Weekend Trips

A Heaven Called Karimunjawa

A Heaven Called Karimunjawa

Coba rasakan nikmatnya ‘hotel’ di tengah laut, bercanda dengan hiu,  dan mengunjungi pulau-pulau berpantai pasir putih.

Melihat kapal feri KMP Muria perlahan-lahan merapat di dermaga Pelabuhan Karimunjawa, rasanya saya sudah tidak sabar lagi untuk meloncat ke darat. Maklumlah, saya bersama 18 teman satu rombongan sudah terlalu lama di perjalanan. Dimulai dari Jakarta kemarin petang, kami menuju Jepara memakai bis, dan baru sampai tadi pagi. Lalu, untuk menuju pulau ini, kami mesti menghabiskan waktu 5,5 jam di atas feri.

Untungnya, kami menempati ruangan VIP yang ber-AC, bersofa empuk, dan masih bisa menonton televisi. Nasib kami lebih baik dibanding 200-an lebih penumpang lain yang menempati kelas ekonomi yang duduk berimpitan, bahkan sebagian besar malah duduk seadanya di lantai-lantai kapal tiga tingkat ini. Di dek paling atas, bahkan saya menemui Hans, seorang turis Jerman, yang kulitnya sudah memerah seperti udang rebus akibat terlalu lama terpanggang matahari. Ia ke Karimunjawa ber-backpacking-ria bersama putrinya. “Oh tidak, terima kasih. Saya di sini saja,” kata lelaki berusia sekitar 50 tahun itu, ketika saya beritahu bahwa ia bisa mendinginkan diri sebentar di ruang VIP.

Mendarat di pulau utama, Karimun, saya masih heran mengapa banyak orang yang rela menempuh perjalanan jauh untuk ke kepulauan yang terdiri dari 27 pulau ini. (Mungkin bagi orang zaman dulu,   jarak Jepara-Karimun yang 45 mil itu dianggap dekat, karena Karimun sendiri kurang lebih artinya ‘sepelemparan batu’). Pulau yang mempunyai lapangan terbang mini ini berbukit-bukit dan memanjang, namun jika dilihat dari kapal, sepertinya tidak ada yang menarik.

Tapi saya tak sempat berpikir panjang, karena kami segera naik elf ke pelabuhan lama di ujung selatan. Kampung yang saya lewati tidak ada bedanya dengan suasana pedesaan di Jawa. Bahkan rasanya saya tidak seperti tengah berada di sebuah pulau. Mas Aris dan Mas Jabrik menyambut kami dengan perahu kecilnya, dan kami pun menyeberang lagi, menuju ‘hotel’ di mana kami akan menginap. Ya, kami tidak akan menginap di resor atau penginapan di pulau utama, melainkan di Wisma Apung Jaya Karimun, sekitar 10 menit berperahu dari dermaga lama ini.

Sebenarnya nama ‘wisma apung’ ini kurang tepat, karena memang tidak mengapung di atas air, melainkan tiang-tiangnya tertancap di dasar laut dangkal. Ke-17 kamar serta lantainya yang semuanya dari kayu, terletak sekitar satu meter di atas pemukaan laut. Wisma Apung Pak Joko, begitu nama yang lebih populer. Namun wisma yang berdiri tahun 2004 itu kini dikelola istrinya, Bu Nurul, setelah Pak Joko meninggal sekitar setahun lalu.

Vidy, Dinda, Ida dan Sonya segera mencebur ke laut untuk snorkeling. Namun sebagian teman yang lain berkerumun di pinggir kolam buatan di tengah wisma. Teriakan dan jeritan kecil terdengar dari dalam kolam. Ketika saya melongok, ihhh… ternyata di kolam itu berseliweran banyak ikan hiu! Norman dan Siska tengah ada di dalam kolam, dan tampaknya Norman tengah berusaha menangkap seekor hiu pari.

Meski kelihatannya menyeramkan, puluhan hiu yang ada di kolam itu merupakan hiu jinak. “Jenisnya hiu pari dan hiu putih. Semuanya ada 30 ekor,” kata Bu Nurul. Lebih tepatnya, hiu black tip, dengan ciri warna hitam di ujung sirip punggung. “Nggak apa-apa kok, turun ke kolam. Asal tidak sedang punya luka di kaki saja.” Hiiih! Norman akhirnya bisa menangkap ekor hiu pari, dan mengangkatnya. “Wah, berat sekali. Kulitnya kasar seperti ampelas!”

Tidak semua hiu berkumpul di satu kolam. Selain di kolam berbentuk L dan berukuran sekitar 3 kamar tidur ini, ada dua kolam kecil yang terpisah, berisi ikan-ikan hiu yang masih kecil. Lalu ada satu kolam lagi yang berisi anak-anak penyu, serta ikan-ikan cantik. Di kolam utama sendiri juga ada penyu dan bintang laut. Seekor penyu yang besar sekali tampak malas bergerak, dan juga tak merasa terganggu oleh teman-teman hiunya yang tak henti bergerak.

