1-Day Trips

A Mosque with Style

A Mosque with Style

Tak hanya bergaya art deco yang unik, masjid ini menyimpan cerita sejarah kemerdekaan.

Tidak sia-sia saya kedinginan diboncengkan sepeda motor dari Cipanas, Garut jam 3.30 pagi, dan membayar Rp 75.000. Sebab saya akhirnya bisa juga sampai di Masjid Cipari ini pukul 4.10, pas azan subuh bergema. Tanpa sempat memperhatikan detil bangunan masjid, saya segera berwudu dan ikut salat subuh berjamaah dengan para warga serta anak-anak muda –yang nampaknya murid pesantren– yang berdatangan dari sekitar masjid.

Kalau memperhatikan tempat wudu dan ruang salatnya saja, masjid ini memang tidak terlalu istimewa. Kecuali, lampu-lampu gantungnya yang bergaya mirip dengan yang ada di film-film tentang Perang Dunia II. Dinding dalam tembok masjid berwarna hijau muda, dengan jendela-jendela persegi panjang berderet-deret, mengesankan seperti tengah berada di sebuah ruang kelas. Pintu masuk utama di timur berbatasan langsung dengan aula yang dipakai sebagai tempat pengajian –dan kini pintu itu terkunci– sehingga para jamaah masuk masjid dari pintu samping kanan dan kiri.

Sambil menunggu terang tanah, saya mendengarkan anak-anak muda yang kini lalu membentuk lingkaran, bergiliran mengaji dengan dibimbing seorang guru, yang kemudian saya tahu namanya Mas Lalan, anak dari pemilik Pesantren Cipari. Selain pesantren, di lingkungan masjid juga ada madrasah setingkat SD dan SMP.

Begitu langit terlihat mulai terang, saya keluar masjid, dan sedikit-sedikit mulai memahami mengapa masjid ini istimewa. Bangunan masjid berwarna krem ini bentuknya memang aneh, mirip bangunan gereja yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Bangunannya seperti kotak memanjang, dengan panjang sekitar 75 meter dan lebar 30 meter. Tembok bagian bawah disusun dari pondasi batu kali, sedangkan bagian atasnya campuran pasir dan batu kapur, yang konon direkatkan memakai putih telur. Di tiap sisi tembok kiri dan kanan, di atas tembok batu kali, berderet 10 jendela atas dan bawah. Jadi tiap sisi ada 20 jendela. Sedangkan di atas mihrab imam terdapat empat jendela.

“Jendela-jendela ini dulu bahannya dari besi tuang, namun pada tahun 1955 diganti menjadi kayu,” tutur KH Amin Bunyamin, Lc., ayah Lalan, pengasuh Pesantren Cipari, dan juga anggota DPR RI.

Yang menarik, di atas jendela-jendela itu ada ventilasi, yang dihiasi dengan 3 garis membujur mengelilingi bangunan. Di setiap sudut, garis itu ditambah lagi dengan garis-garis pemanis yang simetris sebanyak 8. Di atasnya lagi, berbatasan dengan genteng, ada lagi garis-garis tembok tinggi-rendah berselang-seling. Ini tak lain merupakan salah satu ciri bangunan bergaya art deco, sebuah aliran arsitektur yang berkembang dan populer di era 1920-1930-an. Konon masjid bergaya art deco ini hanya ada dua di Indonesia. Yang pertama di sini, di Dusun Cipari, Desa Cimaragas, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, yang kedua Masjid Somobito di Mojowarno, Mojokerto, Jawa Timur.

Ciri art deco makin kentara jika kita memperhatikan pintu utama yang ada di sisi timur. Dinding pintu ini lebar, tinggi dan simetris kiri-kanan, mirip dengan tampak muka toko-toko atau gudang bergaya art deco di Jalan Braga, Bandung. Di atas pintu utama menjulang menara masjid yang berbentuk kubah segi delapan. Tidak diragukan lagi, inilah daya tarik utama bangunan masjid ini. Menara setinggi 17 meter ini mempunyai enam tingkat, yang tiap tingkatnya mempunyai jendela. Di bagian paling atas berfungsi sebagai menara pandang, dan kini diisi loudspeaker. Di atasnya lagi ada tiang setinggi 8 meter, dengan bagian paling atas berupa lambang bulan sabit dan bintang dari logam vernekel. “Dulu orang bisa naik sampai ke tingkat paling atas,” tutur KH Ali. “Namun kini tangganya sudah rapuh dan perlu diperbaiki dulu.”

Yang menjadi pertanyaan, mengapa bangunan masjid ini memakai gaya art deco, dan mirip bangunan gereja?

Menurut KH Ali, sebenarnya di atas tanah ini dulu telah berdiri masjid yang sederhana, sejak tahun 1895. Tahun 1933, saat Pesantren Cipari di bawah pimpinan KH Yusuf Tauziri –ayahanda KH Ali– dilakukanlah renovasi. Desain bangunannya dibuat oleh arsitek Ir. Abikusno Tjokrosuyoso, seorang tokoh Sarekat Islam, yang juga teman Ir. Soekarno. Sejak dulu masjid ini memang menjadi tempat rapat-rapat organisasi Islam ini. Tak heran masjidnya pun bernama Masjid As-Syura (tempat bermusyawarah), hanya saja masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Masjid Cipari.

