Villages of Smoke

Villages of Smoke

Musim ini para petani tembakau di Temanggung bisa lebih gembira, karena hasil panen mereka bagus dan dihargai lebih tinggi.

“Kressh… kressh… kressh…”

Suara gobang memotong daun-daun tembakau terdengar renyah di telinga di pagi itu. Tiga lelaki, masing-masing duduk di sebuah bangku kayu di ruang tamu rumah, seperti berlomba merajang daun-daun tembakau yang terlihat masih banyak menumpuk di ruang belakangnya. Mereka mengambil 10 lembar daun tembakau yang sudah menguning –karena telah disimpan 3 hari 3 malam– mereka gulung, lalu dipotong melintang menjadi dua, kemudian dua potongan itu dimasukkan ke dalam alat kayu seperti guillotine mini. Dengan ditekan sedikit ke depan memakai tangan kiri, tumpukan daun itu dipotong melintang dengan ayunan gobang, dan hasil rajangannya jatuh menumpuk ke lantai.

Ketepatan mereka dalam membuat rajangan sungguh mengagumkan. Rata-rata lebar rajangan itu hanya 2 milimeter saja. “Kalau terlalu lebar nanti keringnya lama,” kata Bukhori, salah seorang perajang. “Padahal diharapkan tembakau yang dirajang pagi hari itu bisa kering nanti sore.”

Sesekali Bukhori dan dua temannya berhenti untuk mengasah gobang dengan batu asah. Bentuk gobangnya menarik, seperti pisau besar yang digunakan oleh pemotong daging. “Gobang ini harganya bervariasi,” tambah Bukhori. “Yang saya pegang ini Rp 100 ribu. Tapi ada juga yang sampai Rp 250 ribu.” Saya mencoba mengangkatnya, berat juga. Mungkin beratnya sekitar 1 kg.

Seorang pria lain mengatur rajangan daun tembakau yang berbentuk seperti mie itu agar lebih menyebar ke lantai, lalu ia menaburinya dengan gula pasir halus. Di beberapa tempat lain, kadang digunakan gula pasir cair yang disemprotkan dengan alat penyemprot. Para petani tembakau mencampur tembakau dengan gula itu untuk memperoleh warna cokelat tua, dan juga untuk menambah berat saat ditimbang.

Empat wanita yang ada di halaman depan secara bergantian mengambil tembakau yang sudah ditaburi gula ini, lalu mengaturnya menjadi lapisan tipis di atas rigen –alat menjemur tembakau dari anyaman bambu– yang berukuran 1 x 2 meter. Cara mengaturnya unik. Tiap rigen dibagi menjadi enam lajur tembakau rajangan, tiga di antaranya berisi rajangan-rajangan pendek dari bagian ujung dan pangkal daun, sedangkan tiga lajur lainnya berisi rajangan-rajangan yang panjang. Nanti setelah dijemur sehari, terus didiamkan semalam, lalu diangin-anginkan lagi esok sorenya, maka tiga rajangan pendek itu akan dimasukkan sebagai pengisi ke dalam rajangan-rajangan panjang. Tiga lajur itu lalu digulung dengan tangan untuk membentuk gulungan tembakau, yang kemudian dimasukkan keranjang dan diikat, siap dibawa ke gudang tembakau.

Aktivitas di rumah kakak Bukhori di Desa Gandu Wetan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung – Jawa Tengah pagi itu hanya satu bagian kecil dalam mata rantai bisnis tembakau di Temanggung. Dan tak hanya di desa ini saja yang sekarang sedang sibuk memanen tembakau. Desa-desa lain di Kecamatan Ngadirejo, yang terletak di kaki Gunung Sundoro, juga tengah panen. Misalnya saja di Desa Tegalrejo, Jumprit, Pringapus, hingga desa-desa di lereng gunung yang sudah mendekati wilayah Kabupaten Wonosobo. Bulan Agustus memang masa panen kebun-kebun tembakau di wilayah Gunung Sundoro dan Gunung Perahu. Baru bulan September nanti menjadi masa panen tembakau daerah-daerah di lereng Gunung Sumbing, arah tenggara Gunung Sundoro.

Hampir di setiap rumah, di halaman, ditemui aktivitas merajang, menjemur tembakau rajangan, dan mengggulung serta mengemas tembakau yang sudah kering. Tembakau-tembakau yang tengah dijemur bisa ditemui di jalan-jalan kampung, hingga ke pinggir-pinggir jalan raya, menebarkan aromanya yang khas. Sementara tanaman tembakau yang belum dipanen, melambai di sisi kiri-kanan jalan ke mana pun saya pergi.

Di Desa Pringapus, beberapa kilometer barat daya Gandu Wetan, siang jam 11 itu saya melihat, di jalan utama desa itu para penduduknya tengah membalik tembakau yang telah dijemur sejak pagi. Cara membaliknya unik. Dua orang menaruh rigen kosong di atas rigen yang berisi tembakau. Mereka lalu membalik pasangan rigen itu sehingga isinya berpindah ke rigen yang baru. Sisa tembakau yang masih tertinggal di rigen lama ditepuk-tepuk dengan pemukul dari kayu. “Biasanya jam-jam ini memang waktunya orang membalik tembakau yang dijemur,” jelas Bukhori dan Budi, yang mengantar saya berkeliling memakai motor. Motor kami mesti berjalan pelan-pelan karena sebagian badan jalan kini menjadi tempat jemuran. Warna rajangan daun tembakau yang semula kuning sebagian besar sudah menjadi cokelat dan menebarkan bau khas tembakau.

Di sebelah barat desa ini, yang mempunyai pandangan langsung ke Gunung Sundoro yang menjulang ke angkasa, terhampar perkebunan tembakau yang subur. Beberapa orang tengah bekerja di kebun-kebu milik rakyat ini. Ada yang sedang membuang tunas-tunas cabang, ada juga yang tengah memanen daun tembakau. Orang-orang yang memetiki daun tembakau, tangan dan bajunya kotor oleh getah-getah yang secara alami menyelimuti permukaan daun tembakau. Hasil panen itu dimasukkan dalam keranjang bambu dan dipikul, atau dibungkus karung goni dan dibawa dengan motor.

Menurut Bukhori, panen tembakau dilakukan secara bertahap. Yang pertama adalah daun-daun yang paling bawah, dekat tanah. Mutu panen pertama ini biasanya tidak terlalu bagus. Semingu kemudian dilakukan panen kedua pada kelompok daun di atasnya. Seminggu kemudian dilakukan panen ketiga pada kelompok daun di atasnya lagi, dan terakhir adalah panen daun-daun yang paling atas. “Jadi panen keseluruhan memerlukan waktu sekitar sebulan. Setelah selesai, pohon ditebang dan diganti tanaman lain, seperti padi atau jagung. Tahun depannya, ditanam lagi biji tembakau sekitar bulan April-Mei, dan panen di bulan Agustus-September.”

Tembakau yang terletak di lereng gunung, yang disebut tembakau tegalan, menurut Bukhori mempunyai mutu lebih bagus dibanding tembakau sawahan, yang ada di sawah-sawah di desa yang letaknya lebih rendah, seperti di Gandu Wetan. “Tembakau tegalan bisa mencapai totol F, sementara tembakau sawahan, bisa mencapai totol D saja sudah sangat bagus.”

Totol adalah istilah untuk membedakan mutu (grade) tembakau, yang dinilai berdasarkan tiga kriteria: warna, bau, dan tekstur tembakau saat dikepal dengan tangan. Totol A adalah mutu paling rendah, ditandai dengan warna tembakau kering yang masih hijau kekuningan, sementara yang paling tinggi, totol F, berwarna cokelat tua. “Harga tembakau totol A sekarang ini Rp 20 ribu per kilo. Harganya makin meningkat untuk tembakau totol B, C, D, E, hingga totol F yang biasa disebut tembakau srintil,” tutur Bukhori, yang juga perangkat desa Gandu Wetan. “Rata-rata, untuk setiap beda mutu, selisih harganya sekitar Rp 7.500 per kilogram tembakau kering,” tambahnya.

Menjelang petang, kami berkunjung ke Desa Tegalrejo, tak jauh dari sumber air suci Jumprit yang ramai setiap menjelang perayaan Waisak. Atas petunjuk Kusriyati, lurah Tegalrejo, kami diantar asistennya berkunjung ke rumah-rumah penduduk.

Berbeda dengan penduduk Gandu Wetan, penduduk Tegalrejo yang hampir semuanya petani tembakau, merajang tembakau saat malam hari, dengan tujuan pagi hari tinggal menjemur di pekarangan. Tak heran jika malam itu, hampir tiap rumah di desa yang berhawa dingin itu ramai oleh orang-orang yang merajang, maupun menggulung tembakau. Alat perajangnya tak hanya yang manual memakai gobang, namun yang lebih modern, memakai mesin. Tembakau-tembakau kering yang sudah digulung dimasukkan ke dalam keranjang bambu berisi pelepah-pelepah kering pohon pisang. Mereka tidak membuat sendiri keranjang ini, melainkan membelinya di Pasar Ngadirejo seharga antara Rp 60-100 ribu per buah.