Hari makin sore, kesibukan pun kini berganti: melihat sunset. Tidak perlu mencari tempat lain untuk mengejar yang satu ini. Tinggal buka pintu belakang tiap kamar, dan matahari yang hendak pulang ke peraduannya pun terlihat di sana, dengan nelayan bersama sampannya sebagai latar depan. Ya, ini memang ‘kemewahan’ yang ditawarkan wisma ini. Sunset from your own room!

Malam, setelah makan malam yang diantar dengan perahu dari pulau utama, saya bergabung dengan Novi dan Vindhya, tidur-tiduran di ponton di depan wisma, membiarkan diri diayun-ayun ombak yang tenang, sambil memandang ribuan bintang di langit. Hmmm… perjalanan yang melelahkan kini sedikit demi sedikit mulai ‘terbayar’.

Pesona Cemara Besar

Bagi penyuka sunrise, mungkin Wisma Apung bukan tempat yang tepat, karena dari sini matahari terhalang bukit di pulau utama. Namun bias sinarnya yang keemasan memaksa kami untuk betah berlama-lama duduk di beranda atau di ponton, sambil menyeruput kopi dan melihat perahu-perahu nelayan lewat di depan wisma.

Begitu matahari muncul, sinarnya segera menyapu seluruh bagian wisma. Dan, meski kami semua belum mandi, kini waktu yang tepat untuk berfoto-foto! Kami baru berhenti ketika perahu Pak Harto -asisten Bu Nurul- datang membawa sarapan.

Yang ia bawa tak hanya sarapan kami, namun juga sarapan ikan-ikan hiu piaraan Bu Nurul. Ikan hiu itu sebenarnya dibeli Bu Nurul dari para nelayan yang jaringnya tak sengaja menangkap ikan-ikan itu. Setelah cukup besar, ikan itu dilepaskan lagi ke laut. Untuk makanan hiu-hiu itu, ia setiap hari menyiapkan sepuluh kilo ikan-ikan kecil, misalnya ikan kembung, yang dibeli dari para nelayan seharga Rp 2.500 per kilo.

Hari ini kami akan ber-island hopping, dan yang kami kunjungi lebih dulu adalah Pulau Cemara Besar. Sepertinya, pulau ini menjadi favorit para ‘Karimuners’, karena dari kejauhan pun, saya bisa melihat banyak perahu kecil berjejer-jejer. Para penumpangnya terlihat bertebaran di berbagai sudut. Ada yang tengah snorkeling di air yang berwarna torquiose, namun ada juga yang berjalan-jalan di pantai pasir putih pulau ini yang landai sekali hingga puluhan meter. Baru kali ini saya melihat ada pantai yang begitu lebar dan datar di kepulauan utara Pulau Jawa. Beberapa kali ke Kepulauan Seribu, belum pernah saya menjumpai pulau dengan pantai seperti di Cemara Besar ini.

Ketika cuaca agak mendung, kami bergerak menuju sebuah pulau gosong, pulau berupa gundukan pasir yang timbul-tenggelam oleh pengaruh pasang-surut air laut. Cuaca di sini sangat cerah, sehingga semua teman mencebur ke air untuk ber-snorkeling. Ida menemukan terumbu karang berbentuk bulu ayam, dan juga tiga nemo (clown fish) yang tengah asyik bermain.

Tujuan kami selanjutnya adalah Tanjung Gelam, sebuah sudut di barat daya pulau utama. Dari kejauhan, sudah kelihatan jelas mengapa tanjungan ini dipilih. Garis pantainya yang putih memanjang berhias pohon-pohon kelapa melengkung, dan dibatasi batu-batu karang. Siang yang panas menjadi tak terasa melihat air yang bening hingga terlihat dasarnya yang putih. Kami baru pulang menjelang sore, tapi kali ini mampir dulu ke perkampungan dekat dermaga, karena perut keroncongan minta diisi.

Hingga senja, kami menghabiskan waktu dengan makan bakso dan sate, naik odong-odong keliling pulau, dan melihat latihan menari di sebuah sekolah dasar. Begitu kembali ke wisma, rutinitas kemarin sore terulang lagi: melihat sunset. Kali ini, sinar matahari membuat garis seperti pita melintasi sebuah rumah bagan yang ada di belakang wisma.

Hujan di Tengah Laut

Cuaca agak mendung ketika pagi itu perahu kami bergerak menuju Pulau Gosong Seloka, di timur Pulau Karimun. Dua atau tiga lumba-lumba tampak berloncatan di kejauhan sana, dan hanya membuat kami kecewa karena pertemuan tak terduga itu berlangsung sangat singkat.