Sebagai seorang yang berpendidikan Belanda, yang saat itu tengah dilanda demam art deco, tak heran jika Abikusno pun memakai gaya yang sama. Meski setelah bangunannya jadi, para tokoh dan masyarakat yang ikut membangun kaget dengan hasilnya, namun toh gaya bangunan ini tetap dipertahankan hingga sekarang. “Makanya saya tidak suka kalau ada orang menyebut masjid ini mirip gereja,” kata KH Ali serius. “Mungkin gerejanya, barangkali, yang meniru arsitektur masjid ini…”

Tahun 1935, masjid ini resmi berdiri, dan di dalam masa pembangunannya, masjid ini sempat menjadi tempat berlangsungnya musyawarah nasional Partai Sarekat Islam tahun 1934-1935. Tokoh-tokoh gerakan nasional kala itu, seperti Agus Salim, HOS Cokroaminoto, Mohammad Roem, dikabarkan berkunjung pula ke masjid ini. Satu fakta unik yang lain, Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII, dulunya juga termasuk salah seorang yang terlibat dalam dalam pembangunan masjid ini.

Hari semakin terang, dan saya berjalan-jalan mengelilingi Dusun Cipari yang padat, hingga akhirnya sampai di tepi persawahan di pinggir kampung. Orang-orang sedang menanam padi, dan ada juga yang tengah mengecek empang ikan. Anak-anak berseragam berjalan di pematang sawah menuju sekolah. Dari sini, saya melihat lagi menara Masjid Cipari, menjulang di antara atap-atap rumah penduduk, dihiasi langit pagi yang biru. Sungguh cantik!

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Semarang’s Hidden Treasure

Semarang’s Hidden Treasure

Keelokan batik ini mulai bersinar berkat usaha seorang ibu rumahtangga yang kreatif.

Kalau saja pagi itu saya tidak dijemput oleh Umi S. Adisusilo di hotel tempat saya menginap, pasti saya tak akan dapat menemukan satu mutiara tersembunyi di kota Semarang. Tak lain, batik semarang.

Saya pernah delapan tahun kuliah lalu bekerja di Kota Lumpia ini, tapi tak pernah sekalipun tahu tentang batik ini.  Informasi tentang batik semarang baru saya ketahui setahun belakangan ini melalui internet, dan kontak dengan Mbak Umi telah beberapa kali saya lakukan via e-mail dan telepon, tapi baru pagi ini akhirnya bisa ketemu.

Mobil Mbak Umi bergerak ke arah tenggara, menuju Mateseh, melewati daerah-daerah yang dulu masih kosong, namun kini sudah dipenuhi berbagai perumahan. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah perumahan, yang kalau saya disuruh pulang sendiri pasti tidak tahu bagaimana caranya bisa ke hotel saya tadi.

Rumah Mbak Umi yang berlantai dua itu di lantai bawah berisi tumpukan kain-kain batik setengah jadi yang tinggal dicelup, dan ruang di sisi kiri dipakai sebagai butik kecil. Di lantai dua, barulah saya melihat ruangan tempat membatik, yang hampir semuanya diisi wanita muda, dan hanya Pak Pono dan Mas Iwan yang laki-laki, yang sedang mengecap batik.

“Mbak-mbaknya ini masih single semua lho,” canda Mbak Umi. Tapi yang menarik saya justru cetakan batik yang dipegang Pak Pono, yang bergambar seekor ular raksasa sedang memeluk gunung. Ini adalah motif Rawapening, yang diambil dari legenda rakyat Ambarawa, sebuah kota di selatan Semarang. Menuangkan sebuah cerita rakyat menjadi suatu motif batik yang unik, menurut saya, hanya bisa dilakukan oleh orang yang brilian.

Kekaguman saya terhadap Mbak Umi makin bertambah, ketika tahu bahwa motif-motif batik semarangan yang telah diciptakannya kini lebih dari 800 buah! Tak hanya mengangkat puluhan cerita legenda maupun sejarah Semarang, namun juga kuliner, landmark kota, festival, asal-usul nama daerah, dan banyak lagi hal unik lain tentang Semarang.  Sebutlah misalnya motif Tugu Muda, Lawang Sewu, Pasar Johar, Jembatan Mberok, Gereja Blenduk, yang kesemuanya merupakan bangunan-bangunan khas Semarang. Atau motif Jatingaleh, Watu Gong, Bukit Gombel, Goa Kreo, Gedong Songo, Sendangmulyo, yang merupakan nama-nama tempat di Semarang, yang mempunyai sejarah atau legenda unik berkaitan dengan namanya.

Bahkan makanan khas Semarang seperti wingko babat, lumpia, roti ganjel rel, tahu gimbal, bisa ia tuangkan menjadi motif batik. Yang unik, kalau kita mengamati motif-motif kuliner batik semarang, misalnya motif mi kopyok, urang jinejer tahu, tahu sinusur sayur, lumpia, atau motif tahu petis, kesemuanya tidak mirip secara harfiah dengan makanan aslinya! Jadi kadang kita mesti mikir dulu, ini udangnya yang mana, tahunya yang mana. Ini makanya saya menyebut Mbak Umi sebagai orang yang brilian.

