Heading up to Mat Cincang
Dari kereta gantung, cokelat, elang, hingga dayang bunting, semuanya menanti-nanti di Langkawi.
Ada satu hal yang membuat saya agak kaget ketika baru check-in di Berjaya Langkawi Beach & Spa Resort di Burau Bay, sisi barat Pulau Langkawi. Untuk menuju kamar, saya dan kopor saya mesti naik lagi ke mobil yang disediakan resort ini, dan broommm… dengan ketangkasan yang mengagumkan, sang supir pun membawa saya –dan tamu-tamu hotel yang lain– menanjak, menikung, dan sesekali mengerem, hingga saya sampai di depan pintu vila.
Terdengar menakutkan? Tidak juga, sih. Masalahnya, dengan 409 kamar dan menempati kawasan seluas 28 hektar di kaki Gunung Mat Cincang, para tamu tak mungkin sampai ke chalet (vila) jika tanpa diantar dengan mobil. Apalagi, kontur tanah di resort ini naik turun.
Begitu sampai, di dekat pintu vila terpasang peringatan untuk selalu menutup pintu dan jendela, karena masih banyak populasi monyet di hutan belakang resort. Meski hanya menginap di vila tipe Premier Chalet –bukan Premier Chalet on Water yang berdiri di atas laut– saya masih menganggap untung karena letaknya tak terlalu jauh dari lobi, satu-satunya pusat keramaian di resort yang terpencil di sudut Langkawi ini.
Sayang sekali, saya datang hampir senja, jadi tidak sempat menikmati sunset maupun pantai pasir putih di depan resort. Yang masih bisa saya lakukan hanya menikmati suara angin, ombak, kicau burung dan teriakan monyet di kejauhan. Ketika malam menjelang, lampu-lampu dan sinar lilin tampak berkedip dari ujung chalet yang paling menjorok ke laut, yang tak lain Pahn Thai Restaurant. Mungkin sedang ada tamu yang menikmati candle light dinner di sana. Di salah satu sudut bukit resort ini ada Ayura Spa, yang menawarkan berbagai treatment massage dengan ramuan tradisional Malaysia. Namun saat ini saya sedang tidak berselera untuk me-review spa, jadi malam itu saya habiskan untuk istirahat menyambut aktivitas esok pagi.
Mengunjungi Mat Cincang
Tadinya saya mengira, Langkawi ini sebuah pulau yang besar, sehingga mungkin akan butuh waktu satu atau dua jam untuk mencapai Langkawi Cable Car dari Berjaya. Ternyata saya keliru. Oriental Village, di mana terletak Base Station alias stasiun pemberangkatan cable car, hanya lima menit saja berjalan kaki dari hotel. Ketika saya kembali membaca buku tentang Langkawi, saya baru tahu kalau luas pulau ini hanya 487 kilometer persegi, atau panjang dan lebarnya kira-kira 22 kilometer. Jika mengendarai mobil, 3 jam pun sudah selesai mengelilingi pulau.
Begitu sampai di depan loket karcis cable car, kembali pikiran bertanya-tanya, apa istimewanya cable car ini dibanding dengan yang di Taman Mini atau Ancol Jakarta?
Setelah membayar tiket masuk 30 ringgit (Rp 90.000) dan untuk anak 2-12 tahun 20 ringgit, saya pun masuk ke stasiun pemberangkatan. Barulah di sini perasaan saya mengerut merasakan bunyi gemuruh mesin dan melihat roda-roda baja besar yang berputar di atas kepala, menggerakkan kabel untuk menarik gondola. Dari sini pula, mengikuti arah bergeraknya gondola, barulah saya melihat jelas bahwa gondola-gondola itu bergerak menuju ke sebuah puncak gunung.
“Sila masuk,” suara petugas mengagetkan saya. Refleks, saya pun meloncat ke dalam gondola yang terbuka pintunya, namun tidak benar-benar berhenti. Dua orang lain ikut masuk ke dalam gondola berkapasitas enam orang ini. Pintu ditutup, gondola yang bergantung pada kabel baja tunggal berdiameter 5 senti itu pun meluncur pelan-pelan meninggalkan stasiun pemberangkatan.