Sebagai teman pencegah ngantuk, ada dua suguhan yang tidak pernah ketinggalan di setiap rumah, yakni kopi tubruk dan seperangkat alat rokok tradisional, yang terdiri dari tembakau yang dibungkus dalam wadah dari anyaman daun pandan, cengkeh dalam plastik, korek api, dan kertas rokok. Meski tembakau mereka diserap perusahaan-perusahaan rokok besar seperti Gudang Garam, Djarum, Bentoel, dan perusahaan-perusahaan  rokok lain, rokok racikan sendiri lebih disukai, selain karena dinilai lebih ‘mantap’ juga karena lebih murah. Karena bukan perokok, saya hanya mencoba rokok racikan ini sekali saja, dan berhenti karena terbatuk-batuk. Hanya kopi saja yang saya minum berkali-kali untuk menghormati tuan rumah, meski akhirnya kepala saya berdenyut-denyut.

Meski sekilas terlihat mengasyikkan melihat proses mengemas tembakau, namun sebenarnya sebelum sampai ke tahap ini, para petani tembakau mesti menunggu minimal 100 hari untuk tembakau jenis genjah sebelum bisa memanennya. Atau tambah satu bulan lagi untuk jenis tembako kemloko. Selama masa itu, pemeliharaan yang dilakukan cukup menguras tenaga dan biaya, mengingat kini muncul hama-hama baru yang siap merusak daun tembakau.

Misalnya saja rengit, kutu daun yang membuat daun tembakau menjadi bentol-bentol merah. Lalu putur sawang, hewan mikroskopik yang merusak daun tembakau dari lapisan daun bagian dalam, sehingga tembakau berlubang dan berwarna putih. Tiap hari, para petani juga mesti membuang tunas-tunas baru yang hendak muncul membentuk cabang, agar tidak berkompetisi dengan batang utama yang menghasilkan daun-daun tembakau yang akan dipanen. Cuaca yang tidak menentu, misalnya banyak hujan, juga bisa membuat tembakau turun mutunya atau rusak.

Hal lain yang masih dikeluhkan petani adalah penentuan berat keranjang tembakau yang ditentukan secara sepihak oleh tengkulak, yang menjadi penghubung antara para petani dan pabrik rokok. Seringkali, para tengkulak itu melakukan pengurangan terlalu banyak. “Sebagai contoh, menurut kami berat keranjang tembakau itu rata-rata 5 kg. Jadi kalau tembakau dan keranjanganya ditimbang dan beratnya 40 kg, maka isi bersih tembakaunya 35 kg. Tapi tengkulak kadang menetapkan berat keranjang 8 kg, sehingga isi bersih tembakaunya hanya 32 kg. Jadi, dengan selisih berat keranjang ini saja tengkulak sudah untung,” tutur Setyobudi, lurah Gandu Wetan.

Untungnya, tahun ini para petani tembakau bisa sedikit tersenyum, karena harga jual tembakau kini sedang bagus-bagusnya. Cuaca di musim kemarau tahun ini sangat baik –hampir tidak ada hujan– sehingga mutu tembakau yang dihasilkan lebih baik dari tahun lalu. Karena tahun lalu banyak petani berasumsi bahwa tahun ini cuaca akan jelek, dan banyak yang beralih menanam tanaman lain, maka produksi tembakau tahun ini agak menurun, dan sesuai hukum suplai dan permintaan, harganya pun menaik. Hal ini akan berimbas pada penghasilan buruh tani tembakau juga, yang menjadi profesi sebagian penduduk Gandu Wetan. Karena tidak punya lahan, mereka menggantukan hidup dari upah merajang, menjemur, atau merawat tanaman tembakau milik para petani, yang untuk itu mereka dibayar Rp 7.500 per hari. Naiknya harga tembakau, memberi harapan juga akan menaiknya penghasilan mereka.

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips
Tangkahan on Elephant

Tangkahan on Elephant

Naik gajah menyusuri sungai-menembus hutan, gua beribu lorong, air panas alami, mengapung mengikuti arus sungai, semua ada di Tangkahan.

Suara monyet yang bersahut-sahutan dan bunyi berisik daun-daun pohon kelapa sawit, membangunkan saya di pagi itu. Saya membuka jendela tenda besar yang menjadi markas Community Response Unit (CRU) Tangkahan di mana saya tidur, dan melihat banyak monyet ekor panjang berlompatan di dahan-dahan pohon kelapa sawit di kebun sisi kanan tenda, tak jauh dari tempat menambatkan gajah-gajah. Mungkin monyet-monyet itu sedang mencari makanan. Suara burung rangkong (hornbill) sesekali terdengar dari hutan di seberang Sungai Batang Serangan, di sisi kiri tenda. Sebuah sambutan pagi yang lain dari yang pernah saya alami selama ini.

Saya segera meloncat dari tempat tidur begitu terdengar suara orang memberi aba-aba, disusul bunyi langkah-langkah berat. Pak Suparman, salah satu dari tujuh mahout (pawang gajah) tampak menuntun Sari, gajah betina yang dipawanginya, menuju sungai, untuk mandi pagi. Enam mahout lain bersama gajah-gajah yang diasuhnya, menyusul di belakang. Gajah-gajah ini merupakan bagian dari tim CRU, yang terdiri dari pemuda Tangkahan, mahout, dan polisi hutan yang melakukan patroli rutin di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dari tujuh gajah yang ada di sini, hanya satu yang berjenis kelamin jantan. Gajah yang terkecil, Olive, baru berusia 8 tahun. Lainnya berusia antara 20-35 tahun.

Tangkahan, yang artinya ‘tempat persinggahan’, merupakan daerah seluas 1.800 hektar dan menjadi daerah ekowisata yang dikelola dua desa, yakni Namo Sialang dan Sei Serdang, yang merupakan desa terakhir sebelum masuk kawasan TNGL dari wilayah Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Dulu penduduk daerah ini banyak yang membalak hutan, dan memakai sungai dan jalan-jalan di perkebunan sawit sebagai sarana mengangkut kayu ilegal. Namun bencana banjir yang dialami desa-desa di bawahnya membuat mereka insyaf. Tahun 2001, orang-orang dari kedua desa itu berkumpul, dan membuat peraturan desa yang melarang eksploitasi hutan dan isinya, serta mendirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT). Dengan dibantu lembaga swadaya masyarakat seperti Indecon serta Fauna and Flora International, LPT mengelola ekowisata Tangkahan, dan memiliki Community Tour Operator (CTO) yang mengelola akomodasi serta para pemandu wisata yang terdiri dari para pemuda di daerah ini, dan CRU yang bertugas melakukan patroli penjagaan hutan.

Mulai Januari 2004, Tangkahan ditetapkan oleh Dinas Pariwisata Sumatra Utara sebagai salah satu daerah tujuan ekowisata selain Bukit Lawang, pusat rehabilitasi orangutan yang sudah dikenal luas sebelumnya. Pembalakan hutan di daerah Tangkahan kini bisa dikatakan tak ada lagi, dan sebagian besar masyarakat hidup dari berkebun karet, kelapa sawit, jeruk nipis, beternak sapi, di samping memperioleh manfaat dari kegiatan ekowisata yang dijalankan.

Memandikan gajah-gajah merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Badan gajah yang sudah jinak itu digosok dengan sikat, kuku-kukunya dirawat. Gajah-gajah itu juga dilatih melakukan instruksi para mahout masing-masing. Misalnya berbaring di salah satu sisi badan, berjalan mundur, diam di tempat, duduk, mengangkat kaki, hingga bersalaman dan mencium pipi dengan belalai. Saya sempat ikut memandikan gajah Eva, dan merasakan betapa kulit badannya tebal sekali. Ketika selesai, oleh mahoutnya, Pak Kliwon, Eva disuruh mencium pipi kanan saya. Dengus napas yang keluar dari belalainya membuat saya deg-degan dan geli.

Kemarin, diantar ketua CTO Ika Sitepu, saya mengunjungi vila-vila tempat menginap para turis di tebing Sungai Buluh, cabang dari Sungai Batang. Untuk mencapainya saya harus menyeberang sungai dengan rakit. Sebagian vila lain dicapai dengan berjalan lagi menembus kebun karet yang rimbun. Tak jauh dari vila-vila ini terdapat air terjun kecil yang sering digunakan untuk terapi ‘akupunktur’ dengan air, serta sumber air panas kecil. Sore harinya, saya melihat Pekan Karet, yang diadakan setiap tanggal 1 dan 15. Karet-karet yang disadap para penduduk dijual kepada pengumpul yang kemudian menjualnya kembali ke pabrik pengolahan karet.

Hari ini, setelah mandi, sebagian gajah akan melakukan patroli. Dengan dua gajah, saya, Ika, Hendra, dan Putra akan menyusuri sungai, trekking menembus hutan, dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menjelajah Gua Kelelawar.

Tempat duduk tandem dari rotan dipasang di punggung gajah. Saya dan Ika naik ke punggung gajah Sari dengan mahout Pak Suparman. Hendra dan Putra naik ke gajah Yuni dengan mahout Pak Dolah. Kami membawa dua ban dalam truk, karena nanti kami akan pulang dengan cara tubing, memakai ban dalam truk sebagai rakit.

Saya sudah pernah naik gajah di Borobudur, dan terus terang rasanya tidak enak. Leher dan pinggang jadi pegal semua. Tapi Ika yang duduk di belakang saya memberi saran, “Cobalah mengikuti irama jalan tubuh gajah. Jangan melawannya. Kalau badannya berayun ke depan, badan kita juga berayun ke depan. Nanti pasti rasanya enak.” Saya pun mempraktekkannya. Benar juga, duduk di punggung gajah berusia 35 tahun ini rasanya kini lebih enak.

