1-Day Trips

In Search of Iwak Etong

In Search of Iwak Etong

Sebuah trip singkat membawa saya ke ‘kota mangga’, yang ternyata juga punya batik-batik bermotif indah.

Kereta pagi yang membawa saya dari Jakarta akhirnya berhenti di Stasiun Jatibarang, Indramayu. Bau khas stasiun kuno, para penumpang yang tengah menunggu kereta di peron, dan burung-burung walet yang sesekali melintas di atas kepala, seperti menyambut begitu saya turun.

Saya mampir ke sebuah warung di samping stasiun, dan setelah meneguk segelas kopi dan diberitahu pemilik warung tentang cara ke kota Indramayu, saya pun naik becak ke pangkalan angkot di sisi barat kota kecamatan ini. Saya memang hendak ke Indramayu untuk melihat proses pembuatan batik, dan seorang teman memberi rekomendasi untuk mengunjungi Batik Senang Hati di Kampung Paoman. Kampung ini masih ada di dalam kota, meski saya belum paham benar di sisi kota sebelah mana, karena saya hanya dikasih ancer-ancernya saja.

Dan, begitu masuk angkot, saya seperti terlempar kembali ke era 80-an, ketika angkot –lebih tepatnya angkudes, angkutan pedesaan– dengan penumpangnya mbok-mbok bakul, ngetem lama sampai menunggu penumpang penuh. Abad dan milenium boleh berganti, tapi ‘tradisi’ ini masih ada sampai sekarang, tak terkecuali di pinggiran Jatibarang ini. Tak ada yang dapat saya lakukan, kecuali menguping celoteh dan gerutuan ibu-ibu yang saling berbicara dalam dialek Dermayon, yang mirip dengan dialek Cirebon.

Setelah hampir satu jam berlalu, angkot pun akhirnya melaju ke Indramayu, 10 km ke arah utara, menyusuri jalan aspal yang bersisian dengan sungai kecil.

Indramayu ternyata kota yang hidup dan saya tak kesulitan mendapatkan becak yang mengaku tahu Kampung Paoman. Becak pun berjalan pelan, hingga akhirnya sampai di daerah yang kembali sepi, dengan jalan berlubang-lubang dan berdebu di pinggir Sungai Cimanuk. Namun keraguan yang sempat muncul akhirnya pupus begitu becak mulai melewati rumah-rumah dengan papan nama merek batik. Dan akhirnya, becak pun berhenti di depan rumah dengan sebuah papan nama: Batik Senang Hati. Mendadak hati saya jadi lega dan senang!

Mbak Carwati, sang pemilik rumah batik, tengah sibuk melayani beberapa pembeli, yang kalau mendengar dialeknya, tampaknya mereka orang-orang Indramayu juga, yang hendak ke Jakarta. Tak hanya membeli satu atau dua potong, tapi mereka memborong banyak kain batik.

Dari sepuluh rumah batik yang ada di Paoman –yang total melibatkan sekitar 300 pekerja– rumah batik Carwati termasuk yang cepat populer, meski ia sendiri baru membantu usaha orangtuanya sejak 2007 dan meneruskannya dua tahun belakangan ini. Tak lain karena ia cerdik memanfaatkan internet,  seperti membuat blog di http://batikindramayu.multiply.com maupun memasarkan melalui BlackBerry Messenger dan di Facebook.

Tapi bukan cara pemasarannya yang membuat batik Indramayu diminati orang. Meski masih kalah populer dibanding batik Cirebon, Pekalongan, Solo, atau Jogja, batik dari kota mangga ini bisa membuat siapa saja lapar mata ingin memborongnya. Motif-motif batiknya itu lho, yang sangat khas pesisiran, dengan warna-warna yang cantik dan cerah. Motif-motifnya banyak berkaitan dengan  pantai, laut, hasil nelayan, dan flora-fauna daerah pantai. Sangat berbeda dengan batik Cirebon, misalnya, yang lebih bermotif kraton, dan juga berbeda dengan motif-motif batik daerah lain.

Hal lain yang membedakan batik Indramayu adalah teknik complongan, yakni melubangi batik yang masih setengah jadi dengan sisir berisi deretan 21 jarum jahit. Dengan ‘dicomplongi’ ini, maka ketika batik menjalani proses pencelupan, zat warnanya akan menutup lubang-lubang jarum ini sehingga menjadi titik-titik yang menghiasi warna latar kain. Cara ini lebih cepat dibanding kalau harus membuat titik satu-persatu lalu ditutupi malam batik. Hasil akhirnya kainnya tidak berlubang?  “Tidak. Coba saja lihat sendiri,” Carwati meyakinkan.

Seperti batik daerah lain, batik Indramayu juga punya motif-motif ‘trade mark’ daerah ini. Yang paling terkenal adalah motif iwak etong, seekor ikan berbadan melengkung yang biasanya dipadukan dengan urang platok (udang galah),  cumi-cumi, dan bintang laut. Motif ini dibuat para istri nelayan, yang berharap suaminya pulang dengan membawa banyak tangkapan. Lalu ada motif kapal kandas, kliwed (tegalan sawah), banji tepak (kotak perhiasan), angin-angin rante (kisi-kisi jendela rumah orang Tionghoa), golden (uang Belanda), merak ngibing (burung merak menari), jati rombeng (daun jati dimakan ulat), ganggeng (ganggang laut), dan banyak lagi.

Jika diamati, sebagian motif-motif itu mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu-Jawa, Cina, Timur Tengah, dan Eropa. Hal ini wajar karena muara Sungai Cimanuk sejak abad ke-13 sudah menjadi pelabuhan yang ramai. Sekarang ini, total ada sekitar 143 motif khas Indramayu, 50 di antaranya sudah dipatenkan dan 93 lainnya tengah disertifikasi. Carwati sendiri sudah menghasilkan 40 motif baru, dan dalam sebulan ia memproduksi 160 potong kain batik tulis. Yang paling mahal ia hargai Rp 400 ribu.

Belanja batik Indramayu tak lengkap tanpa ke Batik Paoman Art, kira-kira 100 meter di selatan Batik Senang Hati. Pemiliknya, Ibu Siti Ruminah Soedijono, adalah orang yang mempelopori dipopulerkannya batik Paoman, dan itu sudah ia lakukan sejak 1972. Ia sendiri telah menciptakan lebih dari 100 motif batik baru, dan rumahnya yang luas berfungsi sebagai butik batik, workshop, dan tempat kursus membuat desain batik. Karyawannya 60 orang, dan batik yang dihasilkannya sekitar 3.000 potong kain per bulan. Pembelinya tak hanya dari Jakarta, tapi juga Jepang, Belanda, Amerika Serikat, hingga Brasil.

Kursus membatik ia dirikan, karena ia kesulitan mencari orang-orang lokal yang bisa mendesain motif batik. “Padahal kami harus bisa mendesain motif-motif baru, agar pembeli tidak bosan,” tutur ibu lima anak ini. Beruntung, ada 120 anak sekolah dan wanita muda yang mau ia didik, meski tak banyak yang bisa menjadi desainer. “Kadang ada yang baru kursus satu bulan sudah bisa membuat reng-rengan motif batik, kadang sudah tiga bulan tapi hasilnya belum bagus. Tapi tak apa, yang penting ada yang mau melestarikan,” tuturnya. Tak heran, atas upayanya itu, Siti Ruminah sering mendapat penghargaan. Terakhir, tahun 2002 ia mendapat penghargaan sebagai pengusaha menengah berprestasi dari Menteri Koperasi dan UKM.

Hari sudah sore, dan sepertinya akan kelamaan kalau saya mencari angkot yang hendak kembali ke Jatibarang, yang mungkin saja sudah tidak ada lagi. Saya pun diantar tukang ojek ke jalan di mana saya bisa mencegat bis yang hendak ke Jakarta. Begitu dapat bisnya, tak lama kemudian dua pengamen wanita ikut naik. Lagu-lagu karaoke Dermayonan  mereka pun mengantar saya ke alam mimpi. (T)

 

Mencari Batik Indramayu?

