Batik Cap Untold Story

Batik cap sering dianggap produk ‘nomor dua’ setelah batik tulis.
Anggapan ini timbul karena orang tidak tahu proses pembuatan capnya.

Ada masanya permintaan akan kain batik begitu tinggi, sementara kapasitas produksi batik tulis (hand-waxed batik) tidak bisa memenuhinya karena keterbatasan sumber daya manusia maupun prosesnya sendiri yang memakan waktu lama. Kekurangan pasokan batik ini kemudian memunculkan ide untuk membuat batik cap (wax-stamped batik). Pemikirannya, motif batik bisa dibuat lebih cepat secara berulang dengan menggunakan cap atau stempel motif batik.

Contoh cap batik dengan motif yang rumit.

Contoh cap batik dengan motif yang rumit.

Penggunaan cap batik ini telah dicatat oleh Thomas Stamford Raffles saat ia menjadi gubernur jendral Inggris di Jawa (1811-1816). Saat itu, yang digunakan adalah stempel dari kayu, untuk menempelkan bahan warna nabati pada kain. Namun warna kain dengan cap memakai cara ini tidak tahan lama. Sebelum masa itu konon pernah dipakai juga stempel dari potongan melintang umbi besar. Pada potongan itu diukirkan motif yang akan distempel. Umbi dicelupkan ke cairan malam (lilin batik) dan dicapkan ke kain. Cara ini juga tidak efektif karena stempelnya tidak tahan lama dan garis malamya tidak rata. Kemudian berkembang stempel kayu, lalu stempel kayu dengan pasak-pasak kecil yang dipakukan untuk membuat garis-garis. Namun ternyata pasak ini lebih cocok untuk membuat isen-isen (pengisi) berupa titik-titik.

Sekitar tahun 1845, mulailah diperkenalkan cap dari tembaga. Garis-garis motif dibuat dari alur-alur tipis plat tembaga, yang dipatri dengan timah ke kerangka yang kemudian diberi gagang besi. Teknik ini mirip cara yang dipakai para perajin emas dan perak China, sehingga diduga teknik cap tembaga pada batik ini dibawa oleh para pedagang China. Ukuran capnya masih kecil, sekitar 10×10 cm. Penemuan pasak-pasak penanda titik hubung di keempat sudut cap agar pola batik itu bisa diulang-ulang dengan sempurna oleh tukang pencapnya, baru ditemukan sekitar tahun 1930.

Dengan adanya cap batik, laki-laki ikut terlibat dalam pembatikan.

Dengan adanya cap batik, laki-laki ikut terlibat dalam pembatikan.

Meski cap dari tembaga ini jauh lebih mahal, namun hingga sekarang terus digunakan, karena motif yang dihasilkannya lebih akurat, tembaga mudah dibentuk untuk membuat berbagai detil motif dan berbagai ukuran, serta tahan lama. Usia cap tembaga ini bisa mencapai 10 tahun, asal disimpan dengan baik dan cap tidak patah atau rusak.

Dengan ditemukannya teknik cap, mulailah kaum laki-laki turut mengerjakan produksi kain batik. Sebelumnya, membatik adalah pekerjaan kaum perempuan. Produksi batik cap pun semakin berkembang di Indonesia khususnya di Jawa Tengah, dengan jumlah perajin terbanyak ada di Pekalongan, disusul Solo, Yogyakarta, Lasem, dan kota-kota lain di Jawa seperti Cirebon, Tasikmalaya dan Bandung. Jumlah perajin cap di Pekalongan saat ini kurang dari 50 orang, karena sebagian besar pindah ke beberapa kota termasuk ke Jawa Timur, Bali, dan kota-kota lainnya.

Cepat Tapi Lama

Meski cap dapat mempercepat proses pembatikan, pembuatan capnya sendiri tidaklah sesederhana yang kita pikirkan. Butuh waktu yang lama dan memerlukan banyak langkah, serta tentu perajin cap yang mumpuni.