Padahal, jika ditelisik, sarjana IKIP ini sendiri bukan berasal dari keluarga pembatik. Umi baru mulai belajar membatik tahun 2004, lalu tahun 2005 memberanikan diri memberi pelatihan-pelatihan membatik untuk anak-anak sekolah dan para wanita, dan mendirikan Batik Semarang 16 pada tahun 2006. Berkat usahanya, batik semarang ini mulai dikenal kembali, bahkan karya-karya Umi menjadi inspirasi perancang busana terkenal Anne Avanti. Namun hal itu tak membuanya sombong. Setiap kali ditanya, dari mana ia mendapatkan ide-ide untuk membuat motif-motif batiknya, ia selalu merendah. “Ah, wong saya ini ibu rumahtangga biasa. Jadi motif-motif batik itu ya saya buat sekenanya saja.”

Hal lain yang patut diacungi jempol adalah kegigihan Umi untuk menggunakan bahan-bahan pewarna alami. Saya dibawanya menuju tempat pencelupan batiknya, yang ia sebut ‘kandang kambing’ (karena hanya berupa rumah berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah) yang masih satu kompleks perumahan. Berkarung-karung bahan pewarna dari kayu, seperti tegeran, tingi, indigo, ada di sini. Hanya sedikit saja bahan pewarna kimia yang ia pakai. “Selain lebih ramah lingkungan, pewarna alami juga jauh lebih murah,” tuturnya.

Menyadari tempat membatiknya yang berlokasi ‘di ujung dunia’, Umi membuka beberapa toko batik di Semarang, dan juga di Jakarta, yakni di Kompleks Thamrin City Blok H 16, Jakarta.  Didasari kecintaannya pada batik semarang, hingga kini ia pun masih memberikan pelatihan membatik pada ibu-ibu rumahtangga di kelurahan dan kecamatan tempat tinggalnya. Hmmh, kalau saja saya punya banyak waktu, pasti saya juga mau belajar membatik dari Mbak Umi! (T)

 

Batik Semarang 16
Workshop & Showroom
Kampung Sumberejo, Desa Meteseh,
Kecamatan Tembalang, Semarang
Tel. 024-70788692, 024-76483797, 0811-289444
E-mail: batiksemarang16@yahoo.com
www.batiksemarang16.net

Catatan: Foto-foto motif batik merupakan Dokumentasi Batik Semarang 16

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
When Art Met Coffee

When Art Met Coffee

Kopi tak hanya nikmat diseruput tapi juga bisa menghasilkan karya lukis bermutu tinggi.

 Tertarik dengan lukisan Yesus yang mejeng di samping pelukisnya di bawah ini? Well, kalau anda datang ke kafe tempat lukisan ini dipajang, dan berniat menikmati atau membelinya, mohon maaf saja, lukisan ini sudah terjual. Seseorang telah membelinya dengan harga Rp 40 juta.

Harga itu cukup pantas, selain karena memang bagus, juga karena lukisan di atas kanvas itu dibuat dengan cat dari… kopi. Ya, bubuk kopi yang biasa kita minum.

Mungkin baru sedikit orang yang tahu bahwa bubuk kopi yang dilarutkan dalam akrilik, bisa dijadikan sebagai cat lukis. Tak heran jika lukisan ini bernuansa sepia. Gradasi warna coklat, dari coklat terang hingga gelap, diperoleh dengan mengatur tingkat kematangan sangrai biji kopi, serta proporsi campuran kopi dan akrilik.

Melukis dengan kopi, atau coffeeart ini di Indonesia mungkin baru dilakukan oleh satu orang pelukis, Rudy Sri Handoko. Lukisan-lukisannya banyak yang bernuansa kehidupan masyarakat kecil, sebagai ekspresi dan kritik Rudy terhadap kondisi sosial yang menurutnya masih belum ‘merdeka’. Bekerja sama dengan Wirawan Tjahjadi, pemilik kafe Kopi Bali House dan pabrik kopi The Butterfly Globe Brand, Rudy memasang lukisan-lukisan kopinya di galeri kafe ini, yang menempati sisi kanan kafe. Galeri tiga lantai ini dibuka sejak Maret 2007.

Kafenya sendiri menyediakan banyak ragam minuman dari kopi, bahkan dari kopi-kopi yang terbilang langka. Misalnya peaberry coffee, yang terbuat dari biji kopi tunggal –tiap buah kopi umumnya mempunyai dua keping biji kopi– atau kopi luwak (civet coffee), kopi yang telah ditelan oleh luwak dan dikeluarkan kembali melalui saluran pencernaan hewan ini. Jangan kaget jika secangkir kecil kopi luwak, yang disebut-sebut kopi paling enak di dunia, kita mesti membayar Rp 200.000.

Di sini juga tersedia sabun, parfum, hingga cuka dari kopi. Tak ketinggalan menu-menu makanan tradisional dan internasional. Bahkan bila kita berniat membuka kafe atau kedai kopi, tempat ini menyediakan pengajar serta ruang pelatihan di lantai dua. Singkatnya, Kopi Bali House bukan sekadar kafe atau kedai kopi biasa, namun tempat bagi para pecinta kopi sejati untuk menikmati kopi-kopi berkualitas tinggi serta menikmati karya-karya lukis kopi, yang bila suka, bisa kita beli.

