When Art Met Coffee

When Art Met Coffee

Kopi tak hanya nikmat diseruput tapi juga bisa menghasilkan karya lukis bermutu tinggi.

 Tertarik dengan lukisan Yesus yang mejeng di samping pelukisnya di bawah ini? Well, kalau anda datang ke kafe tempat lukisan ini dipajang, dan berniat menikmati atau membelinya, mohon maaf saja, lukisan ini sudah terjual. Seseorang telah membelinya dengan harga Rp 40 juta.

Harga itu cukup pantas, selain karena memang bagus, juga karena lukisan di atas kanvas itu dibuat dengan cat dari… kopi. Ya, bubuk kopi yang biasa kita minum.

Mungkin baru sedikit orang yang tahu bahwa bubuk kopi yang dilarutkan dalam akrilik, bisa dijadikan sebagai cat lukis. Tak heran jika lukisan ini bernuansa sepia. Gradasi warna coklat, dari coklat terang hingga gelap, diperoleh dengan mengatur tingkat kematangan sangrai biji kopi, serta proporsi campuran kopi dan akrilik.

Melukis dengan kopi, atau coffeeart ini di Indonesia mungkin baru dilakukan oleh satu orang pelukis, Rudy Sri Handoko. Lukisan-lukisannya banyak yang bernuansa kehidupan masyarakat kecil, sebagai ekspresi dan kritik Rudy terhadap kondisi sosial yang menurutnya masih belum ‘merdeka’. Bekerja sama dengan Wirawan Tjahjadi, pemilik kafe Kopi Bali House dan pabrik kopi The Butterfly Globe Brand, Rudy memasang lukisan-lukisan kopinya di galeri kafe ini, yang menempati sisi kanan kafe. Galeri tiga lantai ini dibuka sejak Maret 2007.

Kafenya sendiri menyediakan banyak ragam minuman dari kopi, bahkan dari kopi-kopi yang terbilang langka. Misalnya peaberry coffee, yang terbuat dari biji kopi tunggal –tiap buah kopi umumnya mempunyai dua keping biji kopi– atau kopi luwak (civet coffee), kopi yang telah ditelan oleh luwak dan dikeluarkan kembali melalui saluran pencernaan hewan ini. Jangan kaget jika secangkir kecil kopi luwak, yang disebut-sebut kopi paling enak di dunia, kita mesti membayar Rp 200.000.

Di sini juga tersedia sabun, parfum, hingga cuka dari kopi. Tak ketinggalan menu-menu makanan tradisional dan internasional. Bahkan bila kita berniat membuka kafe atau kedai kopi, tempat ini menyediakan pengajar serta ruang pelatihan di lantai dua. Singkatnya, Kopi Bali House bukan sekadar kafe atau kedai kopi biasa, namun tempat bagi para pecinta kopi sejati untuk menikmati kopi-kopi berkualitas tinggi serta menikmati karya-karya lukis kopi, yang bila suka, bisa kita beli.

 
Kopi Bali House
Pertokoan Graha Niaga Sanur No. 4
Jl. Bypass Ngurah Rai 405E Sanur, Bali
Tel: +62 361 270990 Fax: +62 361 270993
http://kopiluwakbali.com/kbh/

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
The Centerpiece

The Centerpiece

Ke mal terbesar se-Asia Tenggara, stasiun skytrain, atau ke pusat street food, tinggal jalan kaki saja.

Dari kejauhan, hotel berlantai 57 ini terlihat mempunyai desain bagian puncak yang seperti kuncup lotus yang sedang mekar. Memasuki lobi di lantai dasar, air mengalir di bawah kaki, dan meja resepsionisnya berada di bawah lampu-lampu kristal berbentuk shower raksasa.

Tapi, kalau kita misalnya menginap di lantai 41, kita tak harus turun ke lantai dasar untuk check-out. Di lantai 22 ada Sky Lobby. Di sini, sambil menunggu, kita bisa santai dulu di Lobby Lounge atau Globe Bar di sampingnya.

Ke-505 kamar Centara Grand didesain dengan aksen beludru berwarna marun, yang bernuansa kalem dan classy. Hi-speed internet dan tv plasma menjadi kelengkapan standar tiap kamar. Namun yang istimewa adalah bathtub-nya yang berbentuk lingkaran dan ekstra besar. Empat orang juga bisa nyemplung bareng di dalamnya.

Di lantai 24, The World Restaurant buka 24 jam dan menyajikan menu makanan dari 5 benua. Kalau lebih suka masakan tradisional Jepang, Cina, atau Thai, di lantai yang sama ada Ginger Restaurant. Namun kalau ingin menikmati delapan penjuru kota, RedSky dan 55 –keduanya di lantai 55– menawarkan gemerlap langit malam Bangkok, dengan aneka menu grill yang lezat dan koleksi lebih dari 200 jenis wine.

Semua fasilitas wellness and leisure hotel ini berpusat di lantai 26, yang disebut Lifestyle on 26. Di sini ada fitness center, 14 kamar terapi Spa Cenvaree, serta kolam renang dan outdoor jacuzzi, 2 lapangan tenis open air, juice bar, dan pool bar, yang membuat para tamu bisa menikmati udara terbuka jauh di atas jalan-jalan utama Bangkok.

Kalau datang untuk bisnis atau konferensi, turun ke lantai 24 lalu belok kiri, sampailah ke Bangkok Convention Centre, tempat seminar dan pameran paling gres di Bangkok, yang bisa menampung 6.000 orang.

Bagi penggila shopping, begitu turun ke lantai 7, lalu melewati tempat parkir, tiba-tiba saja kita sudah berada di CentralWorld, yang diklaim sebagai mal terbesar se-Asia Tenggara dan Hongkong. Mal ini memiliki 500 toko dan butik, 50 restoran, 3 department store (Isetan, Zen, dan Central), serta 15 gedung bioskop. Berjalan keluar melalui skywalk, kita sampai ke stasiun skytrain Siam atau Chidlom. Tiket menjelajah Bangkok tanpa macet ada di depan mata.

Rate kamar mulai dari 4.237 baht (sekitar Rp 1,27 juta/malam).

