1-Day Trips

Wake Up and Smell Aroma Coffee

Wake Up and Smell Aroma Coffee

Tak hanya kopinya yang super enak, keramahan pemiliknya juga sangat mengesankan.

Sudah beberapa kali saya  mengunjungi pabrik dan toko kopi tua di salah satu sudut Jalan Banceuy ini, namun sepertinya saya belum akan bosan. Salah satu alasannya, karena saya memang penggemar berat kopi, dan kopi Robusta serta Arabika Moka yang dihasilkan pabrik Kopi Aroma di Bandung ini memang benar-benar enak.

Tetapi ada alasan lain mengapa saya suka ke sini. Sang pemilik, Widyapratama, orangnya begitu ramah. Pernah, suatu pagi sebelum pukul enam, saya dari pinggir jalan memotret-motret tokonya yang masih tutup. Tiba-tiba saja sang pemilik toko membuka pintu, tersenyum dan menyapa saya. Saya belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi dia mengundang saya untuk masuk. “Ayo ke sini,” katanya. “Kebetulan saya sedang memanggang kopi.”

Saya masuk ke tokonya dari pintu samping, lalu masuk lagi ke bagian belakang toko, dan saya langsung berada di pabrik kopinya. Tiga buah sepeda tua tampak menggantung di dinding, meja-meja panjang berlapis seng untuk mendinginkan kopi yang baru dipanggang, mesin sortir kopi, dan mesin yang paling besar yang tingginya sekitar dua meter: mesin pemanggang biji kopi. Tungku api di bawahnya tampak kuning menyala oleh api.

Di samping mesin ini ada sebuah pintu, yang merupakan pintu gudang kopi. Di dalam gudang yang gelap ini, karung-karung kopi ditumpuk hingga hampir mencapai langit-langit. Widya menyimpan dulu kopi Robusta selama  lima tahun sebelum dipanggang, dan Arabika selama delapan tahun. “Untuk menurunkan tingkat keasamannya,” jelas Widya. Menurutnya, dengan menyimpan kopi selama ini, keasaman kopi berkurang hingga 20 persen, dan menurunkan risiko lambung terasa perih bagi orang yang meminumnya. Namun, penyimpanan ini juga menyusutkan berat kopinya sendiri sebesar 1 kilogram per tahun. Meski ini artinya ‘keuntungan yang hilang’, namun rupanya tak menjadi masalah benar bagi Widya.

Widya, yang kini berusia sekitar 60 tahun dan mempunyai dua anak perempuan, mewarisi pabrik kopi ini dari ayahnya, Tan Houw Sian, yang mendirikan Koffie Fabriek Aroma tahun 1930. Setiap hari, Widya memanggang sekitar 200 kilogram kopi, dibantu oleh dua orang asisten. Setiap beberapa menit, Widya mengecek warna kopi yang dipanggangnya, dengan sebuah alat logam panjang, agar tahu apakah sudah matang atau belum. Mesin kopi bermerek Probat yang digunakannya adalah buatan Jerman tahun 1936. Bahan bakarnya adalah kayu pohon karet, dipilih karena menghasilkan lebih sedikit asap dan tidak mempengaruhi rasa serta aroma kopi.

Bagian terbaik dari proses pemanggangan adalah ketika biji kopi sudah matang dan mesin pemanggang itu dibuka. Mesin ini berbentuk seperti helm tentara Romawi yang berukuran raksasa. Di dalamnya terdapat sebuah bola besi yang berisi penuh biji kopi, yang berputar di atas bara. Ketika pemanggangan  selesai, biji kopi pun dituangkan ke dalam penampung berupa meja berlapis seng, untuk mendinginkan kopi. Setelah itu kopi disortir lagi untuk memilih biji yang masih utuh, dan membuang debu serta biji kopi yang pecah. Biji-biji kopi yang bagus itu disimpan di dalam kaleng besar dan dibawa ke bagian toko di depan. Di sini, barulah biji kopi itu digiling ketika ada konsumen yang membeli.

Toko Kopi Aroma buka Senin-Sabtu mulai pukul 8 pagi sampai 3 sore, dan tutup di hari Minggu. Satu paket kopi Robusta dengan berat 250 gram harganya Rp 12.500, sedangkan Arabika Moka Rp 17.500. Kertas pembungkusnya pun unik, karena didatangkan dari Australia, dengan tulisan-tulisannya yang masih memakai ejaan lama.

Di bagian toko ini juga semuanya serba ‘jadul’. Mulai dari sekering listrik, timbangan kopi, mesin penggiling, mesin kasir, hingga poster-poster dan bahkan bentuk huruf nama tokonya. Semuanya bernuansa era 30-an, ketika gaya seni art deco tengah mewabah di Bandung.

Tidak seperti pedagang yang lain, Widya malah tidak merekomendasikan untuk membeli banyak kopi sekaligus. “Cukup satu bungkus saja tiap jenisnya,” saran Widya, yang juga dosen ekonomi di Universitas Pajajaran. “Kalau habis, silakan datang kembali atau pesan lewat telepon. Dengan begitu kita selalu mendapatkan kopi yang segar.”

Dan ketika saya memesan dua bungkus kopi untuk istri saya, yang juga penyuka kopi, Widya malah tidak mau menerima uang saya. “Tidak usah, tidak usah. Anggap saja ini hadiah saya untuk istri anda,“ katanya dengan senyum hangat. Ohh, pagi yang indah…. (T)

Koffie Fabriek Aroma
Jl. Banceuy No 51 Bandung 40111
Tel: 022-4230473 Fax: 022-4232648

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
Si Pitung Strikes Back!

Si Pitung Strikes Back!

Budaya Betawi hidup kembali melalui motif-motif batik yang indah.

Seorang ibu dan dua pria yang tadi beberapa kali menelepon untuk menanyakan petunjuk arah ke Batik Seraci, akhirnya sampai juga di halaman rumah. Mereka pun disambut sang pemilik workshop dan butik batik, Ernawati (23). “Aduh, jauh sekali ya, sampai kami kesasar-sasar,” komentar si ibu yang berjilbab.

Mereka datang dari Jakarta Islamic Center, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, untuk membeli beberapa kain batik bermotif betawi. Mereka akan memakainya di upacara khusus di lembaga itu bulan April ini. Mereka sudah mencari kain batik betawi ke mana-mana tapi tidak ketemu, sampai akhirnya ada rekan sekantor yang memberitahu Batik Seraci di daerah Marunda, Bekasi.

Sebenarnya Tanjung Priuk dan Marunda itu satu deret lurus saja ke timur, namun memang jaraknya cukup jauh, dan lokasi Batik Seraci sendiri sudah masuk ke wilayah Kabupaten Bekasi. Saya, yang sudah dua kali ke sini pun, sempat mengeluh karena perlu waktu hampir 1 jam dari Tanjung Priuk untuk sampai. Belum lagi banyaknya kendaraan truk trailer di sepanjang jalan menuju ke sini.

Tahun lalu, sewaktu pertama ke Batik Seraci, jalan menuju rumah ini masih berupa jalan tanah becek, dengan sawah tadah hujan yang tak terurus sehingga ditumbuhi bunga-bunga bakung dan rerumputan di kiri-kanan. Rumah-rumahnya sederhana dan letaknya tidak beraturan. “Benar-benar antara bumi dan langit kalau dibandingkan dengan Jakarta,” pikir saya waktu itu. Hanya rumah pemilik Batik Seraci saja yang bisa dianggap ‘bagus’. Untunglah, jalan kampung yang cuma cukup untuk satu mobil itu kini sudah dibeton, dan kondisi rumah-rumah sudah sedikit membaik, meski genangan air di lapangan di depan SD Segarajaya 02 masih ada sampai sekarang.

Ernawati termasuk orang baru di dunia membatik, karena ia baru memulai usahanya Desember 2010. Erna, yang sempat tinggal selama 6 tahun di Semarang, mulai belajar membatik ketika ia bersekolah SMA, lalu meneruskan ke Sekolah Mode Susan Budihardjo selama 1 tahun di kota itu. Ia belajar membatik ke tantenya, Umi Sumiati, yang mulai tahun 2005 membuka usaha dan pelatihan Batik Semarang 16. Umi sendiri bukan berasal dari keluarga pembatik. Hanya karena ia rajin ikut kursus, akhirnya ia berani membuat usaha batik.