 
Kopi Bali House
Pertokoan Graha Niaga Sanur No. 4
Jl. Bypass Ngurah Rai 405E Sanur, Bali
Tel: +62 361 270990 Fax: +62 361 270993
http://kopiluwakbali.com/kbh/

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Paint My Glass

Paint My Glass

Kekayaan seni lukis Cirebon ini mencoba bertahan dari popularitasnya yang kalah dengan batik.

Kalau saja siang itu saya tidak diantar Mas Komar membonceng  motornya dan berkeliling ke jalan-jalan dan gang-gang di Desa Trusmi Wetan, Plered, Cirebon, saya mungkin tak akan tahu bahwa selain menjadi desa batik, desa ini juga salah satu sentra lukisan kaca. Tapi, berbeda dengan para seniman batik yang memajang dan menjual kreasi batiknya di butik-butik di jalan utama desa ini, para seniman kaca mesti menunggu pembeli setianya –yang umumnya para kolektor lukisan– untuk mampir ke rumah-rumah mereka yang sederhana dan tersembunyi di belakang gang-gang sempit.

Mas Komar mengantar saya ke rumah Raden Sugro Hidayat, salah satu pelopor lukisan kaca di Trusmi. Sebutan ‘Raden’ menunjukkan bahwa ia masih punya hubungan dengan Kraton Kasepuhan Cirebon, meski tampaknya hal itu tak selalu relevan dengan status ekonominya. Ketika kami datang, pria berusia 70 tahun ini tengah menjiplak (tracing) sebuah sket lukisan kaca berukuran 20×25 cm yang bergambar Macan Ali. Ini adalah sebuah motif kuno berupa gambar macan yang disusun dari tulisan kaligrafi Arab, dan dulu dipakai sebagai panji-panji perang. Di dinding rumahnya, selain menempel beberapa penghargaan atas bidang seni lukisan kaca yang digelutinya, juga tergantung dua lukisan kaca hitam-putih berukuran 45×60 cm, bergambar tokoh wayang Kresna dan Brajamusti. Lukisan Kresna itu ternyata sudah dibeli Mas Komar seharga Rp 750 ribu.

Sugro, yang belajar teknik melukis kaca dari sang paman, Raden Saleh Jawahir, salah seorang lurah di Kraton Kasepuhan, kini sudah agak sakit-sakitan. Meski begitu penglihatannya masih sangat jelas. Terbukti, ia tidak memakai kacamata, dan mampu membuat lukisan dengan isen-isen (motif-motif pengisi) berupa titik-titik yang sangat kecil, yang menjadi salah satu trade mark-nya.

Dua hal lain yang membuat Sugro terkenal di dunia lukisan kaca adalah teknik lukisan kaca hitam putih, serta penemuannya berupa penggunaan pena (crown pen) untuk melukis. Sugro menunjukkan salah satu pena yang dipakainya, dan tiba-tiba saya jadi ingat pelajaran ‘menulis halus’ sewaktu masih di SD dulu. Guru mengajari kami menggambar huruf-huruf kursif dengan memakai pena ini, yang harus dicelupkan kembali ke tinta setelah menulis satu-dua huruf.

Sepertinya membuat lukisan hitam-putih ini lebih mudah daripada lukisan dengan banyak warna, karena tinggal menggambar kaca dengan warna putih, terus setelah kering tinggal ditimpa dengan warna hitam. Namun ternyata tidak. “Karena hanya ada satu warna, maka kalau ada cacat, misalnya ada tetesan warna putih atau garis yang melenceng, maka itu akan kelihatan sekali,” tutur bapak dari tiga anak perempuan ini. “Sementara, kalau banyak warna, maka warna yang salah itu bisa dialihkan perhatiannya oleh warna lain.”

Lukisan Bergaya Negatif

Tidak seperti melukis biasa, di mana pelukis langsung menuangkan idenya dengan mencoretkan kuas di atas kanvas, membuat lukisan kaca memerlukan lima tahap. Pertama, pelukis membuat plek, yakni pola atau sketsa di atas kertas kalkir bagi objek yang akan dilukis. Pelukis bisa membuat sketsa ini dengan menjiplak dari plek-plek lama yang pernah dibuat pelukis pendahulu mereka, menjiplak langsung dari wayang –bagi pelukis yang spesialisasinya lukisan kaca wayang– atau memesan sket yang sudah jadi dari orang lain. Kedua, plek tersebut ditaruh di bawah selembar kaca bening –yang bisa dibeli di toko bahan bangunan, dengan ukuran yang diinginkan pelukis–  lalu pelukis membuat rengreng, yakni kontur atau outline lukisan di atas kaca dari plek tadi. Rengreng atau tracing ini menggunakan rapido atau pen tadi, tergantung keahlian si pelukis.