Grand Centara Bangkok
999/99 Rama 1 Road, Pathumwan, Bangkok 10330 Thailand,
Tel. +66 (0) 2 100 1234, E-mail: cgcw@chr.co.th
www.centarahotelsresorts.com

Photo courtesy of Centara Grand

Posted by Teguh Sudarisman in Check In, Luxe Stay
Paint My Glass

Paint My Glass

Kekayaan seni lukis Cirebon ini mencoba bertahan dari popularitasnya yang kalah dengan batik.

Kalau saja siang itu saya tidak diantar Mas Komar membonceng  motornya dan berkeliling ke jalan-jalan dan gang-gang di Desa Trusmi Wetan, Plered, Cirebon, saya mungkin tak akan tahu bahwa selain menjadi desa batik, desa ini juga salah satu sentra lukisan kaca. Tapi, berbeda dengan para seniman batik yang memajang dan menjual kreasi batiknya di butik-butik di jalan utama desa ini, para seniman kaca mesti menunggu pembeli setianya –yang umumnya para kolektor lukisan– untuk mampir ke rumah-rumah mereka yang sederhana dan tersembunyi di belakang gang-gang sempit.

Mas Komar mengantar saya ke rumah Raden Sugro Hidayat, salah satu pelopor lukisan kaca di Trusmi. Sebutan ‘Raden’ menunjukkan bahwa ia masih punya hubungan dengan Kraton Kasepuhan Cirebon, meski tampaknya hal itu tak selalu relevan dengan status ekonominya. Ketika kami datang, pria berusia 70 tahun ini tengah menjiplak (tracing) sebuah sket lukisan kaca berukuran 20×25 cm yang bergambar Macan Ali. Ini adalah sebuah motif kuno berupa gambar macan yang disusun dari tulisan kaligrafi Arab, dan dulu dipakai sebagai panji-panji perang. Di dinding rumahnya, selain menempel beberapa penghargaan atas bidang seni lukisan kaca yang digelutinya, juga tergantung dua lukisan kaca hitam-putih berukuran 45×60 cm, bergambar tokoh wayang Kresna dan Brajamusti. Lukisan Kresna itu ternyata sudah dibeli Mas Komar seharga Rp 750 ribu.

Sugro, yang belajar teknik melukis kaca dari sang paman, Raden Saleh Jawahir, salah seorang lurah di Kraton Kasepuhan, kini sudah agak sakit-sakitan. Meski begitu penglihatannya masih sangat jelas. Terbukti, ia tidak memakai kacamata, dan mampu membuat lukisan dengan isen-isen (motif-motif pengisi) berupa titik-titik yang sangat kecil, yang menjadi salah satu trade mark-nya.

Dua hal lain yang membuat Sugro terkenal di dunia lukisan kaca adalah teknik lukisan kaca hitam putih, serta penemuannya berupa penggunaan pena (crown pen) untuk melukis. Sugro menunjukkan salah satu pena yang dipakainya, dan tiba-tiba saya jadi ingat pelajaran ‘menulis halus’ sewaktu masih di SD dulu. Guru mengajari kami menggambar huruf-huruf kursif dengan memakai pena ini, yang harus dicelupkan kembali ke tinta setelah menulis satu-dua huruf.

Sepertinya membuat lukisan hitam-putih ini lebih mudah daripada lukisan dengan banyak warna, karena tinggal menggambar kaca dengan warna putih, terus setelah kering tinggal ditimpa dengan warna hitam. Namun ternyata tidak. “Karena hanya ada satu warna, maka kalau ada cacat, misalnya ada tetesan warna putih atau garis yang melenceng, maka itu akan kelihatan sekali,” tutur bapak dari tiga anak perempuan ini. “Sementara, kalau banyak warna, maka warna yang salah itu bisa dialihkan perhatiannya oleh warna lain.”

Lukisan Bergaya Negatif

Tidak seperti melukis biasa, di mana pelukis langsung menuangkan idenya dengan mencoretkan kuas di atas kanvas, membuat lukisan kaca memerlukan lima tahap. Pertama, pelukis membuat plek, yakni pola atau sketsa di atas kertas kalkir bagi objek yang akan dilukis. Pelukis bisa membuat sketsa ini dengan menjiplak dari plek-plek lama yang pernah dibuat pelukis pendahulu mereka, menjiplak langsung dari wayang –bagi pelukis yang spesialisasinya lukisan kaca wayang– atau memesan sket yang sudah jadi dari orang lain. Kedua, plek tersebut ditaruh di bawah selembar kaca bening –yang bisa dibeli di toko bahan bangunan, dengan ukuran yang diinginkan pelukis–  lalu pelukis membuat rengreng, yakni kontur atau outline lukisan di atas kaca dari plek tadi. Rengreng atau tracing ini menggunakan rapido atau pen tadi, tergantung keahlian si pelukis.

Ketiga, setelah semua outline lukisan selesai, dilanjutkan dengan memberi isen-isen berupa titik-titik atau garis-garis pada objek-objek yang sudah digambar. Keempat, dilakukan proses nyungging, yakni memberi warna pada objek-objek yang sudah diberi isen, dengan memakai kuas kecil. Terakhir, proses natar, yakni membuat latar belakang lukisan. Tiap proses ini membutuhkan jeda sekitar 1-2 hari, menunggu cat dari tiap proses itu mengering. Tujuannya agar ketika ditimpa dengan cat pada proses selanjutnya, cat itu tidak terpengaruh. Tahapan proses lukisan kaca ini mirip dengan membatik, hanya saja lukisan kaca mempunyai keuntungan, karena pelukis tidak perlu menutup (melindungi) cat hasil proses sebelumnya dengan malam (parafin), namun cukup menunggu hingga cat kering.

Lukisan kaca yang sudah jadi kemudian dibingkai, dengan bagian kaca yang dilukis tadi ada di sisi belakang. Jadi, yang kita lihat adalah bagian sebaliknya, yang halus dan tanpa goresan cat sama sekali. Di sinilah letak uniknya lukisan kaca. Tak heran jika teknik ini disebut melukis bergaya negatif, karena pelukis membuat karyanya dari sisi belakang, sementara yang diperlihatkan kemudian adalah sisi depannya.

