Meet Ko Aseng

Ada yang tahu di mana tempat pembuatan lilin dan hio merah untuk sembahyang di klenteng?

Dari mana lilin dan hio ini berasal?Kurang lebih setahun lalu, saat liputan ke klenteng menjelang Hari Raya Imlek, dan melihat orang-orang bersembahyang di tengah kepulan asap pekat lilin dan hio, tiba-tiba terlintas dalam pikiran, dari mana asalnya benda-benda keperluan ibadah ini?

Keingintahuan saya kemudian terjawab oleh, siapa lagi, kalau bukan Google. Beberapa koran pernah mengulas dan memuatnya di versi online mereka. Ternyata, salah satu pembuat lilin dan hio klenteng itu ada di Kampung Melayu, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Hanya saja, aneh bin ajaib, baik di Jakarta Post, Kompas, ataupun Radar Bogor yang memuat berita maupun foto pabrik lilin itu, tak satu pun yang mencantumkan alamat lengkapnya. Telepon beberapa kali ke 108 dengan kata kunci ‘pabrik lilin di Kampung Melayu’ atau ‘pabrik Sumber Karya Hidup’ atau ‘Can Yan Seng’ seperti yang tertulis di koran-koran itu, hasilnya nihil. Tak ada alamat jelas ataupun nomor telepon yang bisa saya hubungi.

Menjelang Imlek mesti ada lilin dan hioAh, masih di Tangerang ini, pasti nanya-nanya juga nanti ketemu, pikir saya. Apalagi dulu saya pernah melewati Kampung Melayu sewaktu ke Tanjung Pasir dan Pulau Rambut. Jadi, nggak ada yang perlu dikhawatirkan, pasti ketemu.

Minggu pagi-pagi, saya pun berangkat menuju Kamlay – sebutan populer Kampung Melayu Tangerang, untuk membedakannya dengan Kampung Melayu Jakarta. Rutenya: Rumah-Kalideres, Kalideres-Pintu Air Tengerang memakai angkot, lalu Pintu Air-Kamlay memakai elf. Saya kasih tau ya. Kalau anda baru pertama kali naik elf ke Kamlay, pasti deh, anda akan takjub dengan pemandangan di pinggir jalan: orang-orang masih mandi dan mencuci baju di kali yang coklat butek, berbagi tempat dengan bebek-bebek. Padahal, kali ini letaknya hanya sepelemparan batu saja dari landas pacu Bandara Soekarno-Hatta! Membandingkan kali dengan pesawat jumbo yang melintas di atasnya, seperti membandingkan bumi dengan langit.

Begitu pemandangan berubah menjadi hamparan padi yang hijau dan seperti tanpa kehidupan, anda pasti akan berpikir, Kamlay pasti lebih udik lagi!

Kong Tek Bio, sudah dekat pabrik Ko AsengSalah. Kamlay bukanlah kampung yang sepi tempat jin buang anak. Malah, yang mengejutkan, pertigaan pasar kota kecil yang berdebu ini begitu ramai oleh keriuhan orang-orang, becak, angkot, elf, dan ojek. Bisa dibilang, setiap kali kepala kita menengok dan bertemu pandangan orang lain, orang itu akan menyapa kita dengan mengacungkan tangan, “Ojek, Pak?!” atau “Yuk, becak!”

Kantor kecamatan Teluk Naga, Polsek Teluk Naga, Koramil, kantor pos, ada di sini. Begitu juga Indomaret dan Alfamart yang, kata seorang teman, penanda sebagai ‘masih adanya peradaban’. Selain itu juga ada dua masjid, serta -yang saya tahu kemudian- ada gereja, dua klenteng, dan satu vihara.

Lalu, di mana rumah atau pabrik Ko Aseng? Dari tadi saya mengamati kalau-kalau ada papan penunjuk ke arah pabrik, baik waktu masih di elf maupun setelah menyusuri jalan di sekitar pertigaan ini, ternyata tidak ada juga. Jadi saya bertanya ke beberapa tukang ojek dan tukang becak. Barulah pada tukang becak ke-4, ia memberi jawaban yang agak meyakinkan. “Oh, lilin yang merah? Pabriknya di belakang kantor kecamatan!”