Sari dan Yuni membawa kami menyusuri Sungai Batang ke arah hulu. Sungainya tidak dalam, hanya di beberapa bagian saja yang kedalamannya mencapai setinggi lutut gajah. Di kanan-kiri kami hutan yang terdiri dari pohon damar, meranti, raja, keruing, dan candan. Tinggi pohon-pohon itu mencapai 40 meter, dan ada yang diameternya lebih dari 1 meter. Beberapa pohon di pinggir sungai, dengan batang berwarna oranye, tumbang secara alami.

“Itu pohon bambu lemang,” tunjuk Pak Suparman ke arah rumpun bambu yang hijau dan tinggi. Bambu lemang biasa dipakai untuk membungkus lemang, penganan khas daerah Sumatra Utara dan Sumatra Barat, yang dibuat dari beras ketan yang dikukus lalu dibakar.

Hutan yang hijau rimbun, hawa yang sejuk dan segar, kecipak kaki gajah yang membelah air sungai yang jernih, serta suara hewan-hewan hutan memberikan suasana yang menentramkan. Tak heran jika beberapa selebriti pernah mampir ke sini. Aktor Nicholas Saputra pernah datang dan ikut trekking dengan gajah. Pasangan selebriti Australia Rove McMannus dan Tasma Walton juga berkunjung ke Tangkahan.

Hutan di sini menjadi habitat orangutan sumatra, kera daun (Thomas’s leaf monkeys), gajah, harimau sumatra, babi hutan, hingga tupai kecil, burung sri gunting, dan elang. Tanaman yang unik juga ada di kawasan hutan ini, seperti bunga bangkai dan bunga Rafflesia atjehensis. Menjelang akhir trekking di sungai, kami dikejutkan oleh elang yang melintas rendah dan kemudian menjatuhkan sesuatu di pinggir sungai. Ketika didekati, benda yang jatuh itu ternyata ikan sungai yang masih segar, sebesar lengan orang dewasa. Pak Suparman segera mengambilnya. “Lumayan, nanti kita bakar kalau sudah pulang ke rumah.”

Perjalanan menembus hutan kemudian dimulai, dan kekuatan gajah Sari segera membuat saya kagum. Badannya yang besar, dengan tiga orang dewasa di punggung dan lehernya, tak membuatnya kesulitan untuk menapaki jalur trekking yang menanjak. Padahal kalau saya berjalan kaki pun, pasti ketika sampai di atas akan ngos-ngosan.

Makin ke dalam, hutan makin gelap dan pohon-pohon makin tinggi serta rapat. Pak Suparman berkali-kali menebas ranting pepohonan yang menghalangi jalan dengan goloknya. Jalur trekking ini memang dibuat para mahout saat mereka patroli hutan. Ada jalur yang menuju Gua Kambing. Di gua dengan pemandangan air terjun di depannya ini para turis bisa dinner dan menginap. Namun yang kami susuri sekarang adalah jalur menuju Gua Kelelawar, yang bisa dijelajahi dalam sehari.

Sekitar satu jam menjelajah hutan, kami akhirnya sampai lagi ke bagian lebih hulu dari Sungai Batang. Saya, Ika, Hendra, dan Putra, diturunkan dekat sungai, dan kedua gajah dan mahoutnya kembali pulang ke CRU. Kami menyeberangi sungai, dan sampai ke bagian di mana kedua sisi sungai membentuk seperti pintu gerbang.

Setelah beristirahat sebentar, kami mendaki bukit di sisi selatan sungai, menuju  Gua Kelelawar. Hutan yang rapat dan tanah yang lembab bekas hujan semalam membuat saya cepat tersengal-sengal. Kami akhirnya sampai di mulut gua, yang membuat kami mesti merunduk untuk memasukinya. Bau khas dan suara mencicit kelelawar menyambut kami. Tanah yang menurun di dalam gua ini basah dan licin, sehingga kami mesti berjalan pelan-pelan. Air mengucur dan merembes dari dinding gua begitu kami sampai di bagian yang menjadi tempat berkumpul kelelawar. Ribuan kelelawar kecil bergelantungan di dalam gelap. Hanya terlihat matanya saja yang bersinar-sinar.

Namun tampaknya tempat lembab ini hanya ada di bagian gua yang menjadi sarang kelelawar. Makin jauh ke dalam, kelelawar tidak ada lagi. Ruangan gua menjadi lebih kering dan hangat, dan hanya ada hewan melata seperti kecoa. Tidak ada stalaktit atau stalakmit yang istimewa, namun yang mengagetkan saya, selain gua ini panjang sekali, lorong-lorong di dalam gua ini juga sangat banyak, membentuk labirin dan ruang-ruang yang tak terhitung banyaknya. Setiap kali melangkah, lorong-lorong lain di kiri, kanan, dan depan menyambut kami. Ada yang cukup lebar dan tinggi, ada pula yang hanya bisa dilalui dengan memiringkan badan dan merangkak. Ada lorong yang menaik, ada pula yang turun tajam. Beberapa kali kami memasuki lorong-lorong yang sempit, dan saya serta Hendra mendapat ‘hadiah’ berupa benjol di kepala akibat terantuk dinding gua.

Saya bertanya-tanya, bagaimana Ika yakin bahwa kami bisa ke ujung lain gua ini tanpa tersesat? Namun pemandu kami ini tampaknya yakin benar dengan lorong yang ia masuki, karena menurutnya ia selalu mengambil jalan yang sama. “Tidak pernah mencoba masuk ke lorong lain?” tanya saya. Ika menggeleng. “Berkali-kali saya memasuki gua ini, saya hanya melewati lorong yang biasa saya lalui. Terus terang saya tidak berani masuk lorong yang lain.”

Bahkan dengan memakai rute yang biasa, Ika hampir saja membuat kami semua tersesat. Kira-kira lima puluh meter menjelang akhir gua, kami menemukan banyak lorong yang mirip, dan setelah Ika masuki, ternyata tidak mengarah ke pintu keluar. Beberapa kali kami semua salah memasuki lorong, hingga akhirnya kemudian kami menemukan cahaya di depan. Legalah saya. Akhirnya kami tidak tersesat!

Saya kemudian baru sadar, ternyata pintu keluar gua ini berada di tebing sungai yang membentuk seperti pintu gerbang tadi, dekat tempat kami memulai trekking ke gua. Kejutan kedua, tak jauh dari tempat kami ini ternyata ada gua kecil yang mengalirkan air panas ke sungai. Kenapa kami tadi tidak mandi air panas dulu sebelum trekking? Ika hanya tertawa. “Anggap saja ini bonus karena kita sukses keluar dari Gua Kelelawar.”

Kami berlama-lama tiduran di dalam gua menikmati air panas, menghilangkan capek dan pegal-pegal. Ketika matahari sudah condong ke barat, saya dan Hendra menaiki ban, didorong Ika dan Putra. Kami pun mengapung dibawa arus Sungai Batang, pulang ke markas CRU. Satu hari yang menyenangkan!  (T)

 

Cara Menuju Tangkahan

Tangkahan terletak sekitar 100 km barat laut Medan, bisa ditempuh dengan mobil pribadi atau naik bis Pembangunan Semesta dari terminal Pinang Baris, Medan, selama 3-4 jam. Sepanjang perjalanan dipenuhi pemandangan pohon kelapa sawit, dengan sebagian kondisi jalan masih rusak. Untuk transpor, akomodasi, serta trekking gajah, kontak Darwin (+62 813 61423245), E-mail: cto_tangkahan@yahoo.co.id, www.tangkahanecotourism.com.

Foto utama Dok. Edy-FFI Tangkahan

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 2 comments
Pearl of The Gods

Pearl of The Gods

Perlu waktu 4 tahun untuk menghasilkan sebutir mutiara. Tak heran mutiara Bali ini mahal harganya.

Begitu terlihat papan penunjuk bertuliskan “Atlas south sea pearl, 600 m” di sisi kanan jalan, mobil kami pun berbelok ke arah yang dituju, masuk ke sebuah jalan tanah yang sempit dan berdebu. Kami melewati kandang sapi dan rumah-rumah penduduk di kiri-kanan jalan. Beberapa lelaki tengah duduk di depan sebuah rumah di kiri kami, salah seorang melambaikan tangannya begitu mobil kami lewat.

Setelah berbelok lagi ke kanan dan melewati belakang hotel sederhana di tepi laut, Bree yang memegang kemudi menghentikan mobil begitu masuk pelataran sebuah bangunan rumah memanjang bertingkat dua yang tampak masih baru. Ada beberapa bangunan bertipe sama seperti itu di sini. Saya, Lulu, Sri, dan Santi –ketiganya dari kantor Atlas di Sanur– ikut turun dari mobil. Perjalanan selama hampir empat jam dari Sanur di Bali Selatan pun berakhir di sini, di Penyabangan, Bali Utara. Namun ini baru awal, karena kami ke sini untuk melihat peternakan mutiara yang dimiliki Atlas, salah satu perusahaan penghasil mutiara terbesar di dunia.

Saya sendiri awalnya tak mengira kalau di kesunyian Bali Utara, ada peternakan kerang mutiara yang hasilnya diekspor ke Eropa, Amerika, dan Jepang. Dan ini bukan satu-satunya peternakan yang dimiliki Atlas. Masih ada peternakan lain di Grokgak tak jauh dari sini, lalu di Karangasem, di Lombok, dan di Papua, tak jauh dari perairan Raja Ampat. Mulai beroperasi tahun 1997, total produksi peternakan Atlas ini setiap tahun mencapai 240 ribu butir mutiara!