Rumah Batik Senang Hati
Jl. Kopral Yahya No. 122/a, Paoman, Indramayu 45211
Tel: 0819-47207797, E-mail: itawrac2000@yahoo.com

Batik Paoman Art
Jl. Siliwangi No. 315, Paoman, Indramayu 45211
Tel: 0234 – 272527, 081315-881812
Fax: 0234-271151
www.batikpaoman.com,  E-mail: batikpaoman@yahoo.com

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
The Last Gong Master

The Last Gong Master

Tubuh berkilat-kilat bermandi keringat dari pagi sampai petang, demi meneruskan tradisi yang telah berlangsung selama enam generasi.

“Tik-tok-tek-tok
tik-tok-tek-tok
tik-tok-tek-tok…”

Suara logam beradu terdengar ritmis dari dalam ruangan yang berdinding tembok dan kayu. Ruangan  itu gelap, hanya mengandalkan cahaya bara api dari tengah ruangan, dan bias cahaya matahari yang masuk dari pintu samping. Empat lelaki tampak tengah bergantian mengayunkan palu-palu besi ke piringan logam berwarna pink selebar piring makan, dan dari sinilah bunyi ritmis ‘tik-tok-tek-tok’ tadi muncul. Bunyi yang dihasilkan tidak berdenting seperti suara garpu tala, sebab piringan logam itu masih panas dan lunak, baru diangkat dari dapur pembakar.

Bunyi ‘tik-tok-tek-tok’ itu tidak berlangsung lama, tapi cuma sekitar 25 detik. Saat ditempa, piringan logam itu diputar perlahan oleh satu orang yang memegangnya dengan klem atau catok besi. Begitu satu putaran selesai, piringan itu diambil lagi oleh pekerja lain dengan catok juga, lalu dimasukkan ke dapur pembakar dengan sedikit dilempar. Udara dari blower listrik pun dihembuskan oleh seorang anak muda yang dari tadi nyaris tak bergerak dari tempat duduknya, dan api pun menyala kuning. Orang yang tadi memegangi dua catok saat piringan dipukuli, kini mengendalikan dua ‘tangan’ besi panjang, membolak-balik piringan itu agar membara lagi. Bunga-bunga api beterbangan hingga ke langit-langit, membuat saya khawatir karena si bapak pembakar itu tidak memakai sarung tangan ataupun kacamata pelindung. Padahal panas bara api itu bisa mencapai 300 derajat celsius.

Keempat pria penempa itu kini menggeletakkan palunya begitu saja di tanah, dan duduk berderet di bangku kayu panjang untuk beristirahat. Kaos-kaos lusuh yang mereka pakai basah oleh keringat, dan mereka tak tahan untuk mengelapnya dengan kaos mereka sendiri, atau menyambar cangkir plastik tempat mereka menyimpan minum. Tapi istirahat itu tak berlangsung lama, mungkin hanya 30 detik juga. Piringan logam yang dibakar sudah menjadi pink lagi, dan orang yang bertugas mengambilnya pun sudah mencatok dan mengangkatnya dari pembakaran. Bunyi ‘tik-tok-tek-tok tik-tok-tek-tok’ pun kembali berulang, dan berulang lagi di menit-menit berikutnya.

Kesibukan inilah yang menjadi makanan sehari-hari ketujuh pekerja di Pabrik Gong Pancasan, Bogor. Dan ini sudah berlangsung sejak jam 8 tadi pagi, hingga jam 4 sore nanti. Dan menempa logam menjadi gong ini sudah berlangsung tak hanya satu atau beberapa tahun saja, tapi sudah enam generasi!

Yang bertugas menjadi pembakar adalah Pak Dayat. Ia sudah bekerja di pabrik gong ini selama 30 tahun, sejak berusia 15. Ia menikah di usia 20, dan sekarang anaknya sudah enam, bahkan ia sudah punya dua cucu. Salah satu penempa, Pak Endang, sudah bekerja di sini selama 20 tahun. Ia bekerja bersama anaknya, Didik, si tukang blower. Tiga penempa lain adalah Adi, Jajat, dan Yazid. Yazid aslinya orang Brebes, Jawa Tengah, namun sudah 15 tahun tinggal di Bogor dan bekerja di pabrik ini. Lalu yang bertugas mengangkat piringan panas adalah Pak Endi.

Sambil mengelap keringat yang bercucuran, Jajat juga mengaku kalau ia sudah lama bekerja di sini. “Sejak tahun 2000, Mas. Cuma saya sempat keluar untuk mencari pekerjaan lain. Tapi akhirnya saya balik lagi ke sini.”

Mungkin susahnya mencari pekerjaan lain, atau fleksibilitas kerja di sini, menjadi alasan mengapa mereka betah atau balik lagi. “Kalau sedang ingin istirahat kerja, atau mau cuti dulu beberapa minggu, kami tinggal bilang saja ke pemilik pabrik,” tutur Jajat. “Begitu juga kalau mau masuk kerja lagi setelah keluar, tinggal bilang saja.”  Kemudahan ini mungkin karena mereka bekerja dengan gaji harian. Kalau mereka kerja ya digaji, kalau tidak ya tidak dapat apa-apa. Berapa gaji mereka? Ternyata tidak banyak, hanya Rp 35 ribu per hari, ditambah makan siang. Dayat, karena lebih senior dibanding yang lain, mengaku digaji Rp 40 ribu per hari.

Tidak hanya bagian penempaan saja yang menjadi karyawan pabrik ini. Ada lagi yang bertugas menggerinda gong yang baru selesai dibakar. Lalu ada yang mengampelas gong, membubut dan memahat kayu penyangga gong, serta bagian mengecat dan memelitur. Total ada 13 orang, sebagian bekerja di rumah bertingkat dua di belakang dapur ini. Barulah di tahap paling akhir untuk men-stem atau menyetel nada gong yangg sudah jadi, menjadi tugas Pak Sukarna, sang pemilik pabrik.

Pabrik ini tak hanya membuat gong perunggu, namun juga perangkat gamelan lain seperti kenong, bonang, slendro, saron, kendang, dan sebagianya. Kadang mereka membuat gong besi, tapi tidak banyak yang pesan. Pemesan gong tidak hanya dari kalangan pekerja seni karawitan, tapi juga orang yang memerlukan gong sebagai koleksi, untuk keperluan peresmian gedung, seminar, festival budaya, dan sebagainya. Konsumennya banyak, mulai dari Pulau Jawa, Bali, hingga luar negeri.

Konon karena pembuatan gong ini satu-satunya di Jawa Barat, pabrik ini sering mendapat pesanan untuk membuat atau menstem ulang perangkat gamelan. “Kalau gamelan sunda, seperangkat lengkap gamelan harganya bisa Rp 60-70 juta,” tutur Pak Iya, di bagian pengecat. “Tapi kalau gamelan jawa, karena jumlahnya jauh lebih banyak, harganya bisa sampai Rp 300 juta!”  Harga satu gong sendiri, yang berdiameter 80 cm misalnya, bisa sampai Rp 20 juta kalau dijual ke orang asing. “Kalau dijual ke pembeli dalam negeri ya harganya paling tinggi Rp 17 juta,” tutur Iya lagi.

Harga yang tinggi itu saya rasa sepadan dengan harga bahan baku, ongkos pengerjaan, hasil produk, dan reputasi pembuatnya. Pabrik gong ini sudah berdiri sejak tahun 1811. Pak Sukarna, yang sudah berusia 84 tahun dan punya tiga anak, merupakan generasi keenam yang meneruskan tradisi pembuatan gong ini. Anak bungsunya, Krisna Hidayat, ia tugasi sebagai manajer pabrik, dengan harapan bisa mewarisi keahliannya dan meneruskan usaha ini.

Perbandingan Rahasia

Proses menempa piringan logam yang saya lihat pagi ini sebenarnya bukan tahap paling awal. Pagi sehabis subuh, Pak Sukarna dan Krisna sudah bekerja lebih dulu melebur logam tembaga dan timah untuk dijadikan perunggu, dengan perbandingan tembaga dan timah 9 : 5. Perbandingan tepatnya hanya mereka berdua yang tahu. Yang jelas, kalau terlalu banyak timah, permukaan gong akan mudah mengelupas. Kalau terlalu banyak tembaga, gong akan mudah retak atau robek. Harga kedua bahan baku ini sekarang sekitar Rp 450 ribu per kilo.