Ko Aseng yang murah senyumSaya pun diantar memakai becak. Ongkos: Rp 3.000. Memang, tak ada papan penunjuk ke pabrik itu. Namun sebenarnya letak pabriknya mudah dicari, yakni masuk ke gang yang ada di samping kantor kecamatan Teluk Naga (atau gang di samping Masjid Raya Teluk Naga, karena masjid dan kantor kecamatan ini bersisi-sisian). Di belakang masjid ini ada kantor pos, lalu klenteng Kong Tek Bio, lalu memasuki kampung yang sepertinya kebanyakan penghuninya adalah etnis Tionghoa. Dari beberapa sumber yang saya baca, di Kamlay ini memang banyak etnis Tionghoa, jumlahnya sekitar 50 persen dari total penduduk di sini. Warna kulitnya tidak putih sekali seperti orang Tionghoa kota, namun sudah mendekati sawo matang.

Kira-kira seratus meter dari masuk gang ini, becak pun berhenti di depan sebuah rumah dengan pintu pagar dikunci. Sepi. Namun begitu saya getok-getok pengait kunci pagarnya, seorang lelaki keluar dari bangunan yang sepertinya pabrik, di samping rumah. Ternyata dia karyawan yang sedang lembur. Untungnya, ternyata ini benar pabrik yang saya cari, dan Ko Aseng ternyata ada di rumah.

Ko Aseng, yang memakai kaos oblong dan celana pendek, sedang duduk menerima telepon, didampingi istrinya. Dengan ramah ia mempersilakan saya untuk menunggu di pabrik. Sambil menunggu, saya pun iseng-iseng memotret apa saja yang ada di sini. Sayang, hari Minggu ini para karyawan yang jumlahnya total 15 orang sedang libur, jadi saya tidak bisa melihat proses produksi lilin maupun hio. Cuma ada 3 karyawan pria yang lembur, sedang membungkus lilin-lilin merah besar yang harus dikirim besok pagi. Satu karyawan lagi ternyata sedang mengambil hio-hio ‘obat nyamuk’ yang tengah dijemur di pekarangan samping pabrik.

Deretan lilin 1000 katiKo Aseng pun kemudian menemui saya, dan menceritakan seluk-beluk produksi lilin merah dan hio di sini. Ko Aseng, yang bernama lengkap Can Yau Seng –bukan Can Yan Seng seperti tertulis di koran yang saya baca– sejak tahun 2005 memproduksi perlengkapan utama untuk ibadah etnis Tionghoa ini. Pabriknya membuat lilin dan hio dari berbagai jenis dan ukuran. Untuk lilin, mulai dari ukuran paling kecil 1 tail, ½ kati, 1 kati, 2 kati, 10 kati, hingga yang paling besar 1000 kati. Sedangkan untuk hio, mulai dari hio batang atau hio belimbing yang berukuran panjang 42 sampai 90 cm, sampai hio melingkar atau hio obat nyamuk.

Awalnya, Ko Aseng hanya membuat lilin. Tapi karena kebutuhan lilin ini hanya di musim menjelang Imlek, tenaga kerja yang menganggur pun mubazir. Tahun 2008, ia mulai memproduksi hio, yang relatif dipakai terus untuk sembahyang di klenteng maupun di rumah, baik menjelang Imlek maupun hari biasa. Ternyata, keduanya bisa berjalan bersama dan kontinyu. Cuma pabrik ini tidak lagi membuat kertas sembahyang yang berwarna kuning. “Dulu pernah membuat, tapi kalah bersaing dengan industri kertas yang membuat produk dari hulu ke hilir, jadi saya hentikan,” kenang Ko Aseng.

Mengepaskan benang di cetakan lilin 2 katiDi pabrik yang separuh berlantai ubin dan separuhnya berlantai tanah ini bahan baku lilin, yakni parafin, senyawa stearat, lilin bekas dari klenteng, dan zat pewarna merah, dilelehkan dalam tungku kolam berbahan bakar kayu. Setelah 3-4 jam lilin akan mencair, lalu dituangkan ke dalam cetakan-cetakan sesuai ukuran yang hendak dibuat. Untuk lilin ukuran 2 kati, lilin akan mengeras dalam waktu satu jam.

Yang paling menarik adalah saat mencetak lilin ukuran 1000 kati yang diameternya 50 cm dan tingginya hampir 2 meter. Cetakannya menjulang seperti silo-silo di pabrik yang besar. Cara menuangkan lilin cairnya masih sederhana. Dua pekerja akan bekerjasama. Yang satu mengambil lilin cair panas dengan ember, untuk diberikan kepada pekerja lain yang berdiri di atas tangga. Si pekerja kedua ini lalu menuangkannya ke dalam silo dari atas. Begitu terus sampai penuh. Untuk memadat kembali dan keras, diperlukan waktu delapan hari. “Kalau dinyalakan terus 12 jam sehari, lilin ini baru akan habis dalam lima bulan,” tutur Ko Aseng. Maklum, berat sepasang lilin ini saja bisa mencapai 5 kuintal.