Dan benar, begitu kami sampai ke pulau gosong, mendung yang tadi makin menebal berubah menjadi hujan deras. Kami meringkuk di bawah terpal untuk menghindari terpaan air hujan yang dingin, begitu perahu bergerak di tengah guyuran hujan. Meski saya sempat khawatir dan menyarankan untuk pulang ke wisma, namun tampaknya Mas Aris sang jurumudi yakin bahwa hujan ini ringan saja. Ia pun tetap membawa kami ke tujuan semula, ke Pulau Cilik di utara sana.

Perkiraan Mas Aris benar, karena hujan ini tidak disertai angin dan ombak besar, dan agak berkurang begitu kami merapat di dermaga Pulau Cilik. Dua perahu yang membawa rombongan lain tampak juga bersandar di pulau berpasir krem ini, dan para penumpangnya tampak tengah… snorkeling lagi di tengah hujan. Saya tak mengerti apa enaknya snorkeling di tengah hujan, jadi saya memutuskan untuk berteduh di teras sebuah vila, dan begitu hujan benar-benar berhenti, saya berjalan kaki mengelilingi pulau. Sesuai namanya, dikelilingi dalam 5 menit saja pulau ini sudah habis. Pulau ini mirip dengan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Yang membedakannya, di sini selain ada pohon-pohon cemara juga banyak pohon kelapa.

Cuaca yang belum kembali cerah masih mengikuti kami begitu perahu bergerak lagi ke Pulau Tengah. Pulau ini jauh lebih besar dan lebih ramai dibanding Pulau Cilik. Pohon-pohon kelapa lebih banyak lagi di sini, begitu juga perahu-perahu wisatawan yang ditambatkan di dermaga. Namun tak hanya itu. Saya melihat ada grup-grup diving dan juga grup SAR yang tengah melakukan latihan penyelamatan. Tenda-tenda mereka terpasang di pelataran tak jauh dari dermaga. Kami snorkeling tak jauh dari dermaga, dan mata kami dimanjakan oleh terumbu-terumbu karang cantik dan ikan-ikannya yang berseliweran.

Di sini kami menemui banyak karang meja yang berbentuk bulat pipih, lebih banyak dibanding di pulau gosong dekat Tanjung Gelam. Grup diving yang kami temui ternyata dari Universitas Diponegoro Semarang, dan kami sempat berkenalan dengan instrukturnya, Pak Amiruddin, yang berasal dari Aceh.

“Wah, instrukturnya ganteng sekali ya, seperti bintang film India!” kata Dinda, teman kami, yang sepertinya naksir. Tak heran setelah ia bisa berfoto dengan sang instruktur, sepanjang perjalanan pulang ia tak henti-henti kami goda. Sayangnya, meski kemudian kami sama-sama searching di Facebook mencari nama sesuai yang Amiruddin berikan, kami tak menemukannya juga. Impian Dinda pun tinggal kenangan…

Hari keempat di Karimunjawa, yang kami lakukan hanya menunggu sunrise, lalu memberi makan ikan-ikan hiu. Kami mesti berkemas, karena ini saatnya kami pulang ke Jepara. Kapal feri yang akan membawa kami sudah siap di dermaga, dan akan berangkat pukul delapan tepat. Meski terasa sangat singkat dan belum banyak yang bisa kami lihat, dan saya juga belum bisa menangkap satu ekor hiu pun di kolam, kini saya sudah paham, mengapa orang rela menempuh perjalanan jauh untuk bisa ke surga kecil ini…. (T)

 

BOKS 1:
Banyak Cara ke Karimunjawa

Karimunjawa bisa dicapai dari Semarang atau Jepara, dengan cara cepat atau lambat. Yang paling banyak dipakai adalah melalui Pelabuhan Kartini, Jepara. Kita bisa naik feri KMP Muria, yang berangkat pukul 08.30 pada hari Senin, Rabu, Sabtu, dan pulang dari Karimunjawa pukul 08.00 pada hari Selasa, Kamis, Minggu. Tiket kelas ekonomi Rp 30.500, kelas VIP Rp 58.250, bisa dipesan melalui hotel atau wisma tempat kita akan menginap.