Kuda Terbang Jadi Favorit

Konon, lukisan kaca mulai populer di masa pemerintahan Panembahan Ratu II (1568-1646), sultan keenam Kraton Pakungwati, sebelum kerajaan itu dibagi tiga menjadi Kraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Hal ini diketahui dari warna-warna alami yang digunakan untuk membuat sunggingan, yang populer dipakai di masa itu. Seiring zaman, warna alami kemudian mulai diganti zat warna sintetis, dan sejak tahun 1965 mulai dipakai cat. Merk cat yang banyak dipakai adalah Kuda Terbang, dengan pengencer larutan terpentin. Sugro jugalah yang mempopulerkan penggunaan cat dan terpentin ini. Sebelumnya para pelukis memakai tinta bak.

Cat Kuda Terbang menjadi favorit karena tidak cepat kering. Ini memberi waktu kepada pelukis untuk menghapusnya jika terjadi kesalahan. “Kalau memakai cat besi akan cepat kering, sehingga sering merepotkan,” tutur Sugro. Satu kaleng cat Kuda Terbang (100 cc), harganya Rp 6.000.  Jika dipakai untuk rengreng dan isen-isen, sekaleng cat ini bisa untuk 10 lukisan, atau 4 lukisan jika dipakai sebagai cat latar belakang.

Lukisan kaca yang dibuat Sugro, para pelukis di Trusmi, serta para pelukis lain di Cirebon sering disebut lukisan kaca klasik, karena objek-objek yang dilukis merupakan motif-motif yang ada sejak zaman dulu, misalnya motif kaligrafi dengan berbagai variasinya,  motif wayang, motif kratonan (obyek lukisan berupa hal-hal yang berbau kraton), motif batik, dan sebagianya. Sayang sekali, ketiga anak perempuan Sugro tidak ada yang mewarisi bakat lukis sang ayah. Malah, bakat itu turun ke tetangga-tetangga Sugro, yakni ke Astika dan istrinya Satinah, serta ke Eryudi –adik Astika– dan istrinya Sairi.

Sairi, yang rumahnya persis di samping rumah Sugro, sore itu tengah membuat rengrengan lukisan bertema Gua Sunyaragi, salah satu tempat wisata populer di Cirebon. Beberapa lukisan kacanya yang sudah jadi, yang berukuran 20×25 cm, akan ia jual masing-masing seharga Rp 150 ribu. Sedangkan satu lukisan yang berukuran 45×60 cm akan ia jual seharga Rp 1 juta. Semuanya menggambarkan motif kratonan, seperti lukisan Taman Arum, Siti Hinggil, Makam Sunan Gunung Jati, dan sebagainya. Sairi memang dikenal sebagai pelukis wanita spesialis motif kratonan. Lukisan-lukisannya yang didominasi warna putih, krem, biru muda bergradasi, serta merah hati, sangat cantik dan memiliki karakteristik khas Cirebon. Saya langsung berdecak kagum begitu melihat karya-karyanya.

Kekaguman itu pula yang membuat saya ingin mencoba, bagaimana sih membuat lukisan kaca itu. Saya meminjam pena Sairi, dan menggantikannya membuat rengrengan pada lukisan yang tengah ia garap. Namun setelah beberapa kali mencoba membuat goresan melingkar pada sebuah motif bunga, saya pun menyerah. Sebab berkali-kali pula garis cat yang saya goreskan terlalu lebar, atau ketika goresan itu putus, sambungan yang saya buat berikutnya tidak rapi. Untungnya, cat yang masih basah itu mudah dihapus dengan kain lap. Tapi, kalau menggores satu garis aja perlu berulang-ulang, berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat satu lukisan? Sairi hanya senyum-senyum. Baginya, keseluruhan proses menggambar itu bisa ia selesaikan dalam seminggu saja. Bahkan untuk lukisan yang kecil-kecil, ia selesaikan dalam 3 hari.

“Untuk bisa membuat lukisan kaca, perlu belajar sedikitnya 1 tahun,” tutur Astika, yang rumahnya di belakang rumah Sairi. “Untuk belajar membuat lukisan wayang, lebih lama lagi, karena kita juga mesti tahu makna di balik karakter wayang itu.” Sore itu, beserta Satinah, ia tengah menyelesaikan lukisan Paksi Naga Liman, kereta kencana Kraton Kanoman. Di dekat mereka, tersandar di dinding, adalah lukisan Singa Barong –kereta kencana Kraton Kasepuhan– berukuran 60×90 cm, yang tinggal dibingkai.

Astika, yang banyak membuat lukisan kaca bermotif kratonan, dikenal sebagai pelukis dengan keahlian membuat isen-isen yang sangat halus dan detil. Karya-karyanya dipajang di berbagai kantor pemerintah dan hotel. Salah satu masterpiece yang pernah dibuatnya adalah 113 lukisan kaca yang dipajang di lobi dan berbagai tempat di Hotel Bentani, Cirebon, yang disebut-sebut sebagai koleksi lukisan kaca terbesar di Indonesia.

Pelukis ‘Ilmiah”

Mas Komar rupanya masih ingin menunjukkan tempat lukisan kaca yang lain, dan ia pun memboncengkan saya kembali, menyusuri jalan-jalan dan gang kampung. Melewati sebuah pemakaman, kami berhenti di sebuah rumah yang sepi. “Ini adalah rumah guru membatik saya, Pak Tomik,” kata Komar, yang memang seorang pengusaha batik Trusmi.

Meski koleksi lukisan kaca Pak Tomik ini tinggal sedikit –karena ia sekarang lebih banyak membatik– lukisan yang dihasilkannya terasa lebih unik. Selain berwarna lebih ngejreng (bright), lukisan wayang yang dibuatnya juga lebih bebas, karena tak terlalu terikat pada pakem yang mengharuskan ada proporsionalitas maupun mimik standar dalam figur wayang yang dibuat.