Bolak-balik menuangkan cairan lilin panasSetelah kering, lilin yang besar akan dibaringkan dan digetok dengan hati-hati dari ujung yang lebih kecil agar lilin itu bisa dilolos dari selongsong cetakannya. Kemudian lilin dibungkus dengan plastik sablon berwarna merah menyala, yang proses sablonnya juga dikerjakan di pabrik ini, di lantai dua. Kemudian bungkus itu ditulisi puisi dan nama si pemesan. “Puisinya dalam huruf China, bisa berisi doa supaya tambah rezeki, panjang jodoh, diberi ketenangan pikiran, dan sebagainya,” tutur Ko Aseng.

Sedangkan hio, bahannya dari serbuk gergaji kayu, air, lem khusus, bahan pengharum, dan pewarna. Campuran bahan-bahan ini setelah menjadi pasta lalu dibentuk menjadi hio belimbing atau hio lingkar dengan mesin pres yang bertenaga listrik. Yang hio belimbing dikeringkan dengan digantung di langit-langit pabrik memakai penjepit jemuran berwarna-warni, sedangkan hio obat nyamuk ditaruh di atas tampah lalu dikeringkan di bawah sinar matahari di halaman samping. Setelah kering, baru dicelupkan dalam pewarna merah dan dijemur lagi sampai kering. Hio lalu dibungkus dengan kemasan plastik. Para karyawan wanitalah yang melakukan pekerjaan finishing ini.

Memberi label plastik agar tampak cantikLilin dan hio-hio ini tidak dijual ke konsumen langsung, melainkan pesanan dari distributor besar. Nantinya mereka akan mendistribusikan ke berbagai kota di Jawa, hingga ke Pulau Bangka dan Belitung. Untuk lilin, harganya berdasarkan ukuran kati. Dari Ko Aseng, satu kati harganya Rp 8 ribu untuk lilin berbahan campuran dengan lilin bekas. Sedangkan yang dibuat dari parafin murni Rp 14 ribu. Jadi kalau lilin 1000 kati harganya Rp 8 juta atau Rp 14 juta. Karena membeli lilin ini harus sepasang, jadi harganya Rp 16-28 juta. Sedangkan harga hio didasarkan pada ukuran maupun jenisnya.

Karena belum bisa melihat semua proses produksi di pabrik ini, beberapa hari lalu, seminggu menjelang Imlek, saya dan beberapa teman berkunjung lagi ke pabrik Ko Aseng. Kali ini ia kelihatan sibuk sekali hendak mengantar pesanan lilin dengan mobilnya, jadi ia mempersilakan saya memotret-motret sepuasnya dan meninggalkan saya.

Mengangin-anginkan hasil sablonBerbeda dengan kunjungan pertama, kali ini pabrik Ko Aseng benar-benar ramai. Para karyawan lelaki sibuk mencairkan lilin dalam tiga kolam pemasak, sebagian menuangkan ke alat-alat pencetak, sebagian lagi mengeluarkan lilin yang sudah keras dari cetakan. Empat karyawati lesehan membungkusi lilin-lilin dengan label plastik, dan dua karyawati di lantai atas sibuk menyablon dan menggantungnya agar cepat kering. Sepertinya mereka kini sudah terbiasa menerima kunjungan para pehobi fotografi. Terlihat mereka santai saja bekerja mesti kami nggak berhenti-berhenti memotret.

Tapi kini proses pembuatan hio tidak lagi dilakukan di tempat ini, melainkan sudah dipindah dan dihandel oleh Ko Liang, saudara Ko Aseng. Lokasinya di seberang SMP Strada, kira-kira 200 meter arah barat pabrik ini. Saya dan teman-teman pun menuju ke sana.

Dijemur berderet-deret hingga ke belakangBegitu membuka pintu pagar pabrik yang terletak di tepi sungai kecil ini, pandangan saya langsung terantuk pada hamparan hio batang yang tengah dijemur di para-para. Hio merah dan cokelat muda –yang belum diwarnai– menghampar hingga jauh ke belakang. Di langit-langit pabrik berlantai tanah ini juga bergantungan ribuan hio batang yang belum diwarnai. Sementara di bagian belakang, dua karyawan laki-laki tengah mencelup hio ke cairan pewarna, dan dua lagi tengah mengangkat hio merah yang sudah kering. Ternyata selain dengan dijejerkan, hio juga bisa dijemur dengan diberdirikan. Perlu waktu sekurangnya dua hari agar hio-hio ini kering: satu hari untuk mengeringkan hio yang baru dicetak, sehari lagi untuk hio setelah dicelup zat pewarna.