Dari Semarang juga ada kapal cepat Kartini, dari Dermaga Samudra Pelabuhan Tanjung Mas. Kapal ini hanya perlu waktu 3,5 jam untuk sampai ke Karimunjawa. Tiket kapal berkapasitas 160 orang ini untuk yang berangkat Sabtu jam 9 pagi, kelas bisnis Rp 130.000, eksekutif Rp 150.000. Untuk berangkat Senin jam 7 pagi, kelas bisnis Rp 135.000, eksekutif Rp 155.000. Semua kelas ber-AC. Pulang dari Karimunjawa bisa hari Minggu jam 2 siang atau Selasa jam 11. Untuk reservasi kontak Bapak Purwanto dari Dinas Perhubungan Laut (Jl. Siliwangi 355-357 Semarang, Tel: 024-70400010, Fax: 024-7607697, Hp: 0815-6627808).

Kalau ingin tetap lewat Jepara, banyak bis eksekutif dari Terminal Rawamangun, Jakarta, seperti Nusantara, Shantika, yang melayani rute ke kota ukir ini dan bisa mengantar sampai Pelabuhan Jepara. Pilihan lain adalah naik pesawat ringan dari Semarang, yang dioperasikan Kura-Kura Aviation (www.kurakuraaviation.com).

 

BOKS 2:
Wisma Apung atau Kura-kura Resort?

Wisma Apung dan Kura-kura Resort merupakan tempat favorit untuk menginap di Karimunjawa. Wisma Apung (Tel. 0813-25110999, 0297-312185) menyediakan paket-paket menginap yang sudah mencakup makan, antar-jemput ke dermaga Karimunjawa, dan island hopping ke beberapa pulau. Harga paket 3 hari 2 malam berkisar dari Rp 650.000-800.000 per orang, dan masih bisa ditawar.

Di Pulau Karimun juga ada Wisma Wisata (tel. 0813-26459910) yang dikelola Pemda Jepara. Jumlah kamarnya 10, terdiri dari VIP (Rp 175.000/malam), Standar (Rp 150.000/malam) dan Non-AC (Rp 100.000/malam). Tiap kamar bisa diisi 2 orang. Tersedia juga paket menginap, antara Rp 350.000-400.000 per orang untuk 2 hari 1 malam. Penginapan-penginapan lain yang lebih murah juga banyak terdapat di perkampungan Pulau Karimun. Misalnya di Homestay Prapatan milik Ibu Sujani (tel. 0297-312227), per malam hanya Rp 60.000 per kamar, bisa diisi 2 orang. Sarapan tidak termasuk, namun makan bisa dipesan dengan biaya Rp 10.000 per porsi. Di pulau utama ini juga ada Dewadaru Resort, Escape Beach Resort, dan Nirvana Resort, yang masing-masing punya pantai sendiri.

Mau yang tidak biasa? Menginaplah di Kura-kura Resort (www.kurakuraresort.com),  di Pulau Menyawakan, sisi barat Kepulauan Karimunjawa. Ada 15 cottage (200-250 dolar/malam), 17 pool villa (300 dolar/malam), 2 family pool villa (480 dolar/malam, 2 kamar), sudah mencakup makan pagi dan makan malam. Bekerjasama dengan Kura-Kura Aviation, resor ini menyediakan antar-jemput dengan pesawat Cessna 402 berkapasitas 8 penumpang. Cuma butuh waktu 30 menit, pesawat ini terbang dari Bandara Ahmad Yani Semarang setiap hari pukul 12, pulang dari pulau utama Karimunjawa pukul 13. Biaya pergi-pulang 400 dolar per orang. Untuk reservasi, kontak Nita (tel. 085225739888, 024-76632510).

 

BOKS 3:
Jangan Lupa Kayu Dewadaru

Pernak-pernik hasil laut banyak dijual di dekat dermaga feri Karimunjawa. Harga pernak-pernik kerajinan ini sangat murah, antara Rp 5-15.000, namun mutunya kalah bagus dibanding hasil kerajinan laut yang ada di Pantai Kartini Jepara, tak jauh dari dermaga feri. Kalau masih sempat, mampirlah ke sini sebelum pulang ke Jakarta. Lampu-lampu gantung dari kerang, misalnya, harganya hanya Rp 30.000.

Oleh-oleh khas Karimunjawa yang patut dibeli adalah hasil kerajinan kayu dewadaru, setigi, dan kalimasada. Ketiganya kayu-kayu khas Karimunjawa, dan umumnya penggunaannya dicampur karena dilarang menjual ke luar pulau dalam bentuk kayu tunggal utuh. Coba kunjungi pusat kerajinan kayu Dadi Rejo (telp. 0819-14048415, 0297-312130), di sebelah barat lapangan P. Karimun. Mualifin, pemiliknya, membuat bermacam-macam kerajinan kayu ini, mulai dari tasbih (Rp 15-20.000), asbak (Rp 40.000), keris (Rp 50 ribu) hingga tongkat bantu berjalan (Rp 45-80.000). Toko kerajinan kayu dewadaru juga ada di depan Homestay Prapatan.

 

Posted by Teguh Sudarisman in Weekend Trips, 0 comments