Ketiga, setelah semua outline lukisan selesai, dilanjutkan dengan memberi isen-isen berupa titik-titik atau garis-garis pada objek-objek yang sudah digambar. Keempat, dilakukan proses nyungging, yakni memberi warna pada objek-objek yang sudah diberi isen, dengan memakai kuas kecil. Terakhir, proses natar, yakni membuat latar belakang lukisan. Tiap proses ini membutuhkan jeda sekitar 1-2 hari, menunggu cat dari tiap proses itu mengering. Tujuannya agar ketika ditimpa dengan cat pada proses selanjutnya, cat itu tidak terpengaruh. Tahapan proses lukisan kaca ini mirip dengan membatik, hanya saja lukisan kaca mempunyai keuntungan, karena pelukis tidak perlu menutup (melindungi) cat hasil proses sebelumnya dengan malam (parafin), namun cukup menunggu hingga cat kering.

Lukisan kaca yang sudah jadi kemudian dibingkai, dengan bagian kaca yang dilukis tadi ada di sisi belakang. Jadi, yang kita lihat adalah bagian sebaliknya, yang halus dan tanpa goresan cat sama sekali. Di sinilah letak uniknya lukisan kaca. Tak heran jika teknik ini disebut melukis bergaya negatif, karena pelukis membuat karyanya dari sisi belakang, sementara yang diperlihatkan kemudian adalah sisi depannya.

Kuda Terbang Jadi Favorit

Konon, lukisan kaca mulai populer di masa pemerintahan Panembahan Ratu II (1568-1646), sultan keenam Kraton Pakungwati, sebelum kerajaan itu dibagi tiga menjadi Kraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Hal ini diketahui dari warna-warna alami yang digunakan untuk membuat sunggingan, yang populer dipakai di masa itu. Seiring zaman, warna alami kemudian mulai diganti zat warna sintetis, dan sejak tahun 1965 mulai dipakai cat. Merk cat yang banyak dipakai adalah Kuda Terbang, dengan pengencer larutan terpentin. Sugro jugalah yang mempopulerkan penggunaan cat dan terpentin ini. Sebelumnya para pelukis memakai tinta bak.

Cat Kuda Terbang menjadi favorit karena tidak cepat kering. Ini memberi waktu kepada pelukis untuk menghapusnya jika terjadi kesalahan. “Kalau memakai cat besi akan cepat kering, sehingga sering merepotkan,” tutur Sugro. Satu kaleng cat Kuda Terbang (100 cc), harganya Rp 6.000.  Jika dipakai untuk rengreng dan isen-isen, sekaleng cat ini bisa untuk 10 lukisan, atau 4 lukisan jika dipakai sebagai cat latar belakang.

Lukisan kaca yang dibuat Sugro, para pelukis di Trusmi, serta para pelukis lain di Cirebon sering disebut lukisan kaca klasik, karena objek-objek yang dilukis merupakan motif-motif yang ada sejak zaman dulu, misalnya motif kaligrafi dengan berbagai variasinya,  motif wayang, motif kratonan (obyek lukisan berupa hal-hal yang berbau kraton), motif batik, dan sebagianya. Sayang sekali, ketiga anak perempuan Sugro tidak ada yang mewarisi bakat lukis sang ayah. Malah, bakat itu turun ke tetangga-tetangga Sugro, yakni ke Astika dan istrinya Satinah, serta ke Eryudi –adik Astika– dan istrinya Sairi.

Sairi, yang rumahnya persis di samping rumah Sugro, sore itu tengah membuat rengrengan lukisan bertema Gua Sunyaragi, salah satu tempat wisata populer di Cirebon. Beberapa lukisan kacanya yang sudah jadi, yang berukuran 20×25 cm, akan ia jual masing-masing seharga Rp 150 ribu. Sedangkan satu lukisan yang berukuran 45×60 cm akan ia jual seharga Rp 1 juta. Semuanya menggambarkan motif kratonan, seperti lukisan Taman Arum, Siti Hinggil, Makam Sunan Gunung Jati, dan sebagainya. Sairi memang dikenal sebagai pelukis wanita spesialis motif kratonan. Lukisan-lukisannya yang didominasi warna putih, krem, biru muda bergradasi, serta merah hati, sangat cantik dan memiliki karakteristik khas Cirebon. Saya langsung berdecak kagum begitu melihat karya-karyanya.

Kekaguman itu pula yang membuat saya ingin mencoba, bagaimana sih membuat lukisan kaca itu. Saya meminjam pena Sairi, dan menggantikannya membuat rengrengan pada lukisan yang tengah ia garap. Namun setelah beberapa kali mencoba membuat goresan melingkar pada sebuah motif bunga, saya pun menyerah. Sebab berkali-kali pula garis cat yang saya goreskan terlalu lebar, atau ketika goresan itu putus, sambungan yang saya buat berikutnya tidak rapi. Untungnya, cat yang masih basah itu mudah dihapus dengan kain lap. Tapi, kalau menggores satu garis aja perlu berulang-ulang, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat satu lukisan? Sairi hanya senyum-senyum. Baginya, keseluruhan proses menggambar itu bisa ia selesaikan dalam seminggu saja. Bahkan untuk lukisan yang kecil-kecil, ia selesaikan dalam 3 hari.