Berbekal ilmu membatik dari sang tante serta ketrampilan mode dari kursus, Erna pun kembali ke kampung halamannya di Marunda, dan membuka usaha batik yang ia beri nama Batik Seraci (bukan ‘serasi’). Seraci ini berasal dari kata Serayu dan Cimalur, nama dua sungai di Jawa Tengah dan Banten.
Batik Seraci mengkhususkan diri pada membuat batik-batik bermotif budaya Betawi. Produknya berupa kain-kain panjang, selendang, taplak meja, sarung bantal, baju batik, sampai frame lukisan batik. Karena lokasinya yang di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jakarta, tidak heran jika batik ini sering jadi ‘rebutan’ untuk dibina oleh Dinas UKM di kedua provinsi ini.

Yang unik, Erna sendiri mengaku tidak bisa membuat motif-motif batik. Tapi itu bukan halangan baginya. Untuk mendapat ide motif-motif batik yang baru, bungsu dari tiga bersaudara ini rajin bertanya kepada orang-orang tua di daerah ini, tentang budaya betawi yang ada di masa lalu. Maklum, daerah Marunda memang sejak dulu merupakan sentra masyarakat Betawi. Bahkan rumah yang konon dulu merupakan rumah tokoh Si Pitung ada tak jauh dari sini.

Setelah mendapat gambaran tentang motif tertentu, Erna lalu meminta bantuan temannya yang pintar membuat sketsa untuk membantunya. Kalau perlu, ia membawa temannya itu ke tempat-tempat yang sesuai denga tema motif batiknya, entah itu ke rumah Si Pitung, Pantai Marunda, Monas, dan sebagainya. Dari hasil kegigihannya, Erna kini sudah menghasilkan sekitar 150 motif batik tulis, dan 50 motif batik cap. Untuk membuat cap batik, Erna masih memesannya ke Semarang dan Solo, sedangkan bahan-bahan pembuat batiknya dari Pekalongan.

Mungkin karena lokasinya yang masih di daerah ‘pinggiran’, hal ini terbawa juga ke dalam motif-motif batik yang Erna ciptakan. Sebagian besar motif Batik Seraci bercerita tentang alam pedesaan, pesisiran, flora-fauna, dan aktivitas masyarakat pedesaan. Misalnya motif ngangon kebo (menggembala kerbau), nandur (menanam padi), nglajo (menjadi buruh tani), nderep (menyiangi padi), lumbung pari (lumbung padi), hingga motif baritan (selamatan sedekah laut), demenan (pacaran), dan ndemprak (permainan petak tradisional).

Motif-motif yang berkaitan dengan legenda dan ciri khas betawi juga sudah banyak dibuat, seperti Si Pitung mlancong (jalan-jalan), Si Pitung silat, pengantin betawi, Monas, ondel-ondel, sampai alat musik tradisional seperti gambang dan kromong. Erna juga membuat motif-motif batik kumpeni –yang dicirikan dengan gambar orang Belanda– serta motif-motif klasik, namun tak sebanyak motif-motif baru ini.

Bahan kain yang dipakai membatik ada bermacam-macam, dan bersama jumlah warna yang digunakan, hal ini akan mempengaruhi harganya. Batik cap 1 warna berbahan kain katun misalnya, ia jual dengan harga Rp 120 ribu, sedangkan kalau 2 warna Rp 160 ribu. Untuk versi batik tulis, harga kain batik 2 warna sekitar Rp 250 ribu, sedangkan yang 3-4 warna Rp 400-750 ribu. Erna juga memakai bahan dobi, shantung baby, tenun kotak, sutera, dan kain tenun ATBM. Yang terakhir ini harganya bisa Rp 3-6 juta untuk ukuran panjang 2 meter.

Kain-kain batik ini setiap bulan bisa laku antara 50-100 potong. Dan Erna merasa sangat beruntung, karena ia kebanyakan hanya memasarkan batiknya melalui website, media jejaring sosial, dan blackberry messenger. Baru-baru ini saja ia membuka butik batiknya di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, dan sebentar lagi di Metro Plasa Senayan. Para pembelinya kebanyakan orang Jakarta, para pegawai negeri. instansi-instansi seperti bank, organisasi massa, dan sebagainya.

Meski Erna sendiri masih belajar, ia tak pelit untuk membagikan rezeki dan ilmunya. Ke-30 karyawannya adalah orang-orang yang tinggal di sekitar rumah. Saat anak-anak sekolah libur, Erna juga memberikan kursus membatik untuk mereka, mulai dari tingkat SD hingga SMA, di beranda rumahnya. Biaya untuk satu hari kursus hanya Rp 25 ribu. Anak-anak ini diajari membatik di selembar kain saputangan, mulai dari membuat sket hingga ke proses pencelupan dan pengeringan, sampai dihasilkan sebuah kain batik. Dengan cara ini, Erna berharap di antara mereka ada yang tertarik untuk melestarikan batik betawi, dan membuka usaha batik sendiri, atau sekurangnya membantu Erna dalam mengembangkan usaha batiknya.

Hmm, pulang kembali ke Jakarta, dan melewati lagi rumah-rumah tak teratur, jalan sempit, dan tanah-tanah pertanian yang terbengkalai, saya membatin, mudah-mudahan Batik Seraci nanti ikut mengubah daerah perbatasan ini menjadi lebih baik. (T)

 

Menuju Batik Seraci

Kalau memakai kendaraan pribadi, dari Terminal Tanjung Priuk ke timur, menyusuri Jl. Cilincing Raya, belok kanan sebelum masuk Kawasan Berikat Marunda. Ikuti Jl. Sungai Landak, melewati 3 jembatan besar, lalu susuri Jl. Marunda Makmur. Belok kiri begitu sampai di pertigaan dengan tanda “Krematorium Nirwana”. Kira-kira 100 meter kemudian ada jalan beton kecil ke kanan yang cukup untuk 1 mobil, ikuti terus hingga melewati jembatan dan tiba di sebuah perkampungan dan SD Segarajaya 02. Rumah Batik Seraci sekitar 50 meter maju lagi dari SD ini.

Kontak Batik Seraci: Ernawati, Jl. Kebon Kelapa RT-002 RW-005 Segarajaya, Tarumajaya, Marunda, Bekasi, Tel: 021-32431101, 0821-25554447, E-mail: seracibatikbetawi@yahoo.com, www.seracibatikbetawi.wordpress.com. Bisa juga ke Butik Batik Seraci, Kompleks Keuangan, Jl. Keuangan II/24 Cilandak, Jakarta Selatan.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
Long Road to Queen Crater

Long Road to Queen Crater

Trekking yang seharusnya mudah menjadi sulit, bahkan sampai tersesat beberapa jam. Ternyata memang harus diuji dulu sebelum bisa menghadap Sang Ratu.

Waktu baru menunjukkan pukul 3.45 dini hari saat kami bertiga, saya, Boy, dan Raiyani, menyeberangi jalan aspal memasuki jalan setapak yang menuju titik awal pendakian. Udara sejuk, dan memandang ke langit, sepertinya hari akan cerah. Mudah-mudahan nanti tidak hujan, doa saya, meski saya tak lupa membawa jaket hujan untuk jaga-jaga.

Kami bertiga hendak trekking menuju Kawah Ratu, di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Kawah Ratu (1.437 mdpl) itu berada di ‘pinggang’ Gunung Salak, di pinggir jalur pendakian menuju puncak. Jadi kami tidak perlu naik sampai Puncak Salak I (2.210 mdpl) apalagi Puncak Salak II (2.180) yang lebih jauh. Gunung Salak memang punya dua puncak.

Ada beberapa jalur trek menuju Kawah Ratu. Bisa melalui jalur Cidahu-Cangkuang, Sukabumi, bisa juga dari Pasir Reungit (1.173 mdpl) dekat kompleks Gunung Salak Endah, seperti yang kami lakukan sekarang. Pilihan lain dari Gunung Bunder, yang sebenarnya tak jauh dari sini. Tadinya kami hendak berangkat lebih pagi, karena Rai ingin mengejar sunrise. Namun karena kata Boy kawah itu berada di lembah dan matahari terhalang lereng gunung sehingga kami tak akan mendapatkan sunrise, waktu pendakian pun sedikit diundur.

Kami segera sampai ke pintu gerbang menuju jalur pendakian, yang kosong tanpa penjaga. Hanya ada papan peta sederhana yang menunjukkan jalur pendakian ke kawah dan puncak Gunung Salak. Kawah Ratu ada di titik terdekat, lalu Puncak Salak I, dan terakhir Puncak Salak II. Tapi biasanya pendakian tidak sesimpel itu, pikir saya. Kami lalu menemukan patok di pinggir jalan bertuliskan TN HM 86. Sepertinya, TN menunjukkan ‘Taman Nasional’, dan HM menunjukkan ‘Hektometer’ (100 meter). Menurut Boy, kami akan mengikuti jalur trekking yang telah ditandai dengan patok-patok ini.