Masih ada beberapa pelukis yang harus saya datangi, dan atas petunjuk Mas Komar, esok harinya saya mengunjungi rumah Rafan S. Hasyim, di pinggir jalan raya antara Trusmi dan kota Cirebon. Opan, begitu ia biasa dipanggil, dikenal sebagai pelukis yang ‘ilmiah’, dengan spesialisasi pada lukisan wayang dan lukisan dekoratif bermotif geometris. Lukisannya dicirikan dengan pendesainannya yang menggunakan alat bantu garis-garis, serta pengulangan bentuk-bentuk. Opan hafal semua 350 jenis karakter wayang, begitu juga sejarah lukisan kaca di Cirebon. Mungkin karena ia juga berprofesi sebagai dosen filologi di Sekolah Tinggi Islam Negeri Cirebon dan mendalami naskah-naskah kuno.

Di rumahnya, ada sebuah lukisan kaca besar berukuran 100×200 cm, terdiri dari dua ruang yang berisi surat Al Fatihah dan Ayat Kursi. Lukisan itu seperti sebuah Alquran besar yang dibentangkan, penuh dengan berbagai dekorasi motif batik khas Cirebon seperti mega mendung, kawung, wadasan, untu walang, dan sebagainya. Yang lebih unik lagi, kedua halaman itu simetris satu sama lain, baik dari kotak dan bulatan tiap surat, hingga ke lekuk-lekuk hiasan dekorasinya! Ternyata, lukisan itu pesanan sebuah BUMN di Provinsi Banten, dan menurut Opan harganya Rp 15 juta, sudah termasuk bingkai.

Dari Opan juga saya belajar bahwa di salah satu motif kaligrafi lukisan kaca, ada yang disebut kaligrafi serabad, berupa lukisan hewan mitologi, namun tersusun dari huruf Alquran, Hadits, atau doa-doa yang dianggap manjur untuk menolak setan dan pengaruh jahat. “Karena itu kaligrafi serabad sering dipesan untuk dipakai sebagai rajah atau jimat.”

Melukis Sejak Kecil

Atas saran Opan, saya berkunjung ke rumah Pak Winta, di daerah Gunung Jati, yang dianggap pelukis paling sepuh di Cirebon. Yang mengejutkan, meski beliau ini usianya delapan tahun lebih tua dari Pak Sugro, namun ia masih terlihat sangat bugar dan enerjik. Mungkin karena ia dulunya seorang polisi. Yang lebih mengejutkan lagi, ia telah menekuni seni lukisan kaca sejak kecil, belajar dari ayahnya yang seorang dalang. Tak heran jika spesialisasi Winta adalah lukisan kaca wayang. Di rumahnya teronggok sketsa-sketsa wayang dari satu kotak wayang. Menurutnya, tak ada pelukis lain yang punya koleksi sketsa wayang selengkap dia.

Salah satu lukisan Winta yang dibuat tahun 1962 bergambar Gatutkaca, sampai sekarang masih tersimpan di rumah seorang pembelinya, yang juga bertempat tinggal di Cirebon. Lucunya, si pewaris lukisan kaca itu tak mau menjualnya kembali ke Winta meski sudah diiming-imingi dengan beberapa lukisan pengganti dan sejumlah uang.

Hingga sekarang, Winta masih aktif melukis, dan dalam setahun menghasilkan sekitar 30 lukisan berukuran besar. Mesk, menurutnya, ia melakukan semuanya sendiri karena dari ke-14 anaknya belum ada yang serius menekuni lukisan kaca. Untuk mendapatkan pembeli, ia sering minta tolong ke Opan untuk ikut membawakan lukisan-lukisannya saat ada pameran di Jakarta, meski hal ini sering terhadang oleh susahnya transportasi karena lukisan kaca itu rentan pecah. Sebagian pembeli datang ke tokonya di Pasar Pagi, sebagian lagi datang ke rumah.

Menyiasati sifat kaca yang mudah pecah ini pula yang membuat Toto Sunu –salah seorang seniman lukisan kaca Cirebon yang dianggap beraliran modern– kini mulai bereksperimen dengan memakai kaca akrilik yang anti-pecah dan lebih ringan. Meski pelukis lain khawatir bahwa pemakaian akrilik membuat warna lukisan cepat pudar, Toto tidak terlalu khawatir. Yang menjadi masalah baginya hanya satu, “Untuk ukuran yang sama, harga kaca akrilik ini 8 kali lebih mahal dibanding kaca biasa.”

Sebagai seniman yang aslinya berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, Toto memang tidak terlalu terikat dengan pakem-pakem lukisan kaca klasik Cirebon. Makanya ia pun bebas mengekspresikan ide-idenya. Selain memperkenalkan cat air brush dan material lain sebagai latar belakang lukisan, ia juga sering memakai lebih dari 1 kaca –yang disusun bertumpuk ke belakang– untuk memberikan kesan tiga dimensi. Toto, yang pernah mendemonstrasikan melukis dengan mata tertutup di depan Presiden SBY, juga punya kelebihan lain: ia mampu menggambar sketsa langsung di atas kaca, tanpa perlu menjiplak dari kertas sket!  Itu sebabnya karya-karyanya selalu baru dan tidak pernah ada yang sama.

Di rumahnya yang besar, dengan sebuah taman dan air terjun mini di tengahnya, Toto tengah sibuk menggarap pesanan 25 lukisan –sebagian lukisan kaca, sebagian lagi lukisan kanvas kelirumologi yang juga menjadi ciri khasnya– bersama 8 orang karyawan. Tampaknya ia tidak kesulitan mencari pembeli, terlebih kini ia punya galeri seni di Depok, bekerja sama dengan seorang teman.

Namun, seperti halnya para seniman lukisan kaca lain yang telah saya temui, di sela-sela kesibukannya, Toto tetap menerima saya dengan ramah. “Nanti foto saya dikirim ke sini ya, sekalian foto Mas. Nanti Mas akan saya bikinkan lukisan kaca,” tawarnya sungguh-sungguh. Wah, alangkah senangnya bisa dilukis seorang seniman terkenal! (T)

 

Di Mana Mencari Lukisan Kaca?