“Untuk bisa membuat lukisan kaca, perlu belajar sedikitnya 1 tahun,” tutur Astika, yang rumahnya di belakang rumah Sairi. “Untuk belajar membuat lukisan wayang, lebih lama lagi, karena kita juga mesti tahu makna di balik karakter wayang itu.” Sore itu, beserta Satinah, ia tengah menyelesaikan lukisan Paksi Naga Liman, kereta kencana Kraton Kanoman. Di dekat mereka, tersandar di dinding, adalah lukisan Singa Barong –kereta kencana Kraton Kasepuhan– berukuran 60×90 cm, yang tinggal dibingkai.

Astika, yang banyak membuat lukisan kaca bermotif kratonan, dikenal sebagai pelukis dengan keahlian membuat isen-isen yang sangat halus dan detil. Karya-karyanya dipajang di berbagai kantor pemerintah dan hotel. Salah satu masterpiece yang pernah dibuatnya adalah 113 lukisan kaca yang dipajang di lobi dan berbagai tempat di Hotel Bentani, Cirebon, yang disebut-sebut sebagai koleksi lukisan kaca terbesar di Indonesia.

Pelukis ‘Ilmiah”

Mas Komar rupanya masih ingin menunjukkan tempat lukisan kaca yang lain, dan ia pun memboncengkan saya kembali, menyusuri jalan-jalan dan gang kampung. Melewati sebuah pemakaman, kami berhenti di sebuah rumah yang sepi. “Ini adalah rumah guru membatik saya, Pak Tomik,” kata Komar, yang memang seorang pengusaha batik Trusmi.

Meski koleksi lukisan kaca Pak Tomik ini tinggal sedikit –karena ia sekarang lebih banyak membatik– lukisan yang dihasilkannya terasa lebih unik. Selain berwarna lebih ngejreng (bright), lukisan wayang yang dibuatnya juga lebih bebas, karena tak terlalu terikat pada pakem yang mengharuskan ada proporsionalitas maupun mimik standar dalam figur wayang yang dibuat.

Masih ada beberapa pelukis yang harus saya datangi, dan atas petunjuk Mas Komar, esok harinya saya mengunjungi rumah Rafan S. Hasyim, di pinggir jalan raya antara Trusmi dan kota Cirebon. Opan, begitu ia biasa dipanggil, dikenal sebagai pelukis yang ‘ilmiah’, dengan spesialisasi pada lukisan wayang dan lukisan dekoratif bermotif geometris. Lukisannya dicirikan dengan pendesainannya yang menggunakan alat bantu garis-garis, serta pengulangan bentuk-bentuk. Opan hafal semua 350 jenis karakter wayang, begitu juga sejarah lukisan kaca di Cirebon. Mungkin karena ia juga berprofesi sebagai dosen filologi di Sekolah Tinggi Islam Negeri Cirebon dan mendalami naskah-naskah kuno.

Di rumahnya, ada sebuah lukisan kaca besar berukuran 100×200 cm, terdiri dari dua ruang yang berisi surat Al Fatihah dan Ayat Kursi. Lukisan itu seperti sebuah Alquran besar yang dibentangkan, penuh dengan berbagai dekorasi motif batik khas Cirebon seperti mega mendung, kawung, wadasan, untu walang, dan sebagainya. Yang lebih unik lagi, kedua halaman itu simetris satu sama lain, baik dari kotak dan bulatan tiap surat, hingga ke lekuk-lekuk hiasan dekorasinya! Ternyata, lukisan itu pesanan sebuah BUMN di Provinsi Banten, dan menurut Opan harganya Rp 15 juta, sudah termasuk bingkai.

Dari Opan juga saya belajar bahwa di salah satu motif kaligrafi lukisan kaca, ada yang disebut kaligrafi serabad, berupa lukisan hewan mitologi, namun tersusun dari huruf Alquran, Hadits, atau doa-doa yang dianggap manjur untuk menolak setan dan pengaruh jahat. “Karena itu kaligrafi serabad sering dipesan untuk dipakai sebagai rajah atau jimat.”

Melukis Sejak Kecil

Atas saran Opan, saya berkunjung ke rumah Pak Winta, di daerah Gunung Jati, yang dianggap pelukis paling sepuh di Cirebon. Yang mengejutkan, meski beliau ini usianya delapan tahun lebih tua dari Pak Sugro, namun ia masih terlihat sangat bugar dan enerjik. Mungkin karena ia dulunya seorang polisi. Yang lebih mengejutkan lagi, ia telah menekuni seni lukisan kaca sejak kecil, belajar dari ayahnya yang seorang dalang. Tak heran jika spesialisasi Winta adalah lukisan kaca wayang. Di rumahnya teronggok sketsa-sketsa wayang dari satu kotak wayang. Menurutnya, tak ada pelukis lain yang punya koleksi sketsa wayang selengkap dia.

Salah satu lukisan Winta yang dibuat tahun 1962 bergambar Gatutkaca, sampai sekarang masih tersimpan di rumah seorang pembelinya, yang juga bertempat tinggal di Cirebon. Lucunya, si pewaris lukisan kaca itu tak mau menjualnya kembali ke Winta meski sudah diiming-imingi dengan beberapa lukisan pengganti dan sejumlah uang.

Hingga sekarang, Winta masih aktif melukis, dan dalam setahun menghasilkan sekitar 30 lukisan berukuran besar. Mesk, menurutnya, ia melakukan semuanya sendiri karena dari ke-14 anaknya belum ada yang serius menekuni lukisan kaca. Untuk mendapatkan pembeli, ia sering minta tolong ke Opan untuk ikut membawakan lukisan-lukisannya saat ada pameran di Jakarta, meski hal ini sering terhadang oleh susahnya transportasi karena lukisan kaca itu rentan pecah. Sebagian pembeli datang ke tokonya di Pasar Pagi, sebagian lagi datang ke rumah.

Menyiasati sifat kaca yang mudah pecah ini pula yang membuat Toto Sunu –salah seorang seniman lukisan kaca Cirebon yang dianggap beraliran modern– kini mulai bereksperimen dengan memakai kaca akrilik yang anti-pecah dan lebih ringan. Meski pelukis lain khawatir bahwa pemakaian akrilik membuat warna lukisan cepat pudar, Toto tidak terlalu khawatir. Yang menjadi masalah baginya hanya satu, “Untuk ukuran yang sama, harga kaca akrilik ini 8 kali lebih mahal dibanding kaca biasa.”

Sebagai seniman yang aslinya berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, Toto memang tidak terlalu terikat dengan pakem-pakem lukisan kaca klasik Cirebon. Makanya ia pun bebas mengekspresikan ide-idenya. Selain memperkenalkan cat air brush dan material lain sebagai latar belakang lukisan, ia juga sering memakai lebih dari 1 kaca –yang disusun bertumpuk ke belakang– untuk memberikan kesan tiga dimensi. Toto, yang pernah mendemonstrasikan melukis dengan mata tertutup di depan Presiden SBY, juga punya kelebihan lain: ia mampu menggambar sketsa langsung di atas kaca, tanpa perlu menjiplak dari kertas sket!  Itu sebabnya karya-karyanya selalu baru dan tidak pernah ada yang sama.

Di rumahnya yang besar, dengan sebuah taman dan air terjun mini di tengahnya, Toto tengah sibuk menggarap pesanan 25 lukisan –sebagian lukisan kaca, sebagian lagi lukisan kanvas kelirumologi yang juga menjadi ciri khasnya– bersama 8 orang karyawan. Tampaknya ia tidak kesulitan mencari pembeli, terlebih kini ia punya galeri seni di Depok, bekerja sama dengan seorang teman.

Namun, seperti halnya para seniman lukisan kaca lain yang telah saya temui, di sela-sela kesibukannya, Toto tetap menerima saya dengan ramah. “Nanti foto saya dikirim ke sini ya, sekalian foto Mas. Nanti Mas akan saya bikinkan lukisan kaca,” tawarnya sungguh-sungguh. Wah, alangkah senangnya bisa dilukis seorang seniman terkenal! (T)

 

Di Mana Mencari Lukisan Kaca?

Astika, Sugro, Sairi
Sanggar Seni Kaca Indah
Belakang Balai Desa Trusmi Wetan RT-07 RW-02
Plered, Cirebon, Tel: 0813-24282752

Rafan S. Hasyim
Jl. Raya Kedawung No. 491 RT-04 RW-03
Blok Sugun, Desa Pilangsari, Kedawung
Cirebon, Tel: 0813-24166299

Haji Winta
Sanggar Kencana
RT-02 RW-04 Desa Jadi Mulya, Kecamatan Gunung Jati
Cirebon, Tel: 0231-247568

Toto Sunu
Jl. Karang Makmur No. 48 RT-02 RW-03 Kelurahan Drajat
Cirebon, Tel: 0231-205346

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Say It with Orchid

Say It with Orchid

Mencari berbagai anggrek yang eksotik tak perlu jauh-jauh. Jakarta-lah tempatnya.

Meski terletak di pinggir jalan raya, sepertinya kompleks berpagar kawat ini sepi saja. Apalagi, bagian dalam masih dipagari tembok bata merah dan gapura bali, sehingga tidak kelihatan aktivitas di kavling-kavling penjual anggrek. Padahal kalau sedang ada pameran anggrek, katanya tempat ini ramai sekali.  Tapi saya masuk saja, karena Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) ini satu-satunya tempat pengembangan dan pembudidayaan anggrek terpadu di Indonesia.

Di kiri-kanan saya kini ada kavling-kavling kios anggrek, dengan pemiliknya sedang menyiram dan memindah-mindahkan pot. Pandangan saya terantuk pada gedung Graha Puspa Pesona, yang ternyata bisa disewa untuk resepsi pernikahan, dan bisa menampung 1.200 orang. Di TAIP ini tak hanya ada 20 kios anggrek dan gedung resepsi ini saja. Di kompleks seluas 4,5 hektar ini juga ada tempat parkir, musala, showroom penjualan bibit dan kelengkapan berkebun, gedung pengelola, green house untuk menumbuhkan bibit, ruang kursus –masyarakat umum boleh ikut– dan laboratorium.

Di kios-kios inilah kita bisa menemukan berbagai jenis bunga anggrek yang indah, yang dijejer di meja-meja dari papan. Keanekaragaman warna bunganya terlihat mencolok dengan daunnya yang tebal dan hijau serta akarnya yang bersulur-sulur. Ada anggrek yang wangi, ada juga yang tidak berbau. Ada Anggrek Bulan yang berwarna putih, ada pula anggrek yang berwarna ungu dan juga kuning. Ada anggrek Kantong Semar, Anggrek Meksiko, Bulbophyllum, Phalaenopsis, yang diletakkan di tempat teduh di kios. Tapi ada juga yang diletakkan di bawah sinar matahari seperti Anggrek Macan yang setinggi 2 meter.

Menurut Eko, penjaga salah satu kios, anggrek-anggrek ini ada yang dari jenis lokal seperti anggrek jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, hingga anggrek papua. Tapi ada juga anggrek impor dan anggrek hibrida (hasil persilangan). Kita bisa membelinya untuk dipelihara di rumah. Harganya bervariasi mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 300.000. Anggrek Macan yang tinggi tadi, ditawarkan dengan harga Rp 10 juta!

Ada juga kios lain yang mengkhususkan diri untuk pasar ekspor. Ada lho, kios yang setiap bulan bisa mengekspor 4.000 batang anggrek. Di kios nomor 11, Suharto Orchids, kita bisa menemukan juga anggrek-anggrek unik, seperti Anggrek Kantong Semar, Anggrek Pita dari Meksiko, dan puluhan anggrek lain yang unik, hasil persilangan. Karena banyaknya jenis anggrek silang baru, kadang mencari nama latinnya juga sulit. Anak dari Pak Suharto itu, meski sudah mengeluarkan 4 buku tentang anggrek, tak juga bisa menemukan nama keluarga dari anggrek yang saya tanyakan!

Kios My Orchids khusus menjual bibit-bibit anggrek. Di sini dijual mulai dari bibit yang ada di dalam botol dengan harga Rp 75.000-125.000, sampai bibit yang di pot-pot kecil. Kios seluas 500 meter persegi ini menjual hingga 20 ribu bibit anggrek, baik dari spesies asli maupun persilangan. Bibit-bibit itu didapatkan dari Malang, Bogor, Sukabumi, dan dari laboratorium TAIP.

Untuk menyilangkan, cukup mudah. Randy dari My Orchids menunjukkan caranya. Benang sari dari bunga yang akan menjadiinduk persilangan diambil. Lalu benang sari dari anggrek lainnya diambil, dan dimasukkan ke bunga induk ini. Sekitar 2 minggu, ketika tepung sari sudah terbentuk, anggrek induk ini dibawa ke laboratorium untuk ditumbuhkan dan diperbanyak menjadi bibit. Bibit inilah yang kemudian diletakkan di dalam botol-botol hingga bertunas. ”Tapi untuk melihat hasil persilangannya, kita mesti bersabar menunggu sampai 2 tahun, saat bunga itu mekar,” tutur Randy. Waduh, lama benar ya?

Dibanding bunga lain, anggrek memerlukan perawatan yang lebih khusus. Dari mulai media tanamnya yang khusus berupa lumut kering, arang, ataupun pakis –kadang mesti didatangkan dari Medan, bahkan diimpor dari Taiwan– hingga metode penyiraman, pemupukan, dan pengaturan suhu dan kelembaban. Karena itu di TAIP juga ada kios-kios maupun showroom yang khusus menjual semua pernak-pernik pembudidayaan anggrek ini. Secara berkala, TAIP juga mengadakan pameran, demo budidaya anggrek, kursus, sampai seminar dan talkshow. Mengaku pecinta anggrek? Harus ke sini! (T)

 

Mal, Klon dan Botol Saos

Cikal-bakal TAIP ini sebenarnya sudah ada sejak 1974, yakni di lokasi yang kemudian menjadi… Mal Taman Anggrek. TAIP lalu pindah ke kompleks TMII dan diresmikan pada 20 April 1993. Meski satu kompleks dengan TMII, TAIP dikelola oleh yayasan yang berbeda, yakni Yayasan Harapan Kita.

Di sini, selain warna-warni anggrek yang memanjakan mata, masih ada lagi hal yang lebih unik. Mintalah izin ke Kepala Lab, Budi Rustanto, untuk diantar melihat-lihat proses perbanyakan anggrek dengan teknik hibridisasi dan kultur jaringan – yang mirip proses kloning. Suasananya seperti masuk lab pertanian, dengan banyak sekali bibit anggrek hasil klon itu dijejer dan ditumpuk dalam rak-rak, semuanya ada di dalam, bukan labu erlenmeyer, tapi… dalam botol bekas saus kecap atau saus sambal!

”Misi kami melestarikan dan mengembangkan anggrek, dan juga menjaga agar biaya  perbanyakan bibit itu tetap rendah. Jadi mengapa mesti pakai yang mahal, kalau yang murah saja tersedia melimpah?” jelas Pak Budi. Tentu saja, botol-botol itu sebelumnya sudah dibersihkan dan disterilisasi.

Taman Anggrek Indonesia Permai
Jl. Raya TMII (samping Tamini Square)
Pinang Ranti, Jakarta Timur 13560
Tel. 021-8404111, 8404141, Fax. 021-8404024

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips, 0 comments