Sebuah sungai kecil dengan air yang gemericik kami seberangi. Boy bilang, jalur pendakian kami akan banyak menemui sungai-sungai kecil dan kadang aliran airnya melimpah ke jalur trekking, jadi dia menyarankan saya memakai sandal trekking yang all-weather, bukan sepatu gunung. Tapi saya tetap memakai sepatu gunung karena dia baru memberitahu sekarang, hahaha!

Jalan mulai menanjak, dan saya yang paling belakang mulai tertinggal. Tapi tidak apa, karena saya membawa senter, sehingga Boy dan Rai mesti menghentikan langkahnya dulu supaya mereka bisa melihat jalur trekking yang dilalui. Boy membawa senter kecil, namun sepertinya lupa mengganti baterainya, sehingga cahayanya tak cukup menerangi jalur trekking yang masih gelap.

Sampai di sebuah pertigaan, Rai yang sudah agak jauh melangkah, dipanggil Boy. “Lewat sini, bukan ke situ!” Boy meminta saya menyorot sebuah petunjuk jalan yang menempel di pohon yang tertutup daun-daun, dan terlihat tulisan Kawah Ratu  1,3 Km, Cidahu 6,3 Km, Puncak I 8,8 Km.  Saya merasa lega, karena trekkingnya cuma 1,3 km. Dengan berjalan normal, paling 45 menit sampai.

Tapi… mengapa Boy tadi di penginapan bilang trekkingnya sekitar 2-3 jam? Apa medannya berat? Saya tak banyak berpikir, karena harus mengejar Rai dan Boy yang sudah jauh lagi di depan.

Meski gelap gulita, Rai sepertinya punya ‘mata harimau’, sehingga bisa menyusur jalur trekking tanpa kesulitan. Terlebih karena ia tidak membawa apa-apa. Tas kamera, air, dan bekal makanan semua dibawa Boy dalam dua backpack. Sementara saya cukup repot membawa tas kamera dan tas tripod, sambil membawa senter untuk menyoroti jalur trekking.

Patok 85 kami lewati, dan jalan tanah yang becek serta sempit dan menanjak mulai kami lewati. Di depan berikutnya suara gemericik air menemani sepanjang kami berjalan. Kadang airnya menggenangi jalur trek, dan saya mesti berjingkat atau melompat agar sepatu saya tidak basah.

Suara azan subuh terdengar di kejauhan. Jadi kami sudah berjalan sekitar 30 menit. Nomor patok yang kami lalui pun makin menurun, 84, 82, 81, 79…. Nomor yang kami temui tidak selalu urut, karena bisa saja kami tidak melihatnya karena gelap. Saya tak tahu sampai patok nomor berapa kami akan berjalan. Apakah patok nomor 0? Apakah patok ini dinomori dari Puncak I, ataukah dari Kawah Ratu? Kalau dimulai dari Kawah Ratu, berarti jarak treknya sekitar 8,6 kilometer dong, bukan 1,3 km seperti tertulis di penunjuk jalan tadi?

“Kita tidak akan sampai patok 0, tapi mungkin patok 30-an saja,” kata Boy. Oke, berarti sekitar 5 sampai 5,5 km, bukan 1,3 km? Ah, sudahlah, saya tidak mau terlalu memikirkan jaraknya, yang penting jalan saja terus mengikuti jalur trekking ini.

Kami melewati sebuah lahan yang agak lega dan datar, yang ternyata merupakan sebuah camping ground. Ada dua tempat lapang yang cukup untuk sekitar 4-5 tenda, tapi tidak ada yang kemping di sini. Di sebuah pohon kami lihat larangan untuk kemping di sini. Mungkin karena Kawah Ratu selalu aktif mengeluarkan gas, kemping di sini dianggap tidak aman karena jaraknya cukup dekat.

Kami terus menyusuri jalur trekking yang bersisian dengan sungai kecil, sehingga suara gemericik airnya terus menemani sepanjang kami jalan. Kadang-kadang jalurnya naik sekitar 5-10 derajat, dengan tanjakan setinggi paha sehingga saya mesti berpegangan pada akar pohon atau batu-batu agar bisa melewatinya. Lalu diikuti dengan jalur datar, yang cukup membantu untuk menenangkan nafas yang tersengal-sengal. Mungkin faktor usia juga yang membuat saya tertinggal di belakang. Untungnya, karena membawa senter –sekarang senter Boy sudah mati– sehingga mereka tidak bisa bergerak terlalu jauh dari saya.

Antara ‘Potekan’ dan Korek

Hari makin lama makin terang, meski masih remang-remang. Kami menemukan lagi camping ground di sisi kanan jalur trek, namun tidak ada yang kemping. Raiyani dan Boy tetap berjalan dengan cepat, sehingga saya makin sering tertinggal di belakang karena mereka tidak butuh penerangan lagi. Hanya karena saya sering berteriak ‘Hoi, tunggu ya!’ mereka berhenti sejenak untuk menunggu saya yang datang dengan nafas terengah-engah.

Kami menyeberangi sebuah sungai kecil yang diikuti dengan tanjakan dan tiba di sebuah tanah datar yang mungkin hanya cukup untuk 1 tenda kemping. Sepertinya ini memang camping ground, karena ada batang pohon mati melintang yang sepertinya untuk tempat duduk-duduk. Waktu sudah pukul 6 pagi dan kami dapat melihat sekeliling dengan jelas, hutan yang rapat dengan gemericik air dari sungai kecil di sisi kanan kami. Tidak kami temukan patok penunjuk jarak di sini, dan Boy menerabas semak-semak untuk sampai di pinggir sungai kecil itu, dan menyeberang, diikuti Rai. Saya yang paling belakang, susah payah menyeberangi sungai berbatu-batu itu karena banyaknya ranting pohon dan juga tumpuan di sisi seberang yang agak tinggi.

Tapi Boy kemudian balik lagi ke saya. “Sepertinya bukan ini jalurnya.”

Jadi kami berbalik lagi menyeberangi sungai tadi, dan Boy mencari-cari lagi jalur trekking yang benar. Saya dan Rai beristirahat di tempat kemping ini sambil menunggu. Sepertinya Boy tidak menemukan, karena ia kembali ke kami. “Apa jalurnya sudah berubah ya? Saya cari-cari patok, tidak ada juga.” Menurut Boy, ia terakhir trekking melalui jalur ini tahun 2009, dan tidak menemui tempat seperti ini. Jadi, dengan kata lain, sepertinya kami mulai… tersesat?

Dalam pikiran saya, seharusnya kami tidak tersesat, karena Kawah Ratu ini destinasi trekking yang cukup populer. Pastinya jalur trek telah dibuat dengan jelas. Hanya saja, karena tadi kami berjalan dalam gelap, bisa saja kami tak melihat semua patok yang ada. Tadi saya sempat melihat patok nomor 67, namun itu sudah cukup jauh di belakang.

Boy menerabas jalur di depan yang menaik, yang nampaknya seperti trek yang pernah dilalui orang. Namun setelah kami ikuti beberapa puluh langkah, jalur yang kami tempuh makin rapat oleh gerumbul tanaman pakis dan pohon-pohon tinggi. “Bukan yang ini sepertinya. Kita balik lagi ke lokasi kemping,” saran Boy.

Boy mencari-cari jalur lagi di sisi kiri kami, kemudian ia datang. “Sepertinya jalur yang ini!” Saya dan Rai pun mengikutinya. Kali ini, menghindari tersesat lebih jauh lagi, setiap 10 meter saya mulai memotek (mematahkan) batang tanaman pakis yang saya lalui, dan mengarahkan patahan dahan itu sesuai arah yang saya tuju. Daun-daun di batang tanaman pakis itu berpola mengerucut, jadi cocok sekali sebagai alat darurat untuk menunjukkan arah.

Kami menembus hutan yang agak rapat dan lembab serta terus menanjak. Di depan kejauhan sana terlihat garis punggungan gunung, dan di kanan kami, di atas pohon-pohon yang rapat, terlihat asap putih mengepul. Itu pasti asap dari Kawah Ratu, pikir saya. Tapi mengapa kami mengambil arah yang berbeda? Apakah mesti ke puncak gunung di depan kami itu agar bisa melihat jalur trekking di bawah? Bukankah kalau mau ke puncak Gunung Salak dari jalur trekking tadi HARUS melewati Kawah Ratu dulu?

Boy punya keraguan yang sama. “Sebaiknya kita tidak meneruskan melalui jalur ini. Bisa-bisa nanti kita tambah tersesat, dan tidak bisa pulang. Kita balik ke tempat kemping tadi saja,” sarannya. Kami pun memutar langkah lagi. Dan ternyata, untuk kembali ke tempat kemping saja kami beberapa kali tersesat. Untung, potekan-potekan ranting pakis yang tadi saya buat itu bisa kami temukan, dan menolong kami kembali ke tempat awal kami. Kami pasti lebih tersesat lagi kalau memaksa naik hingga ke punggungan gunung jauh di depan sana.

Begitu balik ke tempat kemping, saya cek kaki dan sepatu. Begitu membuka ujung celana kaki kiri, aaahh… seekor lintah yang gemuk tengah menyedot darah saya di batas antara betis dan kaus kaki. Saya buka kaki kanan, ya ampuun, ternyata di situ juga ada satu lintah yang gemuk! Saya garuk kedua lintah itu dengan bergidik memakai ranting kering. Aduh, mengapa mereka bisa masuk ya, padahal saya memakai celana panjang? Saya cek kedua sepatu hingga ke dalam-dalamnya. Untung tidak ada lintahnya.

Daripada stres memikirkan mengapa kami bisa tersesat, Boy pun mengeluarkan bekal, untuk membuat kopi dan memasak mi instan. Ia mengeluarkan kompor portabel, tertegun sejenak, kemudian bertanya ke saya, “Mas, kamu bawa korek api?”

Aaaahh!  Ia pasti lupa membawa korek api! Aduuh! “Bukannya kamu merokok, Mas?” gantian saya bertanya. “Iya, tapi tadi korek saya habis dan waktu mau beli rokok, warungnya masih tutup.”

Hahaha! Saya tak bisa menahan tawa, antara mangkel dan geli, karena kejadian ini mirip seperti sewaktu saya mendaki Gunung Sundoro di Temanggung, Jawa Tengah, dua tahun lalu. Waktu itu pemandu saya, Adi, membawa korek, tapi lupa membawa kompor. Akibatnya kami minum kopi pagi dengan cara yang unik: masukkan kopi ke dalam jerigen berisi air, lalu ditutup rapat. Kocok-kocok jerigen itu berulangkali agar kopi melarut. Jadilah… kopi dingin. Hahaha!

Rai, yang mendengar cerita saya, lalu melakukan aksinya. Ia memasukkan coffee mix ke dalam botol air kemasan, tutup, lalu dikocok-kocok. Jadilah… coffee mix dingin. Hahaha! Sejarah kembali terulang.

Masih 3,6 Km Lagi?

Tak terasa kami telah menghabiskan 2 jam di tempat kemping ini. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke patok yang kami temui sebelum tersesat untuk mengecek lagi jalur trekking yang benar dari patok itu.

Baru berjalan pulang sekitar 20 meter dan menyeberangi sungai kecil, tanpa sengaja saya yang berada paling belakang menengok ke belakang, dan… astaga! Ada penunjuk jarak di atas pohon! Mengapa tadi Boy tidak melihatnya, padahal pohon ini kelihatan jelas di pinggir jalur trekking?

Di penunjuk itu tertulis Kawah Ratu 3,6 Km, Cidahu 8,6 Km, Puncak Salak I 11,1 Km. Saya tertegun. Masih 3,6 km lagi? Bukankah tadi penunjuk jarak di awal pendakian menyebutkan 1,3 km? Mengapa kini jaraknya makin panjang? Padahal sepertinya kami sudah menempuh separuh perjalanan.

Tak jauh dari pohon ini, saya temukan juga patok nomor 62. Saya tak sempat berpikir panjang tentang keanehan ini, karena Boy dan Rai, seperti biasa, lebih dulu ngebut setelah Boy yakin bahwa jalur trekking dengan penunjuk arah yang sekarang ini adalah jalur yang benar.

Setelah 20 menit berjalan melalui jalur trekking yang sempit, menanjak, dan sebagian medan yang datar tergenang air, saya sampai ke sebuah sungai yang cukup besar dan berbatu-batu. Sebuah papan pengumuman di sini menyebutkan, di sinilah tempat mengisi bekal air sebelum naik ke Kawah Ratu. Kami pun mengisi ulang botol air kami.

Perlu waktu 15 menit lagi sebelum kami sampai ke daerah yang hutannya porak-poranda seperti habis diamuk badai. Tanah di sini berwarna putih, dengan batu-baru berwarna putih dan kuning kecoklatan bertebaran berselang-seling dengan batang-batang pohon yang roboh. Sebuah sungai kecil mengalir tenang dengan bebatuan di dasarnya berwarna putih kelabu. Ini yang dinamakan Kawah Mati I, yang sudah tidak aktif lagi.

Kami sampai di Kawah Mati II, yang kondisinya hampir sama, 40 menit kemudian setelah menembus jalur trekking yang makin rapat dan berbatu-batu. Di kawah yang digenangi air ini hanya kami temui pokok-pokok kayu mati dan lumut yang tumbuh sporadis di beberapa tempat. Menurut keterangan di sebuah buku pendakian gunung, di sisi kanan area ini ada Danau Sanghyang yang menjadi tempat orang-orang berziarah mencari berkah. Tapi saat itu kami lewatkan saja karena kami ingin cepat-cepat sampai ke Kawah Ratu.

Sekitar pukul 9.30 pagi, akhirnya dari kejauhan kami lihat juga tempat yang cukup lapang dan dipenuhi kabut asap berwarna putih: Kawah Ratu!

Hujan gerimis menyambut kami begitu kami sampai di tempat terbuka yang tanahnya hampir semua berwarna putih, dan asap mengepul tak henti-hentinya dari beberapa sumber asap di sisi kiri kami. Sekurangnya ada 10  sumber asap, mulai dari dekat kami berdiri, di lembah yang menuju sungai di depan bawah sana, hingga di bukit di belakang sungai. Luas area kawah ini kira-kira 100×100 meter. Asap membubung tinggi hingga menyelimuti hutan dan puncak gunung di atas-belakang kawah ini. Kalau saya mendaki sampai Puncak Salak I pun rasanya percuma, karena pasti pemandangan putih semua tertutup kabut asap, di samping batuk-batuk, sesak napas, dan mata perih.

Ternyata, patok jalan yang kami temui di area ini bernomor 49. Jika patok di awal trekking tadi 85, dikurangi 49 ini berarti kami menjalani 36 patok alias 36 Hektometer, alias 3,6 kilometer. Hmm, jangan-jangan…  dua penunjuk jarak yang tadi kami temui dipasang tertukar? Tapi, ah, nanti saja saya pikirkan, saya mau foto-foto dulu!

(Catatan: Beberapa hari kemudian, setelah hitung sana hitung sini dan melihat foto kedua penunjuk jarak, ternyata memang benar, keduanya dipasang tertukar. Yang “Kawah Ratu 3,6 Km” seharusnya dipasang di patok 85, dan yang “Kawah Ratu 1,3 Km” seharusnya dipasang di patok 62. Sungguh menyedihkan, tidak ada yang tahu tentang kesalahan ini, termasuk pemasang dan petugas Taman Nasional!).

Di area Kawah Ratu yang lebih tinggi ternyata ada 3 mahasiswa pecinta alam dari Universitas Mercu Buana Jakarta yang sudah lebih dulu sampai. Mereka, Adit, Rudi dan Fajar, berangkat dari titik awal yang sama pukul 7 pagi, sampai di sini pukul 9, alias 2 jam. Sedangkan kami bertiga, berangkat pukul 3.45 pagi, sampai di sini pukul 9.30, alias 5 jam 45 menit! Untunglah mereka membawa korek api, sehingga Boy bisa memasak mi instan dan membuat coffee mix panas.

Kawah Ratu ini aktif sekali dan seperti tak henti mengeluarkan asap putih. Bau belerang tidak terlalu menyengat, mungkin karena asap itu lebih banyak terbawa angin ke atas. Namun di sini ada juga peringatan untuk tidak duduk atau jongkok lebih dari 3 menit, khawatir kalau-kalau ada gas belerang atau gas beracun lain yang terhirup dan membuat lemas.

Sebuah aliran air kecil mengalir dari celah-celah sumber asap yang paling dekat dengan saya, dan setelah saya cicipi, airnya hangat dan berasa asam. Maklumlah, air itu melalui batu-batuan kapur dan belerang. Aliran air ini terus menuju lembah, menyatu dengan aliran air yang lebih besar, yakni Sungai Cikaluwung. Sungai yang bersumber dari puncak Gunung Salak ini seperti membelah kawah dari kiri ke kanan, dengan sisi depan yang dekat dengan saya berupa dataran berbatu-batu, sementara di belakang sana berupa bukit-bukit vertikal dengan asap putih yang lebih tebal. Namun uniknya, air di sungai yang dasarnya putih ini dingin dan tawar segar, tidak bercampur belerang.

Cuaca makin mendung, dan kami memutuskan untuk pulang. Pukul 12.10, kami dan tiga teman baru itu pun kembali menyusuri jalur trekking. Rai dan Boy berjalan dengan langkah-langkahnya yang cepat sehingga saya tertinggal. Untunglah tiga teman baru itu mau menunggu saya yang tertatih-tatih karena jari-jari kaki mulai sakit akibat menahan berat badan agar tidak terpeleset di jalur trek yang kini becek dan licin tersiram hujan. Malah mereka memberikan juga biskuitnya untuk mengisi perut saya yang mulai keroncongan.

Akhirnya, sampai juga saya ke kantor pintu masuk Taman Nasional, setelah menempuh trekking balik selama… 3 jam! Lagi-lagi tidak saya temukan penjaga di sini. Eh, di jendela kaca kantor itu ada peta kecil yang lebih detil tentang jalur trekking ke Kawah Ratu dan Puncak Salak I dan II. Ternyata, kalau tadi kami terus saja mendaki saat tersesat, kami akan sampai ke Gunung Sumbul (1.926 mdpl), gunung ‘sadel’ antara puncak Salak I dan II. Dan ternyata lagi, penomoran yang menurun pada patok-patok itu tidak ke arah puncak Salak I atau II, melainkan ke titik awal pendakian dari rute Cidahu-Cangkuang. Terima kasih Tuhan, saya mendapat banyak pelajaran hari ini. (T)

 

BOKS 1:
Menuju Kawah Ratu

Trekking ke Kawah Ratu bisa dilakukan melalui jalur Cidahu-Cangkuang, Sukabumi (jarak tempuh sekitar 4,5 km), melalui jalur Pasir Reungit-Gunung Salak Endah seperti yang saya lakukan (jarak tempuh 3,6 km), atau melalui jalur Gunung Bunder, yang berdekatan dengan Pasir Reungit.

 Kalau dari Jakarta, untuk menuju Pasir Reungit: dari Bogor ke arah barat mengikuti angkot hijau jurusan Leuwiliang, belok kiri di pertigaan Cibatok, ikuti angkot biru hingga memasuki kawasan wisata Gunung Salak Endah. Ikuti jalan utama hingga melewati Curug Cigamea, Michael Resorts, Curug Ngumpet 1, Curug Pangeran, dan berhenti di dekat Curug Ngumpet 2. Tinggal jalan kaki sebentar untuk menuju pos pintu masuk trekking. Kalau dari Jakarta, trekking ke Kawah Ratu bisa dilakukan untuk one day trip, jadi tidak perlu menginap, asal berangkat dari Jakarta pagi sekitar pukul 6.

 

BOKS 2:
10 Tips Trekking ke Kawah Ratu

  1. Jangan trekking malam hari kecuali dengan pemandu yang sangat berpengalaman dan punya kelengkapan memadai
  2. Gunakan patok jalan dan penunjuk arah lain (warna hijau) yang telah dipasang oleh grup pecinta alam. Kembali ke patok terakhir yang ditemui jika tersesat mengambil arah. Jalur trekking menuju Kawah Ratu cukup jelas, meski kadang sempit dan cukup satu orang saja untuk lewat
  3. Pakailah sandal atau sepatu trekking yang cukup lega di bagian jari-jari kaki, karena bagian ini akan menjadi tumpuan saat berjalan menurun pulang. Sepatu yang sempit akan membuat jari-jari kaki sakit
  4. Bawa perlengkapan standar: kompas, jas hujan, senter atau headlamp dengan baterai masih baru, korek gas, masker, dan repellant untuk mengusir nyamuk dan pacet. Aplikasikan repellant ke kaki dan bagian yang terbuka sebelum trekking
  5. Bawalah payung bagi yang ingin tetap bisa memotret saat gerimis atau hujan
  6. Bawa bekal makanan tinggi kalori yang cukup karena trekking ini menguras energi. Di jalur trekking ini air tersedia melimpah dan bisa isi ulang botol air minum
  7. Tidak ada shelter maupun MCK di jalur trekking, jadi jas hujan merupakan keharusan. Bawa sekop mini dan wet tissue untuk menangani urusan ‘ke belakang’
  8. Ikuti petunjuk untuk tidak duduk atau jongkok lebih dari 3 menit saat berada di kawasan Kawah Ratu. Segera berdiri dan berjalan-jalan saat dirasa mulai pusing
  9. Dilarang kemping di tempat-tempat yang sudah ada larangan kemping. Ada tempat kemping yang lebih nyaman dan mempunyai MCK yang cukup di depan pintu masuk pendakian
  10. Dilarang keras menyampah dan mencoret-coret jalur trekking. Semua sampah makanan harus dibawa kembali.
Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Snakefruit from Heaven

Snakefruit from Heaven

Bali mempunyai 15 jenis salak, dengan pusatnya di Kabupaten Karangasem. Banyak potensi yang bisa dikembangkan dari buah eksotik ini.

Batang-batang pohon salak berjejer rapi di kanan-kiri jalan kampung beraspal yang kami lalui. Tanaman keluarga palem dengan batang-batang berduri tajam itu hanya dipagari oleh batang-batang bambu. Tampak dari jalan, gerumbul-gerumbul buah salak bermunculan dari tiap pohon, dibungkus serabut-serabut seludang (kantung bakal buah) yang sudah tercerai-berai karena tak mampu lagi menahan gerumbul buah salak yang makin membesar.

Kami berempat, saya, Vivi, Nana Wahyuni, dan Ferdy, mengikuti langkah-langkah I Made Sujana (42), sang pemandu, masuk ke salah satu kebun salak. Yang kami masuki adalah kebun salak milik I Made Dana Andi, yang mengaku ‘hanya’ punya 520 pohon salak dari kebun 52 are yang dimilikinya.

Kami memang sengaja datang dari kota Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem, ke sini untuk belajar apa bedanya salak Bali (Salacca edulis Reinw) dengan jenis salak lainnya. Nana, pegawai di Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Karangasem, adalah orang yang punya inisiatif mengajak saya ke sini. Dengan mengajak Ferdy sang keponakan, kami berempat naik motor ke Banjar Dukuh ini, menempuh waktu satu jam lebih menyusuri jalan yang berliku dan menaik, sampai akhirnya kami tiba di dusun ini, yang terletak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem.

Ketinggian Banjar Dukuh yang antara 500-600 meter di atas permukaan laut membuatnya cocok untuk budidaya tanaman salak. Tadi pun di sepanjang jalan menuju Sibetan kami disuguhi pemandangan kebun-kebun salak serta mobil-mobil bak terbuka dan para wanita yang membawa keranjang salak untuk dijual ke pasar. Namun Nana membawa kami ke Dukuh karena di sini terdapat tur agrowisata dan trekking di kebun salak, dan juga terdapat satu-satunya pabrik wine salak. Ternyata, Made Sujana itu dulu satu kelas dengan Nana sewaktu di SMA. Jadi kunjungan ini sekaligus seperti reuni mendadak.

Menurut Sujana, Bali mempunyai 15 jenis salak lokal, yakni salak gula pasir, salak nanas, salak gondok, salak nangka, salak cengkeh, salak kelapa, salak injin, salak embadan, salak getih, salak bingin, salak mesui, salak biji putih, salak maong, salak penyalin, dan salak gading. Namun yang paling banyak ditanam adalah 5 jenis salak pertama. Salak gula pasir merupakan salak unggulan karena rasa dan kualitas buahnya berbeda dengan jenis salak lainnya.

Kami mesti merunduk dan mengendap-endap saat memasuki kebun salak, karena pelepah-pelepah pohon salak yang berduri berseliweran di atas kepala kami. Sujana, yang juga sudah berkebun salak sejak 1997, menemukan salak masak yang telah jatuh ke tanah dan ia mengupasnya. “Ini salak nanas,” terangnya, menunjukkan daging salak yang kekuningan, dan mencium baunya. Saya meminta satu bagian buah dan menggigitnya. Aroma manis nanas terasa di dalam mulut, berbaur dengan air buah dan rasa sepet.

Belum selesai satu keping salak, dia telah mengambil satu salak lagi yang sudah jatuh. “Yang ini salak gula pasir,” dia mengupas salak itu dan menunjukkan isinya. Wow, salak ini berbeda dengan salak nanas tadi. Daging buahnya putih susu, begitu digigit, daging buahnya terasa lebih tebal, lebih manis, tidak berair, dan tanpa rasa sepet! Kata Sujana, rasa manis ini bahkan sudah ada sejak salak masih muda atau mentah. Kualitas ini tak dimiliki jenis salak lainnya, sehingga tak heran kalau para petani menyebutnya sebagai ‘salak super’.

Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana cara Sujana membedakan salak-salak itu? Saya lihat kulit buahnya sepertinya sama saja, cokelat tua dengan semburat cokelat muda. “Kita hanya bisa membedakan dari aroma, setelah lebih dulu dikupas buahnya. Tidak bisa hanya dari bentuk pohon, warna kulit buah, atau ukuran buahnya,” jelas Sujana. “Cuma pemiliknya tentu tahu mana yang pohon salak nanas, salak gula pasir, atau jenis salak lain, karena dia hafal letak pohon-pohonnya.”

Biasanya dalam satu kebun memang ditanam beberapa jenis salak yang berbeda. Jadi tidak khusus untuk satu jenis salak saja. Ini karena peremajaan pohon salak tidak dilakukan bersamaan, tapi tergantung pohon mana yang perlu diganti, dan juga petani memperkirakan jenis salak apa yang akan lebih menguntungkan di masa mendatang. Seperti di kebun ini, yang ditanam umumnya salak nanas yang lebih mudah dijual, meski harganya lebih murah. Namun jumlah tanaman salak gula pasir, jenis varietas salak lokal namun baru dikenalkan ke petani tahun 1994, mulai banyak karena nilai ekonomisnya yang jauh lebih tinggi.

Salak merupakan buah musiman dan berbuah dua kali setahun. Setiap pohon bisa menghasilkan 2-4 tandan salak, masing-masing berisi 22-36 buah. Panen raya, di mana produksi buah melimpah, berlangsung Januari-Maret. Tiap pohon salak bisa menghasilkan 4-6 kilogram salak, tergantung pemeliharaan petani. Karena melimpahnya buah ini, kadang harga jual petani ke pengepul (pengumpul) hanya Rp 2.500-3.000 per kilogram. Sedangkan saat panen gadu, yakni Juli-Agustus, tiap pohon hanya menghasilkan sekitar 2 kilogram, dengan harga sekitar Rp 4.000 per kilogram. Nasib yang lebih bagus dialami salak gula pasir. Saat panen raya harganya antara Rp 10.000-15.000 per kilogram, sementara jika di luar panen raya bisa mencapai Rp 30.000 per kilogram.

Kami berpindah ke sisi kebun untuk mencari jenis salak lainnya. Sujana menunjukkan sebuah pohon salak bingin (beringin) yang ada satu-satunya di kebun ini. Bentuk pohonnya rimbun pendek, hanya setinggi paha, dan lebih mirip pohon pakis. “Salak ini biasanya memang untuk hiasan rumah saja. Salak ini berbuah, tapi sedikit, satu tandan paling berisi 3-4 buah salak.”

Sujana menyodorkan lagi dua jenis salak yang berbeda. Yang satu warna kulit buahnya lebih hitam, lebih kecil, dan lebih bulat. Ketika dikupas, terlihat daging buahnya berwarna cokelat. “Ini salak cengkeh,” jelasnya. Saya gigit, hmm, lebih renyah, sedikit sepet, dan bau cengkeh segera menyebar di mulut. Salak satunya lagi, yang lebih besar dan daging buahnya kuning mirip salak nanas, ternyata salak nangka. Begitu saya gigit, tercium aroma nangka yang lembut dan manis. Saya mengunyah salak ini sedikit-sedikit, khawatir nanti kerongkongan saya seret karena banyak makan salak tanpa air minum.

Yang saya masih belum paham, bagaimana Sujana bisa tahu kalau buah salak itu sudah masak? “Salak yang masak itu duri buahnya lebih rapuh, tidak tajam, dan kulitnya cokelat tua kekuningan. Tapi yang lebih pasti, kalau sudah ada buah salak yang jatuh, berarti satu tandan sudah masak. Jadi kalau panen langsung satu tandan.” Saat menjual ke pengepul pun, petani membawa salak-salak itu dalam bentuk gerumbul tandan, tidak dirontokkan. Petani hanya mengelompokkan tanda-tandan itu berdasarkan besar ukuran buahnya. Yang ukurannya paling besar masuk grade A, lalu B, C, dan seterusnya. “Saat ditimbang, biasanya pengepul akan mengurangkan 5 kilo per 40 kilo salak,” tambah Sujana. “Hal ini karena salak itu ditimbang bersama tandannya, sementara tandan itu nanti akan dibuang. Jadi pengepul melakukan pengurangan timbangan.”

Yang lucu, salak yang jatuh atau rontok dari tandannya –yang menandakan salak itu sudah masak– akan masuk golongan salak afkir (rejected). Satu keranjang besar salak afkir seberat 5 kilogram, harganya paling hanya Rp 5.000. Sebab pengepul akan menganggap salak ini sudah tidak segar lagi, meski pada kenyataannya, setelah menerima salak dalam bentuk tandan, para pengepul akan merontokkan salak-salak itu juga! Salak pecah kulit, yang sering terjadi saat musim hujan, meskipun masih segar juga akan dihargai murah sekali.

Salak-salak yang sudah dipanen itu, asal tidak mendapat banyak perlakuan akan tahan tetap segar selama 1 minggu. Jadi biasanya para petani memanen salak itu satu hari sebelum hari pasaran di daerah ini, yang berlangsung setiap 3 hari sekali.

Hambatan lain bagi para petani di sini adalah harga beli yang sepenuhnya ditentukan oleh pengepul, begitu juga grading buah salaknya. Harga dari tiap pengepul berbeda-beda, bahkan kadang dalam satu hari, antara harga pagi dengan sore berbeda, terutama saat panen melimpah. “Dulu memang pernah ada koperasi yang bertujuan untuk menstabilkan harga salak, namun tidak berjalan karena koperasi itu kalah dengan pengepul,” jelas Sujana.

Tanaman Awet Muda

Salah satu alasan yang membuat para petani tetap menanam salak adalah, salak merupakan tanaman yang awet muda. Setelah mulai berbuah –umumnya saat tanaman sudah berusia 3,5-4 tahun– tanaman salak akan terus produktif sampai bertahun-tahun, bahkan bisa sampai 500 tahun! Seperti kebun milik Made Dana Andi ini. Ia mewarisi kebun dari ayahnya, sementara sang ayah mewarisi kebun ini dari kakeknya. “Sebabnya,” terang Sujana, “salak itu tanaman yang tidak pernah tua. Dia selalu melakukan peremajaan diri-sendiri karena mempunyai akar primer. Akar ini yang akan berfungsi mencari makanan untuk kehidupannya. Sementara yang akar sekunder, yakni akar pertama sewaktu ditanam, lama-lama akan lapuk dan mati.”

Sujana menunjukkan beberapa akar primer yang masih menggantung di batang pohon salak, belum menyentuh tanah. Akar ini akan memanjang, dan di tempat dia akan bersentuhan dengan tanah dibuatkan lubang yang diberi pupuk-pupuk organik berupa daun dan sisa batang salak, sehingga akar itu nanti akan terikat ke tanah. Batang pohon salak pun akan merunduk atau rebah, sehingga letaknya kini lebih dekat dengan pohon lainnya. Jadi, pohon salak ini seperti ‘menjalar’ atau ‘berpindah tempat’ karena adanya akar primer ini.

Sujana menyibakkan rerumputan di bawah salah satu pohon salak dan terlihat batang utama pohon itu rebah di tanah, dengan pangkal pohon terletak agak jauh di belakang. “Jadi bisa saja awalnya pohon ini ditanam di sana, tapi karena adanya akar primer dan perebahan itu, batang pohon yang tegak sekarang ada di sini.” Jarak tanam antar pohon salak sekitar 2 meter. Namun karena adanya perebahan ini, jarak antarpohon nanti akan makin pendek.

Salak bali memerlukan waktu 6 bulan dari mulai berbunga sampai dipanen. Setelah panen, tanah akan digemburkan, dibuat lubang, lalu pelepah dan daun-daun pohon salak yang sudah kering, anak-anak pohon yang tidak berguna, ditebas dan dikubur untuk dijadikan pupuk bersama kotoran ternak kering. Sejak dulu hingga sekarang petani di sini tidak memakai pestisida. Cara penanaman yang dilakukan umumnya dengan mengecambahkan biji salak. Meski beberapa tahun lalu pernah dikenalkan cara pencangkokan, yang dapat mempersingkat umur berbuah menjadi 2,5-3 tahun, namun para petani tetap menyukai menanam dengan biji. “Kalau memakai biji lebih mudah dan bisa dalam jumlah banyak. Sementara kalau dicangkok kadang bisa mengganggu proses berbuah pohon induk,” Sujana beralasan.

Ada hal lain yang unik dengan salak bali. Berbeda dengan salak pondoh di Yogyakarta, yang mempunyai jenis pohon ‘salak betina’ dan ‘salak jantan’ sehingga penyerbukannya memerlukan bantuan manusia, salak bali tidak demikian. Dalam satu seludang sudah ada serbuk sari dan kepala putiknya, jadi penyerbukan terjadi secara alami, tidak memerlukan bantuan manusia.

