Cycling Borobudur

Tinggallah beberapa hari di Borobudur dan temukan mutiara-mutiara lain yang masih terpendam.

Saya baru saja merebahkan diri, mencoba menikmati rasanya tiduran di salah satu vila sebuah resor termahal di Jawa, ketika sebuah panggilan di handphone mengagetkan saya. “Pak, saya dan teman-teman sudah siap di depan Amanjiwo,” suara santun Pak Umar terdengar di sana.

Jam dua siang, saya memang punya janji untuk tour sepeda mengelilingi desa-desa di sekitar Candi Borobudur dengan La Boca, grup bersepeda di Borobudur. Pak Umar adalah ketuanya. Tapi saya tidak mengira akan secepat ini. Kolam renang pribadi dan pemandangan Candi Borobudur yang megah di kejauhan sana pun terpaksa saya tinggalkan dulu.

Tujuh orang sudah menanti di halaman depan. Sembilan sepeda gunung disandarkan di pagar tembok resor. “Yang ini buat Bapak, yang itu buat Pak Jan. Kita masih menunggu dua orang lagi,” Pak Umar menunjuk dua sepeda gunung yang tampak kokoh dan baru. Wow, sepeda yang untuk saya pakai berwarna merah mengilap, dengan dua ‘tanduk’ di setangnya.

Jan, teman fotografer yang mendapat sepeda warna biru, segera melakukan pemanasan. Posturnya yang tinggi besar membuatnya mudah mengendalikan si roda dua. Sementara saya, hampir saja terjatuh kalau saja kaki tidak segera menapak tanah. Selain karena ternyata sadelnya terlalu tinggi dan rem roda depan terlalu pakem, mencoba sepeda balap ini juga yang pertama kalinya sejak saya terakhir kali bersepeda… 13 tahun yang lalu!

Dua orang yang ditunggu kemudian datang. Pak Yudi, yang sehari-hari menjadi pemandu wisata di Candi Borobudur, datang bersama Michael, warganegara AS yang menikah dan menetap di Pulau Samosir-Sumatra Utara, yang tengah berlibur di Borobudur. Di belakangnya ada lagi Pak Wiedy, teman Pak Umar dan juga pengelola website Borobudurcycling.Com yang mempromosikan wisata sepeda sekitar Candi Borobudur. Ia datang naik sepeda motor. “Saya jadi pengiring saja, kalau-kalau Bapak capek,” katanya.

Kami pun memulai tur sepeda dengan melalui jalan raya Desa Majaksingi di samping barat resor. Jalan aspal yang mulus dan menurun membuat kami semua melesat dengan cepat, meski saya tercecer di belakang karena masih berhati-hati mengendarai sepeda baru saya.

Namun jalan yang mulus segera berakhir begitu rombongan kemudian membelok ke kanan dan memasuki jalan tanah yang menaik dan menuju persawahan. Kalau yang lain sukses melewati tanjakan kecil, saya, yang telat memindahkan gigi roda, terpaksa turun dari sepeda dan menuntunnya. “Gimana Pak, perlu saya bantu?” Pak Wiedy dari belakang saya, menawarkan jasa. Saya cuma bisa meringis. Sialan, rupanya dari tadi dia agak mengkhawatirkan saya.

Sawah-sawah yang ada di kanan kiri jalan setapak yang kami lalui, yang kebanyakan ditanami jagung, kacang, dan mentimun, membuat saya tertegun. Di sisi kiri saya, tampak Candi Borobudur berdiri kokoh di kejauhan. Di kanan saya Bukit Menoreh yang atasnya tertutup awan, sedangkan di depan saya, dua gunung tampak berdiri berdampingan: Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Puncak Merapi tampak mengepulkan asap. Hmm, kenapa baru sekarang saya tahu keindahan ini. Dulu, saya memang pernah mengunjungiBorobudur. Tapi itu sudah lama sekali, sewaktu saya masih duduk di SD. Itu pun hanya naik ke candinya saja, tak pernah tahu seperti apa kehidupan desa-desa di sekitarnya. Sungguh sayang.

Kami memasuki Desa Malangan yang rimbun dengan pepohonan, terutama pohon mangga. Jalan-jalan tanahnya rapi dan bersih. Sesekali kami melewati penduduk yang tengah menyapu dan anak-anak yang bermain di pekarangan. Kami lalu melewati Desa Parakan Ngargogondo, dan setelah melewati sungai, kami masuk Desa Wanurejo. Kami semua turun begitu sampai ke sumber air kecil yang ternyata airnya berasa seperti air laut yang mengandung besi.

