18 Comments

  1. Emakmbolang
    2015/03/28 @ 5:04 PM

    Dah lama nggak kesini. kalaupun kesini sibuk makan salak pondoh dibelakang rumah saudara yang berada di kaki Merapi. Merapi juga terlihat gagah dilihat dari merbabu. Fotonya keren keren!

    Reply

    • admin
      2015/03/28 @ 7:49 PM

      Wahh, dua-duanya belum sempat (liputan Salak Pondoh & lihat Merapi dari Merbabu). Waktunya kemarin nggak cukup. Memang mesti ke Jogja lagi. 😀

      Reply

      • Emakmbolang
        2015/04/01 @ 5:06 PM

        Seperti kata temen “Selalu ada alasan tuk kembali” hehehe bilang aja doyan mbolang. Gemesss sama foto foto hasil jepretan e sampeyan. mesti keren dan HIDUP.

        Reply

        • admin
          2015/04/01 @ 9:29 PM

          Hehehe, monggo silakeun. Takkan lari gunung dikejar. Alhamdulillah ada usaha lah motretnya 😀

          Reply

  2. Salman Faris
    2015/04/15 @ 10:15 PM

    Good Morning, jakartahh hehehe, fenomenal Mas tulisan ini, akoh sukak 😀

    Reply

    • admin
      2015/04/16 @ 5:52 AM

      Iya Mas, sebenarnya tripnya nggak begitu ‘heboh’ atau adventurous gitu ya, cuma lebih banyak untuk mengamati dan mencoba merasakan gimana kalau aku sendiri yang jadi penduduk di sekitar Merapi dan kena dampak letusan.

      Reply

  3. Sarah
    2015/06/25 @ 9:19 PM

    Thanks artikel dan hasil jepretannya mas,,luar biasa, mengingatkan kembali pada fenomena Mbah Marijan sang Juru Kunci.

    Reply

    • admin
      2015/06/26 @ 5:57 PM

      Sama-sama Mbak Sarah. Semoga bisa kembali lagi ke Merapi dan menengok Mbah Marijan. Please share.

      Reply

  4. Rifqy Faiza Rahman
    2015/08/19 @ 6:16 PM

    Masya Allah, foto-fotonya keren. Penasaran melihat Merapi dari sisi lain. Dulu saya waktu mendaki dari selo dan camp di Pasar Bubrah, sebenarnya agak was-was juga jika Merapi tiba-tiba murka 😀

    Reply

    • admin
      2015/08/19 @ 7:22 PM

      Ohh itu dari sisi utara ya Mas. Ini dari sisi selatan yang bekas aliran lava. Asyik koq Mas, apalagi kalau sepi ndak ada turis lainnya.

      Reply

  5. Sandi Iswahyudi
    2015/08/26 @ 4:25 PM

    foto dan tulisannya hidup. Ingin rasanya belajar untuk memperdalam teknik foto. Supaya perjalan yang saya lakukan nantinya terasa hidup. Foto seperti di atas bapak kecilkan dahulu ukurannya atau tidak pak?

    Reply

    • admin
      2015/08/26 @ 6:13 PM

      Hehehe iya Mas, belajar sambil jalan aja. Banyak koq buku untuk belajar fotografi. Iya foto utama diresize ke ukuran 1024 piksel, sementara foto-foto yang ada di dalam artikel ukuran sisi panjang 640 piksel. Resize pakai Picasa saja, menu Export.

      Reply

  6. Sie-Thi Nurjanah
    2015/09/19 @ 11:12 AM

    Super sekali tulisan dan hasil potret pak Teguh. Selalu menemukan sisi unik dari penyampaiannya

    Reply

    • admin
      2015/09/20 @ 5:13 PM

      Hehehe, terima kasih. Semoga bermanfaat ya. Please share. 🙂

      Reply

  7. Margumy
    2016/01/21 @ 12:01 PM

    Boleh juga kalo ada waktu nanti ikut tur ke Merapi. Foto dan tulisannya keren. Top deh.

    Reply

    • Teguh Sudarisman
      2016/01/21 @ 2:04 PM

      Rencana baru akhir April aku mau mengadakan trip yang salah satunya ikut tur sunrise Merapi. Ikut yaa!?

      Reply

  8. Darul Azis
    2016/02/22 @ 12:43 AM

    Senang membacanya Pak. Terimakasih sudah berbagi.
    Ditunggu tulisan2 terbaik berikutnya, karena saat ini saya sedang belajar menulis tentang perjalanan. Hehe

    Salam

    Reply

    • Teguh Sudarisman
      2016/02/24 @ 7:40 AM

      Hehehe terima kasih sudah berkunjung, Mas Azis. Tunggu ya tulisan-tulisan berikutnya.

      Reply

Leave a Reply