Kemarin sore, saya mampir ke showroom perhiasan mutiara milik Atlas di Sanur, yang kebetulan baru kedatangan hasil panen 8.000 butir mutiara dari Penyabangan ini. Dari para staf di situ, saya sempat belajar menilai grade dari berbagai mutiara, dengan cara menilai kilau dan warnanya, memakai ketelitian mata. Tentu saja, tebakan saya banyak melesetnya! Namun menyenangkan sekali bisa tahu bahwa untuk menilai mutiara ternyata tidak dibutuhkan alat yang canggih.

Dan setelah sampai di Penyabangan ini, dengan pantainya yang tenang dan lautnya yang biru sekali, saya bertanya-tanya, di mana gerangan peternakan mutiaranya?

Lulu dan Bree –manajer marketing Atlas– beristirahat di kafe lantai dua yang sekaligus menjadi toko kecil perhiasan mutiara. Saya, Sri, dan Santi diajak oleh Ita, staf Atlas di Penyabangan, untuk melihat pembibitan kerang mutiara di hatchery.

Melihat Kerang Kawin

Bangunan dua lantai tak jauh dari kafe itu sepintas mirip gudang, namun begitu Ita membuka pintunya, ternyata itu adalah tempat mengawinkan Pinctada maxima, kerang penghasil mutiara. Dari ruangan inilah proses awal dimulai, yakni perkawinan kerang mutiara jantan dan betina. “Seluruh kerang mutiara yang kami gunakan berasal dari pembiakan yang kami lakukan sendiri,” jelas Ita. “Satu-satunya kerang alam di tempat kami adalah kerang induk untuk pembiakan. Kerang ini diperoleh dari perairan Papua.” Menurut Ita, Pinctada maxima merupakan kerang mutiara yang paling besar, dan hanya hidup di perairan laut Australia Utara, Indonesia, Filipina, serta Myanmar.

Proses pembiakan dimulai ketika kerang sudah berusia sekitar 4 tahun. Yang unik, kerang mutiara ini merupakan hewan hermafrodit alias berkelamin ganda. Sewaktu kecil berkelamin jantan, tapi saat dewasa bisa berubah menjadi betina. Untuk tahu mana jantan dan mana betina, hanya bisa diketahui saat musim kawin.

Cara kawinnya sendiri unik. Kerang jantan dan betina diletakkan bersisian dalam wadah yang dialiri air laut yang dikontrol kondisinya. Jantan akan mengeluarkan sperma dan betina mengeluarkan sel telur. Satu kerang betina bisa menghasilkan 60 juta telur. Kedua sel ini akan bercampur dengan sendirinya sehingga terjadi pembuahan. Kadang digunakan dua kerang jantan untuk satu betina. Namun karena prosesnya alami, kadang kedua kerang tidak mau kawin. Jika setelah dipasangkan sehari tidak kawin, kerang-kerang ini dikembalikan ke laut agar kondisinya menjadi lebih baik dan siap dikawinkan lagi.

Hasil pembuahan dicek dengan mikroskop, lalu dipindahkan ke dalam tangki pertama dan ditunggu 20 jam. Telur-telur itu akan berubah menjadi larva yang berukuran 90 mikron. Ketika larva sudah siap untuk makanan pertama, mereka dipindahkan ke tangki berikutnya, dan diberi makan tiga kali sehari dengan campuran lima jenis alga yang ditumbuhkan dengan nutrisi khusus. Alga itu sendiri dikembangkan di laboratorium Atlas di lantai atas tempat pembuahan ini. Melihat laboratorium pembiakan alga, dan penjelasan Ita tentang cara menghitung jumlah alga, mendadak saya jadi ingat praktikum mikrobiologi waktu kuliah dulu…

Di usia 16 hari, larva-larva itu sudah bisa merayap seperti siput, dan dipindahkan ke tangki lain yang berisi kolektor-kolektor berupa net plastik dengan tali-tali melintang. Biasanya hanya 20 persen saja larva yang akhirnya bisa menjadi kerang muda (spat) dan menempel pada tali-tali kolektor ini. Setelah berusia 45 hari dan berukuran sekitar 2 mm, kolektor berisi spat itu dibungkus dengan jaring halus dan dipindahkan ke laut untuk proses pertumbuhan selanjutnya. Setiap kali ke laut biasanya ratusan kolektor. Padahal satu kolektor saja bisa berisi 1.000 spat. Seminggu setelah kerang-kerang muda itu dipindahkan ke laut, dilakukan lagi proses pengawinan kerang di hatchery untuk menjaga kontinuitas produksi.  Di laut, untuk menjadi dewasa dengan diameter sekitar 12 cm, kerang perlu waktu 18-24 bulan. Setelah itu kerang dibawa lagi ke darat untuk dilakukan operasi memasukkan bahan inti mutiara.

Ita membawa kami ke bangunan berikutnya, dan di dalamnya sudah ada Mar dan Lulu. Mar menunjukkan cara mengoperasi kerang mutiara.

Di alam, mutiara terbentuk ketika ada parasit atau benda organik masuk ke dalam tubuh kerang tertentu. Sebagai mekanisme pertahanan diri, kerang menyelimuti benda asing itu dengan nacre atau mother-of-pearl, zat kapur yang juga digunakan untuk membentuk dinding bagian dalam kerang. Penyelimutan ini berlangsung kontinyu, sehingga lama-kelamaan menjadi mutiara. Namun, sedikit sekali mutiara yang diperoleh secara langsung dari proses alami ini. Lebih dari 99 persen mutiara berasal dari kerang mutiara yang diternakkan, di mana ada campur tangan manusia sehingga kerang tersebut menghasilkan mutiara.

Campur tangannya adalah dengan memasukkan nukleus atau inti mutiara bersama sepotong jaringan otot (saibo) dari kerang donor, ke dalam alat kelamin kerang dewasa lain yang diprogram untuk menghasilkan mutiara. Karena ada benda asing ini, kerang menyelimutinya dengan nacre, sehingga dihasilkan mutiara. Jika dilihat kasat mata, mutiara alami dan mutiara hasil ternak itu tidak ada bedanya. Namun jika dilihat dengan sinar-x, mutiara alami mempunyai beberapa nacre berlapis-lapis tanpa inti, sedangkan mutiara hasil ternak mempunyai satu lapis nacre dengan inti di dalamnya.

Sebelum Operasi, Puasa

Seperti layaknya manusia, sebelum menjalani operasi, kerang ditempatkan dalam wadah khusus dan dipuasakan dulu selama 24 jam. Ini membuat mulut kerang terbuka, yang lalu diganjal agar tetap terbuka. Mar lalu membuat sayatan kecil pada alat kelamin kerang itu. Setelah itu nukleus yang berupa bulatan kecil berwarna kuning dan berasal dari kima air tawar, dimasukkan. Lalu dimasukkan lagi saibo dari kerang donor, ditempelkan ke nukleus itu. Saibo ini akan tumbuh lagi di dalam kerang penerima, dan ini yang merangsang kerang untuk membentuk mutiara. Jika memasukkan nukleus saja, mutiara tidak akan terbentuk.

Satu kerang donor bisa menjadi donor saibo untuk 30 kerang lainnya. Biasanya kerang donor dipilih yang kulit dalamnya berwarna putih mengilap. Dengan begitu, diharapkan mutiara yang dihasilkan mempunyai warna putih dan kilap yang bagus. Sebenarnya bisa dipilih juga donor yang berkulit warna emas, karena mutiara warna emas lebih mahal dari yang putih. Namun karena kerang emas ini lebih banyak menghasilkan mutiara kuning yang tidak disukai, membiakkan kerang emas seringkali malah mendatangkan kerugian. Begitu juga kalau memakai kerang lain yang menghasilkan mutiara hitam. Di Indonesia ada, namun pertumbuhannya jauh lebih lambat dan kadang warna mutiaranya kecoklatan. Lebih menguntungkan yang berwarna putih, karena juga lebih mudah dijual.

Total Perlu 4 Tahun

Kerang yang sudah dioperasi segera dibawa ke laut lagi dan ditempatkan dalam ‘area pemulihan’ selama dua bulan. Di masa ini, perawatan kerang benar-benar diperhatikan, dan para penyelam memeriksa kesehatan kerang-kerang ini secara teratur. Setelah sehat kembali dan kantung mutiara mulai terbentuk, kerang dipindahkan ke bagian pembudidayaan.

Tidak semua kerang yang dioperasi menghasilkan mutiara. Enam bulan setelah operasi, kerang akan diperiksa dengan sinar-x untuk melihat pertumbuhan mutiaranya. Kerang yang membentuk mutiara akan dikembalikan ke bagian pembudidayaan. Yang tidak, akan diambil dagingnya untuk bahan makanan, dan kulitnya untuk bahan aksesori. Kadang ada juga kerang yang memuntahkan nukleus, namun tetap membentuk mutiara. Atlas tetap menumbuhkan mutiara ini, meski waktunya lebih lama, 3 tahun. Sebab bentuk mutiara yang diihasilkan biasanya unik. Mutiara yang disebut keshi ini identik dengan mutiara alam, dan seringkali hasilnya sangat indah.

Setelah 18-24 bulan dari operasi, atau sekitar 4 tahun dari sejak berbentuk larva, mutiara pun siap dipanen. Saat ini, ukuran kerang mutiara sudah mencapai satu telapak tangan orang dewasa!

Proses pemanenannya mirip dengan saat operasi. Mar membuat sayatan kecil pada kerang, dan dari sayatan itu muncul mutiara, yang diambil dengan hati-hati memakai spatula. Ini adalah saat-saat paling mengesankan bagi yang melihatnya, karena begitu masih di mulut kerang, sorot lampu yang mengenai mutiara itu pun sudah membuat mutiara berkilau. Begitu sudah terambil, kami semua berebutan untuk memegang mutiara itu untuk merasakan seberapa bulat dan halusnya mutiara itu.

Menurut Ita, di panen pertama, rata-rata diameter mutiara antara 9 sampai 16 mm. Tidak seperti kerang lain yang hanya bisa dipanen sekali saja, salah satu kelebihan Pinctada maxima itu adalah, kalau mutiara yang dihasilkannya bagus, ia bisa dioperasi lagi dan dibudidayakan untuk menghasilkan mutiara kedua. “Biasanya pada panen kedua itu, mutiara yang dihasilkan lebih besar, bisa mencapai 20 mm.”

Pada prinsipnya, semakin besar, semakin bundar, semakin berkilau dan semakin mulus permukaan mutiara, semakin tinggi pula nilainya. Kemarin waktu di showroom Atlas, sebuah kalung yang terdiri dari untaian 33 butir mutiara berukuran 12-15 mm saja dijual seharga 46.800 dolar. Ini saja sudah didiskon dari harga semula 52.000 dolar. Berapa ya, kira-kira harganya kalau ukuran mutiaranya 20 mm semua?

Ketika kembali ke kafe, saya disambut Dr. Joseph Taylor, pakar mutiara kelas dunia yang dimiliki Atlas. Meski kedudukannya di perusahaan induk Atlas di Australia sudah tinggi, sebagai managing director, ia masih telaten terjun langsung ke peternakan mutiara untuk mengontrol kualitas produk.

Pria yang menikah dengan wanita dari Singaraja itu mengajak kami mengunjungi lokasi pembudidayaan kerang mutiara, yang jaraknya sekitar 100 meter lepas pantai. Perahu motor kami pun meninggalkan dermaga, dan segera saya melihat perbukitan yang biru dan diselimuti awan di sisi selatan pantai. Laut tampak biru sekali, dan matahari menjelang sore itu bersinar cerah.

Segera kami sampai ke area yang ditandari dengan banyak pelampung berbentuk bola hitam yang membentuk garis sepanjang 200 m. Ini disebut long line. Di bawah pelampung-pelampung inilah digantung net-net berisi kerang yang dibudidayakan. Setiap net berjarak 1 m, sehingga dalam 200 m long line ada 200 net. Kedua ujung long line diikatkan ke dasar laut dengan jangkar. “Di seluruh peternakan kami di Indonesia, kami memiliki sekitar 500 long line,” jelas Joseph dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Kami lalu menuju pos terapung pertama, di mana para pekerja yang umumnya wanita memindahkan kerang-kerang kecil. Ini tadinya adalah spat-spat berukuran 2 mm ketika dipindahkan dari hatchery ke laut. Setelah berusia 70 hari, kerang itu kini berukuran sekitar 1 cm dan siap dipindahkan ke kolektor bendera yang mempunyai kantung-kantung, di mana setiap bendera berisi 64 kerang. Setiap dua minggu, kerang-kerang itu dibersihkan dengan disemprot air bertekanan tinggi. Setelah berusia 6 bulan, kerang dipindahkan lagi ke bendera yang berisi 21 kantung, sampai berusia 14 bulan. Lalu dipindahkan lagi ke bendera berisi 8 kerang hingga berusia 18-24 bulan. Saat ini, kerang berukuran sekitar 12 cm dan siap dioperasi.

Joseph menyuruh stafnya untuk mengambil kerang yang cukup dewasa, dan ketika netnya diangkat, kerang-kerang itu sudah besar dan berat, mungkin sekitar 1 kilogram per kerang. “Kerang ini sebentar lagi siap dioperasi,” kata Joseph.

Kerang-kerang yang sudah dioperasi dan siap memproduksi mutiara dikembalikan lagi ke sistem bendera di laut dan dipelihara dengan seksama selama kurang lebih 2 tahun. Jadi, total waktu yang diperlukan mulai dari pengawinan kerang hingga dipanen sekitar 4 tahun.

Ketika perahu kembali menuju pantai, sambil memandang pelampung-pelampung yang makin mengecil di kejauhan, saya berpikir, pantas saja mutiara menjadi begitu berharga, sebab untuk mendapatkan satu butir saja perlu waktu yang lama dan upaya serta dana yang tidak sedikit…. (T)

 

 

Tur Mutiara
Untuk berkunjung ke peternakan kerang mutiara Atlas di Penyabangan atau ke showroom Atlas di Sanur, kontak: Atlas south sea pearl, Pertokoan Sanur Raya No.18-19, Jl. Bypass Ngurah Rai, Sanur, Bali, Tel. +62 361 284455, Fax. +62 361 284454, E: info@atlassouthseapearl.com.au, www.atlassouthseapearl.com.au. Atlas juga mempunyai showroom lain di Ubud dan Seminyak.

Menuju Penyabangan
Penyabangan terletak di pantai utara Pulau Bali, sekitar 80 kilometer timur Gilimanuk, di tepi jalan raya Gilimanuk-Singaraja. Jika ditempuh dengan mobil dari Bandara Ngurah Rai Denpasar butuh waktu sekitar 3,5 jam. Hotel-hotel di daerah Penyabangan dan Pemuteran memberikan fasilitas transfer ke bandara dengan biaya tambahan.

Menginap Mewah
Hotel paling dekat dengan Atlas adalah North Bali Divecenter (Tel. +62 812 3933113) yang juga menyediakan kursus diving dan dive trip ke Tulamben dan Pulau Menjangan. Di Pemuteran, 5 km barat Penyabangan, pilihan tempat menginap lebih banyak. Misalnya, Matahari Beach & Resort Spa (Tel. +62 362 92312), satu-satunya resort bintang lima di wilayah Bali Utara.

Puri Ganesha (Tel. +62 362 94766) yang dikelola Diana dan Gusti, merupakan resort eksklusif dengan 4 villa yang didesain secara berbeda. Resort ini masuk daftar World’s Best Beach Hideaways versi majalah Travel & Leisure. Bisa juga menginap di Reef Seen (Tel. +62 0362 92339). Di sini, selain terdapat fasilitas pengembangbiakan penyu,  anda bisa snorkeling dan melihat sendiri proses pemercepatan pertumbuhan karang laut dengan menggunakan arus listrik. Penginapan lain adalah Pondok Sari (Tel. +62 362 92337) dan Taman Selini (Tel. +62 362 93449).

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 0 comments
Conquering Krakatoa

Conquering Krakatoa

Batu dan pasir yang kami injak akan segera memanas, dan kami harus segera turun kalau tidak ingin kaki kami melepuh…

Ini memang akan menjadi perjalanan yang tidak biasa: mendaki salah satu puncak gunung paling berbahaya di dunia, Krakatau. Makanya ketika saya mengutarakan keinginan untuk ikut trip ke Krakatau, istri saya langsung mendelik. “Apa kamu gila? Kamu pikir aku lupa sama tayangan Super Volcanoes di National Geographic ya? Lagian, kamu kan bukan pendaki gunung!?”

Ya, ya, benar, Krakatau memang berbahaya, tapi dia tidak tahu bahwa  pada waktu kecil saya pernah membaca buku tentang legenda sebuah kerajaan di Krakatau, dan sejak itu selalu terobsesi untuk bisa mendaki Krakatau. Dan sekaranglah kesempatannya. Mengapa saya harus melewatkan?

Jumat malam sehabis pulang kantor, kami pun berkumpul. Semua ada 27 peserta yang akan ikut pendakian, yang dikemas dengan nama Fun Trip to Krakatau. Dalam hati saya tertawa, bagaimana mungkin mendaki gunung seperti Krakatau disebut ‘fun trip’. Namun pemimpin rombongan, Mas Budi, yang sudah beberapa kali mendaki gunung api di Selat Sunda ini, menjanjikan bahwa kami tak hanya mendaki Krakatau, namun juga akan berenang, snorkeling, dan berfoto-foto di pulau yang berpantai pasir putih. Wah, ini dia!

Yang mengherankan saya, ternyata para peserta pendakian ini kebanyakan anak muda, dua di antaranya bahkan anak-anak. Yang bisa dianggap ‘tua’ hanya satu, yakni Roman Gerber, warganegara Swiss yang sudah 20 tahun tinggal di Bali, dan merupakan pendaki gunung sejati. Obsesinya adalah mendaki semua puncak gunung di Indonesia yang tingginya di atas 3.000 meter. Tahun ini saja, ia sudah 10 kali naik turun Gunung Agung di Bali. Ia membawa serta Marlon, putranya yang seorang peselancar profesional, yang membawa teman seumurnya, Thai.

Roman tak menjawab ketika saya tanya mengapa ia mau mendaki Krakatau, yang tingginya hanya sekitar 280 meter. Ia cukup menunjukkan buku tebal yang selalu dibacanya: Krakatoa, The Day the World Exploded karangan Simon Winchester. Saya pun segera paham apa maksudnya.

Perjalanan tengah malam selama 2 jam dengan minibus dari Jakarta ke Merak, diteruskan dengan menyeberang ke Lampung dengan feri selama 3 jam –belum termasuk antri lama ketika memasuki pelabuhan– sebenarnya sudah cukup membuat badan pegal-pegal. Namun rasa pegal itu segera hilang ketika pagi harinya kami sampai di Canti, desa nelayan di Kalianda, Lampung Selatan, di mana dari situ kami akan naik kapal kayu menuju Krakatau. Kami tidak akan langsung menuju Krakatau, yang bisa ditempuh dalam 3 jam, namun akan mampir dulu dan berenang-renang di Pulau Sebuku Kecil, kemudian menginap di Pulau Sebesi. Keesokan paginya baru kami akan menuju Krakatau.

Begitu kapalnya datang, hati saya pun menciut. Mampukah kapal kayu kecil yang memakai mesin Isuzu Panther dan hanya diawaki dua orang ini mengarungi laut menuju Krakatau? “Jangan khawatir, Pak Anwar dan Mas Isnen ini sudah terbiasa membawa penduduk dan mengantar saya ke Krakatau,” Budi mencoba menenangkan. “Tapi, demi keselamatan, mohon semua peserta memakai jaket pelampung.”

Mula-mula kapal melaju dengan tenang, karena ombak masih kecil. Namun setengah jam kemudian, ombak mulai membesar dan begitu kapal terombang-ambing, beberapa peserta mulai mabuk laut. Saya yang duduk di geladak depan pun harus berpegangan erat-erat ketika kapal dipermainkan ombak dan seperti mau menghunjam ke laut begitu diturunkan oleh gelombang.

Untunglah, kami kemudian melihat dua pulau bersisian, yang dari jauh kelihatan garis pantainya yang berwarna putih. Yang di sebelah kanan adalah Pulau Sebuku Besar, sementara di kirinya, yang lebih kecil, adalah Pulau Sebuku Kecil. Semakin mendekat ke Pulau Sebuku Kecil, saya pun melihat warna air lautnya yang bergradasi, mulai dari biru tua, biru muda, hijau, hingga putih. Kami pun berloncatan begitu kapal merapat ke pantai.

Pulau yang hanya dihuni beberapa keluarga ini mempunyai pantai yang putih, air yang jernih, dan pemandangan yang indah, dengan latar belakang Gunung Sebesi di kejauhan. Memotret dengan kamera saku pun menghasilkan gambar seperti pemotretan di studio.

Perjalanan ke Pulau Sebesi menghabiskan waktu setengah jam. Kami beristirahat di sebuah pendopo terbuka dekat dermaga. Di pulau ini terdapat 2.000 orang. Sebagian berdagang kayu kelapa yang akan dijual ke Jawa, sebagian lagi menjadi nelayan, atau memberi jasa pengangkutan penumpang dari Sebesai ke Canti, yang biayanya Rp 11 ribu per orang. Sore hari kami habiskan dengan berjalan-jalan melihat aktivitas penduduk pulau, dan menikmati sunset di Pulau Umang-umang yang juga berpasir putih, tak jauh dari Sebesi.

Sunrise di Atas Kapal

Jam 4 pagi Budi membangunkan seluruh peserta trip. Mata yang masih berat diganjal dengan kopi, dan kami pun naik kapal lagi untuk menuju Krakatau, yang akan ditempuh selama 1,5 jam. Hari masih gelap gulita, dan bayangan Gunung Sebesi dekat tempat kami menginap perlahan-lahan hilang di belakang. Angin dingin  menampar-nampar tulang pipi, dan kami semua terdiam, hanya bunyi motor kapal yang memecah kegelapan dini hari itu.

Langit yang semula gelap, perlahan bersemu merah, dan sunrise yang indah pun muncul dari sisi kiri kapal. Bayangan Gunung Krakatau dan pulau-pulau yang mengelilinginya mulai nampak di kejauhan.

Sebenarnya, nama yang lebih tepat adalah Gunung Anak Krakatau, karena induknya, Gunung Krakatau, telah tenggelam ke dasar laut bersama tiga perempat bagian Pulau Rakata yang ditempatinya, ketika terjadi letusan hebat di tahun 1883. Baru kemudian pada tahun 1928 mulai muncul Gunung Anak Krakatau dari dasar laut, yang makin lama makin meninggi hingga tercatat mencapai 280 meter pada dua tahun lalu.

Dari jauh, terlihat gunung ini mempunyai dua puncak. Puncak pertama tingginya sekitar 100 meter, diikuti oleh sebuah dataran, lalu mengerucut membentuk puncak kedua. “Kita hanya akan mendaki puncak pertama saja,” kata Budi. “Tapi kalau kondisi tidak berbahaya, silakan saja kalau ada yang mau mendaki puncak kedua. Anggap saja sebagai bonus.” Saya lihat, tak ada asap mengepul dari atas puncak kedua, jadi mudah-mudahan saya bisa naik sampai puncak, kalau fisik saya mampu.

Di belakang Pulau Anak Krakatau adalah Pulau Rakata, dengan puncak gunungnya yang lebih tinggi. Tapi kami tidak akan ke situ. Di sebelah barat Pulau Anak Krakatau adalah Pulau Sertung, sedangkan di samping timurnya adalah Pulau Panjang. Semakin mendekat, hati saya makin berdebar-debar. Tahun 1883 itu, ‘ibu’ gunung ini meletus dan menimbulkan tsunami setinggi 40 meter yang menyapu desa-desa di pesisir Pulau Sumatra dan Jawa, merenggut nyawa lebih dari 36.000 orang. Anak Krakatau juga telah beberapa kali secara tak terduga meletus. Bagaimana kalau tiba-tiba Anak Krakatau ini batuk-batuk, sementara kami ada di bawah telapak kakinya?

Saat ini Anak Krakatau memang tampak tenang, namun kami tetap harus berhati-hati, sebab bagaimanapun ia adalah gunung yang hidup dan timbunan magmanya terus tumbuh. Saya yakin, di dalam perutnya, Anak Krakatau tengah mengumpulkan ‘tabungan’ magmanya, yang bisa ia muntahkan kapan saja.

Puncak Tertutup ‘Salju’

Waktu masih pukul tujuh pagi ketika pantai berpasir hitam Pulau Anak Krakatau menyambut kami. Kawasan pulau ini sudah masuk dalam UNESCO World Heritage List sejak Desember 1991. Setelah sarapan dan minum kopi, kami pun berjalan menembus hutan kecil yang tidak begitu lebat, dan lima menit kemudian, saya menginjak tanah berpasir yang tertutup oleh daun-daun dan biji bunga cemara, dan… tampaklah puncak Anak Krakatau yang berbentuk kerucut landai yang cantik, dengan batuan berwarna putih di puncaknya, seperti tertutup salju.

Jalan mendaki pun dimulai, dan mulailah saya tertinggal dari rombongan, karena pasir yang saya injak ternyata memberati langkah-langkah saya. Sebagian pasir masuk ke sandal dan menimbulkan rasa sakit. Baru setengah perjalanan menuju puncak pertama, saya sudah ngos-ngosan. Beberapa kali saya istirahat sambil memegangi lutut. Wah, baru segini saja sudah kerepotan. Bagaimana kalau mendaki gunung yang tingginya ribuan meter?

“Ayo, jangan kalah sama Nadja!” seru Faisal, wartawan sebuah majalah hiburan. Di kiri saya, agak jauh, saya lihat Nadja, putri Budi yang baru berusia 7 tahun, sedang beradu cepat naik gunung dengan pamannya, Sudaryanto. Mereka tertawa-tawa, seperti sedang bermain-main saja. Saya menggerutu dalam hati. Tapi saya memang tak bisa dibandingkan dengannya. Kalau saya baru pertama kali ini mendaki gunung, Nadja sudah menaklukkan lima puncak gunung, dan pendakian ke Krakatau ini untuk yang ketiga kalinya!

Dengan susah payah, akhirnya saya sampai juga ke puncak pertama. Hmm, rasa lelah segera hilang begitu disuguhi pemandangan indah pulau-pulau di samping Anak Krakatau. Di sini pula ada alat pemantau aktivitas Anak Krakatau, namun tidak ada penjaga gunung, yang menurut cerita sering menodongkan senapannya kepada siapa saja yang nekat mendaki ke puncak kedua, kalau gunung sedang tidak ramah. Mungkin karena hari masih pagi dan gunung ini tampaknya juga tengah tidur.

Sebagian peserta trip asyik berfoto-foto. Namun ketika saya melayangkan pandangan ke puncak kedua, hei, di kejauhan tampak tiga orang tengah berjalan di punggung gunung, menuju ke puncak kedua. Tidak salah lagi, yang paling depan adalah Roman. Mereka tampak seperti titik-titik yang sedang bergerak. Dalam hati saya berpikir, sudah sampai di sini, mengapa saya tidak mendaki ke puncak tertingginya sekalian? Sepertinya tidak sulit, karena mereka mendaki dengan mengitari punggung gunung, pikir saya.

Saya tinggalkan tas kamera dan botol air minum, dan hanya membawa kamera yang saya selempangkan di punggung. Saya pun menyusul rombongan yang sudah lebih dulu mendaki. Marlon dan Thai di depan saya. Namun tak lama kemudian, Marlon meninggalkan saya dengan langkah-langkahnya yang cepat.

Mula-mula pendakian ini mudah, karena saya memang masih mengitari punggung gunung. Namun sepuluh menit kemudian, jalan mulai menaik. Di kanan-kiri saya berserakan batu-batu hitam besar dan kecil. Sesekali asap panas keluar dari bebatuan itu. Hanya satu-dua tanaman suplir yang bisa bertahan di gunung ini. Dan lagi-lagi pasir yang saya injak menghambat langkah saya karena pasir yang cukup dalam dan hangat itu masuk ke dalam sandal gunung saya. Saya juga harus berhati-hati agar tidak terpeleset, yang kalau naas, bisa membawa saya ke jurang di samping kiri.

Berkali-kali saya hanya naik sekitar sepuluh meter, lalu beristirahat menenangkan nafas yang memburu. Kamera di punggung saya agak menyulitkan gerak karena cukup besar, tapi bagaimanapun harus saya bawa. Di atas saya Thai juga beristirahat sambil minum. Di bawah sana, agak jauh, Anastasia dan Santoso menyusul. Setengah merangkak saya mendekati Thai, dan minta sisa air yang ada. Kenapa saya tadi meninggalkan botol air saya di bawah, sesal saya.

Air yang membasahi kerongkongan seperti memberi tenaga baru kepada saya. Marlon, yang sudah jauh meninggalkan saya dan Thai, berteriak, “Ayo, tinggal sedikit lagi!”

Jarak antara kami dengan Marlon hanya sekitar 30 meter saja. Namun menuju ke tempatnya adalah bagian yang paling berat, karena sekarang jalurnya berupa garis lurus menaik dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Sudah tanggung sampai di sini, masa tidak saya selesaikan, pikir saya. Kini saya tidak berjalan lagi, tapi harus merangkak setapak demi setapak di antara batu-batu hitam yang mulai terasa panas, dengan tangan mencari-cari batu yang kokoh untuk pegangan sebelum kaki melangkah. Rasanya saya seperti Frodo yang sedang susah payah mendaki Gunung Mordor dalam film Lord of the Rings.

Batu hitam terakhir saya gapai, dan… di depan saya terhampar dataran yang berbatu-batu, campuran antara batu hitam dan batu putih yang mengepul. Kira-kira 20 meter di depan sana, beberapa teman yang sudah sampai lebih dulu tengah berfoto-foto di bibir kawah Anak Krakatau. Hati saya memekik, akhirnya sampai juga!

Setengah berlari saya bergegas menuju bibir kawah untuk melihat seperti apa isi di dalamnya. Semula saya mengira, kawah itu berisi magma cair yang menggelegak dan meletup-letup. Namun ternyata, kawah yang tidak terlalu dalam itu hanya berupa cekungan kering yang tertutup tanah dan pasir… Hanya bibir kawah di seberang saya saja yang mengeluarkan asap dari sela-sela batu-batuannya yang berwarna putih kekuningan. Begitu juga batu-batuan di dekat tempat kami berpijak, mengepulkan asap putih.

Dari seluruh peserta, akhirnya ada 14 orang yang berhasil sampai ke puncak Anak Krakatau, dua di antaranya peserta perempuan, Anastasia dan Nina. Dari alat GPS Roman, diketahui tinggi Anak Krakatau kini telah menjadi 287 meter, atau naik sekitar 7 meter dari catatan dua tahun lalu.

Namun kami tidak bisa berlama-lama di puncak. “Mohon semua segera turun karena matahari sudah tinggi,” kata Sudaryanto. “Sebentar lagi pasir di gunung ini akan menjadi sangat panas.”

Masalahnya, bagaimana cara turunnya? Sudaryanto lalu memberi contoh. “Masukkan dulu kaki kanan ke dalam pasir, lalu setelah dirasa dasar pasirnya kokoh, baru langkahkan kaki kiri sambil tangan berpegangan pada batu yang ada di dekat kita.”

Saya pun menuruti perintahnya. Dan benar, begitu kaki kanan masuk ke pasir, rasa panas segera menyergap. Pasir-pasir itu telah menjadi panas, dan kalau sampai tengah hari baru turun dari puncak, pasti kaki saya akan melepuh.

Kami pun bergegas turun, meski kadang kami lakukan dengan ngesot (setengah duduk). Lagi-lagi, saya termasuk yang paling akhir sampai ke puncak pertama.

Begitu semua peserta sudah berkumpul, kami pun turun menuju ke pantai. Kali ini, sambil meluapkan kegembiraan telah menggapai puncak Anak Krakatau, kami berlari menuruni gunung, seperti mobil yang meluncur dengan kecepatan penuh dari atas bukit.

Pukul sebelas siang, kapal mulai bergerak meninggalkan pulau. Dari atas geladak, tak puas-puasnya saya memandangi puncak putih Anak Krakatau yang makin lama makin mengecil di kejauhan. Satu mimpi telah tercapai…. (T)

 

Bagaimana Cara Menuju Krakatau?
Ada beberapa cara menuju Krakatau. Bisa dari Anyer, Carita, atau Labuan di ujung barat Pulau Jawa. Bisa juga dari Canti – Kalianda, ujung selatan Sumatra. Biaya trip weekend melalui rute terakhir sekitar Rp 750.000/orang, alat snorkel mesti bawa sendiri. Untuk skedul trip, kontak: Reza Ariesca (+62 813 16001846, vatreesta@gmail.com), atau Budi Yakin (+62 818 790063, bdyakin@yahoo.com).

 

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 6 comments
Secret Way to Green Canyon

Secret Way to Green Canyon

Mengambang di sungai selama empat jam, badan menggigil dan lecet-lecet. Namun pemandangannya sungguh luar biasa.

Vikram berjalan tertatih-tatih dan sesekali ia berhenti, seperti ragu-ragu mau meneruskan atau tidak. Kakinya yang telanjang tanpa alas tercelup ke dalam lantai Gua Kalong yang becek, campuran antara air, tanah lumpur, dan kotoran kelelawar. Kang Mamat yang memandu di depannya memakai senter dengan sabar membujuknya untuk meneruskan berjalan di gua sepanjang hampir 100 meter ini. Sesekali ia menggandeng tangan Vikram untuk menunjukkan pijakan mana yang aman untuk dilalui. Saya, yang berjalan di belakang Vikram, tiba-tiba jadi ingat adegan di serial televisi, ketika Mr. Bean kesulitan turun dari tangga karena di depannya ada seorang wanita tua yang berjalan sangat pelan.

Namun perjalanan masuk ke Gua Kalong di tepi Sungai Cijulang ini sebenarnya hanya ‘bonus’ dari trip yang sesungguhnya. Begitu kami keluar lagi dari gua yang besarnya cukup untuk masuk sederetan gerbong kereta api itu, kami segera memakai kembali helmet dan life vest, karena kami akan segera ber-body rafting di sungai yang ada di bawah gua.

Tidak seperti rafting biasa yang memakai perahu karet, yang akan kami lakukan adalah mengambang mengikuti arus sungai. Start-nya dari bagian hulu ini, dan tujuan akhirnya sekitar 6 kilometer ke hilir, ke lokasi yang biasa digunakan para turis untuk menikmati keindahan Green Canyon. Jadi, berbeda dengan turis biasa yang berkunjung ke Green Canyon melalui pintu depan, kami akan melakukannya melalui pintu belakang. Baru ada sekitar 30 orang –termasuk kami– yang tahu ‘jalan rahasia’ ini. Rafting biasa tak bisa dilakukan di sini, karena kata Budi Yakin, pemimpin rombongan, sungainya di banyak bagian cukup dangkal, berbatu-batu, dan kadang jeram-jeramnya hanya bisa dilewati oleh satu badan orang dewasa saja.

“Kita akan melakukan body rafting selama sekitar 4 jam, dengan beberapa kali istirahat,” kata Budi, setelah kami berdoa bersama. “Ingat ya, kalau sudah mencebur sungai, tidak ada jalan untuk kembali! Jadi, mau tidak mau harus meneruskan sampai finish.”

Menciut juga hati ini mendengar peringatan itu. Memang, kalau pun berhenti di tengah jalan, ke mana saya bisa mencari jalan pulang? Sungai ini dibatasi dinding-dinding vertikal batu alam yang tingginya mencapai 30 meter, serta hutan lebat di kanan kirinya. Tadi, sebelum sampai ke gua ini, kami bertujuh belas –enam di antaranya pemandu– mesti naik mobil bak terbuka dari terminal bis Cijulang, melewati jalan-jalan berbatu dan menanjak sekitar 5 km, diteruskan dengan trekking menyusuri hutan yang rimbun dan licin selama setengah jam.

Jam hampir menunjuk pukul 10 pagi. Kami berjalan berhati-hati melewati batu-batu yang licin, turun ke sungai. Segera kami berdecak kagum oleh hijaunya air sungai yang ada di bawah kaki, dan dinding-dinding batu di kedua sisi sungai, yang mempunyai lapisan-lapisan alami sebagai hasil proses geologis yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Suara burung-burung tak henti bersahutan, sementara sinar matahari di beberapa bagian menerobos masuk melalui celah-celah daun dari pohon-pohon besar yang menaungi kedua sisi sungai. Di depan sana, aliran sungai seperti menghilang di antara batu-batu besar-kecil yang ada di sungai yang lebarnya sekitar 15 meter ini. “Wah, seperti kembali ke masa lampau, ke zaman dinosaurus!” teriak Benito, salah seorang peserta trip.

Kang Mamat dan Kang Sarip, pemandu lokal kami, segera mencebur ke sungai untuk mengecek arus dan membersihkan alur air yang terhalang oleh ranting-ranting yang menyangkut di antara batu-batu. Tinggi permukaan air sungai sepertinya tengah ideal untuk body rafting ini. Tidak tinggi, namun juga tidak dangkal. Air sungai yang kehijauan mengalir tenang, hanya di beberapa tempat yang melewati batu-batu saja air menjadi mengalir lebih cepat dan deras.

Begitu Kang Mamat memberi tanda OK, para peserta trip langsung mencebur dan mengambang satu persatu mengikuti arus. Budi dan Bleem berada di tengah-tengah peserta, sedangkan Unik dan Agus berada paling belakang untuk berjaga-jaga. Saya dan Vikram, yang ada di deretan agak belakang, tampaknya kurang beruntung. Vikram, expat India yang ikut trip ini bersama rekannya Himanshu, tampaknya perlu aklimatisasi dulu dengan air sungai yang pagi itu terasa dingin. Unik segera datang untuk membantunya.

Sementara saya, entah mengapa life vest yang baru saya beli dan harganya cukup mahal ini ternyata tidak sepenuhnya men-support berat badan. Jadi, air seperti menerobos lewat sela-sela life vest dan membuat saya agak tenggelam. Sebab kalau saya dalam posisi vertikal, tinggi air sungai itu bukannya sedada, melainkan hingga di atas hidung. Agus yang melihat saya gelagapan segera menangkap saya dan menyeret saya ke batu terdekat. “Mungkin memakainya kurang ketat,” Agus menduga.

Ia membantu saya memasang kembali life vest saya dan menyelempangkan pengunci paling bawah melewati selangkangan. Dengan cara itu diharapkan saya bisa lebih mengambang. Kami pun segera turun lagi ke sungai untuk menyusul teman-teman yang sudah agak jauh di depan. Vikram masih dipandu Unik, dan tampaknya ia sudah mulai bisa menikmati perjalanan ini.

Namun tampaknya life vest saya memang bermasalah, dan hidung saya tetap kemasukan air. Jadi, di beberapa menit pertama perjalanan itu, saya harus selalu diseret Agus, supaya tidak tenggelam. Daripada saya tak bisa menikmati trip ini, begitu kami bisa menyusul teman-teman di depan, Bleem menawarkan diri untuk bertukar life vest saya itu dengan yang ia pakai. Dan ternyata benar. Begitu ia memakai life vest saya, Bleem menemukan life vest itu tidak cukup mensupport berat badannya, meski buatnya hal itu tak menjadi masalah karena ia pandai berenang.

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali, dan kini saya mulai bisa menikmati enaknya meluncur mengambang di air sungai yang berwarna hijau daun ini. Di bagian sungai yang dalam, tak ada yang bisa dilihat di bawah permukaan air. Sementara di bagian yang agak dangkal, terlihat batu-batu, baik batu gunung yang hitam maupun batu-batuan karst yang seperti batu-batu karang di pantai. Di sela-sela dan di permukaan batu-batu itu, kami melihat banyak sekali kepiting-kepiting kecil yang berwarna hitam berlarian begitu kami mendekat. Ini satu-satunya hewan sungai yang kami temui.

Pepohonan di kanan-kiri sungai tidak besar-besar, namun tinggi-tinggi dan terdiri dari pohon-pohon hutan yang beragam, tak hanya jati. Sulur-sulur pohon itu kadang melintang di atas sungai, meski terlalu tinggi untuk dijangkau tangan.

Saat sampai di bagian sungai yang tenang, paling menyenangkan rasanya kalau mengambang sambil tiduran telentang, menikmati pepohonan dan suasana alam yang hening. Kami sering menemui bentuk-bentuk batu besar yang unik di dinding sungai. Sebagian berlapis-lapis, menunjukkan adanya sedimentasi yang berlangsung berulang-ulang. Sebagian seperti batu stalaktit, yang darinya keluar air menetes-netes. Sejak kecil hidup di Pulau Jawa, baru kali ini saya tahu ada sungai di Jawa yang mempunyai karakteristik bebatuan yang berbeda sama sekali. Benar kata Benito, rasanya seperti kembali ke masa lampau.

Beberapa bagian sungai terang oleh sinar matahari, dan itu kami gunakan untuk beristirahat sambil menghangatkan diri, minum dan makan snacks. Setelah mengambang sekitar 1 jam, beberapa peserta termasuk saya mulai merasa kedinginan. Sementara Danang dan Sondang, yang kemarin waktu ke pantai tak menyentuh air sedikit pun –sehingga kami mengira keduanya takut air– anehnya malah seperti tahan dingin. Dari tadi selalu ceria, bahkan seperti menganggap sungai ini layaknya kolam air hangat saja. “Jangan berhenti dan diam terlalu lama, nanti malah kedinginan,” saran Kang Sarip yang melihat saya menggigil. “Lebih baik meneruskan perjalanan dan menggerak-gerakkan badan.”

Kami meneruskan perjalanan. Kadang kami harus berjalan di atas batu-batu di pinggir sungai karena memang alur airnya terlalu sulit dilalui. Di tempat lain, kadang tiap peserta harus bergiliran satu-satu meluncur karena airnya terlalu deras, sementara banyak batu di kiri-kanan maupun di depan. Kang Mamat memberikan instruksi tentang cara meluncur, sementara Kang Sarip menunggu di depan dan siap-siap menangkap kalau ada peserta yang meluncurnya melenceng dan hampir menabrak batu. “Pakai kaki untuk menendang batu di sebelah kiri!” perintahnya ke saya ketika melewati sebuah jeram yang berarus deras. Tak urung, karena banyaknya batu di kanan-kiri maupun di bawah permukaan air, setelah melewati banyak jeram, tidak hanya saya yang mengalami lecet-lecet di kaki, namun juga hampir semua peserta.

Makin ke hilir, bukannya makin terang, namun sungai ini makin rimbun oleh pepohonan dan juga batu-batu yang makin tinggi. Di bagian sungai yang agak gelap, air mengucur dari batu di bagian atas, membentuk tirai dan jatuh di batu bundar yang bagian atasnya cukup lebar. Kemudian kami tahu, bagian ini yang oleh masyarakat lokal disebut Hujan Abadi. Untuk naik ke batu yang diguyur hujan itu cukup sulit karena licin, dan beberapa peserta yang akhirnya bisa mencapainya merayakannya dengan berfoto bersama.

Tak terasa matahari sudah mulai condong ke barat, dan hampir semua peserta kini menggigil kedinginan. “Ayo, tinggal sebentar lagi,” teriak Kang Mamat. Saya, Benito, dan Agus yang ada di barisan belakang, akhirnya sampai juga ke bagian sungai yang lurus seperti kolam dan tanpa batu, dengan kiri-kanan berupa dinding-dinding sungai tegak lurus dan berlapis-lapis. Di kejauhan sana teman-teman kami yang sudah sampai dulu tengah duduk-duduk di bendungan dari batu-batu di tengah sungai, sedang menyoraki beberapa peserta lain yang tengah berusaha naik ke dinding sungai sebelah kiri, namun terjatuh lagi ke sungai.

Yang membuat saya terkejut, ternyata tak hanya rombongan kami yang ada di situ, melainkan juga para tukang perahu, dan orang-orang lain yang tampaknya turis. Perahu-perahu itu baru terlihat setelah saya ditarik naik oleh Unik ke arah batu tempatnya duduk. Di atas kami gelap dan air menetes-netes. Sepertinya kami ada di bawah terowongan tanah selebar sekitar 4 meter, yang menghubungkan kedua sisi sungai. Ternyata, ini adalah titik finish body rafting kami, yang tak lain adalah tempat paling akhir bagi para turis yang datang ke Green Canyon jika menumpang perahu dari pintu depan, di dekat terminal bis….

Saya tertawa ketika Unik bercerita bahwa ketika tadi ia datang dari arah hulu, beberapa turis yang sedang membasuh muka dan berdoa di sini kaget dan ketakutan, melihat rombongan kami yang berkostum ‘aneh’ tiba-tiba muncul di depan mereka. “Mungkin kami dikira dewa-dewa, hahaha!” Unik tergelak. Sebagian orang memang menganggap tempat ini keramat dan datang tak hanya untuk berwisata, namun juga untuk tujuan lain.

Hari sudah lewat jam dua siang. Berarti sekitar 4 jam kami ber-body rafting di sungai ini. Kami kemudian pulang ke terminal bis dengan menumpang perahu. Di perjalanan pulang, kami melihat perahu-perahu lain dari arah berlawanan, membawa turis-turis yang ingin menikmati keindahan ‘awal’ Green Canyon…. (T)

 

 

Bukan Trip Biasa

Green Canyon terletak di Kecamatan Cijulang, sekitar 30 km sebelah barat Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dari Jakarta bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama sekitar 9 jam.

Body rafting di Sungai Cijulang bukan trip biasa. Perlu fisik yang bagus jika ingin mengikuti trip ini. Keahlian renang tidak mutlak, namun kalau bisa berenang tentu lebih baik. Pastikan life vest dan helmet yang dipakai berfungsi dengan baik. Memakai wet shoes sangat dianjurkan. Mengalami memar, lecet dan luka gores bisa saja terjadi. Trip ini bukan perlombaan, jadi tidak perlu merasa harus cepat-cepat menyelesaikan body rafting. Adanya pemandu lokal dan jumlah pemandu yang cukup dari trip operator akan sangat membantu.

Trip operator yang sering mengadakan body rafting di Green Canyon adalah Fun Trip 2 Volcano. Paket weekend trip grup ini mencakup trip ke Segara Anakan, Pulau Nusakambangan, ke Pantai Batu Hiu dan Pantai Batu Karas di Pangandaran, diakhiri dengan body rafting. Untuk skedul trip, kontak Budi Yakin (+62 818 790063, bdyakin@yahoo.com). Trip operator lain yang juga mengadakan adalah Stalagmite Adventure. Kontak Ondo Sirait (+62 813 83086486, stalagmite.adventure@gmail.com).

Foto-foto oleh Bleem Sudaryanto

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 3 comments