From Tongging to Silalahi
Dua desa di sisi barat laut Danau Toba ini menawarkan ketenangan dan pemandangan yang indah.
Jalan aspal yang menurun tajam dan berkelok-kelok dari Air Terjun Sipisopiso menuju Danau Toba itu membuat kami tak sabar untuk segera sampai. Desa Tongging, yang berada di tepi danau dan menjadi tujuan kami, tampak sebagian ditutupi kabut yang turun dari bukit-bukit di sekelilingnya.
Kami, saya dan teman seperjalanan Vivi, baru saja dari air terjun yang terkenal itu, dan bermaksud bermalam di Tongging. Desa ini masuk wilayah Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Kami memang dalam perjalanan mengelilingi sisi barat Danau Toba, dan ini baru hari kedua. Tadi pagi kami berangkat dari Tolping di Pulau Samosir yang menjadi titik awal kami, naik angkutan umum ke Simanindo. Dari sini kami menyeberang ke Tigaras, lalu naik angkot dua kali sebelum sampai ke pertigaan Tongging-Merek di mana kami bertemu Ronal, tukang becak motor yang kemudian mengantar kami ke Air Terjun Sipisopiso. Besok kami mau ke Silalahi, terus ke kota kopi Sidikalang. Sekarang sudah terlalu sore, jadi kami mesti mencari penginapan dulu di sekitar sini.
Atas saran seorang tukang parkir, kami menuju Penginapan Roman Sinasi, yang konon hanya Rp 50 ribu per malam, namun letaknya agak jauh dari desa. Ronal mengantar kami hingga sampai di tepi danau, yang dipenuhi warung-warung penjual menu ikan bakar khas daerah ini. Kami mampir ke Hotel Anugerah yang tampak seperti istana dan berhalaman luas. Tapi kami kurang cocok dengan tarifnya yang Rp 200 ribu per malam, tidak termasuk sarapan. Sang penjaga menganjurkan kami menginap di Hotel Borneo di samping hotel ini, yang hanya Rp 100 ribu per malam. Namun kami hanya melewatkan saja setelah melihat tempatnya yang kecil dan sepi.
Ronal membawa kami melewati dermaga kecil berisi kapal-kapal kayu yang tengah sandar, lalu membelok ke kanan melewati pasar, kampung, gereja, hingga sampai ke jalanan sepi lagi. Akhirnya, sampai juga kami ke penginapan yang dituju: Roman Sinasi Bungalows. Penginapannya sungguh cantik dan asri, gaya bangunannya perpaduan antara Batak dan ornamen Bali. Sang manajer, Asni, mengajak kami melihat kamar-kamar yang dimilikinya, yang semuanya ada 11. Kami akhirnya memilih di tingkat atas dari salah satu rumah panggung, yang memiliki fasilitas air hangat dan tivi, dan hanya Rp 125 ribu per malam, termasuk sarapan pagi.
Kanan-kiri penginapan ini diapit oleh sawah, sedangkan halaman belakang berbatasan langsung dengan Danau Toba, dengan sebuah gazebo untuk duduk-duduk melihat pemandangan danau. Beberapa orang tampak memancing di pinggir danau di luar pagar penginapan. Tampaknya mereka akan memancing sampai malam, karena sampai pukul 20, saat kami kembali ke kamar untuk makan, mereka masih memancing, ditemani bunyi jengkerik dan berbagai serangga malam.
Makam Indah di Tepi Danau
Sunrise yang kami tunggu-tunggu dari gazebo tidak muncul, jadi kami hanya memotret para nelayan yang tengah mengecek bubu-bubu ikan mereka di danau dengan sampan. Para pemancing ternyata masih setia nongkrong di pinggir danau, dan membuat saya bertanya-tanya, apakah kesabaran mereka sepadan dengan hasil ikan yang didapat.
Satu-satunya angkot yang melayani jurusan Tongging ke Silalahi –11 km ke arah selatan– ternyata sudah lewat ketika kami tengah sarapan, sehingga saya dan Vivi harus berjalan balik dulu ke dermaga perahu untuk mencari angkutan apa saja yang bisa membawa kami. Untungnya hari ini cerah sekali, langit biru menghiasi bukit di kiri kami, sementara di kanan kami sawah hijau menguning hingga ke pinggir danau.
Beberapa kali kami mengacungkan jempol untuk menumpang mobil yang lewat, tapi semuanya tidak ada yang menuju Silalahi. Kami melewati Gereja HKBP Tongging yang ramai oleh suara anak-anak. Saya mendadak ingat kalau ini hari Minggu. Pasti mereka sedang sekolah minggu. Pantas saja sepanjang jalan kemudian saya lihat penduduk sini berjalan kaki dengan pakaian yang bagus-bagus, sambil membawa Alkitab.