Cuma, kelemahan salak bali, kalau tidak sedang musim, ya tidak ada buah. “Sebaliknya kalau sedang musim, buah akan banyak sekali sehingga harga jualnya turun,” tutur bapak tiga anak ini. Hal ini tidak terjadi pada salak pondoh. Setiap pohon bisa dikawinkan atau tidak, sepenuhnya tergantung pemiliknya. Dan meski sifat buahnya musiman, namun pada salak pondoh, setiap saat salak bisa berbunga, jadi petani bisa menentukan berapa yang akan dikawinkan, agar kontinuitas produksi tetap terjaga. “Di samping itu mereka punya asosiasi petani, sehingga ketika buah dijual di mana saja, harganya sama karena sudah ada kesepakatan di antara petani. Sementara di Bali belum ada yang seperti itu…”

Sujana menyodorkan satu buah salak lagi. Ternyata ini salak gondok. Warna buahnya sama dengan salak nangka, namun ukurannya lebih besar. Begitu digigit, aromanya wangi seperti bunga cempaka! “Kalau di Bali, gondok itu memang nama bunga cempaka yang besar,” tuturnya.

Salacca Wine

Kami berjalan kaki lagi melewati kebun-kebun salak, dan sampailah kami di pabrik wine salak CV Dukuh Lestari, satu-satunya yang ada di Bali. Bangunannya sederhana, seperti rumah biasa, dan sepi karena sedang tidak berproduksi. Bangunan di depan merupakan gudang, dan pabriknya di belakang.

Pengolahan salak menjadi wine ini merupakan salah satu cara untuk menyiasati agar harga salak tidak turun jauh saat panen melimpah, dan juga untuk meningkatkan nilai tambah salak. Berproduksi sekitar 3 tahun lalu dan mendapat izin pemasaran dari pemerintah pada 22 April 2010, pabrik ini menghasilkan 300 liter wine atau sekitar 500 botol wine ukuran 750 ml setiap kali produksi. Yang dihasilkan hanya white wine, dengan kadar alkohol 13%. Bahan baku yang digunakan salak nanas, karena salak ini cocok rasanya setelah menjadi wine.

“Salak gula pasir malah tidak cocok dijadikan wine, karena rasa asalnya sudah sangat manis. Ketika diolah menjadi wine rasanya berubah menjadi asam,” tutur Sujana. Saya pernah mencicipi wine ini, yang rasanya lebih kuat dan sedikit lebih asam dibanding white wine dari buah anggur.

Dari proses awal hingga pengemasan diperlukan waktu 6 bulan. Yang paling lama adalah proses pemeraman (aging) yang memakan waktu 4-5 bulan. Ini bertujuan agar wine yang dihasilkan benar-benar jernih. Karena mempunyai waktu produksi yang sama dengan masa panen salak, 6 bulan, pabrik ini bisa menentukan, misalnya, memulai proses produksi saat panen salak tengah melimpah. Yang menarik, satu kilogram salak nanas akan menghasilkan 1 liter wine. Jadi bisa diperoleh nilai tambah yang sangat bagus dari pengolahan salak ini, karena 1 botol wine bisa dijual dengan harga Rp 125.000.

Bahan baku salak diambil langsung dari kelompok tani, yang berjumlah 40 orang. Sujana salah satu anggotanya. Menurutnya, pabrik ini memberi keuntungan lain bagi petani, karena harga beli salak yang bagus. “Kalau harga di pengepul Rp 2.500 per kilo, di sini bisa dua kali lipatnya.”

Selain wine, pabrik ini juga memproduksi sweet wine dari ubi ungu, yang mempunyai kadar alkohol 4,5%. Proses produksi awal dilakukan di Depasar, namun proses pemeraman dan pengemasan dilakukan di sini. Sampai saat ini kedua produk itu sebagian besar dipasarkan ke hotel-hotel dan restoran di Bali. Proses pengemasan dan labelisasi masih dilakukan dengan mesin yang sederhana. Saya lihat kemasan botol-botol wine ini sudah cukup bagus, namun memang belum sebagus seperti produk-produk wine dari buah anggur.

Sebenarnya masih ada lagi program-program agrowisata di sini, seperti tur dan trekking ke kebun-kebun salak, juga wisata kuliner mencicipi berbagai makanan dari salak. Program ini sudah berjalan sejak 2004, namun sepertinya belum banyak dipromosikan, karena hanya sedikit orang asing yang tahu, dan juga tak ada pengunjung lain yang datang selain kami di hari ini. Kami tak sempat mencoba program-program itu, karena harus segera kembali ke kota Amlapura.

Kami pun berempat kembali berboncengan naik sepeda motor, melewati jalan beraspal yang meliuk-liuk dan menurun, dengan pelepah-pelepah pohon salak melambai-lambai di kanan-kiri jalan yang kami lalui. Hmm, masih banyak hal yang bisa dilakukan di sini…. (T)

 

BOKS:
Mencapai Banjar Dukuh

Banjar Dukuh bisa dicapai dengan kendaraan bermotor maupun angkutan umum jurusan Amlapura-Selat dalam 1 jam dari kota Amlapura. Begitu sampai di pertigaan Dukuh, sekitar 4 km barat pusat desa Sibetan, belok kiri dan ikuti jalan menanjak.

Untuk informasi lebih lanjut, kontak: I Made Sujana, pemandu Agrowisata Salak Banjar Adat Dukuh, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, Tel: +62 819 15677049. Atau kontak CV Dukuh Lestari, Tel: +62 813 53166354, E-mail: dukuhlestari@yahoo.co.id untuk informasi tentang wine salak.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments
A Pilgrimage to Banten

A Pilgrimage to Banten

Kejayaan Kesultanan Banten sudah lama berakhir. Namun tiap minggu ribuan orang masih datang untuk berziarah.

“Perhatian, perhatian! Semua peserta dari Pekalongan harap berkumpul. Sekali lagi, semua peserta dari Pekalongan harap berkumpul. Kita akan segera berangkat ke Masjid Banten!”

Seorang pria yang meneriakkan pengumuman itu berlari ke sana kemari sambil membawa pengeras suara. Dua di antara lima bus yang ada di pelataran kompleks makam Sultan Maulana Yusuf itu sudah menyalakan mesinnya, siap-siap berangkat. Sementara, tiga bus lain yang berjejer rapi di sampingnya malah tengah menurunkan penumpang. Tampaknya ketiga bus itu berasal dari rombongan lain, dari Gunungputri, Bogor.

Kesibukan di siang itu sudah menjadi pemandangan yang biasa di kompleks pemakaman keluarga Sultan Banten kedua itu (memerintah 1570-1580), yang terletak sekitar 6 km utara kota Serang. Setiap Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari-hari besar Islam, tempat ini ramai oleh ribuan orang yang datang dari berbagai wilayah. Tak hanya dari daerah-daerah di Jawa, namun ada juga peziarah yang datang dari Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dua tempat lain yang ramai dikunjungi peziarah adalah makam Pangeran Arya Mandalika, putra Sultan Maulana Yusuf. Letaknya sekitar 1 km lagi ke utara. Lalu, yang paling ramai adalah kompleks pemakaman keluarga Sultan Maulana Hasanuddin (memerintah 1552-1570), sultan pertama Banten, yang berada di lingkungan Masjid Agung Banten Lama, sekitar 4 km lagi ke utara. Sultan yang mendirikan Istana Surosowan ini –sehingga digelari Kanjeng Panembahan Surosowan– adalah putra Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa di abad ke-16.

Hasanuddin juga yang mendirikan Masjid Agung Kesultanan Banten, meski bangunan yang ada sekarang merupakan hasil renovasi beberapa kali. Kekunoan masjid ini hanya bisa dilihat pada tiang-tiangnya yang berasal dari kayu jati berjumlah 24, alas tiang berupa batu gunung berbentuk labu kuning, serta bentuk atap masjid yang bertumpuk lima. Tiga tumpuk paling bawah merupakan gambaran meru (gunung) dalam bentuk estetik, sedangkan dua tumpuk paling atas mirip dengan bentuk atap-atap kuil dan istana di Cina. Hal ini bisa dimaklumi, karena arsitek masjid ini adalah arsitek Cina bernama Cek Ban Cut.

Masjid ini dibangun di atas fondasi setinggi sekitar 1 meter. Terdiri dari ruang salat utama yang berada di bawah atap tumpuk tadi, di sini terdapat mimbar khatib yang unik, karena letaknya menjorok ke arah barisan salat. Sementara tempat imamnya justru kecil, hanya berupa ceruk seperti pintu dengan bagian atas melengkung. Di bagian depan masjid terdapat serambi, lalu di depannya lagi empat kolam yang dulu berfungsi sebagai tempat wudhu. Tempat wudhu kini ada di samping kiri atau utara masjid. Anehnya, air wudhu ini hangat, seperti berasal dari sumber mata air panas. Padahal masjid ini terletak di dataran rendah dekat pantai.

Sayap kanan masjid merupakan makam anak-anak Sultan Hasanuddin, dan di selatannya lagi adalah tiyamah, bangunan bergaya Belanda yang dibangun oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel di masa Sultan Haji, sultan Banten ke-7. Tiyamah yang bertingkat dua dan mempunyai jendela-jendela besar ini dulu dipakai sebagai tempat musyawarah dan diskusi masalah-masalah keagamaan. Namun kini bagian atasnya kosong, sementara bagian bawah menjadi museum tempat menyimpan senjata-senjata prajurit Banten.

Namun yang menjadi magnet orang-orang berziarah ke Banten adalah kompleks makam keluarga Sultan Hasanuddin di sisi utara masjid. Terletak di dalam sebuah rumah, dengan makam Sultan Hasanuddin terlindungi oleh sebuah pintu yang setengah terbuka, orang-orang yang datang ke sini duduk bersimpuh dan membaca doa atau melantunkan salawat Nabi. Kadang mereka membawa ulama sendiri yang menjadi juru doa, kadang juga dibantu berdoa oleh para penjaga makam ini.

Rombongan orang-orang dari berbagai daerah datang ke sini seperti tanpa henti, sehingga ‘sesi’ doa setiap rombongan kadang hanya berlangsung sekitar 5 menit. Sudah menjadi pemandangan biasa bagi warga Banten Lama jika pada hari-hari tertentu seperti Jumat atau hari-hari besar Islam, jalan menuju kompleks masjid ini macet oleh bis-bis yang membawa rombongan peziarah. Mereka bahkan memadati terminal bis di sisi selatan, maupun alun-alun di sisi timur masjid, menunggu giliran berdoa. “Seperti Jumat kemarin, ada sekitar 92 bis yang membawa rombongan ke sini,” jelas Wahid, seorang warga Dermayon, kampung di sebelah barat masjid.

Daya tarik kedua bagi para peziarah adalah Menara Masjid Banten, bangunan setinggi 24 meter yang ada di depan masjid, yang menjadi lambang Provinsi Banten. Dengan denah dasar berbentuk persegi delapan, menara ini mempunyai pintu masuk di sebelah utara, dengan tangga melingkar menuju puncak menara yang berbentuk dagoba dua tingkat. Tingkat bawah mempunyai pintu di sebelah barat, sedangkan tingkat atasnya mempunyai pintu di sebelah selatan. Dari tiap tingkat ini pengunjung bisa melihat pemandangan di sekitar Banten Lama di empat penjuru. Bagian puncak menara dihiasi tumpal berwarna merah.

Menilik gaya bangunannya yang seperti mercusuar Belanda, dengan temboknya yang tebal, diduga menara ini dibangun pada masa Sultan Haji, tak jauh berbeda dengan tiyamah. Yang menarik, tangga melingkar menara ini hanya cukup dilewati satu orang. Dan karena sempitnya, pengunjung bisa seperti mengalami sesak napas waktu menaikinya. Karena ketebalan dindingnya pula, sinyal handphone bisa hilang di dalam menara ini.

Tak jauh dari menara ini, di sisi timur laut, terdapat istiwa, alat penunjuk waktu memakai sinar matahari, yang berbentuk segi delapan dengan tanda plus di tengahnya. Sayang, logam penunjuk bayangan sinar mataharinya sudah hilang, dan umumnya orang-orang juga tidak memperhatikan alat ini. Yang dilakukan setelah turun dari menara adalah berfoto-foto, sebagai bukti bahwa mereka telah berziarah ke Banten…. (T)

 

Situs-situs Lain yang Menarik

Tasik Ardi
Terletak sekitar 2 km arah barat daya Masjid Banten, danau buatan ini dibangun pada masa Maulana Yusuf, dimaksudkan sebagai reservoir untuk mengairi lahan pertanian Banten. Di tengah danau terdapat sebuah pulau yang menjadi tempat rekreasi keluarga sultan. Kini danau ini sudah berubah fungsi menjadi tempat rekreasi keluarga.

Vihara Avalokitesvara
Dikenal juga sebagai Klenteng Dewi Kwan Im (Temple of the Goddess of Mercy). Kompleks klenteng yang cukup luas dan baru saja mengalami renovasi inii terawat dengan sangat baik, dan ramai dikunjungi para keturunan Tionghoa.


Benteng Speelwijk
Dipisahkan oleh sebuah sungai kecil, di sebelah timur vihara, benteng ini dibangun tahun 1684-1685 di bekas benteng kesultanan yang dihancurkan, dan dinamai untuk menghormati Cornelis Speelman, gubernur jendral Hindia-Belanda saat itu. Berukuran sekitar 200×200 meter, yang tersisa kini hanya dinding-dinding benteng setinggi hingga 3 meter, yang dibangun dari bata merah dan batu-batu karang, serta beberapa lorong bawah tanah. Di sebelah timur benteng ini terdapat kerkhoff, makam orang-orang Belanda.


Masjid Pacinan Tinggi
Bertempat di Kampung Dermayon –masyarakatnya merupakan pendatang dari wilayah Indramayu, Jawa Barat– masjid yang konon dibangun oleh Sunan Gunung Jati di awal Kesultanan Banten itu kini tinggal menaranya saja, yang bertingkat dua dan terbuka atapnya.

Istana Surosowan
Istana yang terletak di sebelah tenggara Masjid Banten ini dibangun pada masa Sultan Hasanuddin, menggunakan batu-batu merah. Dihancurkan oleh Gubernur Jendral Daendels (1808-1811), kini yang tersisa hanya pondasi dan dinding sekeliling istana yang berfungsi sebagai benteng.

Istana Kaibon
Kaibon yang berarti ‘keibuan’, dibangun  untuk Ratu Aisyah, ibunda Sultan Muhammad Syafiuddin (memerintah 1809-1813). Bersama Istana Surosowan, istana ini dihancurkan oleh Daendels karena Syafiuddin menolak rakyatnya dijadikan pekerja rodi pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan. 

Berbeda dengan Istana Surosowan yang hampir rata dengan tanah, Istana Kaibon masih menyisakan gerbang-gerbang, tembok, dan pilar-pilar yang kokoh dan anggun. Diduga Istana Kaibon ini dulu dikelilingi oleh air, mengingat sekeliling istana merupakan sungai yang menjadi jalur pelayaran hingga ke laut. Mintalah Pak Mulangkara, penjaga situs, untuk menceritakan riwayat istana ini. Bagi yang suka foto-foto, istana ini wajib dikunjungi!
Batu Gilang
Merupakan batu penobatan raja, yang diambil dari Kraton Pakuan ketika Kesultanan Banten mengalahlkan kerajaan ini. Letaknya di alun-alun utara Istana Surosowan, dikelilingi pagar kawat.

Museum Purbakala Banten
Menyimpan benda-benda kuno hasil dari penggalian situs-situs sejarah di Banten. Secara mengejutkan museum ini tertata dengan rapi dan bersih. Di pelataran museum terdapat Meriam Ki Amuk, yang merupakan pasangan Meriam Si Jagur yang tersimpan di Museum Fatahillah, Jakarta.

Pelabuhan Karangantu
Terletak di muara Sungai Serang, dulu merupakan pelabuhan utama Banten. Sungainya bisa dilayari hingga Istana Surosowan dan Kaibon. Namun kini hanya menjadi pelabuhan nelayan yang tidak diperhitungkan. Dari pelabuhan kini tersedia angkutan umum perahu ke Pulau Dua dan Pulau Tunda.

Cara Gampang ke Masjid Banten
Kalau memakai mobil sendiri, dari Jakarta ke arah Merak, keluar pintu tol Serang Timur, ikuti petunjuk ke ‘Banten Lama’ (Kuno).  Kalau memakai angkutan umum, naik bis Primajasa jurusan Merak dari seberang RS Jantung Harapan Kita (Rp 17.000), turun di Terminal Bis Serang. Lalu naik angkot jurusan Pasar Royal Rp 2.500, minta diturunkan di pertigaan setelah pasar, tempat angkot yang mau ke Banten Lama (10 km utara kota Serang). Bayar Rp 3.000, turunnya terserah, apakah di Makam Maulana Yusuf (km 5), Istana Kaibon (km 6) atau Vihara, atau Masjid Kraton Banten.

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 2 comments