Motif hasil daya cipta si pembatik dituangkan menjadi bentuk gambar motif.

Hasil daya cipta si pembatik dituangkan menjadi bentuk gambar motif.

Motif Siap Dibuat Cap

Motif yang sudah rapi siap ditransformasi menjadi cap batik.

Langkah awal pembuatan cap dimulai dengan mendesain motif batik cap, dengan cara membuat sketsa desain secara manual pada kertas roti atau kertas kalkir,  maupun dengan bantuan teknologi desain grafis pada komputer. Biasanya motif geometris dibuat dengan komputer, sebab motif ini mudah diulang dengan ‘copy-paste’.  Motif yang meliuk-liuk seperti flora dibuat secara manual, sebab motif ini memiliki detail yang lebih rumit dan lebih tidak terukur.

Langkah berikutnya adalah membuat ancak, yakni rangka dasar untuk pemasangan motif cap. Motif cap akan direkatkan ke rangka ini agar kokoh dan tidak lepas atau bergeser. Membuat matriks rangka ini saja memerlukan keahlian dan ketelitian dalam hal teknik penguncian antar sambungan pelat agar rangka ini kokoh.

Alat-alat pembuat cap batik dan ancak yang siap dibuat.

Alat-alat pembuat cap batik dan potongan motif yang sudah dipasang pada ancak.

Cap-cap yang masih dalam tahap awal pembuatan.

Cap-cap yang masih dalam tahap awal pembuatan.

Sedikit demi sedikit motif mulai terbentuk.

Sedikit demi sedikit motif mulai terbentuk.

Kemudian dimulailah membuat motif tembaganya. Ini bagian yang paling menarik, karena kita bisa melihat bagaimana si perajin cap mentransformasi motif yang ada di kertas contekan menjadi motif dari potongan-potongan pelat tembaga. Melihat bagaimana ia mengukur panjang pelat dengan alat jangka, lalu menekuk-nekuk pelat dengan pinset besi agar sesuai dengan liukan pola di kertas, akan membuat kita terkagum-kagum. Saat melihat bagian ini pula, umumnya timbul keinginan untuk bisa menirukan cara si perajin dalam mengukur dan menekuk pelat. Dan memang, untuk bisa memahami dan menghargai cara membuat cap ini, satu-satunya cara adalah melihat dan mempraktekkannya langsung.

Para pembuat cap di Batik Komar. Profesi yang masih langka.

Para pembuat cap di Batik Komar. Profesi yang masih langka.

Setelah membentuk motif besarnya, pekerjaan selanjutnya adalah mengisi ruang-ruang kosong di antara motif tembaga itu dengan pola tutul (titik-titik) menggunakan logam seng yang dibentuk menyerupai sisir. Batang-batang ‘sisir’ yang lancip menghadap ke atas dan memenuhi ruang kosong yang diisinya. Berikutnya, perajin membuat pola tembokan –bagian motif yang seluruhnya ditutup malam– lalu pola bajelan, yang berfungsi sebagai pengganjal agar motif yang sudah terpasang tetap kokoh di tempatnya. Bagian membuat motif tembaga ini membutuhkan waktu paling lama, karena si perajin harus menyelesaikan semua lekukan, sambungan, dan juga titik-titik sesuai motif di kertas.

Pekerjaan membuat cap belum selesai sampai di sini. Masih banyak tahapan lain sampai cap itu benar-benar siap dipakai.

Motif yang sudah dibakar. Tampak kuncian-kuncian sementara, siwer, dan gagang cap.

Motif yang sudah dibakar. Tampak kuncian-kuncian sementara, siwer, dan gagang cap.

Disiram gondorukem dulu agar motif tidak goyah saat diampelas.

Disiram gondorukem dulu agar motif tidak goyah saat dikikir.

Dikikir untuk meratakan permukaan cap.

Dikikir untuk meratakan permukaan cap.

Cat diampelas agar permukaannya benar-benar halus.

Cap diampelas agar permukaannya benar-benar halus.

Mencairkan kembali gondorukem agar lepas dari cap batik.

Mencairkan kembali gondorukem agar lepas dari cap batik. Cap siap diujicoba.

Proses berikutnya adalah penataan, yakni pencabutan kembali kuncian-kuncian sementara pada rangka cap, karena kini motif cap sudah permanen oleh pematrian. Si perajin kemudian menuang cap dengan cairan gondorukem panas, yang akan mengeras dalam dua jam. Permukaan motif cap yang kini tertutup gondorukem padat ini digosok dengan logam bergerigi seperti gergaji, sampai motifnya terlihat kembali dengan lebih mengilat dan rata di seluruh permukaan. Cap dipanaskan lagi di dalam wajan untuk mencairkan gondorukem, hingga diperolehlah cap hasil akhir dengan bagian motifnya yang mengilat dan rata.

Cap yang sudah lulus uji pun siap digunakan.

Cap yang sudah lulus uji dan siap digunakan.

Terakhir, dilakukan tes cap ini pada kain atau kertas. Jika hasil cap belum rata atau motifnya ada yang kurang jelas ataupun garis-garis motifnya terputus, dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan, lalu dilakukan lagi pengulangan dari tahap penuangan gondorukem. Jika hasil cap sudah seperti yang diharapkan, barulah cap itu siap dipakai.

Harga vs. Sumberdaya

Lama waktu untuk membuat cap tergantung dari detail motif. Untuk ukuran cap standar 18X18 cm dengan motif yang tidak terlalu rumit, dibutuhkan 10-15 hari. Jika motifnya rumit, bisa sampai 3 minggu. Tak heran jika harga cap ini relatif mahal. Harga satu cap ukuran standar bisa mencapai Rp 1-1,5 juta, sudah termasuk biaya perbaikan desain motif. Kalau capnya saja Rp 600-850 ribu. Harga lempengan tembaga sendiri, yang dibeli perajin di daerah Tegal atau Pekalongan, sekitar Rp 125-130 ribu per kilogram. Umumnya dalam selembar kain batik cap itu tidak hanya terdiri dari satu motif cap yang monoton, tapi ada variasinya, yang bisa dari motif cap lain ataupun dipadukan dengan motif tulis. Jadi bisa saja selembar kain memerlukan 3-4 cap motif yang berbeda, dengan ukuran berbeda pula.

Satu kain batik memerlukan beberapa cap dengan ukuran berbeda.

Satu kain batik memerlukan beberapa cap dengan ukuran berbeda.

Jadi kalau dihitung-hitung, untuk membuat selembar kain batik cap dari awal hingga ‘pertengahan proses’ saja butuh waktu dan biaya yang besar. Disebut ‘pertengahan proses’ karena setelah motif cap itu komplet kini saatnya pekerja mengecapkan motif itu ke kain putih secara berulang-ulang dan harus sangat teliti. Setelah selesai, kemudian dilanjutkan proses penutupan motif dengan malam (catatan: Anda harus melihat sendiri prosesnya supaya bisa mengerti penjelasan ini),  pencelupan, pengeringan, pelorodan, penutupan lagi, pencelupan lagi dan seterusnya, sampai benar-benar diperoleh produk kain batik final yang siap dijual.

Motif 'Tahu Gimbal' saat masih bentuk sket yang sudah rapi.

Motif ‘Tahu Gimbal’ saat masih bentuk sket yang sudah rapi.

hasil akhir kain batik bermotif 'tahu Gimbal'.

Hasil akhir kain batik bermotif ‘Tahu Gimbal’.

Pendidikan khusus untuk mencetak ahli pembuat cap batik ini belum ada di sekolah-sekolah umum maupun kejuruan. Yang ada hanyalah belajar di lingkungan keluarga secara turun-temurun atau dari perajin batik senior yang mau berbagi pengalaman. Biasanya, perajin batik yang masih baru akan mendatangkan pembuat cap dari sentra perajin cap seperti Pekalongan untuk memberikan kursus ke beberapa karyawan pembatik baru sampai mereka mahir. Nanti para karyawan ini menularkan ilmunya kepada karyawan lain yang memiliki keinginan untuk belajar. Begitulah seterusnya sehingga perajin cap ini terus bertambah dan keahlian ini tidak punah. (T)

BOKS:
Ingin Jadi Pembuat Cap Batik?

Pembuat cap batik merupakan profesi yang langka, dan sudah tentu sangat dicari oleh orang yang ingin membuka usaha batik. Terlebih, kalau si pembuat cap itu juga bisa membuat desain motifnya –beberapa orang bisa melakukan hal ini– sudah pasti dia menjadi ‘orang penting’ di usaha batik itu. Untuk belajar membuat cap, beberapa pengusaha batik menerapkan biaya untuk ‘kursus’ ini, tapi ada juga yang gratis, dengan catatan Anda nanti jadi pekerja di usaha batik itu. Tapi, baik membayar ataupun gratis, manfaatnya jelas ada kalau kita ingin belajar. Terlebih kalau kita memang benar-benar cinta dengan batik. Coba kontak alamat-alamat berikut kalau Anda ingin belajar menjadi pembuat cap, atau sekurangnya melihat proses pembuatannya:

Batik cap motif 'Bunga Sakura' koleksi Keluarga Batik Betawi.

Batik cap motif ‘Bunga Sakura’ koleksi Keluarga Batik Betawi.

Batik Semarang 16
Kampung Sumberejo, Desa Meteseh,
Kecamatan Tembalang, Semarang
Tel. 024-70788692, 024-76483797, 0811-289444
E-mail: batiksemarang16@yahoo.com
www.batiksemarang16.net

Batik Komar
Jl. Cigadung Raya Timur I No. 5
Cigadung, Bandung
Tel. 022-2500822, 0811-237590 Fax. 022-2514788
E-mail: kkudiya@ymail.com
www.komarbatik.com

Rumah Keluarga Batik Betawi
Jl. PLTGU Muara Tawar, Desa Segara Jaya RT-002/003
Kecamatan Taruma Jaya, Bekasi
Tel. 021-33030044, 0812-24403336
E-mail: rumahkbb@yahoo.com
www.keluargabatikbetawi.com

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

5 comments

[…] Proses Pembuatan Batik Cap by @TeguhSudarisman […]

Sandi Iswahyudi

Membaca tulisan mas saat di buku dan di sini, memiliki kesamaan. Sama-sama panjang, informasi lengkap, dan bercerita. Sangat menarik sekali. Dan saya pun tertarik dengan portofolio mas, yang tulisannya telah banyak terbit di berbagai majalan traveling. Saya sangat tertarik untuk mengirimkan tulisan traveling saya ke majalah2 tersebut mas. Misal majalah airline. Kalau misal boleh, bagaimana caranya saya mengirimkan itu?
Sebab salah satu pembaca dan mentor saya bilang, kalau tulisan saya di blog bagus dan disarankan dikirim ke media cetak. Mas bisa juga lihat di blog saya.
Saya tunggu kabarnya mas. terima kasih

Bisa Mas. Kita diskusi di messenger Fb saja ya, kalau Mas sudah jadi teman saya. Nomor telepon yang tercantum di website itu nomor saya, tapi untuk masalah bisnis saja ya. Kalau mau diskusi via messeger Fb atau e-mail saja. Thanks for visiting. 🙂

momtraveler

ternyata batik cap pun nggak kalah rumit ya mas pembuatannya. bener2 takjub sama motif cap yg begitu detailnya. sekarang aku nggak berani komplain lagi kalo liat batik harganya mahal. bener2 work of art 🙂

Teguh Sudarisman

Kayaknya bakal ada yang balik lagi nih ke Workshop Batik Semarang 16. 😀 😀

Leave a Reply