Di dekat dermaga, yang ada hanya angkot-angkot menuju Merek, berlawanan arah dengan tujuan kami. Ada perahu tempel kecil yang mau mengantar ke Silalahi, tapi ongkosnya minta Rp 300 ribu. Ada lagi satu kapal kayu yang cukup besar dan berisi orang-orang, tapi ternyata telah disewa oleh satu keluarga besar, hendak menuju Haranggaol. Salah seorang di kapal itu ternyata Radot, kakak Asni. “Mas ikut kami saja. Kami mau pesta!” ajaknya. Kalau saja arahnya dekat Silalahi, kami pasti ikut.
Kami akhirnya mendapatkan dua tukang ojek yang mau mengantar ke Silalahi, masing-masing dengan biaya Rp 50 ribu. Kami pun melaju menyusuri jalan-jalan aspal di pinggir danau, yang di beberapa bagian agak rusak. Air danau begitu tenang, dan bukit-bukit di seberang sana tampak berlapis-lapis, sungguh menyegarkan mata.
Di belokan jalan tak jauh dari Desa Paropo, saya melihat sebuah kompleks makam keluarga yang berada di bukit kecil yang menjorok ke danau. Salah satu makam itu berwarna hijau pupus dan berbentuk seperti Tugu Monas mini. Saya pun meminta Jo, tukang ojek saya, untuk berhenti. Dari nama yang tertera di salah satu batu nisan, tampaknya ini makam keluarga marga Manihuruk. Dari sekian banyak makam yang saya temui selama mengelilingi Toba, menurut saya makam ini yang paling indah. Saat berdiri di cungkup makam yang paling tinggi, rasanya saya seperti sedang berdiri di anjungan kapal besar yang tengah mengarungi danau, dengan lima bukit di depan sana membentuk lapisan-lapisan hingga jauh sekali.
Pantai Mutiara
Kami melewati Desa Paropo, lalu Kodon-kodon, Batu Horbo, dan setelah melewati monumen Tugu Raja Silahisabungan, kami memasuki Desa Silalahi, yang tampaknya terbagi atas Silalahi III, Silalahi II, dan Silalahi I. Ternyata desa ini sudah masuk wilayah Kabupaten Dairi. Keramaian desa berpusat di satu-satunya jalan aspal yang kami lewati. Kedua tukang ojek mengira kami akan ke tempat wisata, jadi mereka mengantar kami hingga ke Pantai Mutiara, sekitar 1 km membelok ke timur setelah melewati desa.
Meski bukan di tepi laut, orang di sini kreatif juga menamai tepi danau yang landai dan berpasir putih agak abu-abu itu dengan sebutan ‘pantai’. Garis pantainya lumayan panjang, ada warung-warung dan penyewaan ban untuk mengapung. Pusat Desa Silalahi kini tampak ada di seberang sana. Di bagian yang agak ke timur dari tempat saya berdiri, anak-anak belasan tahun tengah berenang. Tapi di sini sepi dan teduh, dan lama-lama bisa bikin mengantuk, karena ombak di sini tenang sekali, hanya riak-riak kecil saja. Sewaktu hendak mencuci tangan, tadinya saya ragu-ragu, kuatir kalau tangan saya jadi lengket. Saya kemudian ingat kalau ini pantai di danau air tawar, bukan di tepi laut yang airnya asin!
Kami mencegat becak motor untuk kembali ke pusat Desa Silalahi, untuk mencari angkot yang ke kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi. Dari sana nanti kami hendak meneruskan ke Bakkara, ujung barat daya Danau Toba.
Dirman, sang supir becak, adalah anak muda yang baik hati. Ia bertanya-tanya ke beberapa orang di pinggir jalan, bahkan menelepon seseorang, menanyakan kapan jadwal angkot ke Sidikalang. Angkot di sini memang tidak setiap saat ada, tapi hanya beberapa kali saja dalam sehari. Ketika ia tahu jadwal angkotnya pukul 11.30, dan angkot itu masih dalam perjalanan menuju ke Silalahi, Dirman pun membawa kami ke Tugu Raja Silahisabungan untuk mengisi waktu. Sekarang baru pukul 10.50.
Tugu yang diresmikan 27 November 1981 dan menghadap Danau Toba ini menjulang tinggi, dengan dinding bagian dasarnya berisi relief-relief dan silsilah Raja Silahisabungan yang menurunkan banyak marga Batak, salah satunya marga Silalahi. Dari kedua istrinya, yakni Pinggan Matio dan Siboru Nailing, sang raja menurunkan 8 putra dan 1 putri. Salah satu relief yang unik adalah gambaran yang mirip dengan cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari kalau di Pulau Jawa.
