajah keras mereka.

“Semen itu akan kami bawa ke Pontianak,” tutur Pak Narto, salah seorang awak Citra Bahagia. “Perlu berlayar tiga hari tiga malam supaya bisa sampai ke sana.”

Mengaso sejenak untuk mendinginkan peluh.Aktivitas bongkar-muat semen itu sendiri sudah berlangsung sejak jam 7 pagi tadi, dan mungkin akan memakan waktu dua hari. Kapal kayu itu bisa mengangkut muatan sebanyak 450 ton, sedangkan setiap truk, tergantung ukuran badannya, hanya bisa menyuplai 20, 25, 40, hingga maksimal 50 ton semen. Jadi perlu berulangkali kali bongkar muat sebelum kapal itu bisa terisi penuh. Menurut Narto, yang aslinya dari Pekalongan, biaya angkut semen itu Rp 180 ribu per ton. Jadi kalau kapal membawa 450 ton semen, biaya angkutnya bisa Rp 81 juta.

Di samping kapal ini, bersandar kapal Phinisi Indah, yang menunggu giliran pula untuk diisi semen, setelah sebelumnya menurunkan muatan berupa ampas kelapa sawit. Nantinya konon ampas ini  akan dijadikan pakan ternak ayam. Kapal ini bisa mengangkut hingga 1.000 ton semen atau material seperti besi, kayu, toren air, dan material bangunan lain. Kapal ini juga membawa 6 ribu liter solar untuk bahan bakarnya. Sebagian besar kapal-kapal yang dimiliki orang Sulawesi Selatan ini menuju Pontianak, dan hanya beberapa saja yang akan menuju Bangka dan Belitung.

Menambal si phinisi raksasa.Senyampang menunggu, para awak kapal lain mengecet ulang bagian-bagian kapal yang mengelupas, dan menambal dinding lambung kapal yang mungkin bisa kemasukan air. Kapal-kapal phinisi ini berjejer menyerong dengan rapi, mulai dari pintu masuk pelabuhan di sisi selatan, hingga jauh ke ujung utara di bibir muara, memenuhi sisi timur dermaga yang airnya berasal dari gabungan Sungai Ciliwung dan Sungai Krukut. Panjang dermaga pelabuhan ini sekitar 350 meter. Sementara sisi baratnya sangat sepi, hanya bersandar sampan dan perahu-perahu kecil yang dipakai nelayan untuk memancing ikan.

Di sela-sela kapal besar ini, menyelip pula sampan-sampan kecil, dan penunggunya hanya satu orang, yang menawarkan jasa penyeberangan ke kampung Luar Batang di seberang dermaga. Ongkos sekali menyeberang hanya Rp 3.000, dan Pak Lupi atau Pak Nurullah akan senang kalau ada turis lokal atau turis bule yang mau mereka antar berkeliling pelabuhan tua ini. Dengan itu mereka bisa mendapat antara Rp 20.000-50.000 dari tur singkat melewati kapal-kapal phinisi, menyusuri air sungai yang kotor dan sesekali mendapat buangan air dari kapal.

menikmati tur di air keruh.Saya yang sempat mencoba tur ini dengan Pak Lupi, tak bisa menyembunyikan rasa malu dan risih melihat dua turis bule dan dua anak kecil mereka melakukan tur juga dengan sampan, tanpa life vest, dan disuguhi pemandangan air keruh dan sampah mengambang di mana-mana. Apa yang mereka cari? Mudah-mudahan mereka tidak diantar ke ujung selatan dermaga, di mana terletak perkampungan nelayan dengan rumah-rumahnya yang rapat dan kondisi lingkungan lebih buruk. Saat menjelang sore, anak-anak kampung di sini biasanya akan berloncatan dari kapal phinisi atau perahu para nelayan yang sedang menganggur, terjun ke air sungai yang keruh dan menjadi tempat penampungan segala macam limbah.

Begitulah nasib Pelabuhan Sunda Kelapa saat ini, yang meskipun gersang, panas, dan berdebu, namun bisa dibilang masih beruntung karena tetap bisa survive semenjak lahir berabad-abad lalu. Dari semula menjadi pelabuhan Kerajaan Tarumanegara, lalu Kerajaan Pajajaran, pelabuhan ini kemudian direbut Fatahillah yang berhasil mengalahkan armada Portugis yang berusaha mendarat di pelabuhan ini. Kemenangan ini pula yang –menurut sebagian pihak– terjadi pada 22 Juni 1527 dan kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Jakarta.

Masih bekerja meski senja telah menjelang.Di masa-masa berikutnya, pelabuhan ini menjadi pangkalan utama dalam upaya kolonialisasi kepulauan Nusantara oleh VOC dan pemerintah kolonial Belanda. Waktulah yang kemudian membuat peran pelabuhan ini digantikan oleh Pelabuhan Tanjung Priuk yang besar dan modern. Sunda Kelapa kemudian berubah fungsi menjadi pelabuhan perikanan, namun kemudiaan fungsi itu berakhir juga. Kini, pelabuhan tua ini hanya mendapat porsi yang kecil dari perkembangan zaman, meski tetap penting bagi para awak kapal yang menggantungkan hidup dari pengangkutan barang antarpulau, maupun para pecinta masa lalu yang berharap masih dapat melihat kapal-kapal phinisi kebanggaan pelaut Indonesia.

Matahari makin tenggelam di langit barat, dan badan-badan lesu para awak kapal masih mereka paksa untuk mengangkut semen hingga selesai, yang kadang berarti hingga malam. Sebagian awak kapal lain bersantai memandang matahari yang tenggelam di balik menara tinggi Masjid Luar Batang, ataupun mandi untuk menyambut malam. Bunyi gayung mereka mandi, dan gelontoran air dari kamar mandi kapal, jatuh ke sungai berair gelap di bawah mereka. (T)

 

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

3 comments

Haryadi be

waaaaah, biru langitnya suka sekali…

Biru dong ahhh, masa abu-abu? (racuuunnn!)

Haryadi be

Hahhahaha racun tingkat tinggi 😀

Leave a Reply