Astika, Sugro, Sairi
Sanggar Seni Kaca Indah
Belakang Balai Desa Trusmi Wetan RT-07 RW-02
Plered, Cirebon, Tel: 0813-24282752

Rafan S. Hasyim
Jl. Raya Kedawung No. 491 RT-04 RW-03
Blok Sugun, Desa Pilangsari, Kedawung
Cirebon, Tel: 0813-24166299

Haji Winta
Sanggar Kencana
RT-02 RW-04 Desa Jadi Mulya, Kecamatan Gunung Jati
Cirebon, Tel: 0231-247568

Toto Sunu
Jl. Karang Makmur No. 48 RT-02 RW-03 Kelurahan Drajat
Cirebon, Tel: 0231-205346

Posted by Teguh Sudarisman in 1-Day Trips
Sleeping with The Phoenix

Sleeping with The Phoenix

Nikmati kemewahan era kolonial di pusat kota Jogja.

Jika kita berjalan-jalan ke Tugu Jogja, maka The Phoenix Hotel Yogyakarta pasti tak akan terlewat, karena bangunan hotel yang putih anggun ini berada tak jauh dari landmark Kota Gudeg ini.

Menjadi  hotel pertama di Indonesia yang tergabung dalam MGallery Collection, The Phoenix memberikan sentuhan khas yang tidak bisa dilupakan oleh mereka yang menginap.  Pesona masa lalu yang dimiliki bangunan kuno itu tetap dipertahankan keasliannya meski telah beralih fungsi menjadi hotel. Perpaduan ornamen bernuansa Belanda, Jawa dan China yang dihadirkan di seluruh penjuru bangunan memberikan kesan mewah yang historikal.

The Phoenix menawarkan  144 kamar, yang terdiri dari kamar superior, deluxe, executive, dan  10 kamar suite yang masing-masing memiliki balkon pribadi.  Seluruh kamar memiliki desain interior yang modern, dengan tetap menampilkan unsur Jawa dan China di setiap sudutnya. Yang mengesankan adalah ukiran dua burung phoenix (burung hong) yang menghiasi frame cermin besar di lobi hotel. Setiap kamar hotel dilengkapi pula dengan fasilitas koneksi WiFi, TV satelit dan sambungan telepon internasional.

Restoran Paprika di hotel ini mempunyai dapur terbuka dan suasana yang cozy, menawarkan hidangan Indonesia dan Barat. Saat sarapan, tak ketinggalan dihadirkan seorang ibu bakul jamu yang akan menyediakan minuman obat khas Jawa ini bagi para tamu yang ingin mencoba.

Restoran Paprika juga  menawarkan paket chef table bagi tamu yang tertarik untuk menyaksikan bagaimana chef beraksi menyiapkan sajian lezat  Bagi penggemar makanan laut, resto ini menyajikan menu khusus seafood lover di setiap Jumat selama bulan Januari. Anda juga bisa menyantap menu pilihan seperti Homemade Faguttini,  yakni homemade pasta  berisi saus kental daging yang disajikan dengan ikan salmon panggang.

Ingin duduk santai berbincang dengan teman atau kolega? Di 1918’s Terrace Cafe tempatnya, sambil menikmati minuman khas racikan turun-temurun, Gin Sling, yang akan membawa sensasi pesta masa lalu yang sering diadakan di tempat ini.  Tak jauh dari sini ada pula Vino Bar untuk mereka yang ingin menghabiskan malam dengan alunan musik dan berbagai pilihan wine.

Setelah lelah seharian berbelanja atau berjalan-jalan mengelilingi Jogja, nikmati sensasi relaksasi perawatan tubuh di My Spa, perpaduan perawatan khas klasik Jawa dan kontemporer yang dilakukan oleh terapis yang ramah dan terlatih. Pijatan lembut di tubuh dan harumnya massage oil akan menghilangkan segala penat dan stres. Manfaatkan pula fitness center dan kolam renang untuk menyegarkan tubuh selama menginap di sini.

Hotel ini juga menawarkan berbagai fasilitas bisnis, termasuk ruang pertemuan dengan kapasitas sampai 600 orang, akses koneksi WiFi, serta layanan kesekretariatan dan bisnis dengan fasilitas yang modern. Rate kamar mulai dari Rp 877.000 nett/malam, termasuk breakfast.

 

The Phoenix Hotel Yogyakarta
Jl. Jendral Sudirman No. 9 Yogyakarta 55233 Indonesia
Tel. +62 274 566617 Fax. +62 274 566856
Email: info@thephoenixyogya.com
http://www.accorhotels.com/gb/hotel-5451-the-phoenix-hotel-yogyakarta/index.shtml

Posted by Teguh Sudarisman in Check In, Luxe Stay
Surviving Sundoro

Surviving Sundoro

Tertatih-tatih mendaki Gunung Sundoro di malam hari, sampai puncak 12 jam kemudian.

Saya bukanlah pendaki gunung, meski sudah pernah sampai ke puncak Gunung Krakatau dan Gunung Bromo. Buat saya, gunung itu terlalu tinggi dan terlalu berat untuk didaki, apalagi oleh fisik saya yang kecil. Namun melihat dua gunung, Sundoro dan Sumbing, berjejer begitu dekat di sisi kiri jalan yang kami lalui dari kota kecil Parakan, Temanggung, saya mendadak ingin naik gunung lagi.

“Beberapa bulan lalu Laboca pernah mendaki Sundoro memakai sepeda, sukses sampai ke puncak. Beritanya masuk koran dan televisi,” kata Umar, teman yang mengantar saya dan Arif ke Temanggung ini untuk meliput panen tembakau. Laboca adalah klub bersepeda yang Umar ketuai, di Borobudur, Kabupaten Magelang.

Saya tersentak. Mendaki gunung setinggi 3.138 meter dengan bersepeda, bagaimana caranya? Dikayuh dari bawah sampai ke puncak? “Oh, tidak,” Umar tertawa. “Waktu mendaki ya sepeda dipanggul. Baru saat turun, sepeda dinaiki.”

Wah, orang ‘gila’ mana yang mau melakukan hal seperti itu? Membawa kamera saja repot, apalagi memanggul sepeda! Tapi memang akhirnya 7 dari 21 orang yang bersepeda itu sampai ke puncak Sundoro dan turun lagi, meski Umar sendiri termasuk dalam kelompok yang tak sampai ke puncak. Hmm, kalau orang bisa naik gunung sambil membawa sepeda, tentu medan pendakian itu tidak begitu sulit, pikir saya.