Hutan, Burau Bay, dan pulau-pulau sekeliling Langkawi terhampar di bawah. Perjalanan gondola ini akan berlangsung dalam dua bagian. Pertama menuju Middle Station dengan jarak 1.700 meter, melewati dua menara penyangga. Dari Middle Station, gondola lalu membelok membentuk huruf L menuju Top Station dengan lintasan sepanjang 450 meter, sehingga total jarak yang ditempuh sekitar 2.150 meter. Jika ditempuh langsung pergi-pulang, konon lama perjalanannya hanya 15 menit.
Panjang lintasan cable car ini memang masih kalah dengan Ngong Ping Skyrail di Lantau Island, Hong Kong yang 5,7 km, atau Skyrail di Cairns-Australia, yang 7,5 km. Namun ada keistimewaan lain yang dimiliki Langkawi Cable Car, yakni adanya bagian lintasan perjalanan yang terasa seperti naik vertikal.
Gondola meluncur pelan, dengan kecepatan sekitar 3 meter per detik. Hutan hijau membentang di bawah. Di belakang, terlihat di kejauhan yacht-yacht ditambatkan di Telaga Harbour Park, lalu mulai terlihat Burau Bay dengan pantainya yang berwarna putih krem.
Gondola melewati menara penyangga pertama dan penyangga kedua dengan mulus tanpa hentakan. Begitu melewati menara kedua, pemandangan gunung batu di depan pun terbentang luas, dengan Middle Station di salah satu puncaknya. Ada rasa kagum melihat bagaimana cable car ini bisa melintas hingga ke puncak gunung, tanpa ada jalan darat satu pun di bawahnya. Konon, ketika dibangun tahun 2003 dengan teknologi Austria, semua material dan peralatan diangkut dengan menggunakan helikopter-helikopter raksasa.
Gondola terasa berjalan melambat dan menanjak, dan sesekali berdenyut-denyut. Jantung pun mulai berdebar kencang. Ternyata saya sudah sampai di bagian yang paling menegangkan, yakni antara menara kedua dan Middle Station. Lintasan ini merupakan bentangan yang paling panjang, 919,5 meter, dengan 608 meter di antaranya seperti nyaris vertikal. Padahal, jika sudut kenaikannya diukur dari awal perjalanan, gondola ini sebenarnya hanya menaik sekitar 42 derajat. “Ini belum seberapa ngeri. Coba nanti rasakan waktu pulang,” kata salah seorang penumpang yang kelihatannya sudah pernah naik.
Saya mencoba mengambil beberapa foto dan memandang ke sekeliling, untuk mengurangi ketegangan. Di sisi kanan, tampak Air Terjun Telaga Tujuh, di bawah rangkaian bukit, sebagian tertutup oleh kerimbunan hutan.
Untunglah, perjalanan selama 10 menit ini kemudian berakhir di Middle Station. Saya keluar dulu dari gondola, dan naik ke menara pandang yang ada di sisi kanan. Dari sini, kita bisa melihat ke segala arah. Angin dingin terasa menyapu tulang pipi, dan pemandangan dari ketinggian 652,5 meter dari atas permukaan laut ini sungguh menakjubkan. Selain bisa melihat Hanging Bridge dan Top Station di sisi barat, di sisi timur hampir seluruh Langkawi bisa terlihat, begitu juga pulau-pulau kecil di sisi selatan.
Puas menikmati pemadangan dan udara sejuk, saya naik ke gondola lain, menuju Top Station. Stasiun ini ada di ketinggian 705 meter, di puncak Gunung Mat Cincang. Perjalanan kali ini relatif lebih mudah, karena hanya menempuh waktu sekitar 4 menit dan hanya menaik sekitar 55 meter dari Middle Station.