Lagi-lagi, saya tak bisa melihat bagaimana hio lingkar atau hio obat nyamuk itu dibuat, karena proses produksi sudah dihentikan. Yang saya baca, konon karyawati di pabrik ini akan menadahi pasta yang keluar dari mesin pres dengan tampah, lalu memutar-mutar tampah itu sehingga pasta hio itu pun menjadi berbentuk melingkar seperti obat nyamuk bakar. Sepertinya akan menarik kalau bisa melihatnya. “Iya, sudah kami hentikan pembuatannya sejak kemarin,” kata salah seorang karyawan. “Kalau kami masih menerima pesanan, khawatirnya nanti nggak keburu untuk Imlek, karena sekarang sering hujan.”

Mengangkat yang kering sebelum turun hujanJadi, kayaknya saya bakal ke Kamlay lagi untuk ketiga kalinya. Atau keempat, kelima, atau keenam kalinya. Mengapa tidak? Memang pabriknya jauh, becek, dan prosesnya sebenarnya simpel. Tapi produknya unik, sekurangnya untuk difoto-foto. Dan begitu mendengar celoteh para karyawan dalam bahasa Jawa, mendadak saya kepikiran, apakah mereka juga pergi ke klenteng? Sepertinya 99 persen tidak. Tapi mereka dengan rajin membuat lilin dan hio untuk keperluan orang-orang beribadah di klenteng, menjadi ‘penyambung’ antara makhluk dan Penciptanya. Bukankah ini unik? (T)

Kontak:
Can Yau Seng (Ko Aseng)
CV Sumber Karya Hidup
Kp. Melayu Barat/Gupo Rt-02 RW-01 No. 26
Teluknaga, Tangerang (belakang kantor Kec. Teluk Naga)
Tel: 021-68882898, 0818-833828

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

16 comments

Donna Imelda

kerjaanku mbaca dengan seksama tulisan mas teguh, lalu memperhatikan kalimat demi kalimat, lalu memperhatikan fotonya, lalu minder sendiri….ahhhh

Kalau minder, cari pekerjaan lain aja Buu…! **ngibrit-ke-munich

Mas teguh, kenapa cuma ada ulasan tentang hio dan lilin???,bagaimana dengan ulasan tentang kertas sembahyang yang ada perak dan emas di tengahnya???

Halo Mas Hendrik, kebetulan Koh Aseng maupun saudaranya tidak memproduksi kertas sembahyang. Mereka mendapat suplai kertas kuning itu dari tempat lain. Kalau Mas punya info tentang produksi kertas itu, boleh nanti saya liput. Trims.

Mas TS kalo ada liputan di tangerang lagi hub saya aja *orangtangerangwalopun bukan asli.

Hehehe boleh. Kemungkinan nanti ya menjelang Imlek lagi. Kirim pesan & infoin no telp via inbox FB please. Thanks.

Iyos Kusuma

Di luar kelihaian menulis dan motret, salut banget sama upayanya buat nyari pabrik ini sampe ke tangerang. Niatnya juara. Keren!

Teguh Sudarisman

Hehehe kan didahului rasa penasaran dan juga keunikan topiknya Mas. Kalau masalah jalan kan gampang tinggal naik angkutan umum terus nanya-nanya. 😀

Gegara berkunjung ke vihara Bogor, sampai saya bisa berkunjung dimari, ini semua gegara lilin dannhio di vihara, ternyata di produksi di teluk Naga.

Teguh Sudarisman

Hihihi, gitu ya? Asyik nggak tempatnya? Sayang, dengar-dengar yang bagian hio merahnya tutup. 🙁

budi dermawan

mas, sy sdh coba hub no telp nya tp kok ga aktif yah????

Teguh Sudarisman

Iya Mas, langsung saja ke sana. Dekat koq. 😀

marjiansyah

kami siap suplay bahan Baku lilin berupa lemak sapi / minyak fleshing, bagi yg berminat bisa langsung wa/SMS/call kami di 082333200880

Teguh Sudarisman

Terima kasih informasinya. 🙂

sekarang masih berproduksi kah mas?

Teguh Sudarisman

Yang lilin masih, tapi yang dupa merah kayaknya sudah tidak produksi lagi. Tahun lalu sudah rasan-rasan mau stop produksi dupa itu.

Leave a Reply