Umar kemudian menyarankan kami untuk mendaki dari Desa Sigedang, di lembah sisi barat Gunung Sundoro. Sisi ini tampak lebih landai kemiringannya dibanding sisi lainnya. Sigedang juga sudah berada di ketinggian sekitar 1.700 m, jadi sudah ‘separuh jalan’. Jalur pendakian dari selatan yang lebih umum, yakni Kledung Pass, tepat di tengah lembah antara Sundoro-Sumbing, malah lebih rendah, sekitar 1.335 m.

Umar memberi tahu nama juru kunci Gunung Sundoro yang ada di Sigedang, kepada siapa kami perlu minta izin dan mencari pemandu pendakian. Sore hari, saya dan Arif diantar ke Sigedang oleh Pak Bukhori dan Pak Budi memakai sepeda motor. Letak desanya di punggungan gunung di sisi barat Sundoro, di pertemuan dengan Gunung Butak. Desa ini sudah masuk wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Pak Amin, sang juru kunci, adalah lelaki berperawakan kecil berusia sekitar 50 tahun. Ia pria Jawa yang mengerti betul tentang Sundoro, hingga ke sisi-sisi mistisnya.

“Sumbing dan Sundoro itu gunung kembar, kakak-beradik. Yang Sumbing itu lelaki dan sang kakak, sementara Sundoro itu perempuan, sang adik,” tuturnya serius. Menurutnya, nama yang benar adalah Sundoro, bukan Sindoro. Sun itu artinya ‘kesenangan’, sedangkan ndoro artinya ‘orang besar’. Jadi Sundoro artinya tempat bagi orang-orang yang senang menjadi orang besar. Makanya gunung ini sering menjadi tempat orang bertapa. Dan setiap malam 1 Syura atau tahun baru Islam, ribuan orang mendaki Sundoro untuk berdoa dan memohon berkah.

Pak Amin menasihati, kalau mendaki Sundoro, jangan pernah mengeluh, karena nanti akan dipanjangkan rutenya dan makin lama sampai di puncak. Kalau menemui binatang apapun selama pendakian, jangan diganggu. “Kalau mendengar suara aum harimau, jangan panik atau lari! Sebab itu sebenarnya suara dari gua tempat orang bertapa. Tidak semua pendaki bisa mendengar aum atau melihat orang yang bertapa. Hanya orang tertentu saja.” Kami, tentu saja memperhatikan betul apa yang beliau ucapkan, karena kami juga ingin menghormati kepercayaan masyarakat setempat dan tidak ingin celaka.

Sayang sekali, Pak Amin tidak mau menjadi pemandu kami, untuk pendakian yang rencananya kami lakukan besok malam. Arif, yang pernah mencapai puncak Gunung Semeru, menyarankan saya untuk mendaki malam hari karena menurutnya tidak panas, jadi kami tidak cepat capai dan haus. Setelah kami bujuk-bujuk, akhirnya Pak Amin mengizinkan putranya, Adi, menjadi pemandu kami.

Adi adalah seorang bapak muda yang baru berumur 22 tahun, hampir separuh usia saya. Sewaktu masih bersekolah di Wonosobo, karena kehabisan uang saku, akhirnya ia mendaki Sundoro dari Kledung Pass, lalu turun ke Sigedang. Waktu yang dibutuhkan? “Naik 4 jam, turun 3 jam,” senyumnya bangga. Namun yang lebih gila lagi adalah cerita Adi tentang seorang temannya yang mendaki Sundoro dari Kledung Pass dan turun ke Sigedang dengan mengendarai… sepeda motor! “Tentu saja setelah turun, motornya jadi berantakan, hahaha!”

Besok paginya saya dan Arif membeli penutup kepala serta jerigen plastik untuk diisi air, karena di rute pendakian nanti tidak ada sumber air. Jam 6 petang, kami sudah duduk lagi di rumah Pak Amin, menunggu jam pemberangkatan, jam 10 malam. Karena saya bukan pendaki, Adi akan memilih cara mendaki yang ‘sangat santai sekali’, dan jam 10 diambil dengan perhitungan dalam 8 jam kami sudah mencapai puncak dan melihat sunrise.

Kebetulan, di rumah Pak Amin ada rombongan pendaki dari Karawang yang baru saja turun dari Sundoro. Terdiri dari 5 orang anak muda yang sebelum mendaki Sundoro sudah terlebih dahulu mendaki Sumbing, untuk naik Sundoro mereka perlu waktu 6 jam dan turun 3 jam. Saya pun menghibur diri,  bahwa saya pasti bisa sampai puncak. Kalaupun perlu waktu 8 jam untuk naik dan 5 jam untuk turun, itu sudah sangat bagus.

Lupa Kompor

Tanpa banyak persiapan, saya, Arif, dan Adi berangkat begitu waktu menunjuk pukul 10 malam. Saya hanya membawa backpack berisi kamera, sebotol air, serta jaket hujan. Arif hampir sama, minus jaket hujan. Adi-lah yang membawa dua jerigen berisi 10 liter air, beberapa macam camilan, mi instan, serta kopi.

Melewati jalan desa, lalu jalan utama yang beraspal, langit gelap tanpa bulan, namun cukup cerah karena terlihat bintang di langit. Udara yang dingin menjadi tidak begitu terasa karena kami berjalan. Namun jalan yang menanjak kemudian menghentikan langkah saya untuk istirahat dulu mengatur nafas. Adi, yang hanya memakai sandal jepit, hanya tertawa.

Kami mengambil jalan pintas dan kini memasuki kebun teh. Headlamp saya nyalakan, dan baru kemudian kelihatan debu beterbangan dari jalan setapak yang dilewati Adi, sehingga saya mesti menutup hidung.