Kami masuk lagi ke jalan beraspal, dan tak lama kemudian sampai ke Rikrok, sebuah rumah yang membuat berbagai kerajinan tangan. Seorang wanita tengah mengerjakan pensil-pensil yang mempunyai pangkal berbentuk kepala boneka berambut ikal. Pensil-pensil itu, kalau dijual dalam jumlah banyak, dari rumah ini harganya cuma Rp 500 per buah.

Masuk lagi ke perkampungan, kadang kami tak hanya melewati jalan-jalan desa, tapi juga gang-gang dan pekarangan rumah, sebelum kemudian kami sampai ke sebuah rumah joglo tua, yang ada di Desa Njowahan. Meski tampaknya tak ada yang istimewa, namun yang membuat saya kaget, beberapa potong ubin yang ada di rumah ini ternyata batunya diambil dari Candi Borobudur!

Di seberang rumah ini saya mengunjungi rumah Nuryanto, yang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan, di antaranya patung-patung cetak dari resin pesanan sebuah akademi militer di Magelang, suvenir dari kayu berbentuk penabuh gamelan, serta furnitur dan aksesoris rumah. Untuk memasarkan produknya, Nuryanto, yang sudah membuat kerajinan tangan sejak kelas 5 SD, bekerja sama dengan pemandu wisata, tukang becak maupun tukang andong di sekitar Borobudur. Kepada mereka ia mengaku memberi komisi 20% jika terjadi transaksi.

Kami menyeberangi jalan raya –yang kemudian saya tahu itu jalan raya utama dari Majaksingi ke Borobudur– lalu memasuki Desa Ngaran, lalu Gopalan. Borobudur kini di sisi kanan kami, dan tampak lebih dekat dan besar. Kalau saya tak puas-puas mengagumi monumen Buddhist yang agung itu, penduduk desa tampaknya tidak. Mereka asyik saja bekerja di sawah di kanan-kiri jalan.

Masuk ke Desa Tanjungsari, kami berhenti di depan rumah seorang nenek yang tengah membersihkan kedelai. Begitu masuk dari pintu samping, ternyata rumah ini adalah pabrik tahu. Dua lelaki tampak sedang bekerja. Yang satu mencetak tahu, yang satu lagi –dengan bertelanjang dada– tengah menggoreng tahu di sebuah wajan besar. Tahu yang ukurannya agak besar, sedikit berair dan masih panas itu pun menjadi pengganjal perut kami.

Hari sudah sore, dan desa terakhir yang kami kunjungi adalah Nglipoh, pusat kerajinan tembikar. Sepasang suami tengah mengolah tanah liat, dan di samping mereka ada tempayan dan barang-barang dari tembikar yang belum kering. Kalau sudah kering, bersama dengan tembikar milik para tetangga, mereka membakarnya bersama-sama di sebuah tungku tradisional berbentuk seperti rumah gubuk. Hmm, saya tidak mengira, di Pulau Jawa yang sudah modern ini ternyata masih ada penduduk yang membuat tembikar dengan cara begitu tradisional.

Kami memutar melalui rute lain, kembali menuju Desa Gopalan, lalu Desa Ngaran. Menyusuri jalan raya, kami pun akhirnya sampai di pagar luar Candi Borobudur. Kami bisa saja masuk hingga ke pelataran candi, namun Pak Umar memutuskan untuk berhenti di markas La Boca, di samping sebuah warung makan. Tur sepanjang 6 kilometer selesai, dan kami semua, saya terutama, merasa capek sekali, tapi senang. Kini saatnya kami mengisi perut dengan soto, sate, atau tongseng, sebelum azan magrib bergema. (T)

 

Apa Lagi yang Bisa Dilakukan?
 
Bersepeda Naik Bukit
Selain tur ke desa-desa, La Boca, yang mempunyai 30 anggota, juga mengadakan tur sepeda yang lebih advance, menjelajahi desa-desa penuh pohon rambutan, menyeberangi sungai, naik ke Bukit Kupatan, hingga masuk ke hutan konservasi di perbatasan Kecamatan Salaman.