Batuan Cadas Tertua
Ada yang menarik dari Gunung Mat Cincang (Machinchang) ini. Menurut para ahli geologi, gunung ini dan rangkaian gunung di sisi barat-utara Langkawi, terbentuk di Era Kambrium, sekitar 520 juta tahun yang lalu, dan merupakan salah satu pembentukan geologis paling tua di Asia Tenggara. Pembentukan ini membentang dari Pantai Kok di sisi selatan Langkawi Barat, hingga ke Teluk Datai di Langkawi Barat Laut, dan dianggap lansekap paling cantik di Langkawi. Mat Cincang, yang puncaknya membentuk figur wajah seorang lelaki sedang berbaring, merupakan gunung batu cadas dengan inti batu granit, dan merupakan gunung tertinggi kedua di Langkawi setelah Gunung Raya (890 m).
Penamaan gunung yang unik ini tak lepas dari legenda Langkawi, yang menyebutkan bahwa dulu Mat Raya dan Mat Cincang merupakan dua raksasa yang bersahabat, namun kemudian bertengkar hebat di hari pernikahan putra-putri mereka. Kuali-kuali mereka tendang hingga tumpah isinya, yang kemudian menjadi cikal bakal kota Kuah Town, ibukota Langkawi. Pertengkaran mereka bisa didamaikan oleh Mat Sawar, dan ketiganya lalu berubah wujud menjadi gunung, dengan Gunung Mat Sawar berada di tengah-tengah Gunung Raya dan Gunung Mat Cincang.
Turun di Top Station, ada tiga tempat yang menawarkan pemandangan berbeda. Dengan berjalan kaki menaik ke sisi selatan stasiun, kita sampai di South Platform, area pandang 360 derajat yang dilengkapi sebuah kafe. Di sini kita bisa sejenak melepaskan lelah dengan duduk sambil minum kopi, melihat pemandangan jauh ke bawah. Dari sini ada jembatan kecil menuju North Platform, di mana kita bisa melihat keseluruhan pulau, serta pemandangan Laut Andaman yang kehijauan di sisi barat, dan Pulau Ko Tarutao, Ko Adang serta Ko Lipeh di sisi utara, yang sudah masuk ke wilayah Thailand.
Alternatif lain, begitu keluar dari gondola, kita bisa berjalan kaki turun di sisi utara stasiun, menuju Hanging Bridge. Saya memilih yang ini dulu. Saya pun menuruni jalan setapak dari beton, berbelok-belok kira-kira 100 meter ke bawah. Di kiri-kanan jalan dipenuhi pohon-pohon seperti pohon meranti, namun paling besar hanya seukuran lengan orang dewasa. Batangnya berwarna kuning kemerahan dan keras seperti besi. Konon pohon-pohon ini berusia ratusan tahun, namun batangnya tak bisa membesar lagi, karena energi yang seharusnya digunakan untuk membesar, sudah terkuras untuk mencari air dan makanan di dalam batu cadas gunung.
Jembatan gantung dengan panjang 125 meter dengan lintasan melengkung setengah lingkaran, siang itu ramai oleh para turis yang berfoto-foto. Sesekali beberapa turis wanita memekik ketika jembatan bergoyang tertiup angin. Saat udara cerah, pemandangan di sisi barat menghadirkan bukit hijau tegak lurus, dengan Laut Andaman di bawahnya. Di atas kepala melintas gondola-gondola, dan di kejauhan tampak laut yang membiru. Jika cuaca tengah mendung, kabut akan menutupi puncak gunung dan pemandangan berubah menjadi keabu-abuan.
Saya kembali ke Top Station, dan sampai dengan terengah-engah karena kali ini harus berjalan menanjak. Sangat bagus untuk olahraga, pikir saya. Menurut seorang penjual suvenir, jalur menuju Hanging Bridge memang bagus untuk berjalan kaki pagi. “Tapi kalau menjelang sore, kita mesti berhati-hati karena biasanya saat itu hewan-hewan malam seperti ular mulai keluar mencari makan.”
Kalau masih mempunyai waktu, dari Top Station ini juga ada jalur trekking menuju ke Middle Station, terus hingga ke Recreational Park di dekat TelagaTujuh. Panjangnya sekitar 2,5 km. Ada jalur trekking berupa tangga-tangga beton, dan kita bisa memulai trekking dari atas atau dari bawah.
Seperti yang dikatakan penumpang satu gondola tadi, perjalanan turun dari Top Station ternyata jauh lebih menegangkan. Sebab begitu melewati Middle Station, kembali gondola melalui jalur dengan kemiringan hampir vertikal. Kabel gondola seperti ada di bawah kaki, dan gondola turun seperti lift yang tergantung di alam terbuka. Satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk mengurangi kecemasan adalah dengan sebanyak mungkin memotret pemandangan di Burau Bay.
Untunglah, perjalanan segera berakhir, dan begitu keluar dari stasiun pemberangkatan, saya segera menuju sebuah kafe di Oriental Village dan memesan segelas teh tarik. Satu tantangan telah berhasil saya selesaikan. (T)
Perhatikan Jadwal Pemeliharaan
Cable car Langkawi beroperasi setiap hari, Senin-Kamis pukul 10-18, Rabu pukul 12-18, Jumat-Minggu dan hari libur pukul 9.30-21. Namun cable car bisa berhenti beroperasi jika cuaca memburuk. Dalam setahun, cable car juga tidak dioperasikan beberapa kali untuk pemeliharaan. Cek jadwal pemeliharaan di www.langkawicablecar.com.my. Kontak: Langkawi Cable Car, Oriental Village, Jalan Telaga 7, 07000 Langkawi, Kedah, Malaysia, Tel: +60 4 959 4225, Fax: +60 4 959 4121.
Tempat Wisata Lain di Langkawi
Air Terjun Telaga Tujuh
Terletak tak jauh dari Langkawi Cable Car, pemandangan di air terjun ini disebut-sebut sebagai yang paling menarik di Langkawi. Aliran air dari 7 telaga turun membentuk air-air terjun pendek yang indah. Air terjun ini paling bagus dilihat dari atas, namun memerlukan trekking sekitar 1 km dengan medan yang cukup menantang.
Eagle Feeding di Sungai Kilim
Terletak di muara Sungai Kilim di timur laut Langkawi, hutan-hutan bakau seluas 100 km persegi di sini menjadi rumah bagi Elang Bondol (Brahminy Kite). Dengan berperahu, kita bisa ‘mengundang’ elang-elang ini dan memberi makan mereka dengan ikan-ikan kecil. Begitu terdengar bunyi perahu mendekat, elang-elang ini muncul, dan begitu potongan ikan dilempar ke sungai, mereka pun langsung menyambar. Diperlukan lensa yang cepat dan zoom panjang agar bisa mendapat gambar yang bagus.
Cokelat, Cokelat, Cokelat!
Sebagai wilayah duty-free alias bebas cukai, Langkawi merupakan surga belanja berbagai barang. Tapi yang pantas dibeli adalah cokelat, karena jumlah dan mereknya begitu banyak. Sudah pasti, oleh-oleh ini bisa membuat kantong jebol, karena harganya tidak murah-murah amat. Begitu juga tas dan barang-barang elektronik seperti kamera. Kalau dibandingkan dengan di Jakarta, harga kamera di sini lebih mahal meski tanpa embel-embel cukai. Toko-toko duty free bertebaran di Kuah Town dan juga di jalan utama Pantai Cenang.
Dataran Elang
Elang merupakan maskot Langkawi, dan karenanya, perlu dibuat patungnya yang besar, di lokasi yang strategis yakni di dekat pelabuhan feri dan yacht club, tak jauh dari Kuah Town. Tidak terlalu istimewa sebenarnya, kecuali bagi yang hobi foto-foto narsis dengan latar belakang landmark kota.
Tasik Dayang Bunting
Tasik atau danau ini terletak di sisi selatan Pulau Dayang Bunting, yang bisa dicapai kurang dari 30 menit berperahu motor dari dermaga Awana Porto Malai atau dari Pantai Cenang. Meski ujung selatan danau ini hanya terpisah beberapa meter dari laut, namun air danau ini tetap tawar. Dinamai ‘Dayang Bunting’ karena punggungan bukit pulau ini membentuk kontur seperti wanita hamil yang sedang telentang. Namun banyak orang yang menganggap danau ini membawa berkah, khususnya bagi pasangan suami istri yang ingin punya momongan. Saat weekend, danau ini penuh oleh pengunjung.
Pulau Payar, Singa, Beras Basah
Ketiganya merupakan pulau-pulau wisata yang terletak tak jauh dari Pantai Cenang. Di ketiga pulau ini kita bisa berkano, snorkeling, atau diving. Operator-operator trip di Pantai Cenang banyak menawarkan paket island hopping ke ketiga pulau ini sekaligus ke Tasik Dayang Bunting. Kontak Tasik Dayang Recreation, The Shop, Pantai Tengah, Langkawi, Tel: +60 4 9555551.
BOKS:
Legenda Langkawi
Langkawi, kepulauan yang terdiri dari 105 pulau (6 di antaranya timbul-tenggelam oleh pasang laut), terletak di negara bagian Kedah, Malaysia, berbatasan dengan Propinsi Satun, Thailand. Pulau utamanya, Langkawi, dulu hanya sebuah pulau sepi. Ibukotanya, Kuah Town, tak lebih ramai dari sebuah kota kecamatan kalau di Jawa.
Sepinya Langkawi konon tak lepas dari legenda Mahsuri, wanita suci yang dituduh ibu tirinya melakukan selingkuh, sehingga dihukum mati. Mahsuri pun mengutuk pulau tersebut terbelakang 7 turunan. Entah benar atau tidak, Langkawi baru berkembang setelah ditetapkan menjadi daerah duty free tahun 1987, setelah lewat masa kutukan 7 turunan tersebut. Meski demikian, jangan bandingkan Langkawi dengan Pulau Penang yang sangat modern.
Menuju dan Menjelajah Langkawi
Air Asia dan Malaysia Airlines mempunyai penerbangan ke Langkawi dengan transit di Kuala Lumpur. Langkawi juga bisa ditempuh dengan kapal cepat dari Pulau Penang, Kuala Perlis, dan Kuala Kedah – Malaysia, serta dari Satun – Thailand.
Angkutan umum jarang ditemui di Langkawi. Taksi tersedia di bandara, tapi mahal. Untuk mengeksplorasi Langkawi, paling praktis menyewa mobil atau sepeda motor. Sewa motor sekitar RM 20-25/hari, sedangkan sewa mobil mulai RM 100/hari untuk jenis sedan. Tempat paling mudah untuk mencari persewaan motor dan mobil adalah di daerah Pantai Tengah dan Pantai Cenang (Chenang), ‘Kuta’-nya Langkawi. Atau cek di sini: http://www.langkawi-info.com/rentcar/.
Di Mana Menginap?
Berjaya Langkawi merupakan resort bintang 5 yang paling dekat dengan Cable Car Langkawi. Letaknya di Jalan Karong Berkunci 200, Burau Bay 07000 Langkawi, Kedah, Malaysia Tel: +60 4 959 1888, Fax: +60 4 959 1886, Email: resvn@b-langkawi.com.my, http://www.berjayahotel.com/langkawi/. Dengan 409 suite dan chalet, 49 di antaranya dibangun di atas air, tersedia 7 tipe kamar: Rainforest Studio, Rainforest Chalet, Premier Chalet, Premier Chalet on Water, Junior Chalet on Water, Executive Suite on Water, dan Presidential Suite on Water. Rate mulai dari RM 750/malam (1 RM = Rp 3.000).
Resort mewah lain di dekat Burau Bay adalah Sheraton Langkawi, lalu ada The Datai dan The Andaman di barat laut pulau, Four Seasons di Tanjung Rhu di pantai utara Langkawi, serta Westin Resorts di dekat Kuah Town. Kalau ingin tinggal di daerah yang agak ramai, hotel/resort mewah hingga penginapan murah ada di Pantai Cenang. Cek di sini: http://www.langkawi-resorts.com/hotels/pantai-chenang.htm.