Kami akhirnya sampai ke Pos I, di dalam kebun teh, sebuah bangunan beratap yang cukup luas, berlantai semen. Saya mengatur napas, sambil melihat lampu-lampu rumah di Desa Sigedang sana. Kami kemudian sampai ke Pos II, yang juga masih di dalam perkebunan teh, berupa bangunan tanpa atap. Lalu Pos III, juga masih di kebun teh. Kali ini posnya agak besar, seperti gudang, dan beratap. Untuk sampai ke pos ini bagi saya sebenarnya bukan hal yang mudah. Dari tadi saya sudah berhenti beberapa kali. Tidak saya kira, ternyata baru sampai sini saja sudah capek. Sempat terpikir, saya akan sampai di pos ini saja, biarlah Adi dan Arif yang melanjutkan pendakian. Tapi kok rasanya malu.

Berjalan kembali, kebun teh kini sudah berganti menjadi padang alang-alang. Jalan menaik, tapi masih cukup landai. Lampu-lampu di desa yang ada di sisi barat, di Dataran Tinggi Dieng, memberi hiburan tersendiri. Tadi kami melihat hanya satu kelompok lampu saja. Semakin berjalan naik, desa-desa yang kami lihat semakin banyak. Ada satu desa yang posisinya tinggi sekali. Kami masih harus mengangkat kepala untuk melihat lampu-lampunya.

Kami sampai di Pos IV, berupa bangunan berdinding anyaman bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. Kata Adi, ini pos terakhir, dan setelah ini jalan mulai menanjak. Kami beristirahat sebentar, menyalakan api dari kayu-kayu sisa, dan membuka bekal. Saat itulah kemudian Adi sadar kalau ia lupa membawa panci dan kompor parafin! Berarti tidak akan ada sarapan mi instan dan kopi panas besok pagi….

Sudah dua jam dari kami berangkat, namun kata Adi ini baru seperempat perjalanan. Jadi kami berjalan lagi, dan saya makin sering berhenti untuk mengambil nafas. Di sekeliling jalan setapak yang kami lalui hanya ada ilalang setinggi paha, serta satu-dua pohon yang cukup besar dan tinggi. Tampaknya pohon-pohon tinggi ini dibiarkan sebagai penanda jalan. Lainnya berupa pokok kayu dan batang pohon-pohon yang sudah mati akibat ditebangi. Kalau mendaki siang hari pasti panas, karena tidak ada tempat untuk bernaung.

Kami melewati sederetan pohon di kanan kami, yang daun-daunnya seperti punya lapisan bulu. Ketika lampu kami menyorotnya, ternyata di atas daun-daun salah satu pohon itu terdapat banyak sekali belalang kecil namun panjang, seukuran batang korek api, yang sedang kawin. Kami heran sekali, karena proses kawin itu hanya terjadi di salah satu pohon, dan tak hanya dilakukan sepasang belalang, melainkan puluhan pasang. Teringat kata Pak Amin untuk tidak mengganggu apapun, kami hanya dua kali saja mengambil gambar, lalu meneruskan pendakian.

Desa di Dieng yang kelihatan tinggi tadi, lama-lama kelihatan makin rendah, dan kini tampak sama tingginya dengan tempat kami berdiri. Untunglah, cuaca kali ini cukup bersahabat. Menurut Adi, kadang terjadi angin dan hujan badai di Sundoro ini. “Satu-satunya cara kalau itu terjadi, kita mesti berlindung di ceruk-ceruk tanah.”

Sunrise di Lereng

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 4 pagi, dan menurut Adi, kami baru mencapai separuh jalan. “Tampaknya kita tak akan bisa menikmati sunrise di puncak.” Okelah, tidak apa-apa, pikir saya. Tadi saya sudah hampir menyerah, tapi toh akhirnya sampai ke sini juga. Yang penting sampai ke puncak, tapi tak perlu harus saat sunrise.

Rasa kantuk membuat saya memutuskan untuk istirahat. Adi mencari tempat yang agak datar, menutupinya dengan rumput-rumput kering, lalu menggelar sarung di atasnya untuk alas tidur. Sebagai selimut, sleeping bag Arif kami pakai untuk bertiga, tidur berimpitan. Saya langsung pulas.

Entah sudah berapa lama saya tidur, tiba-tiba Adi membangunkan saya. “Mau lihat sunrise?” Oh, tentu saja! Ternyata sekarang jam 5.30, atau sebenarnya saya baru tidur satu setengah jam! Hari sudah terang tanah, dan semburat matahari merah tampak di sisi timur laut kami. Jadi sudah pasti kami tak bisa mengejar sunrise dari puncak gunung. Melihat matahari merah perlahan-lahan muncul dari samping Gunung Ungaran di kejauhan sana, sudah cukup membuat hati senang. Mungkin itu sebabnya orang mau mendaki gunung. Sunrise dari ketinggian ternyata berbeda dengan jika melihatnya dari pantai atau dataran rendah.

Bias sinar matahari akhirnya menerangi juga desa-desa berkabut di Dataran Tinggi Dieng, dan kami mulai bisa melihat jelas Gunung Rogojembangan di kejauhan, yang bentuknya menyerupai bangunan Candi Borobudur. Kami sarapan seadanya, dan begitu mendengar raung sirine pabrik teh di bawah sana, sebagai penanda pukul 6.30 pagi, kami meneruskan pendakian. Saya meninggalkan tas dan isinya, dan hanya membawa kamera saja. Satu jerigen air juga ditinggalkan, untuk meringankan beban.

Jalur pendakian kini berganti menjadi tanah yang berbatu-batu, dan makin menanjak. Mungkin dulu jalur ini merupakan aliran sungai. Pohon-pohon menyerupai lamtoro berjejer di kiri-kanan. Yang disayangkan, terlihat juga bekas-bekas pohon ditebang, yang menunjukkan bahwa para pencari kayu sampai juga ke tempat setinggi ini.

Di atas kami ada tonjolan bukit mengarah ke utara yang berbentuk seperti hidung. Itu, kata Adi, dinamakan Cungur Petruk (hidung Petruk), mengacu pada nama seorang abdi yang berhidung panjang dalam epik Bharatayuda. “Kalau kita sudah melewati itu, berarti kita sudah mendekati puncak.”