Ternyata relief itu menggambarkan saat-saat Raja Silahisabungan memilih Pinggan Matio, putri Raja Parultep dari negeri Pakpak, sebagai istrinya. Silahisabungan merupakan orang yang sakti, dan Raja Parultep ingin mengujinya dulu sebelum Silahisabungan bisa menikahi putrinya itu. Silahisabungan diminta menunggu di seberang sungai, dan harus menebak siapa di antara putri-putri Raja Parultep yang menyeberang itu yang Pinggan Matio. Ternyata Silahisabungan bisa menebak dengan tepat, yakni putri yang sewaktu menyeberang sungai tidak mengangkat kainnya. Putri-putri yang lain, yang berani mengangkat kain sehingga terlihat kakinya –mungkin waktu itu dianggap tidak pantas– ternyata juga bukan manusia, melainkan makhluk jadi-jadian.
Dirman mengantar kami ke tempat mangkal angkot, dan tak lama kemudian, angkot dari Sidikalang datang dan berputar balik, dan kami pun naik. Masih panjang perjalanan kami menyusuri tepi Danau Toba, namun pengalaman setengah hari dari Tongging ke Silalahi ini sungguh mengesankan…. (T)
Mencapai Silalahi
Tongging dan Silalahi bisa dicapai melalui rute Medan-Brastagi-Kabanjahe-Merek-Tongging-Silalahi. Kalau diburu waktu, membawa atau menyewa mobil lebih baik daripada naik angkutan umum, yang jadwalnya tidak tentu.
Lebih mudah mencari penginapan di Tongging daripada di Silalahi. Beberapa penginapan yang cukup bagus:
Hotel Anugerah
Jl. Souk-souk, Desa Tongging
Tel: +62 815 34033060, 813 70888760
E-mail: anugerah.tongging.hotel@gmail.com
Roman Sinasi Bungalows
Jl. Silalahi-Tongging, Desa Tongging
Tel: +62 812 33291995
Wisma Sibayak (di samping Roman Sinasi)
Jl. Silalahi-Tongging, Desa Tongging
Tel: +62 813 61690628
Catatan: Artikel ini merupakan prekuel dari artikel yang telah dipublish sebelumnya, yakni One Night in Bakkara. Silakan baca artikel ini dulu baru kemudian membaca artikel tentang Bakkara.


KEREEENNNN…..
Thanks Marl Pengelana (beneran)
WAAHH , SERU YAAA ..
SAYA JUGA BARU PULANG LIBURAN DI TUK – TUK DAN TOMOK ..
KALAU UDA LIBURAN DI TANAH BATAK , PASTI SEJUTA CERITAA MUNCUL
HORAAASSS !!
Hai Friska!
Iya, kalau liburan ke seputar Danau Toba sih nggak akan bosen, soalnya tempat-tempatnya bagusss. Ke sana lagi beberapa kali juga mau. Coba next time mampir ke Tongging, Silalahi, dan juga Bakkara – ada tulisannya di website ini.
Horassss juga!
Aku Dulu KKN di MEREK mas… jadi setiap sore jalan kaki ke sipiso-piso, mandi2, makan jagung dll… I love this place…kalo malam dinginnya minta ampunnn…!!! bayangin 2 bulan disana badan bener2 menggigillll..!!!
Wah, enak bener yak KKN di Merek, banyak tempat yang indah buat dikunjungi. Waktu aku ke Tongging koq nggak dingin-dingin amat ya, cuma sejuk aja
Syalom, melihat keindahan tersebut di atas, saya, suami dan anak, Januari lalu setelah tahun baru di Medan (jam 3 pagi) ke sana. Sungguh asyik, kami dari Medan ke Tebingtinggi, Siantar, Raya, Merek, Sidikalang, Taman Wisata Iman, turun dan menginap di Silalahi. Keesokan harinya ke Tongging, lalu ke Merek lagi nuju Kabanjahe, Brastagi, pulang menuju Medan. Sungguh asyik deh, pemandangan menakjubkan di perjalanan.
Wah, Mbak Farida sudah menjelajah lebih banyak dibanding kami. Harus ke Danau Toba lagi aahh!
Artikel ini dimuat di Majalah Cita Cinta edisi no 12/XIII….Keren euy…
Yang di CitaCinta hanya ‘ringkasan’ ya krn jumlah halamannya terbatas. Lebih komplit di sini.
)
Kalo yang namanya daerah kabupaten Dairi sih gk usah diragukan lagi tman2 ,
aq anak sidilkalang tepatnya dekat dengan taman wisata iman sitinjo Dairi .
tapi aq berharap ini akan selamanya dan tidak hilang karena kemajuan teknologi .mari kita cintai tanah air kita INDONESIA .HORASSSSSSSSSSSSS
Thanks Sartina. Iya, Di Kabupaten Dairi banyak tempat yang cantik dan hal-hal unik. Next time kami mau menulis tentang kemenyan dan kopi Sidikalang. Salam.
Ada yang tau no telepon Hotel Anugerah Tongging? Saya coba hub 2 no hp yang di atas ga ada yang aktif. Thanks
Hai Mas Daniel,
Iya mungkin nomornya sudah ganti, karena waktu kami ke sana, hanya ada satu penjaga, tidak tampak yang lain. Mungkin alternatifnya bisa ke Roman Sinasi Bungalows.