Leburan itu dituang dalam cetakan berbentuk piringan tanah liat dengan diameter-diameter tertentu. Sukarna menandai leburan yang sudah mengeras itu dengan kapur tulis.  Kalau ia menulis 2,9 (artinya 2,9 kilogram) maka piringan itu akan dijadikan gong berdiameter 35 cm. Kalau 4 artinya gong berdiameter 40 cm, kalau 7,5 artinya gong berdiameter 50 cm, kalau 12 atau 13 artinya gong berdiameter 60 cm, dan kalau 20 artinya gong berdiameter 80 cm – yang paling besar. Jadi saat piringan perunggu itu dibakar, diameternya masih kecil. Piringan seberat 2,9 kilogram paling  diameternya kurang dari 15 cm. Dengan ditempa, piringan ini menjadi lunak dan makin melebar, dan baru berhenti ditempa setelah tercapai ukuran yang diinginkan.

Cuma, menempa gong berukuran 80 cm itu benar-benar akan membuat ketujuh penempa ini bermandi keringat. Bayangkan, Pak Dayat yang harus membolak-balik piringan seberat 20 kilogram itu dengan kedua tangannya. Lalu Pak Endi yang bolak-balik mengambil dan mengembalikan piringan itu. Lalu keempat penempa itu dengan palu-palu mereka yang berat, menempa hingga piringan menjadi lebar sampai berdiamater 80 cm. Perlu waktu berhari-hari untuk membuat satu gong ini saja.

Pagi ini para penempa hendak membuat gong berdiameter 40 cm. Dua jam sudah berlalu, namun pengerjaan sepertinya baru separuh jalan. Peluh para pekerja sudah membanjir, dan mesti mereka lap di setiap jeda waktu yang kurang dari 30 detik itu. Kadang, penempaan dengan palu besi ini diselingi dengan palu kayu. Tujuannya, agar bagian piringan paling luar melengkung sehingga membentuk kedalaman gong. Pemukulan dengan palu kayu ini dilakukan satu orang saja, sehingga ketiga penempa lain bisa mencuri waktu untuk beristirahat.

Hanya saja, setelah sampai di tahap ini, barulah diketahui kalau ada dua sobekan kecil di pinggir piringan. Seketika wajah-wajah para penempa menjadi lesu. Sebab ini artinya, mereka tidak bisa melanjutkan menempa piringan itu lagi. “Kalau dilanjutkan,  sobekan akan makin besar dan gongnya bisa pecah,” tutur Yazid.

“Jadi, piringan itu tidak dipakai lagi?” tanya saya.

“Masih bisa, tapi bagian yang sobek harus di-las dulu dengan perunggu juga, agar sobekan itu menyambung lagi. Baru nanti bisa diteruskan ditempa.”

Oh, untunglah. Jadi hasil kerja mereka tidak sepenuhnya sia-sia.

Piringan yang sobek itu dimasukkan ke air agar mendingin, lalu bagian yang sobek ditandai dengan kapur tulis. Kini, para pekerja mesti memulai lagi proses menempa dengan piringan yang baru. Saat baru dibakar, ternyata piringan panas yang berwarna pink itu ditegakkan dulu pada bagian tipisnya, lalu bagian ini dipukul dengan palu sambil diputar, sehingga bagian pinggir ini melengkung, yang nanti berfungsi membentuk kedalaman gong supaya bentuknya seperti mangkuk.

Tak lama kemudian, suara palu para penempa terdengar lagi. Kali ini diiringi suara bising gerinda dari ruang sebelah. Pak Epi tampak menghaluskan permukaan gong yang sudah jadi dari proses penempaan kemarin. Permukaan gong yang hitam kusam itu kini sebagian mulai terlihat kuning keemasan. Tapi hasil gerinda ini belum halus sekali, jadi mesti dihaluskan lagi dengan ampelas. Saya mendekati Pak Sueb yang sedang mengampelas di rumah belakang. Tapi saya tak bertahan lama, karena ternyata proses mengampelas itu menghasilkan serbuk-serbuk halus yang membuat batuk-batuk. Saya tak habis pikir, bagaimana ia bisa tahan mengampelas gong itu tanpa memakai masker!

Setelah beristirahat satu jam untuk makan siang dan salat, para pekerja melanjutkan lagi menempa piringan. Satu setengah jam kemudian, barulah piringan pengganti ini membentuk badan gong. Tahap berikutnya adalah membentuk ‘telinga’ gong, yakni tonjolan di tengah gong, tempat gong itu ditabuh.  Piringan yang sudah berbentuk seperti cawan besar itu ditelentangkan di tanah yang mempunyai ceruk, lalu bagian tengahnya dipukul-pukul dengan palu besi. Setelah dibakar lagi, gong diletakkan di atas kayu sejajar yang dilapisi pelepah pisang, untuk dirapikan bagian sisinya agar bentuk gong bulat sempurna. Setelah itu gong dicelupkan ke dalam air agar dingin, lalu dirapikan sedikit lagi bagian luarnya. Ada sobekan kecil di bagian ujung, namun menurut Mas Dayat nanti mudah diperbaiki dengan sedikit di-las.

Pak Sukarna, yang tadi di rumah belakang, kini datang ke bagian penempaan. Ia tidak banyak mengatur-ngatur. Ia cuma meminta seorang karyawannya, Pak Acun, mengambil dua gong yang mau ia tes suaranya hari ini. Ternyata, untuk menyetel atau men-stem suara gong alatnya sederhana sekali, hanya sebuah pemukul gong dan sebuah palu besi. Gong berdiameter 40 cm itu dites dulu suaranya dengan pemukul. Saat dirasa belum pas, Pak Sukarna menelungkupkan atau menelentangkan gong itu lalu memukul-mukulnya beberapa kali dengan palu kecil. Lalu gong dites lagi suaranya. Kalau belum pas, Pak Sukarna akan memukul-mukul lagi dengan palu.

Yang saya tidak mengerti, bagaimana Pak Sukarna bisa tahu dengan tepat di titik mana gong itu mesti dipukul untuk diperbaiki suaranya? Uniknya lagi, beliau juga tahu, apakah yang dipukul itu bagian luar atau bagian dalam gong. Dengan usianya yang sudah sangat tua, mampu menentukan mana nada suara gong yang benar, mana yang masih keliru, dan bagaimana cara membetulkannya, adalah sebuah kehebatan tersendiri. Pasti saya akan butuh waktu bertahun-tahun agar bisa memahami ilmu gong yang beliau miliki.

Gong kedua, yang berdiameter 80 cm, hanya ia periksa sebentar dengan memukulnya memakai tangan. “Gerrrrrrrr…” Bunyi gong itu terasa berat namun mengalun lama, hingga akhirnya lamat-lamat dan menghilang.

Dengan suaranya yang lirih, Pak Sukarna menjelaskan bahwa gong mempunyai bermacam-macam suara. Ada yang mengalun konstan seperti gong tadi, ada gong ombak tilu, ada juga gong ombak tujuh. “Yang ombak tilu itu, kalau dipukul, gong akan mengeluarkan tiga suara dengung, ‘gung-gung-guuung’, baru suaranya menghilang. Kalau ombak tujuh, berarti akan ada tujuh dengungan sebelum suara gongnya hilang.”

Saya membatin, untuk satu ukuran gong saja ternyata bisa berbeda-beda jenis suaranya, dan ini tentu butuh praktek dan pengalaman bertahun-tahun dalam teknik pembuatan gong maupun cara men-stem. Belum lagi dengan gong yang ukurannya berbeda-beda, belum lagi dengan perangkat gamelan yang lain. Hmm, mendadak saya tersadar, di tempat yang kecil dan ‘sepele’ ini, ternyata banyak ilmu yang bisa dipelajari. Dan ilmu yang saya dapat dengan seharian di pabrik ini ternyata belum ada apa-apanya. Mudah-mudahan, harapan saya dalam hati, Krisna anak Pak Sukarna itu bisa mengikuti jejak sang ayah, menjadi generasi ketujuh penerus pabrik gong ini, sekaligus mewarisi ilmunya yang langka. (T)

 

BOKS:
Menuju Gong Pancasan

Pabrik Gong Pancasan terletak di Jl. Pancasan No. 17 Bogor Barat. Rute paling mudah adalah masuk dari Jl. Empang di samping Bogor Trade Mall, mengikuti rute Mikrolet 03 warna biru. Dari mall ini kira-kira 2 km, di sisi kanan jalan. Di tembok depan pabrik ini ada tulisan Gong Factory Bogor, tapi kadang tidak terlihat dari jalan. Kontak Pak Dayat (0251-9685003) kalau kurang jelas, karena telepon pabrik ini tidak berfungsi. Pabrik gong ini buka setiap hari pukul 8-16, Jumat libur.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 2 comments
One-Ringgit Airline

One-Ringgit Airline

Ini traveling yang tidak biasa: mengunjungi kantor pusat AirAsia di LCCT, Kuala Lumpur.