Sudah terengah-engah mendaki, dan akhirnya Cungur Petruk kini di sisi kiri-bawah kami, tanda-tanda puncak gunung belum terlihat juga. Setiap kali saya bertanya, “Masih jauh?”, Adi menjawab, “Sebentar lagi. Itu, di atas puncak pepohonan.” Kemudian saya tahu, ternyata Adi hanya menghibur saya. Sebab logikanya, karena gunung itu ketika ke atas makin mengerucut, maka saat mendaki, kita tidak akan bisa melihat bagian puncaknya, kecuali kita sudah sampai di puncak! Saat masih di tengah perjalanan, yang terlihat hanya langit di atas pepohonan, dan itu yang dibilang Adi sebagai puncaknya.

Pasar Setan

Matahari mulai terasa hangat, ketika akhirnya kami sampai ke sebuah batu besar, yang menurut Adi sebagai ‘batu penanda’ kami hampir mencapai puncak. Awan-awan putih tampak di bawah tempat kami berdiri. Kali ini mungkin ia benar, karena di sekeliling kami hanya ada rumput ilalang, dan tanaman edelweiss yang berbunga hijau kekuningan dan berbau harum.

Tanaman edelweiss makin banyak kami temui, dan saya makin bersemangat, meski saya akhirnya baru sampai di sebuah dataran rata satu jam kemudian. Inilah tempat yang disebut Pasar Setan. Disebut demikian, karena di malam tertentu, jika pendaki sampai ke sini malam hari, seringkali terdengar bunyi ramai seperti orang sedang bertransaksi di pasar, meski tidak tampak satu orang pun. Itu sebabnya masyarakat lokal menganggap, yang sedang bertransaksi adalah para setan.

“Tapi,” kata Adi, “di saat malam 1 Syura, tempat ini berubah menjadi pasar manusia, karena banyak peziarah datang ke sini untuk berdoa dan mencari berkah. Para pedagang kaki lima juga berjualan sampai ke sini, mencari rezeki dari orang-orang yang berdoa!” Saya hampir saja tertawa, kalau tak ingat bahwa bagi sebagian orang, bisa saja tempat ini dianggap sakral.

Di Pasar Setan terdapat tiga patok batu tempat sesajian, yang ada di sisi barat, tenggara, serta utara. Juga ada tempat pemancangan bendera, yang biasa dipakai para pendaki untuk upacara memperungati hari kemerdekaan 17 Agustus di sini. Tapi sekarang tiang benderanya tidak ada. “Terus, di mana puncak Sundoro?” tanya saya.

“Ya ini, puncaknya!” teriak Adi. “Kawahnya di depan sana, di balik gerumbul pohon-pohon itu!” Saya melihat jam, ternyata sudah jam 10 pagi. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!

Cuaca mendung, sehingga pandangan ke semua arah kurang begitu baik. Kalau cerah, di sebelah utara kita bisa melihat laut Jawa, di sebelah timur Gunung Merapi dan Merbabu, di sisi tenggara Gunung Sumbing, dan di sisi barat Gunung Slamet. Namun ini tak mengurangi kegembiraan saya. Saya berlari melewati padang kecil rumput kering, melewati banyak pohon bunga edelweiss di kiri-kanan, dan sampai di gerumbul pepohonan di depan. Kawah Sundoro membentang di bawah, berupa cekungan sedalam kira-kira 100 meter dan membentuk lubang memanjang dari barat laut ke tenggara. Di dasar kawah yang tidak aktif ini terlihat tanah lapang, yang saat musim kering dipakai pendaki untuk berkemah atau bermain bola. Saat musim hujan, kawah ini berubah menjadi danau.

Kami tidak turun ke dasar kawah karena mendung mulai menebal. Sebentar lagi pasti hujan, pikir saya, jadi kami mesti cepat-cepat turun dari puncak. Lagipula, kami tidak menemukan rombongan pendaki lain, meski ini hari minggu. Ataukah mereka sampai puncak lebih dulu, dan sudah turun?

Meski sempat heran pada diri sendiri begitu melihat jalur turun yang seperti nyaris vertikal, kami tak sempat berpikir lagi, karena kabut tebal mulai bergerak ke arah kami. Ditambah lagi, jam 7 petang nanti saya dan Arif harus sudah sampai di Bandara Adisucipto Jogjakarta untuk kembali ke Jakarta. Kota Temanggung yang menjadi base camp kami berjarak 3 jam perjalanan dari Jogja, ditambah perjalanan dari Desa Sigedang sekitar 1 jam, jadi kami harus sudah sampai di titik awal pendakian maksimal jam 3 sore. Dengan kata lain, kami hanya punya waktu 5 jam untuk turun gunung. Kalau tidak, kami akan ketinggalan pesawat!

Beberapa kali saya dan Arif jatuh terduduk akibat terpeleset saat menginjak tanah berdebu di atas batu yang kami injak, tapi kami terus berjalan karena kabut tebal yang menyelimuti kami berubah menjadi gerimis. Kami juga harus menemukan kembali tas yang kami tinggal di tempat kami tidur. Untungnya, dengan instingnya yang kuat sebagai orang gunung, Adi berhasil menemukannya kembali. Gerimis dan kabut tebal kemudian menjadi hujan lebat, dan Arif basah kuyup karena ia tidak membawa jaket hujan. Ditambah lagi karena tidak makan nasi sejak tadi malam, Arif tampak lemas dan kuyu. Namun kami harus terus berjalan, di perjalanan turun yang ternyata seperti tak habis-habisnya. Saya sendiri heran, mengapa saya bisa berjalan sampai sejauh ini.

Melewati Pos IV, kami mendengar suara azan dari masjid di desa bawah, pertanda hampir mendekati jam 3. Kalau diteruskan berjalan sampai rumah Pak Amin, pasti kami akan kehabisan waktu. Arif pun mengontak Pak Bukhori dan Pak Budi untuk menjemput kami di Pos III. Untunglah, keduanya sudah standby di rumah Pak Amin, dan mereka langsung bergerak dengan motornya.

Kami akhirnya sampai kembali ke kebun teh, dan begitu bayangan Pos III tampak di kejauhan, kami pun semakin mempercepat langkah. Selamat tinggal, Sundoro!

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips