Life is a Bridge

Kalau Gedung Opera sudah terlalu mainstream, saatnya mencoba tantangan yang satu ini!

Dua ikon Sydney bersisian.

Dua ikon Sydney bersisian.

Srekk, srekk, srekk, srekk!           

Suara-suara gesekan selongsong pengait memasuki alur kawat baja terdengar bersahutan. Itu pertanda bahwa kami, bersembilan orang, telah memasuki area Sydney Harbour Bridge dari pintu kantor BridgeClimb Sydney, di kaki jembatan sisi selatan. Kini kami semua terikat dengan kawat baja itu, karena selongsong pengait itu menyambung dengan tali yang menyatu dengan ikat pinggang yang membelit badan kami masing-masing.

Terikatnya kami ini tentu untuk alasan yang baik. Yakni, untuk berjaga-jaga kalau salah satu dari kami agak meleng dan terpeleset saat mengikuti tur mendaki jembatan yang menjadi ikon kota Sydney ini. Maklum, di bawah kami nanti pilihannya hanya tiga: jalan raya dengan mobil berseliweran, rangka-rangka baja jembatan, atau laut.

Tetap kokoh meski sudah berdiri sejak 1932.

Tetap kokoh meski sudah berdiri sejak 1932.

Ini baru bagian awal di pendakian jembatan yang menghubungkan sisi selatan dan utara Sydney ini. Sebelum memulai pendakian, tadi kami sudah menghabiskan banyak waktu di kantor BridgeClimb Sydney yang mengelola atraksi ini. Mula-mula kami berlima digabung dulu dengan dua pasang turis Amerika. Kami saling mengenalkan diri –yang dengan cepat saya lupa nama-namanya– sembari mengisi formulir kesehatan dan dites alkohol. Kami semua lolos tes, tapi satu teman saya Vesta terpaksa tidak bisa ikut mendaki, karena dia tengah berpuasa dan tidak mau membatalkan diri. Memang, sekarang tengah bulan Ramadan dan kebetulan saja kami berlima diajak Smailing Tour untuk ikut media trip ke Sydney. Jadi sekarang tinggal Ayu, Derry, Raymondo dan saya, plus empat turis Amerika tadi, yang sepasang di antaranya adalah kakek-nenek berusia 60-an.

Para pendaki Sydney Harbour Bridge berjejer seperti semut. (Foto: Raymondo Arditya)

Para pendaki Sydney Harbour Bridge berjejer seperti semut. (Foto: Raymondo Arditya)

Terus-terang persiapan mendaki ini cukup lama. Kami mesti menyimpan semua barang-barang kami di loker. Tidak boleh ada kamera, ponsel, perhiasan, sampai uang receh. Semua mesti disimpan di loker dan kuncinya kita bawa dan kalungkan ke leher. Oh ya, tidak boleh juga sepatu high-heels. Kami mesti memakai sepatu kasual atau kets yang solnya kesat. Kami lalu memakai pakaian overall khusus warna biru abu-abu, plus celana panjang tambahan dari bahan parasut. Kami juga memakai topi, membawa saputangan, memasang headphone, dan mengenakan sabuk yang ada pengaitnya tadi. Semuanya disediakan BridgeClimb Sydney. Ternyata di sabuk yang mirip sabuk Pak Satpam itu masih ditambah sebuah gembolan yang lumayan berat.

“Apa ini?” tanya saya kepada Mike, pemandu kami.
“Itu parasut,” jelasnya. Wajahnya serius.
Hahahaha! Pasti dia bercanda. Emang parasut buat apaan?

Sepertinya sih ini jaket hujan, untuk jaga-jaga kalau cuaca di atas jembatan memburuk. Tapi tidak sempat kami cek juga karena Mike segera mengetes headphone agar kami bisa mendengar apa yang dia katakan saat tur berlangsung. Setelah persiapan selesai, kami pun mulai berjalan menuju bagian saat memasukkan kait tadi. Mike memimpin kami paling depan, diikuti empat turis Amerika itu, lalu Ayu, Derry, saya, terakhir Raymondo. Beberapa rombongan turis lain sudah jalan duluan sebelum kami.

Masih di awal pendakian tapi pemandangannya sudah keren.

Masih di awal pendakian tapi pemandangannya sudah keren.

Mula-mula kami berjalan di rangka jembatan bagian bawah, dengan jalan raya di atas kepala kami. Sementara, di bawah kami taman dan jalan beton. Di bagian yang masih datar ini saja aura berjalan di ketingian, ditambah suara-suara mobil yang melintas di atas kepala, cukup membuat saya deg-degan. Untungnya, bagian ini hanya sekitar 50 meter, dan kami segera sampai ke dalam tiang penyangga jembatan di sisi timur. Dari sinilah rupanya petualangan dimulai.

Kami menaiki anak-anak tangga baja yang sempit, dengan palang-palang baja berseliweran di atas kepala. Palang-palang yang sekiranya bisa membuat kepala orang terantuk dilapisi karet busa empuk berwarna kuning, sehingga kami segera tahu saat melihatnya. Cuma yang saya sadari, orang yang kegemukan sepertinya akan kesulitan ikut aktivitas ini, karena di bagian ini jalur tapak jalannya cukup sempit dan pasti tak akan bisa dilewati orang berbadan lebar, kecuali mau bersusah payah memiringkan badan, dan mungkin juga perlu didorong atau ditarik teman satu rombongan.

Tenang, banyak teman di atas koq.

Tenang, banyak teman di atas koq.

Kini kami sejajar dengan jalan raya di sisi kiri dan jalur pejalan kaki di sisi kanan, dibatasi ram baja. Sementara di bawah kami, kapal-kapal feri hilir mudik, baik yang dari maupun menuju Circular Quay, terminal feri di dekat Sydney Opera House. Tadi kami juga dari sana sebelum mengikuti tur ini.

Angin musim dingin mulai terasa kencang, namun pemandangannya juga mulai memanjakan mata dan membuat saya ingin berhenti lebih lama. Air laut berwarna kehijauan dan terselang-seling bukit di timur sana, sehingga saya tak bisa melihat di mana batas muara dan juga Lautan Pasifik-nya. Matahari sore yang mulai menguning menimpa atap kerang Gedung Opera dan juga berbagai pencakar langit di selatan sana, berpadu dengan langit bersih membiru. Sementara di sisi utara, yang lebih sepi, tampak hijau dengan rerimbunan pohon. Cuaca musim dingin yang sempurna. Hanya saja saya mesti berjalan lagi menapaki anak-anak tangga, karena teman-teman yang lain sudah bergerak, begitu juga Raymondo di belakang saya.

Jalan raya di bawah itu lho...

Jalan raya di bawah itu lho…

Konon jumlah anak tangga yang mesti ditapaki ada 1.002 buah untuk tur express climb yang kami lakukan ini, dan 1.332 anak tangga untuk tur discovery climb, yang lebih lama. Mike dari tadi bercerita banyak tentang sejarah dan keunikan jembatan ini, tapi yang saya dengar hanya sedikit. Mata saya masih terpukau dengan lansekap Sydney Harbour dari jembatan ini. Juga, karena kini nafas mulai tersengal karena kami mulai mendaki anak tangga menuju lengkung pertama jembatan.

Menurut Mike, panjang jembatan ini 1.149 meter, dengan panjang lengkung atas 503 meter. Tinggi puncak jembatan 134 meter, lebar 49 meter, dan tinggi dasar jembatan dari permukaan air laut juga 49 meter. Satu joke yang sempat saya dengar dari Mike, konon sewaktu jembatan ini dibangun, tahun 1923-1932, ada seorang pekerja yang jatuh ke laut. Untung peralatan bor yang dibawanya menembus air laut terlebih dulu, sehingga ia selamat. Tapi, pekerja yang lain tak seberuntung dirinya, karena selama pembangunan jembatan ini, 16 pekerja meninggal akibat kecelakaan kerja.