Rasanya sungguh beruntung, dalam waktu kurang dari tiga bulan, saya sudah diundang dua kali ke kantor pusat AirAsia di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) di Sepang, Malaysia. Pertama, 23 Februari, saat diajak ikut media trip ke Guangzhou, Cina. Kedua, 12 Mei lalu, saat AirAsia mengundang grup nyanyi The Saturdays dari Inggris ke Kuala Lumpur. Hmm, sebenarnya diundang tiga kali, sih, dalam tiga bulan itu. Cuma di undangan ke-2, awal April lalu, saya tidak bisa datang, meski waktu itu saya diajak ikut trip ke Tianjin, Cina, dekat Beijing sana. Aduh, duh, menyesal sekali rasanya….

Tentu saja bukan Tony Fernandes, bos AirAsia, yang mengundang saya, melainkan Desiree Bandal, dari bagian Media Relations-Communications. Gadis Filipina yang saya kenal sewaktu ia masih bertugas di AirAsia Bangkok, dua tahun lalu, dan sekarang ia pindah ke kantor pusat AirAsia ini.

Ini bukan kunjungan yang formal dan berlama-lama, melainkan sekedar mampir atau office tour, sehingga tak semua bagian di kantor pusat AirAsia saya kunjungi. Malah, bisa dibilang agak terburu-buru, sehingga motret pun asal kena saja. Tapi, meskipun singkat, berkunjung ke maskapai penerbangan yang baru saja mendapat penghargaan sebagai World’s Best Low Cost Airline oleh Skytrax ini tetap meninggalkan kesan yang mendalam.

Kantor pusat AirAsia terletak di lantai mezanin (bisa dibilang lantai 2) LCCT. Akses masuknya dari samping toko buku di terminal keberangkatan. Waktu pertama saya tiba di LCCT, saya sempat bingung juga, karena saya mengiranya bandara ini masih di lingkungan KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Ternyata LCCT ini bandara tersendiri yang terpisah, jaraknya sekitar 25 km dari KLIA. Untuk naik ke kantor AirAsia, kami bisa melalui tangga yang mirip tangga darurat, atau melalui lift, yang –bukannya menghina– lebih mirip lift barang. “Ini satu-satunya lift yang ada di lingkungan bandara ini,” kata Desi.

Sepertinya LCCT ini aman sekali, sebab tidak nampak satu pun petugas satpam yang berwajah sangar dan menyandang senapan. Di kantor AirAsia sendiri saya cuma melihat ada 1 satpam, yang sekaligus bertugas sebagai penerima tamu, mencatat paspor dan memberikan tanda pengenal untuk tamu. Saya merupakan tamu ke-31 pada hari itu.

Begitu melewati pintu masuk, di sisi kiri saya, tak jauh dari miniatur sebuah pesawat maskapai itu, terpampang foto-foto di dinding yang menggambarkan aktivitas Tony sebagai CEO AirAsia. Namun pandangan saya terantuk pada piagam-piagam yang tersimpan di balik kaca di dinding sebelah kanan. Waktu kunjungan saya yang pertama, Desi sudah bilang ke saya, di sinilah disimpan kuitansi pembelian AirAsia oleh Tony Fernandes dari pemiliknya yang terdahulu, seharga HANYA 1 ringgit Malaysia.

Satu ringgit? Bercanda, kali ya? Tanya saya dalam hati. Satu ringgit kan hanya sekitar 3.000 rupiah?

Tapi karena waktu itu terus terang saya belum banyak baca-baca tentang AirAsia, saya simpan dulu tanda tanya itu. Setelah beberapa waktu lalu ke toko buku dan menemukan buku The AirAsia Story, barulah saya ngeh dengan apa yang dikatakan Desi.

AirAsia didirikan tahun 1993 oleh DRB-Hicom Bhd. dan mulai beroperasi 18 November 1996. Sayangnya, rencana ekspansi perusahaan penerbangan ini mandek karena pemiliknya, Tan Sri Yahya Ahmad, meninggal dalam kecelakaan helikopter Maret 1997. Ketiadaan kepemimpinan, ditambah krisis ekonomi yang menghantam negara-negara Asia di tahun-tahun berikutnya, membuat AirAsia terpuruk dan menanggung banyak hutang.

Di saat yang hampir bersamaan, Tony dan beberapa temannya mendirikan perusahaan penerbangan Tune Air, dan tengah merancang strategi baru membuat penerbangan berbiaya rendah. Sayang, pengajuan izin maskapai baru itu ditolak pemerintah Malaysia. Mahathir Mohammad, perdana menteri Malaysia waktu itu,  menyarankan Tony untuk membeli AirAsia saja. Akhirnya, pada 8 Desember 2001, Tony membeli AirAsia dari DRB-Hicom, seharga 1 ringgit Malaysia. Dengan catatan, ia memperoleh warisan 2 pesawat Boeing 737-300 dan hutang perusahaan itu, yang nilainya sekitar 100 miliar rupiah!

[Tambahan: Kapan tepatnya pembelian AirAsia ini ada beberapa versi. Di buku The AirAsia Story, disebutkan 8 Desember 2001. Namun di Wikipedia disebutkan 2 Desember 2001, dan di kuitansi pembelian tertulis 9 Mei 2001]

Melewati ‘Kuitansi 1 Ringgit’ itu, saya melalui lorong utama yang lebarnya sekitar 2 meter, berlantai warna merah, serta dinding dan penunjuk-penunjuk ruangan berwarna merah khas AirAsia. Lorongnya tidak lurus tapi agak menyerong, seperti kalau kita berjalan-jalan di antara toko-toko di lantai ground floor Plasa Semanggi, Jakarta. Setelah melewati dinding milestone dan iklan-iklan yang pernah AirAsia pasang di media di sisi kiri, saya melewati Ruang Pertemuan Jakarta di sisi kanan saya. Menurut Desi, semua ruangan di sini diberi nama sesuai destinasi AirAsia. “Jadi ada juga ruang pertemuan Bali, Bangkok….”

Lalu saya melewati warnet, di mana di mana pramugari, teknisi pesawat, hingga staf angkut bagasi bisa duduk dan chatting, memeriksa e-mail, atau browsing internet. Berbeda dengan konsep AirAsia yang sepertinya ‘apa-apa harus bayar lagi’, setiap staf mempunyai password khusus dan diberi akses internet gratis. Di sampingnya ada kantin khusus karyawan. Nah, kalau di sini, para karyawan masih harus membayar, meski untuk itu, mereka sudah diberi uang makan yang menurut Desi cukup untuk 1-2 porsi makan siang. “Untuk staf angkut bagasi, uang makannya lebih besar karena pekerjaan mereka butuh lebih banyak energi,” tutur Desi lagi. Kantinnya cukup lengkap, menyediakan menu makanan India, Melayu, China, Western, Jepang, dan menu vegetarian. Di samping itu juga ada banyak cemilan seperti roti, waffle, es krim, yogurt, teh tarik, hingga jagung manis.

Akhirnya, saya sampai ke ruangan Desi di sisi kiri, tepatnya di ruang Regional Office, Commercial, dan Corporate Affairs & Strategy. Jadi ada beberapa departemen di sini. Suasananya seperti kantor media, di mana para staf hanya dibatasi sekat-sekat. Dinding luarnya kaca, yang dari sini kita bisa melihat pesawat-pesawat AirAsia parkir maupun take-off dan landing. Kecuali, bagian pengatur skedul pesawat yang dikurung dalam ruang tersendiri di bagian ujung, dengan tiap orang serius di depan komputer masing-masing.

Terus di mana ruangan Tony, sang big boss?

Desi membawa saya ke ujung-pojok dekat dinding kaca. Nah, di situlah Tony duduk. Sayang, Tony sedang ke London, mempersiapkan peluncuran rute baru KL-London, jadi saya tidak bisa sekedar menyapa dan berfoto-foto. Tapi yang saya lihat, tempat duduknya tidak jauh berbeda dengan para stafnya. Dan juga tidak berada di dalam ruangan khusus, hanya dibatasi sekat saja. Yang membedakan hanya banyaknya koleksi topi Tony, yang berjejer rapi dekat dinding.

Desi mengajak saya melihat ruangan-ruangan lain. Saya melewati ruangan dandan untuk para pramugari dan awak kabin. Sayang mereka tampaknya selalu buru-buru, jadi saya tidak sempat kenalan. Lalu kami ke Chamber of Secrets, yang tak lain merupakan musola dan perpustakaan.

Tur di kantor Airasia yang luasnya sekitar 6.000 meter persegi pun selesai, karena Desi mengajak saya untuk ikut menjemput wartawan media lain dari Sarawak, yang baru datang.

Pertemuan dengan Tony baru terjadi di kunjungan kedua kemarin. Itu pun di Zouk Club, KL, sewaktu Airasia mempromosikan grup nyanyi The Saturdays, dan juga meluncurkan kampanye pemasaran terbaru, Have You Flown Asia Lately? (haveyouflownairasialately.com). Grogi karena banyak wartawan dan fotografer top di konferensi pers di klub itu –dan tentu saja lima penyanyi cantik The Saturdays– saya dengan seorang wartawan dari Vietnam berfoto dengan Tony di saat terakhir saja. Klik! (T)

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
Land of the Smokehouse

Land of the Smokehouse

Terkenal kelezatannya, tapi tak tahu dari mana asalnya. Ungkapan ini sangat tepat untuk mangut, salah satu ikon kuliner Semarang.

Baru sekitar 50 meter kami berbelok dari Jalan Mpu Tantular masuk ke Jalan Bandarharjo, jalanan yang becek dan tergenang air sudah menyambut kami. Di kanan-kiri jalan berdiri gedung-gedung kuno peninggalan Belanda. Sebagian gedung digunakan sebagai gudang, tapi lebih banyak lainnya yang dibiarkan terbengkalai, dengan rumput dan tanaman pakis menyeruak dari jendela-jendela dan atapnya yang keropos di sana-sini. Lantai bangunan-bangunan itu seperti amblas, karena tertimbun tanah endapan yang terbawa air laut. Ya, daerah ini memang sudah langganan terkena rob (genangan akibat pasang dari laut). Gedung-gedung yang masih dipakai selamat dari rob ini karena di depannya dipasangi pagar dari beton yang mencegah air masuk dari jalan.

Saya yang dibonceng Bowo menggunakan motor, mengikuti motor Budi yang menjadi pemandu, meliuk-liuk di jalan aspal yang rusak, mencari jalur yang tak digenangi air. Kami hendak menuju Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo, di Semarang Utara ini. Budi, fotografer Harian Tempo perwakilan Semarang, menjadi pemandunya karena ia sudah beberapa kali ke sini.

Kami berbelok menyusuri jalan tanah, kini dengan sungai di sisi kiri kami. Kali Semarang ini tinggi permukaan airnya sama tingginya dengan jalan yang kami lalui. Airnya yang tak bisa dikatakan bersih, tampak tenang seolah tak mengalir. Mungkin itu karena tinggi permukaan airnya sudah sama dengan tinggi air laut sekarang ini. Kalau tidak ada tanggul beton di kedua sisinya, airnya pasti membanjiri jalan kami dan kampung di seberang sana.

Kami melewati sebuah pemakaman umum, dan hampir saja tertawa karena sebuah rumah berdinding bambu yang kami kira rumah penjaga makam -karena ada papan nama ‘Pemakaman Umum’ di dindingnya- ternyata sebuah rumah pengasapan ikan.

Kami sampai ke sebuah pintu rumah berdinding bambu, yang tersamar oleh tanaman rumput-rumput gajah yang tinggi. Saya tak tahu apakah ini pintu depan atau belakang rumah. Kami masuk dan menjumpai dua orang ibu yang tengah membolak-balik ikan di ram-ram kawat berukuran kira-kira 60×60 cm. Di belakang mereka asap mengepul dari tungku pengasapan ikan. Sebagian besar asapnya masuk ke dalam cerobong di atasnya, namun sebagian menyebar ke dalam ruangan, membuat kedua ibu itu sering menyipitkan matanya. Sementara itu radio tua yang ada di dinding tidak sedang melantunkan lagu, melainkan memperdengarkan suara ceramah agama yang topiknya tentang alam kubur.

Yang dimaksud dengan ‘tungku’ pengasapan rupanya bekas drum minyak tanah yang dipotong melintang menjadi 3, lalu masing-masing ditancapkan ke tanah. Dari atas lalu diisikan potongan-potongan batok kelapa, lalu dinyalakan. Begitu batok kelapa sudah panas dan membara, ram-ram kawat berisi sekitar 40 potongan ikan yang hendak dipanggang itu ditaruh di atasnya. Satu orang ibu menangani 3-5 tungku, jadi mereka bekerja nyaris tanpa henti. Di satu tungku mereka mesti membalik ikan yang baru separuh matang, dari tungku lainnya mereka mengambil potongan-potongan ikan asap yang sudah matang, yang di Semarang disebut mangut. Di antara itu mereka juga menaruh potongan-potongan ikan yang masih mentah di ram kawat untuk kemudian ditaruh di tungku lainnya.

Sesekali, ketika timbul nyala api di satu tungku, si ibu segera mencipratkan air agar api itu padam. Sebab kalau ada api, nanti ikannya bisa gosong. Karena diciprati air itu pula, timbul lebih banyak asap. Di sini, satu cerobong asap menjadi penampung asap dari sekelompok tungku. Jadi tidak satu tungku satu cerobong. Cerobong-cerobong yang terbuat dari seng itu berbentuk persegi panjang ke atas menembus atap, tingginya antara 10-15 meter, dan puncaknya diberi tudung untuk mencegah air masuk saat hujan. Karena terbuat dari seng yang ringan, cerobong itu diikat sana-sini dengan kawat agar tetap bisa tegak berdiri.

Panjang rumah bambu-kayu ini hanya sekitar 3 meter, sehingga begitu masuk, saya langsung keluar lagi dari pintu lainnya. Di sini, seorang lelaki tengah duduk santai di bangku kayu panjang, sementara di depannya seorang wanita tengah memotong-motong ikan dengan golok besar, dan empat wanita lainnya menyortir potongan-potongan ikan itu. Beberapa meter di belakang para wanita itu tanah sudah tergenang air sungai, karena tanggul beton di sini sebagian sudah roboh.

Ikan yang besarnya hampir seukuran paha orang dewasa itu ternyata ikan patin, ikan air tawar yang dibudidayakan di daerah Ambarawa. Pak Saad, lelaki yang duduk tadi, yang juga ‘bos’ di rumah ini, membelinya dari penyuplai langganannya dengan harga Rp 13.000 per kilo. Satu ikan patin ini sendiri beratnya bisa mencapai 2 kilo.

Terus-terang, sejak kecil saya mengira kalau mangut itu hanya dibuat dari ikan pari (ikan peh). Itu pula yang saya tahu ketika tinggal selama 8 tahun di Semarang, dan menyantap menu ikan ini hampir setiap minggu – meski saya dan kebanyakan orang Semarang tidak tahu dari mana asalnya. Tapi menurut Pak Saad, jenis ikan yang bisa dijadikan mangut itu bisa bermacam-macam, mulai dari ikan laut seperti ikan pari, songot, manyung, tongkol, tuna kecil, hingga ikan air tawar seperti patin tadi. Di Semarang ini, ikan-ikan laut itu diperoleh dari tangkapan nelayan yang dijual di Pasar Kobong Muktiharjo, sekitar 5 km ke timur dari Bandarharjo. Pak Saad sendiri sekarang tidak membuat mangut dari ikan pari. Di kampung ini hanya 1 atau 2 rumah saja dari sekitar 40 rumah yang mengasap ikan pari. Mungkin karena suplai ikannya tidak banyak.

