A Room with Volcano View

Menginap di sini membuat liburan di Jogja terasa sempurna.

Ini untuk yang ketiga kalinya saya mengunjungi Hyatt Regency Yogyakarta, sebuah hotel bintang lima yang berada di sisi utara kota. Dan seperti di kunjungan-kunjungan sebelumnya beberapa tahun silam, kesan dan kekaguman saya tak berubah. Hotel ini tetap rimbun, asri, dan luas. Rasanya seperti menemukan sebuah taman-hutan di kota yang makin penuh oleh wisatawan ini.

Selamat datang di Hyatt. Mau saya antar naik becak?

Selamat datang di Hyatt. Mau saya antar naik becak?

Menuju lobi untuk check in, saya menyusuri selasar yang kanan-kiri dipenuhi kolam-kolam berteratai. Sesekali ikan-ikan mas muncul di permukaan kolam yang berhias miniatur stupa Candi Borobudur dari batu hitam. Pendopo yang berada di ujung selasar ini dan ‘dijaga’ becak antik yang membawa sebuah televisi flatscreen berisi infomercial hotel, sepertinya masih menjadi tempat favorit untuk bertemu. Sofa-sofa di pendopo yang menyambung dengan Paseban Lounge ini diisi orang-orang yang sepertinya mengobrol untuk urusan bisnis.

Kamar yang akan saya inapi rupanya masih belum siap. Resepsionis meminta saya menunggu sekitar 30 menit lagi, dan memberi beberapa pilihan untuk mengisi waktu kosong itu. Karena di pendopo tadi tak ada sofa tersisa untuk saya duduki, saya bertanya apakah tempat ngopi lain yang enak. Sang resepsionis merekomendasikan untuk ke Bogey’s Teras.

Kembali menyusuri selasar hotel, saya melewati halaman rumput yang teduh karena dikelilingi pohon-pohon besar. Beberapa anak dari tamu hotel tengah bermain sepakbola mini. Belok kanan, saya melewati bangunan Health Club & Spa, dengan sepeda-sepeda yang berjejer menunggu dikayuh, dan sebuah pohon beringin raksasa di halamannya. Di belakang bangunan inilah Bogey’s Teras, kafe mungil yang bersisian dengan sebuah pendopo luas yang dilengkapi panggung untuk live music dan kursi-kursi rotan untuk bersantai.

Mumpung cuaca teduh, mari berlatih main golf.

Mumpung cuaca teduh, mari berlatih main golf.

Pandangan kini terasa makin lega karena di depan mata terhampar lapangan golf 9 hole, fasilitas yang sangat jarang dimiliki hotel-hotel lain di Jogja. Cuaca agak mendung, namun tak mengurangi semangat tukang potong rumput untuk melakukan tugasnya. Dua pria tampak sedang berlatih memukul bola – sepertinya pria yang satu adalah pelatihnya. Dari balik gerumbul pepohonan di depan sana, muncul pegolf lain yang sudah menyelesaikan permainannya, datang diiringi para caddy. Sepertinya menyenangkan kalau bisa berlatih golf di sini. Pelatih dan semua peralatannya sudah ada, tinggal menyewa saja.

Mau jogging tak perlu keluar hotel.

Mau jogging tak perlu keluar hotel.

Lamunan saya terhenti ketika resepsionis memberitahu saya lewat telepon. Kamar saya sudah siap, dan… surprise! Kamar saya yang tadinya Standard King Room di-upgrade menjadi Deluxe King Room, di lantai enam. Kamarnya, meski tidak tampak baru sekali, namun sesuai standar hotel bintang lima: tempat tidur king size, televisi flatscreen, kamar mandi dengan bathtub, wifi yang kencang, meja kerja tersendiri, dan sofa untuk bersantai. Tapi ada bonusnya: pandangan langsung ke Gunung Merapi dan Merbabu dari jendela kaca besar di kamar. Merapi, yang mengerucut dari balik gerumbul pohon-pohon kelapa dan lapangan tenis hotel, terlihat tenang dengan kepulan asap putih dari puncaknya, dan makin membiru seiring senja menjelang.

Tak akan bosan memandang Merapi dan Merbabu dari balik jendela kamar.

Tak akan bosan memandang Merapi dan Merbabu dari balik jendela kamar.

Saya tak sempat menikmati makan malam di hotel, karena Mbak Yayuk, seorang teman akrab yang tinggal di Jogja, menjemput saya untuk makan malam di luar. Yang kami tuju adalah Ayam Goreng Mbok Sabar, yang menurutnya menjadi favorit ibu-ibu Jakarta kalau mau membawa pulang oleh-oleh makanan dari Jogja. Setelah gagal di restoran cabangnya yang di Jalan Magelang karena tinggal menyisakan sepotong dada ayam, kami memutar arah dan beruntung masih bisa makan di restoran pusatnya di Jalan Jagalan. Ayam gorengnya memang gurih dan empuk, tapi menurut saya tidak ada hal lainnya yang istimewa.

Karena sehabis makan saya masih dibawakan satu ayam goreng utuh satu boks, lalu diajak mampir ke rumah Mbak Yayuk yang mempunyai pendopo joglo baru untuk workshop perhiasan miliknya, saat pulang ke hotel saya sudah ngantuk. Andri, adik saya yang tinggal di Jogja dan datang untuk mengantar saya untuk ikut sunrise tour dengan jeep di Merapi besok pagi, saya persilakan menikmati apa yang ada di kamar, sementara saya tidur.

Senja yang menenangkan di Hyatt Regency Yogyakarta,

Senja yang menenangkan di Hyatt Regency Yogyakarta,

Selepas azan subuh, ditemani bunyi jengkerik dan serangga-serangga malam di kerimbunan pohon, saya dan Andri mengambil motor di tempat parkir hotel. Andri memboncengkan saya, melajukan motor dengan cepat, agar kami tak ketinggalan mengikuti tur jeep (cerita selengkapnya di sini: http://tgifmag.com/good-morning-merapi). Kami sampai kembali di hotel pukul 10 pagi, dengan badan capek tapi puas karena tadi mendapat cuaca yang cerah dan langit biru.

Kalau tak kebagian tempat di Kemangi Bistro, makan di beranda lebih asyik.

Kalau tak kebagian tempat di Kemangi Bistro, makan di beranda lebih asyik.

Beruntungnya, breakfast di Kemangi Bistro di lantai dasar hotel buka sampai pukul 10.30. Kami sempat menikmati menu prasmanan yang beraneka ragam, yang disajikan hingga ke beranda resto, yang sejuk oleh kerimbunan daun-daun dan gemericik air dari kolam pancur. Rupanya area ini untuk menu-menu tradisional Indonesia, seperti lontong sayur, bubur ayam, nasi goreng, pecel, hingga soto banjar. Saya mencoba yang terakhir ini, dan mendapati kuah sotonya yang kental dan gurih, yang makin segar dengan diberi sambal dan perasan jeruk nipis.

Tempat paling sesuai untuk menghabiskan siang yang panas.

Tempat paling sesuai untuk menghabiskan siang yang panas.

Saya masih sempat berjalan-jalan mengelilingi kolam renang yang lebih menyerupai waterpark mini. Selain kolam pancur, kolam rendam, juga ada kolam arus, dan seluncuran yang pintu masuknya berupa gapura batu, mirip gapura di Kraton Ratu Boko, Prambanan. Dari area kolam renang pula terlihat bahwa hotel dengan 269 kamar dan suite ini, ditambah ruang-ruang meeting dan ballroom yang mampu menampung seribu orang, masih terlihat kecil dibandingkan dengan keseluruhan ruang hijau kompleks hotel ini.

Waktu menginap yang hanya semalam memang terasa sangat singkat, karena bnyak yang belum saya nikmati. Mudah-mudahan di kunjungan berikutnya saya bisa mencoba spa, naik andong, bersepeda keliling kompleks hotel, dan… belajar main golf.

Hyatt Regency Yogyakarta
Jalan Palagan Tentara Pelajar
Yogyakarta 55581
Tel: 0274-869123
Fax: 0274-869588
E-mail: yogyakarta.regency@hyatt.com
http://yogyakarta.regency.hyatt.com

Catatan: Saya menginap di Hyatt Regency Yogyakarta dengan booking melalui Agoda.com,

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

12 comments

angkisland

Hyatt emnag exclusive mas hehe….

Mas bisa juga nginap di situ koq. 😀

Asri banget ya mas tempat nya…
Kolam nya menggoda banget

Benar Mas Zahri. Sudah asri, luas lagi. Kolam renangnya memang asyik banget, ada beberapa kolam dan juga seluncuran.

Rifqy Faiza Rahman

Paling suka kalau dapat kamar dengan view ke gunung, bisa lihat sunrise/sunset 😀

Hahayyy! Iya Mas. Ada beberapa hotel dan resort eksklusif lain di seputaran Jogja yg viewnya gunung, seperti Cangkringan Villa & Spa, Mesastila, Amanjiwo, dsb. Coba aja nginap di hotel-hotel itu Mas. 😀

Hotelnya klasik benar. Cantik. Sesuai gaya saya ..#ehem! Nanti kalau ke Yogya mau nginap di sini ah. Thanks rekomendasinya Mas Teguh 🙂

Iya, yang jelas rimbun, teduh dan luas, nggak berisik. Buat keluarga dengan anak-anak juga banyak aktivitas yang bisa dilakukan.

Emakmbolang

Paling suka membuka kaa jendela trus lihatin lekuk gunung. Duh, jadi ngelamun leyeh leyeh cantik disitu.

kayaknya kalau ke Jogya harus cobain hotel yang satu ini 🙂

Yoi, nginep di sini nggak usah keluar-keluar lagi, cukup liburan di hotel saja. Renang, spa, golf, sepedaan. 😀

Wah asik banget ini hotelnya mas, karena area terbuka hijaunya yang luas dan letaknya gak terlalu jauh ke pusat kota Jogja yang penuh objek wisata. Paling asik memang kalau agak berlama-lama tinggal di hotel macam ini, jadi bisa lebih puas menikmati suasananya. Boleh nih kalau punya rejeki nyobain nginep di hotel ini 🙂

At least 2 malam Mas, biar bisa sepedaan, spa, & juga berlatih main golf. Meskipun agak di utaa Jogja, tapi cepat jg kalau ke airport lewat jalan lingkar utara, dan juga lebih dekat ke Merapi sama Borobudur.

Leave a Reply