Dengan nafas tersengal-sengal dan haus karena dari tadi menanjak terus, akhirnya kami sampai di bagian puncak lengkung pertama jembatan. Kira-kira, kami sudah mendaki sekitar 120 meter. Kami beristirahat agak lama di sini, dan bertemu beberapa rombongan tur lain dengan masing-masing pemandunya. Kalau saya tidak salah dengar, tadi Mike bilang, maksimal 100 orang boleh mendaki jembatan ini di waktu yang bersamaan.

Tadaaaaa!!

Tadaaaaa!!

Mike tak henti-hentinya bercanda dengan berbagai leluconnya, sehingga kami terpingkal-pingkal dan juga haus karena sedari tadi belum minum. Katanya ada dua keran air di jembatan ini, satu di awal pendakian, satu lagi menjelang akhir pendakian. Tapi tadi tak ada satupun dari kami yang minum di keran. Mungkin karena Mike terus bercerita, sehingga dia lupa memberitahu di mana letak keran air itu?

Karena cuma Mike yang membawa kamera, kami mesti nurut saat dia minta kami untuk berpose aneh-aneh. Misalnya kami mesti berjejer berurutan di anak tangga menuju puncak lengkungan kedua, dengan latar belakang pilar-pilar baja dan mobil berseliweran di bawah sana. Saat sampai di puncak jembatan, kami juga difoto satu-satu dengan pose seperti pendekar kungfu. Mike baru mulai mengurangi banyolannya setelah dia tahu bahwa kami dari media. Hahaha!

Gayanya kungfu rada-rada konyol gitu deh.

Gayanya kungfu rada-rada konyol gitu deh.

Dua crane dan dua bendera Australia menjadi penanda puncak tertinggi jembatan ini. Gedung Opera House dan feri-feri yang hilir-mudik tampak makin kecil, dan lansekap kota Sydney bisa kami lihat hingga jauh sekali. Langit makin menguning membiaskan cahaya matahari sore yang kian menurun. Untungnya, angin tak begitu kencang, sehingga kami benar-benar bisa menikmati suasana sore dari ketinggian ini.

Sebentar lagi sampai ke puncak.

Sebentar lagi sampai ke puncak.

Kini kami tinggal turun, dan sepertinya lebih mudah daripada mendaki tadi. Kami menyeberang ke sisi barat jembatan, dan memulai perjalanan menurun menuju titik awal keberangkatan tadi. Anak-anak tangga yang kami tapaki kesat dan jaraknya berdekatan, jadi lebih nyaman dibanding dengan turun dari pendakian gunung. Kami tidak meneruskan perjalanan hingga ke seberang utara sana – dan memang tidak ada yang ke sana. Dengan kata lain, kami melakukan pendakian ‘separuh jembatan’ pergi-pulang. Bonus dari pendakian sore ini: kami bisa berfoto-foto gokil dan menikmati sunset dari atas jembatan. Cuma kami tidak bisa berlama-lama, karena setelah kami makin menuruni jembatan, di atas kami kini adalah bantalan rel kayu dengan beberapa kali kereta komuter melintas! Keran air pereda haus juga baru kami temui menjelang sampai di akhir perjalanan, dan saya cuma sempat minum dua sesap karena suara deru kereta lagi-lagi melintas di atas kepala.

Kami sudah sampai puncaaak!

Kami sudah sampai puncaaak!

Masih perlu waktu sekitar 15 menit lagi bagi kami untuk melepas baju pendakian, mengembalikan ikat pinggang serta gembolan yang tak sempat saya buka, mengambil barang-barang kami di loker, dan… mengambil foto-foto pendakian! Yang surprise, kami tak perlu membayar, malah diberi flashdisk berisi semua foto pendakian kami. Senangnyaaa!

 

BOKS:
A Must-Do in Sydney!

Bonus buat yang ikut Twilight Climb.

Bonus buat yang ikut Twilight Climb.

Trip mendaki Sydney Harbour Bridge ini ada beberapa macam: trip subuh (sunrise), pagi-siang, twilight (sunset), dan malam hari. Biayanya mulai AUD 198 per orang, dan yang twilight climb sekitar AUD 250 per orang. Jenis pendakiannya sendiri ada 2 macam, yakni Express Climb dengan total waktu 2,5 jam, dan Discovery Climb, 3,5 jam. Saat cuaca tidak bersahabat, tur ini bisa ditiadakan atau ditunda menunggu cuaca membaik. Foto-foto pendakian bisa dibeli per lembar AUD 15, atau AUD 60 untuk 10 foto. Tur ini a must-do kalau ke Sydney, asalkan kita tidak terlalu gemuk atau punya masalah kesehatan. Orang yang takut ketinggian juga malah disarankan ikut tur ini. Info lebih lengkap di sini: www.bridgeclimb.com.

Catatan: Photos courtesy of BridgeClimb Sydney, Tourism Australia, Sydney Opera House.

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

16 comments

angkisland

uiihhhh mas teguhh kece badai…. semoga berkah mas….

Aamiin. Kece mungkin iya, badai enggak 😀

Emakmbolang

Aku baca ini tanganku dah basah plus kaki merinding disko.

Tapi kalau ditemeni mike yang suka banyolan, kayaknya bakalan fine fine aja.

BTW, kenapa mike mengurangi guyonan klo tahu dari media ? #kepomodeon. 🙂

Yang jelas deg-deg syur gitu deh, secara di bawah kaki isinya palang-palang baja, terus laut atau mobil seliweran. 😀
Mungkin si Mike takut kalau joke-nya kebablasan terus kata-katanya dimasukkan ke artikel. :DD

momogrosir

gile. kaki gw sih dah pasti gemetaran terus deh. paling takut nih sama ketinggian.

Iya, gemeteran, ngos-ngosan, sama haus 😀

liat foto nya aja dah merinding. ada tour guide nya gk?

Ada pemandunya. Setiap grup disertai 1 pemandu.

Lina W. Sasmita

Ya ampuuun ternyata ada ya tur naik jembatan begini? hwaaa saya mupeng. Dari dulu suka banget manjat pohon, wall climbing dan tebing. Pokoknya judulnya manjat deh. Sekarang setelah menjadi emak-emak palingan manjat wall rumah sendiri aja hihi

Ada doong. Dah lama koq ini. Para seleb dunia juga banyak tuh yang ikut tur naik jembatan ini. So far aman koq karena badan kita terikat dengan tali baja sepanjang pendakian. Dahh nabung dulu yaa biar bisa naik jembatan ini. 😀

Mas Teguh, walaupun saya suka mendaki belum tentu saya berani mendaki jembatan itu, ampun deh soalnya langsung keliatan itu bawahnya menyeramkan, suka ngilu kalo ke tepat tinggi yang bawahnya langsung keliatan jalan apalagi laut. tapi pemandangannya bener2 keren

Ini sebenarnya lebih ringan dan lebih cepat dibanding mendaki gunung. Supaya nggak ngilu ya jangan lihat ke bawah. Lihat ke depan atau samping kanan-kiri aja. Jalur treknya kan dialasi karet/lempengan besi gitu jadi bukan kaca yang tembus pandang ke bawah 😀

Emma kaktus

Wahhhh,,,,seru sekali bisa menaiki seribu lebih tangga…kayaknya kaki bakal pegel banget deh,,hehe.

Teguh Sudarisman

Pegel banget enggak, cuma ngeriii lihat ke bawah! 😀

Anne Adzkia

Waah, saya beraninya lewat kolongnya aja. Trus whalewatching deh. Gak kebayang naik ke atas, naik genteng rumah aja syerem.

Teguh Sudarisman

Lewat kolongnya yaa cuma makan asap knalpot doang :D. Whalewatching agak jauh, 2 jam berkendara dari Sydney ke daerah namanya Port Stephens 🙂

Leave a Reply