Dari yang saya lihat, sebelum dipotong-potong, ikan itu sudah dipisahkan dulu kepalanya (isi perutnya sudah dikeluarkan oleh si penyuplai). Kepala ikan itu lalu dibelah dua dan dijemur, untuk dijadikan mangut juga. Tujuan dijemur itu untuk mengurangi kadar airnya, yang lebih tinggi dibanding bagian lainnya. Sedangkan bagian badan akan dipotong-potong dengan ukuran sekitar 10×10 cm, dengan ketebalan sekitar 1 cm. Tulang utama ikannya ikut dalam potongan daging, jadi yang dibuang hanya duri-duri di sirip, punggung, dan ekor.  Di bagian pengolahan limbah inilah yang sepertinya belum diperhatikan benar oleh para pengasap di sini, karena mereka kemudian membuangnya di… sungai. Dari sinilah problem bau timbul. Padahal ikan-ikan yang diolah itu sendiri setelah saya cium, rasanya masih segar dan tidak berbau.

Rumah pengasapan ikan Pak Saad ini terdiri dari 3 ruang. Ruang tengah adalah yang tadi saya masuki. Di sini, Ibu Sriatun dan Ibu Endang mengasap bagian ekor dan daging yang berdekatan dengan bagian sirip, yang mengandung banyak minyak. Hasil mangutnya pun cokelat berkilat-kilat oleh minyak.

Di ruang timurnya ada 3 ibu yang tengah mengasap bagian daging ikan: Ibu Diati, Ibu Yamiroh, dan Ibu Izroa. Mereka menangani sekitar 10 tungku. Di sini juga sama berasapnya, namun mereka masih bercanda-canda saat saya foto. Yang saya ketahui kemudian, ternyata mengasap ikan itu tidak butuh waktu lama, tapi hanya 10 menit. Cukup membolak-balik 2 kali setiap sisi, ikan pun matang. Mangut yang matang ditandai dengan warnanya yang cokelat muda, dan daging yang kering, tidak terasa berair. Saya memencet-mencet sepotong mangut patin dan mencium-cium baunya. Dagingnya terasa padat dan baunya segar tanpa tercium bau amis. “Ini sudah matang, atau mesti dimasak lagi supaya matang?” saya setengah bimbang.

“Itu sudah matang beneran, bukan setengah matang. Sebab kalau tidak matang, besok mangut itu akan busuk. Coba saja dicicipi, jangan dicium-cium saja,” gurau Ibu Yamiroh. Saya mencuil satu potong mangut, dan mencicipinya. Benar, ikan mangut ini sudah matang dan gurih. Kulitnya terasa pahit sedikit, tapi ini akan hilang ketika mangut digoreng lagi atau diolah menjadi sayur. Satu potong mangut itu pun sukses masuk perut saya.

Biasanya, kalau di warung atau restoran di Semarang, mangut itu diolah menjadi sayur, berupa sayur kuah santan encer yang pedas. Potongan mangut itu ditusuk lidi saat dimasak, supaya tidak hancur. Cara lainnya, mangut ditumis dengan terong dan cabai hijau. Biasanya ini untuk mangut bagian kepala. Di daerah lain, mangut yang punya bagian lemak di pinggirnya biasanya digoreng dulu, kemudian ditaruh di atas sambal dan ditekan-tekan dengan ulekan, menjadi mangut penyet. Apapun cara mengolahnya,  yang jelas hasilnya menu mangut yang sangat enak dan membuat orang ketagihan. Dan karena daerah Bandarharjo ini merupakan sentra pengasapan mangut yang besar, tak heran kalau mangut pun menjadi ikon kuliner kota Semarang.

Sejauh yang saya tahu, mangut yang dagingnya paling lezat dengan aroma smoky yang kuat adalah ikan pari. Makanya saya mengira kalau mangut itu identik dengan ikan pari. Setelah menyantap mangut patin tadi, ternyata dagingnya tak kalah lezat dan empuk, meski aroma asapnya tak sekuat mangut pari.

Suara azan tengah hari berkumandang dari radio di ruang pengasapan tengah, namun ibu-ibu ini belum akan beristirahat makan. Mereka masih sibuk mengasap. Begitu pula di ruang sebelah barat, yang hanya ditunggui seorang karyawan pria, Mas Kasbullah. Bapak dari empat anak ini lebih banyak mengasap kepala ikan.  Tangannya dengan cekatan membalik kepala-kepala ikan yang tertelungkup di ram kawat. Saya bisa melihat permukaan ikan yang baru diasap itu kini kecokelatan dan berkilat-kilat karena minyaknya ikut keluar. Kadang kepala ikan itu lengket di ram, dan jari-jari Mas Kasbullah mesti beberapa kali menjungkitnya agar lepas. Saat saya menyentuh salah satu ram yang baru diangkat dari tungku, awww…! Ternyata panas sekali!

“Hati-hati Mas, kawatnya panas sekali. Makanya  jari nggak boleh nempel kelamaan di kawat,” senyum Kasbullah melebar. Ia kini menyikat ram-ram kawat itu untuk membuang sisa-sisa daging mangut yang lengket tadi. Tapi, bukankah ia setiap saat mengambil dan menaruh ram kawat itu di atas tungku? Berarti…? “Ooh, kalau saya kan sudah biasa, Mas,” tuturnya menunjukkan telapak tangan dan jari-jarinya yang sudah menebal. Aduh.

Sepertinya hari ini Kasbullah sibuk sekali. Masih ada setumpuk potongan kepala ikan patin dan songot di dua ember, dan ram-ram kawat di empat tungku yang ia handel sendirian. Kadang di sela-sela membolak-balik ikan, ia mencipratkan air ke tungku yang timbul api. Ia juga mesti mengecek arang panas yang ada di tiap tungku apakah masih banyak dan panas. Kalau dirasa sudah mau habis, ia meraup potongan-potongan batok kelapa di depan kakinya untuk dimasukkan ke tungku.

Cek video singkat pembuatan ikan mangut ini:

Batok-batok kelapa itu berasal dari limbah yang dihasilkan pedagang kelapa di Pasar Peterongan, yang diantarkan ke Bandarharjo memakai becak. Sekali antar, seorang tukang becak bisa mengangkut hingga 10 karung batok kelapa. Tak heran saat sampai ke rumah pengasapan, si tukang becak itu basah kuyup oleh keringat, saking jauhnya jarak Peterongan-Bandarharjo. Namun tampaknya ia tetap senang, karena satu karung batok kelapa itu harganya Rp 15.000. Tinggal dikurangi saja harga belinya dari pedagang kelapa, yang tidak mau ia sebutkan.

Arang kelapa sisa pengasapan itu juga tidak terbuang sia-sia. Para pengasap menjemurnya di halaman rumah. Nanti para tukang sate akan berdatangan ke sini untuk membeli. Lumayan juga hasilnya, karena satu kilo arang kelapa bisa dijual Rp 3.000. Dan sepertinya usaha pengasapan ikan ini tengah ramai, karena saya lihat banyak arang kelapa tengah dijemur.

“Alhamdulillah, permintaan mangut sedang bagus. Hari ini kami mengolah 5 sampai 6 kuintal ikan. Kadang bisa sampai 8 kuintal,” tutur Pak Saad.

Wah, banyak sekali, pikir saya. “Jadi, berapa potong mangut itu, Pak?”

“Wah, ya ndak kehitung Mas. Yang jelas banyak sekali!” tawanya. “Makanya kami kadang kerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam.”

Menurut Pak Saad, mereka tidak perlu menjual langsung ikan-ikan itu ke pasar, karena nanti ada tengkulak yang mengambil. Tengkulak ini menjual sebagian mangut itu ke pengecer-pengecer kecil di pasar-pasar tradisional di Semarang, seperti Pasar Bulu, Karangayu, Peterongan, Jatingaleh, dan sebagainya. “Sebagian lagi dijual ke pasar-pasar di Mranggen, Demak, Ungaran, Ambarawa, dan kota-kota di sekitar Semarang,” tutur bapak yang sudah 8 tahun menggeluti usaha pengasapan mangut ini.

Dari Pak Saad, harga jual ikan mangut itu Rp 30 ribu per kilo, dan berisi sekitar 30 potong mangut. Artinya kurang lebih 1 potong Rp 1.000. Bagian kepala, karena dagingnya lebih sedikit, dijual Rp 20 ribu per kilo. Si tengkulak biasanya menjual lagi ke pedagang eceran Rp 2.000 per potong, dan sampai ke konsumen Rp 2.500 per potong.

Dulu di kampung ini ada sekitar 80 rumah pengasapan ikan. Sekarang tinggal separuhnya saja, karena sebagian sudah menutup usahanya beberapa tahun lalu saat permintaan mangut ini lesu. Saya lihat di sini memang ada 55 cerobong, dengan sekitar 40 cerobong mengepulkan asap, yang menandakan mereka masih beroperasi.

Menurut Pak Saad, yang tidak mengasap ikan pari, ada salah satu tetangganya di deretan rumah ini yang mengasap ikan pari. Saya pun berpindah ke rumah pengasapan lain, yang cuma beberapa meter saja jauhnya karena rumah-rumah ini berdempetan sepanjang sisi utara Sungai Semarang.

Saya mampir ke rumah Ibu Kandar, yang tengah mengasap ikan tongkol di beranda rumahnya. Karena tidak memakai cerobong, asap pun menyebar kemana-mana. Yang membuat saya tertarik,  saat diasap itu, ikan-ikan tongkol sebesar lengan itu dibungkus dengan kertas minyak. Tujuannya supaya kulit ikan itu tidak mengelupas karena lengket ke ram kawat – yang pasti akan mengurangi keindahan ikan asap itu. Saat mulai matang, warna kulit ikan yang tadinya putih abu-abu pun berubah menjadi keemasan berkilat-kilat. Sungguh cantik. Lalu ikan-ikan itu disusun dalam keranjang bambu, dengan ekor menghadap ke atas. “Per ekornya dari saya Rp 8 ribu,” jelasnya. “Nanti sama pedagang dijual lagi Rp 10 ribu.” Ia bergeming saat ada seorang tetangganya yang datang dan menawar ikan asapnya Rp 5 ribu per ekor.

Saya masuk ke rumah berikutnya yang lebih luas. Tiga wanita sedang memotong-motong dan menyortir ikan mentah, sementara empat wanita lainnya mengasap ikan di dua ruangan terpisah. Sebagian ikan yang diasap adalah ikan pari. Potongannya lebih tebal dibanding potongan ikan patin di rumah Pak Saad. Berbeda dengan mangut pari yang sering saya temui, yang kadang agak berbau pesing, mangut pari di sini tidak berbau. “Kalau berbau, artinya ikannya sudah tidak segar sewaktu diasap,” jelas Ibu Sunar,  yang mengasap berdua dengan Mbak Kusyanti.

Sepertinya mereka juga akan bekerja sampai malam, karena masih banyak ikan yang belum diasap. “Hari ini sekitar 1 ton ikan yang diasap,” tutur Ibu Sunar, yang membuat saya kaget membayangkan banyaknya.

“Berarti nanti ada uang lemburnya dong?” saya memancing.

“Ah, nggak ada. Sudah biasa Mas, nggak ada lembur-lemburan,” jelas wanita berusia 60 tahun ini. Ia mengaku sudah menjadi tukang mengasap ikan selama 30 tahun. Gajinya tidak dibayar bulanan atau mingguan, tapi sehari sekali, kalau bos pemilik rumah pengasapan ini ada di Bandarharjo. Kalau sedang tidak di sini ya, kadang gajian 2 atau 3 hari sekali.

Berapa gaji pengasap ikan per hari? Ternyata hanya… Rp 35 ribu.

Hari sudah sore, dan badan saya sudah bau ikan asap. Jadi saya tak meneruskan ke rumah-rumah pengasapan yang lain, tapi kembali ke rumah Pak Saad. Budi sudah pergi duluan, jadi tinggal saya dan Bowo. Ia masih asyik ngobrol dengan ibu-ibu di sini. Kami pun berpamitan, dan tak lupa memborong ikan mangut. Dengan Rp 30 ribu, saya mendapat 1 kilo daging mangut campur, dan 10 potong mangut kepala. Kami lalu pulang dengan mengambil rute berbeda, menyeberangi jembatan merah tak jauh dari sini. Dari seberang sungai, tampak deretan cerobong asap dari rumah-rumah itu tak henti mengepul, asapnya kecoklatan tertimpa sinar matahari sore. (T)

 

Cara Gampang ke Bandarharjo
Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo bisa dicapai melalui beberapa rute. Bisa dari Jalan Mpu Tantular dekat Stasiun Tawang, atau dari Jalan Arteri Utara, namun yang paling mudah dari Jalan Hasanuddin. Kalau dari Tugu Muda tinggal mengikuti Jalan Imam Bonjol, lalu belok kiri masuk ke Jalan Hasanuddin, lurus hingga menemui Jalan Hasanuddin Kecil di sisi kanan. Ikuti jalan ini sampai bertemu jembatan merah di atas Sungai Semarang. Cerobong-cerobong rumah pengasapan ikan akan terlihat dari sini.

Dengan banyaknya penerbangan pagi ke Semarang dari Jakarta, berkunjung ke Bandarharjo bisa dilakukan untuk 1-day trip. Siapkan diri saja untuk berbecek-becek, dan juga sediakan pakaian pengganti karena setelah dari sini pasti pakaian akan bau ikan asap.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Aging Gracefully

Aging Gracefully

Gereja Katedral Jakarta selalu identik dengan keanggunan dan kekokohan. Ini hasil perjuangan para imam Katolik sejak dua abad yang lalu.

Rangka-rangka besi, yang biasa disebut steger, berdiri hampir menempel di dinding ruang utama Gereja Katedral di dekat pintu utara. Tampaknya steger ini masih akan dipasang di situ, untuk membantu tukang cat menjangkau bagian dinding katedral yang tinggi. Sebagian cat dinding memang tampak baru, berwarna gading dan biru muda, menggantikan cat lama dengan warna sama namun sudah kusam. Di luar tadi saya lihat juga ada steger lain, dan tampak dinding luar katedral tengah diberi lapisan anti jamur. Warna tembok luar masih sama, abu-abu, namun sebagian kini tampak lebih cerah.

“Sejak sebelum Natal tahun lalu, kami melakukan pengecetan ulang, serta memasang kipas-kipas angin di lantai dua,” kata Pak Edu, salah seorang pengurus Sekretariat Katedral. Menurutnya, renovasi yang menelan biaya Rp 4 miliar ini cukup besar, yang baru dilakukan lagi setelah renovasi terakhir tahun 1988. Untuk keperluan ini, Museum Katedral di balkon lantai dua pun ditutup, karena kabel-kabel jaringan listrik yang ada di bawah lantai kayunya akan dirapikan. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak jemaat juga dikurangi.

Kini renovasi itu sudah selesai, dan saya yang datang untuk ke sekian kalinya ke sini, makin kagum dengan kemegahan dan kekokohan bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad ini.

Sebenarnya, perjuangan untuk bisa mempunyai gereja Katolik di Hindia Belanda (Indonesia) itu tidak diperoleh dengan mudah, melainkan melalui perjuangan para imam selama satu abad lagi sebelumnya. Ini berawal ketika pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan dari Raja Louis Napoleon di Belanda untuk mendirikan prefektur apostolik di Hindia Belanda. Sebagai prefektur apostolik pertama, diangkatlah Pastor Nelissen (1808-1817).

Mei 1808, pastoran pertama didirikan di Batavia, berupa sebuah rumah bambu di tanah yang sekarang ditempati gedung Departemen Agama (lama). Misa pertama dilangsungkan di sebuah gereja darurat, yang letaknya di dekat tempat parkir Masjid Istiqlal. Dua tahun kemudian, 2 Februari 1810, ketika Hindia Belanda di bawah pemerintahan Gubernur Jendral Daendels, baru bisa didirikan sebuah gereja Katolik permanen di Jalan Kenanga, Senen. Di gereja ini pula, Sir Thomas Stamford Raffles, yang memerintah Hindia Belanda beberapa tahun kemudian, pernah menjadi orangtua baptis untuk seorang anak perempuan.