Jarak yang ditempuh sekitar 20 km. Tapi ini hanya untuk yang berpengalaman dan punya stamina tinggi. Grup ini juga mengadakan tur sepeda naik ke Gunung Sundoro. Kontak Umar di 0813-28432077

Borobudur Sunrise
Dari puncak Borobudur, menikmati matahari keluar dari sela antara Gunung Merapi dan Merbabu adalah keindahan yang sulit dilukiskan. Apalagi saat matahari mulai menyinari arca-arca Buddha. Bulan Juni hingga Oktober adalah waktu yang sempurna. Semua hotel di Borobudur bisa membantu anda untuk mengadakan trip ini.

Tur Tiga Candi
Start dari depan hotel tempat menginap, dengan andong kita mengunjungi Candi Pawon, Candi Mendut, mampir ke desa Keji yang para penduduknya merupakan pemahat batu, hingga ke Candi Ngawen. Ini sebuah candi Hindu namun di dalamnya terdapat arca Buddha.

Rafting di Sungai Elo
Sepuluh menit dari Candi Borobudur terdapat Sungai Elo, dengan jeram-jeram tingkat 2-3 yang masih bisa untuk rafting keluarga, bahkan anak-anak. Jarak yang ditempuh sekitar 12 km, dimulai jam 9 pagi. Saat weekend, sungai ini ramai oleh para rafter. Yang ingin jeram dengan grade lebih tinggi bisa ikut rafting di Sungai Progo, yang di satu titik juga bertemu dengan Sungai Elo. Kontak Lareangon Indonesia di 0817-6800446 atau 0817-6677450.

Naik Gajah
Pengelola Taman Wisata Borobudur (Tel: 0293-788266) mempunyai 4 gajah –yang akan ditambah 3 lagi– yang bisa disewa untuk dinaiki. Dulu rute naik gajah ini sampai ke Amanjiwo dan ke desa-desa sekitar candi, namun kini hanya ke Bukit Ndagi, di sisi barat kompleks Candi Borobudur. Tur ini juga bisa dipesan melalui hotel tempat menginap.

Menonton Dayakan
Di sekitar Borobudurada 88 macam kesenian rakyat, dan  total ada 225 macam kesenian di Kabupaten Magelang. Jika kita meminta, kita bisa menonton langsung di desa asal kesenian itu. Kesenian Dayakan, misalnya, tampil dengan kostum mirip orang-orang Dayak, dengan gerakan yang rancak dan dinamis. Iringan musik dan lagunya bernuansa Islam, namun dalam kesenian ini juga mengancung unsur magic dan para pemainnya ada yang trance. Selain dengan Pak Umar, kontak untuk bersepeda dan aktivitas-aktivitas tambahan di Borobudur ini: Wiedya Antara, Tel: 0817-9416567, E-mail: info@borobudurcycling.com, wiedyantara@yahoo.com, www.borobudurcycling.com

 

Di Mana Menginap?

Amanjiwo (Tel: 0293-788333, Fax: 0293-788355, E-mail: amanjiwo@amanresorts.com, www.amanresorts.com)
Resor termewah di Pulau Jawa, 2 km selatan Candi Borobudur, tepat di kaki Bukit Menoreh. Ada36 vila mewah yang membentuk struktur seperti Borobudur, sebagian menawarkan pemandangan langsung ke candi. Tarif per malam mulai dari US$ 750, dengan diskon khusus semua jenis vila bagi warna negara Indonesia.

Saraswati Borobudur (Tel: 0293-788843, 5503643, Fax: 0293-788842, E-mail: info@saraswatiborobudur.com, www.saraswatiborobudur.com)
Hotel butik yang cantik dengan 18 kamar, hanya beberapa langkah dari Candi Borobudur. Jangan lewatkan makan malam dengan menu-menu yang lezat di hotel ini. Tarif kamar per malam mulai dari US$ 150, diskon hingga 50% jika reservasi secara online.


Manohara Hotel
(Tel: 0293-788131, 788680, Fax: 0293-788679, E-mail: sales@manoharaborobudur.com, www.manoharaborobudur.com)
Satu-satunya hotel yang ada di dalam kompleks Candi Borobudur. Dengan 30 kamar, tarif per malam mulai dari Rp 625.000. Jika menginap di sini, untuk tur Borobudur Sunrise cukup membayar Rp 175.000. Jika bukan tamu, membayar Rp 220.000 (orang Indonesia) dan Rp 320.000 (orang asing).

Catatan:
Foto utama Dok. Amanresorts

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

Leave a Reply