Sayang, 27 Juni 1826 gereja ini terbakar habis bersama 180 rumah pedagang Tionghoa di Pasar Senen. Karena sejak semula tidak memiliki hak atas tanah dan bangunan gereja, Dewan Gereja Katolik tidak bisa membangun lagi gereja di bekas kebakaran ini ketika ahli waris pemilik tanah itu menolak menjual tanahnya. Untungnya, oleh pemerintah Belanda, Dewan diberi kesempatan membeli tanah di Lapangan Banteng, di tanah yang ditempati Katedral sekarang, yang waktu itu di atasnya telah berdiri bangunan bekas kediaman Jenderal De Kock.

Segera kemudian dibuat denah gereja baru, yang sayangnya tidak pernah terealisasikan karena kebutuhan dananya terlalu besar. Akhirnya bangunan yang sudah ada dirombak agar bisa dipakai sebagai gereja. Gereja yang panjangnya 35 meter dan lebar 17 meter ini pada 6 November 1829 diberkati oleh Mgr. L. Prinsen Pr. dan diberi nama St. Maria Diangkat ke Surga. Tanggal 1 Mei 1843 diadakan misa pontifikal pertama di sini, dan sejak itu gereja Katolik ini berstatus katedral, yakni sebuah gereja yang mempunyai kathedra (tahta) dari uskup setempat.

Sejalan dengan berkembangnya misi Katolik di Hindia Belanda, terutama sejak masuknya imam-imam dari Ordo Jesuit, katedral ini makin berkembang dan membutuhkan renovasi. Tanggal 9 April 1870, katedral dipugar dan dibuatkan menara baru di bagian depan gereja. Sayang, meski berpenampilan kokoh, konstruksinya ternyata tidak memadai. Tanggal 9 April 1890, sebagian besar bagian tengah gereja ini ambruk. Selama 10 tahun kemudian, kegiatan gereja berlangsung di katedral darurat di garasi kereta kuda uskup.

Pembangunan katedral baru, yang rancangan arsitekturnya dibuat oleh P. Antonius Djikmans, S.J. sebenarnya sudah dimulai 1 November 1890. Namun setelah pemancangan batu pertama, setahun kemudian pembangunan dihentikan karena kekurangan dana. Baru kemudian 16 Februari 1899 pembangunannya dimulai lagi, dengan arsitek Marius Hulswit. Tiga tahun kemudian, tepatnya 21 April 1901, gereja katedral yang baru akhirnya selesai dibangun, dan diresmikan oleh uskup Mgr. Luypen.

Renovasi yang cukup besar baru dilakukan lagi 87 tahun kemudian, tepatnya tahun 1988. Atap gereja yang tadinya dari sirap, diganti dengan lembaran-lembaran tembaga yang lebih awet dan tidak mudah bocor.

Jika diamati, ruang utama katedral yang mempunyai panjang 60 meter dan lebar 20 meter ini sebenarnya membentuk salib. Lorong utama dari pintu depan sebagai batang salib, pintu utara dan selatan sebagai batang mendatar, dan bagian altar sebagai kepala salib. Jika ditarik garis lurus ke atas, di pertemuan batang salib ini berdirilah Menara Angelus Dei (Malaikat Tuhan) setinggi 45 meter. “Setiap jam 12 siang, kami membunyikan lonceng-lonceng katedral, menyambut turunnya para malaikat ini, yang akan menyelamatkan umat manusia,” jelas Edu.

Dua menara utama yang ada di atas pintu masuk, masing-masing setinggi 60 meter dan ditanam hingga ke tanah, sebenarnya mempunyai desain berbeda. Menara selatan yang disebut Menara Gading –lambang kesucian Bunda Maria–  keempat sisinya disangga empat menara kecil yang lancip. Menara utara yang disebut Benteng Daud –lambang perlindungan Bunda Maria kepada umatnya– disangga empat menara kecil berbentuk benteng.

Katedral ini merupakan bangunan bergaya gothic, namun dengan beberapa penyimpangan. Misalnya bangunan menara yang dibuat dari besi cor (seharusnya dari beton) adalah untuk mengantisipasi terjadinya gempa. Langit-langitnya dari kayu jati, pilar-pilar utama bergaya Roman, dan pola langit-langitnya yang berbentuk pohon palm, merupakan gaya Timur Tengah. “Makanya lebih tepat jika katedral disebut bergaya neo-gothic,” tambah Edu.

Kaca-kaca patri cantik yang ada di tiap jendela, menurut Edu motif-motif bunganya tidak ada yang sama. “Kaca-kaca itu sudah ada sejak gereja ini berdiri, dan hingga kini belum ada yang pecah,” tuturnya. Orgel tua yang terdiri dari 1500 pipa masih berfungsi dengan baik, begitu juga kursi-kursi kayu dari masa tahun 1890, masih mengilat. Bagian tempat duduknya saja yang berupa anyaman rotan, yang secara teratur diganti jika ada yang rusak. Dan itu menjadi tugas Pak Radiyo, salah seorang staf Katedral, seperti yang tengah dilakukannya siang itu.

Mimbar khotbah lama yang dinaungi tudung seperti kerang, masih cantik dengan relief-relief bergaya Barok di atas dan bawahnya. Di pegangan tangga menuju mimbar ini ada patung Rasul Petrus memegang kunci surga, dan Rasul Paulus yang memegang sebuah buku dan sebilah pedang. Di sisi selatan dan utara ruang utama masing-masing terdapat dua ruang pengakuan dosa. Di dinding atasnya, mengitari ruang utama, terdapat 14 lukisan jalan salib dari potongan-potongan keramik, yang menceritakan kehidupan Yesus dari lahir sampai disalib.

Gereja ini mempunyai lantai balkon yang ada di atas pintu masuk, menyambung ke bagian kanan dan kiri. Sejak tahun 1991 balkon ini difungsikan menjadi Museum Katedral, yang menyimpan koleksi benda-benda gerejani, bahkan dari era sebelum gereja ini berdiri. Di balkon selatan terdapat furnitur-furnitur antik dari abad ke-19. Di bagian tengah, terdapat replika perahu tradisional yang dipakai Pastor P. Bonnike, yang tenggelam di Selat Lewotobi, Flores, tahun 1889.

Di balkon utara terdapat replika ruang duduk dari pastoran di abad ke-19, di mana terdapat sebuah kursi gobang –kursi tempat pastor beristirahat, dengan dua buah sandaran kaki pada lengan kursi– dan juga sebuah jam antik dari abad ke-17. Lalu ada piala dan kasula (jubah) Paus Johannes Paulus II yang dihadiahkan kepada umat Katolik saat ia berkunjung ke Indonesia tahun 1989. Selain itu juga ada buku-buku doa, buku baptis, hingga lukisan katedral dari batang pohon pisang yang dibuat oleh terpidana Kusni Kasdut, beberapa tahun sebelum ia dieksekusi.

Saya turun kembali ke lantai dasar dan memperhatikan orang-orang yang tengah berdoa dan menyalakan lilin di depan pieta, replika yang menggambarkan Bunda Maria tengah memangku Yesus, di sudut selatan ruang utama. Tanpa saya sadari, makin banyak orang masuk ke gereja ini. Padahal ini hari Jumat, tengah hari. Begitu menunjuk pukul 12 tepat, lonceng-lonceng gereja pun berdentang-dentang, dan kemudian misa pun dimulai dengan khidmat.

Saya keluar dan menuju halaman depan, dan sayup-sayup terdengar khotbah salat Jumat dari Masjid Istiqlal di seberang jalan. Saya akan ke sana. Namun selalu saja pandangan saya terpikat ke patung Bunda Maria di atas pintu utama, di bawah Rosa Mystica. Wajahnya yang cantik dengan senyum yang teduh, serasa pas dengan kalimat latin di bawahnya: Beatam me dicentes omnes generationes (Semua keturunanku menyebut aku bahagia). Saya nanti akan ke sini lagi.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments