Alluring Alor

Alluring Alor

Tenun ikat alor tak hanya cantik, tapi juga menyelipkan cerita tentang kegigihan.

Jalanan aspal masih basah oleh bekas air hujan begitu saya dan Yus meninggalkan Hotel Kenari di pusat kota Kalabahi. Kami sudah terlambat 1 jam dari rencana sebelumnya untuk berangkat jam 7 pagi, karena hujan tadi. Tapi ada untungnya juga, karena kini udara menjadi sejuk dan teduh, dengan mendung kelabu masih menggelayut di atas kepala. Kalau hari cerah, di sepagi ini pun kami sudah akan dipanggang matahari Pulau Alor yang panas menyengat hingga pukul 4 sore.

Kota Kalabahi -ibukota Kabupaten Alor- yang panas menyengat kepalaYus yang memboncengkan saya melajukan motornya ke barat. Kami hendak menuju  daerah Sumur Tupan di Desa Alor Besar untuk melihat pembuatan tenun ikat alor di rumah Ibu Sariat Libana. Ia dikenal sebagai pelopor penggunaan serat dan pewarna alam untuk kain-kain tenun alor yang dibuatnya. Lokasinya di sisi utara pulau, jadi dari Kalabahi kami mesti ke barat dulu, lalu ke utara, dan membelok ke timur lagi, karena belum ada jalan pintas menuju desa itu.

Dua hari lalu, dalam rangkaian SwarnaFest 2013, yakni Festival Serat dan Pewarna Alam yang dipusatkan di rumah dinas Bupati Alor, kami juga mengadakan kunjungan ke rumah Ibu Sariat. Namun berhubung banyak tamu yang datang, saya tak sempat belajar banyak tentang proses pembuatan tenun ikat alor itu. Jadi pagi ini saya akan ke sana lagi, sekalian mengambil pesanan syal tenun saya yang belum selesai, yang dikerjakan Mbak Mariati, adik Ibu Sariat.

Pantai Desa Alor Kecil dengan latar belakang Pulau Ternate dan Pulau BuayaDi kiri kami sepanjang jalan kini diwarnai dengan pemandangan laut Teluk Mutiara, diselingi rimbun pohon-pohon mangga, asam, dan pohon kenari yang besar menjulang. Alor memang dikenal sebagai Nusa Kenari, meski jumlah pohon kenari sepertinya kalah banyak dengan pohon mangga. Bentuk Pulau Alor di bagian dekat Kalabahi –ibukota Kabupaten Alor– memang unik, karena lautnya menjorok hingga jauh sekali ke timur, membentuk sebuah teluk yang panjang. Teluk ini dalam, terbukti kapal-kapal feri Pelni maupun kapal angkutan barang bisa berlabuh di kota Kalabahi. Bukit-bukit di seberang teluk ini masih Pulau Alor, dan sekarang bagian puncak-puncaknya masih diselimuti kabut.
Ikan belo-belo di Desa Alor Kecil. Setiap pantai ikannya berbedaBegitu jalan hendak membelok ke utara, di ujung jalan terlihat sebuah pantai berpasir krem dengan kerumunan ibu-ibu yang menyambut sebuah perahu yang hendak merapat. Ternyata ini pantai Desa Alor Kecil. Di depan pantai ini membentang selat yang sempit, dengan Pulau Pura dan Pulau Pantar yang memanjang di belakangnya. Di sisi utara terlihat Pulau Ternate –dulu penduduknya berasal dari Pulau Ternate, Maluku Utara– dan di samping timurnya Pulau Buaya.

Segera saja tiga lelaki dari perahu itu mengeluarkan ember-ember berisi penuh ikan berukuran dua jari, yang berbadan langsing berwarna keperakan. “Ini namanya ikan belo-belo,” kata Yus. Nanti ikan-ikan ini akan dibawa ke Pasar Kalabahi. Kemarin pagi kami ke Pantai Batu Putih tak jauh dari bandara, dan di sana para nelayannya membawa banyak sekali ikan tongkol. Sungguh mengagumkan laut di sekeliling Pulau Alor ini.

Mbak Mariati yang ternyata baru seminggu belajar menenunHari masih mendung dan kami melanjutkan perjalanan ke utara. Masih perlu waktu 30 menit sebelum kami akhirnya sampai di jalan raya dengan spanduk SwarnaFest yang belum dicopot, yang menjadi penanda rumah Ibu Sariat. Kalau memandang dari rumah ibu ini, tepat di utara sana ada Pulau Buaya, yang berbentuk seperti buaya sedang mengambang di permukaan air. Bagian kepalanya berdekatan dengan Pulau Ternate.

Mbak Mariati sedang mengerjakan syal saya yang berwarna kuning pucat, di ruang tengah rumah depan. Ia selonjor saja di ubin dengan alat tenunnya, hanya beralas plastik. ”Maaf ya, belum selesai. Semalam mati lampu, jadi nggak bisa kerja,” tuturnya. “Oh, santai saja,” saya menenangkan. Saya lihat syalnya sudah hampir selesai, dan saya juga masih akan lama di sini.

Ibu Sariat ada di belakang rumah, sedang mengulik-ulik mangkuk plastik berisi teripang yang baru ia peroleh tadi pagi hasil mencari di pantai. Ia menaruh mangkuk  itu di deretan contoh bahan-bahan pewarna alam lain. Hewan laut berlendir itu mulai mengeluarkan isi perut dan juga cairan berwarna hitam.

Bahan pewarna alam, dari tripang sampai tanah liat“Ini namanya tripang tongkol,” tutur ibu beranak enam ini. “Nanti zat warna yang dihasilkan ini kalau dipakai untuk mewarnai benang hasilnya bukan hitam, tapi abu-abu.” Menurutnya, tripang ada bermacam-macam. Selain tripang tongkol, ada juga tripang nenas, tripang demong, tripang susu, dan tripang teitrake. Warna yang dihasilkan mulai dari kuning, merah, hingga cokelat. Kadang suaminya ikut membantu mencari tripang ini. “Kalau cumi-cumi, warna yang dihasilkan abu-abu kebiruan. Sementara kalau rumput laut, warnanya hijau kalem,” tambahnya. Wow, pintar sekali ibu ini.

Ibu Sariat mengaku, ia baru memanfaatkan hewan dan tanaman laut ini mulai tahun 2013, dan baru menghasilkan 7 jenis warna. Namun sejak kecil –ia menenun sejak usia 5 tahun– ia selalu menggunakan zat warna alami tumbuhan, dan tidak pernah tertarik untuk memakai benang maupun pewarna sintetis seperti yang dilakukan para penenun lain.

Di lingkungan rumah ini, sebenanya banyak sekali penenun, namun sebagian besar mereka menenun ‘kain songket’, istilah yang dipakai untuk tenun dari benang dan pewarna sintetis. Jadi benangnya, dengan warna-warna tertentu, sudah tersedia, tinggal ditenun saja. Proses ini jauh lebih mudah dan lebih cepat, namun harga kain tenunnya juga lebih murah. Satu kain syal berukuran 180×20 cm harganya paling Rp 50 ribu, sementara syal ukuran sama dari benang dan pewarna alami harganya bisa Rp 150 ribu. Begitu juga sarung berukuran 130×140 cm dari benang dan pewarna sintetis harganya sekitar Rp 200-250 ribu, sementara sarung-sarung buatan Ibu Sariat harganya mencapai Rp 1,5-2 juta.

“Harga kain tenun saya lebih mahal, karena prosesnya lebih lama. Dari mulai mencari bahan pewarna, memintal kapas menjadi benang, mencelup, hingga menenunnya, prosesnya bisa satu bulan,” tutur wanita bergigi merah karena mengunyah sirih ini. “Kadang untuk mendapatkan warna yang pas, kami harus sampai empat kali merebus benang ke dalam bahan pewarna.”

Mengapa Ibu Sariat mempertahankan penggunaan benang dan pewarna alami, tak lain karena ia berusaha mempertahankan tradisi warisan leluhur keluarga, yang turun-temurun memakai pewarna alami. Dulu jumlah pewarna alaminya hanya sedikit, kurang dari 10 macam. Tapi dengan keuletannya, ia kini bisa menghasilkan lebih dari 100 jenis warna alami.

Tenun ikat dari bahan sintetis yang sering disebut Kain Songket“Bagaimana caranya supaya tahu batang atau kulit atau daun tumbuhan bisa dipakai sebagai zat warna?” tanya saya.

“Ya… kami coba satu-persatu. Yang bisa menghasilkan warna kami pakai, yang tidak bisa ya kami cari lagi yang lain.”

Dari hasil coba-ralat itu, Ibu Sariat tahu bahwa pohon tongke –sejenis pohon bakau– bisa menghasilkan tiga macam warna: cokelat, merah, dan pink. Cara mendapatkan warna pink ternyata dengan memasak batang bayu itu dengan larutan kapur. Warna pink muda juga bisa diperoleh dari kayu pen atau kayu hong. Kayu pen ini dipakai para nelayan untuk membuat perahu. “Kayu pen itu warnanya kuning, tapi kalau direndam warna yang dihasilkan pink tua. Kalau merebusnya dengan air kapur warnanya menjadi pink muda. Orang-orang kadang tidak tahu, dikiranya kalau warna kayunya kuning maka warna yang dihasilkan juga kuning. Kalau ingin warna kuning, mesti memakai kayu duri yang lebih berat, yang kulitnya tajam-tajam.”

Tanaman Kolom Susu yang getah dan daunnya sangat bermanfaatIbu Sariat mengajak saya ke kebun yang ada di samping rumah. Setiap jengkal kebun ini ditumbuhi berbagai tanaman. Ada indigo yang daunnya menghasilkan warna biru tua, ada mint, kelotong, lamtoro, yang menghasilkan warna hijau berbeda-beda. Buah pisang susu yang masih mentah, yang warnanya putih, ternyata menghasilkan warna cokelat keruh. Kulit buah jambu mede dan kacang merah menghasilkan warna cokelat yang bagus, sedangkan buah mengkudu menghasilkan warna kuning. Daun jati, jeruk nipis, bahkan tanah liat juga bisa ia pakai sebagai bahan pewarna!

Ibu Sariat mencabut sebatang tanaman singkong, lalu menjelaskan, “Air rebusan singkong ini bisa menjadi lem sehingga benang kapas menjadi lebih kuat.” Ia lalu memotek batang sebuah pohon bakung di sampingnya, yang segera saja mengeluarkan banyak sekali getah berwarna putih. Ternyata kalau di Alor, tanaman pagar ini namanya kolom susu. “Getah ini bisa membersihkan kapas sekaligus membuatnya ulet. Daunnya menghasilkan warna hijau yang bagus sekali.” Wah, wah, hebat sekali ibu ini!

Kapas, sumber serat alam di halaman rumahPandangan saya lalu terantuk pada sebuah pohon yang daun dan bunganya mirip pohon waru kalau di Jawa. Tapi ini batangnya lebih kecil, dan lebih pendek. Ternyata, ini adalah pohon… kapas. Dengan tinggi 1-2 meter pun, pohon ini sudah dipenuhi gerumbul-gerumbul kapas yang keluar saat kantong buahnya yang tua pecah. Saat sudah keluar kapas ini, keluarga Bu Sariat tinggal memunguti saja, lalu menggilingnya dengan alat seperti pemipih adonan tepung, agar bijinya terpisah. Kapas yang sudah bersih dari biji ini lalu ditarik perlahan-lahan sambil dipilin dengan bantuan jari kaki, sehingga berubah menjadi… benang.

Bagaimana kalau kapas yang ditarik itu putus? Ibu Sahari Karim, adik ipar Ibu Sariat, menunjukkan caranya. Bagian-bagian yang putus itu saling direkatkan lagi, dipilin-pilin, lalu ditarik lagi, dan bentuknya tetap benang. Sangat sederhana.

Foto 5 Memisahkan kapas dari bijinyaBenang ini dibuat dalam dua versi. Yang benang halus dan kecil untuk menghasilkan kain halus, yang disukai orang Indonesia. Benang yang kasar dan berukuran dua kali lebih besar dipakai untuk menghasilkan kain yang agak kasar, yang disukai orang Jepang. Untuk kain panjang standar ukuran 240×60 cm, biasanya dibutuhkan benang seberat 600 gram.

Benang lalu dicelup dengan bahan pewarna, dikeringkan, baru kemudian siap ditenun. Nah, kadang proses pencelupannya itu yang harus berkali-kali supaya warnanya mantap. “Bagaimana supaya warna itu  tidak luntur saat kain dicuci?” tanya saya. Caranya ternyata juga gampang, yakni dengan menambahkan air teh saat mencelup benang.

Saya dibawa ke salah satu ruang di rumah depan, yang ternyata menjadi gudang kapas, alat-alat penenun, dan benang-benang yang sudah diwarnai. Menurut Ibu Sariat, untuk satu kain kadang membutuhkan sampai 10 benang dengan warna berbeda. Beberapa koleksi kain tenun ikatnya juga disimpan di dalam lemari, tak jauh dari tempat Mariati menenun.

Umumnya motif-motif kain tenun alor berupa hewan laut seperti kura-kura, kepiting, cumi-cumi, udang, tripang, ikan, namun juga ada naga, gajah, moko (nekara khas Pulau Alor), dan tempat sirih. Salah satu koleksi Ibu Sariat yang paling awal adalah sebuah kain bermotif gajah yang sebagian besar berwarna biru kusam, warna khas indigo. Terlihat kedua gajah di kain itu saling memunggungi, alias salah satu dibuat terbalik. “Kain ini usianya sudah 50 tahun, dan motif gajahnya salah, tapi tetap saya simpan sebagai kenang-kenangan.”

Kain-kain Bu Sariat yang semuanya dari serat dan pewarna alamAda lagi kain Ibu Sahari yang bermotif bunga pelinta, dengan pola-pola jajaran genjang yang sangat rumit, yang membuat saya sangat heran, bagaimana orang dahulu bisa membuatnya. Lalu ada kain motif petola (pohon beringin) yang hanya boleh dipakai oleh pejabat tertinggi di suatu daerah saat ada perayaan adat. Panjang kainnya bisa sampai 9 meter. Kain tenun lainnya yang bermotif tombak dan didominasi warna merah, dulu dipakai Suku Matukang –suku asal Ibu Sariat– saat mereka hendak berperang, untuk menumbuhkan semangat.

Syal yang ditenun Mariati, yang bermotif ikan, telah selesai. Ukurannya 180×25 cm. Saya cek warnanya, ternyata syal yang kelihatannya sederhana ini membutuhkan benang dengan 8 warna berbeda. Saya membeli satu syal lagi yang lebih lebar yang warnanya abu-abu tua, dengan bahan pewarna cumi-cumi. Bau lautnya masih terasa begitu kain itu saya cium. Ternyata harga dua syal ini cuma Rp 200 ribu.

Di perjalanan pulang ke Kalabahi, di pikiran saya berkecamuk pertanyaan: apakah harga dua syal yang Rp 200 ribu itu cukup pantas untuk kegigihan, kerja keras, dan kesabaran selama sebulan? (T)

 

 

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 0 comments
Cholesterol Journey

Cholesterol Journey

Kenangan menyantap makanan yang aneh-aneh di Bukittinggi membuat saya selalu ingin kembali ke kota ini.

Warung Nasi Kapau, kuliner khas BukittinggiRasanya aneh saja kalau saya belum pernah ke Bukittinggi. Padahal kota ini merupakan destinasi wisata  paling terkenal di Pulau Sumatra, bahkan menjadi tujuan utama wisatawan Malaysia. Makanya, setelah membaca  artikel-artikel pengalaman perjalanan ke Bukittinggi di www.cimbuak.net, dan melihat foto-foto keindahan alam Sumatra Barat di www.west-sumatra.com, keinginan saya pun makin kuat. Libur panjang Agustus lalu, saya pun mengunjungi kota perbukitan yang konon katanya paling cantik di dunia ini.

Mampir ke SMS

Keluar dari Bandara Internasional Minangkabau, saya segera disambut Jhoni (35), sopir dari Hotel Bukittinggi Hills, di mana saya akan menginap.

“Bukittinggi masih sekitar 90 kilometer lagi ke arah utara,” tutur bapak dua anak yang sudah delapan tahun bekerja di hotel ini. Itu kalau memakai rute yang melewati Lembah Anai dan kota Padang Panjang. Kalau memakai rute Pariaman-Danau Maninjau-Kelok 44, jaraknya bisa mencapai 170 kilometer. Saya tidak memilihnya, takut menjadi tua di jalan. Lagipula ada beberapa tempat yang akan saya kunjungi di sepanjang rute pertama. Itu pula sebabnya saya memilih jadwal penerbangan pagi, agar bisa mampir-mampir dulu sebelum check-in.

Liburan sederhana di Lembah AnaiJalan yang kami lalui cukup lebar dan mulus, dan mulai berkelok-kelok serta menanjak setelah melewati air terjun Lembah Anai. Air terjun yang ada di kiri jalan ini, sekitar 10 kilometer sebelum kota Padang Panjang, konon tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.

Menjelang masuk kota Padang Panjang, kami mampir ke Sate Mak Syukur (SMS), yang cabang-cabangnya juga tersebar di Jakarta. Restoran penuh oleh pengunjung, dan kami mendapat tempat di lantai dua. Begitu sate padang dihidangkan, saya baru sadar, kalau selama ini saya ‘tertipu’ oleh penjual sate padang keliling di Jakarta. Sate di SMS ini besar-besar, mungkin satu potong sate bisa menjadi satu tusuk sate kalau di Jakarta!

Padang Panjang kotanya kecil. Kami melewatkan saja Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) serta Perkampungan Minangkabau yang ada di pusat kota, karena tak lama kemudian, jalanan macet. Ternyata, Senin ini adalah hari pasar di Koto Baru, pusat sayur-mayur di Sumatra Barat. Truk-truk pengangkut sayur melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Untuk melepaskan diri sementara dari kemacetan, sebelum pasar, kami belok kiri ke Pandai Sikek, pusat kerajinan songket dan ukiran kayu. Di sini ada beberapa toko yang menjual tenun songket, meski orang-orang yang mengerjakan tenunannya sendiri tidak saya lihat, karena ada di desa-desa sekitar sini. Satu set sarung bantal, yang terdiri dari 4 sarung dan 1 taplak meja, dijual Rp450 ribu. Satu set kebaya warna pink dijual Rp475 ribu, sedangkan sarung songket untuk bawahan dijual Rp1,1 juta.  “Harganya agak mahal, karena menenun songket butuh waktu dan keterampilan khusus,” kata Erma Yulnita, di toko Satu Karya. “Untuk membuat satu selendang saja dibutuhkan 850 baris benang, sementara untuk sarung sampai 2.000 benang.”

Sate Mak Sukur di Padangpanjang jauh lebih besar dibanding di JakartaBerbeda dengan kain biasa, yang makin mahal kalau memakai banyak jenis benang, untuk kain songket justru sebaliknya. Yang memakai satu jenis benang malah yang paling mahal, karena membuatnya lebih sulit, dan juga hasilnya makin halus. Begitu kami hendak pergi, satu bis berisi rombongan ibu-ibu dari Malaysia, mampir ke toko itu.

Jam Gadang, Pusat Keramaian

Bukittinggi terletak di ketinggian 1.000 di atas pemukaan laut, jadi hawanya sejuk dan nyaman untuk berjalan-jalan, sekalipun siang hari. Di selatan dan tenggara kota membentang Ngarai Sianok, di belakangnya menjulang Gunung Singgalang. Di sebelah timur terletak Gunung Marapi, sedangkan di utara ada sisa-sisa benteng Fort de Kock dan kebun binatang. Berbeda dengan alun-alun pusat kota lain yang biasanya besar, pusat kota Bukittinggi kecil saja, berupa taman beton berukuran sekitar 25 x 25 meter persegi. Di sini berdiri kokoh Jam Gadang, landmark kota. Kontur tanah di sini berjenjang dan juga tidak landai, sehingga kadang bangunan Jam Gadang tampak miring seperti Menara Pisa.

Tidak ada tempat yang lebih ramai dari ini di BukittinggiKalau arah menjadi hal penting, maka sebagai patokan, Hotel Bukittinggi Hills menghadap ke utara –meski perasaan saya bilang hotel itu  menghadap ke barat– sedangkan pagar masuk bangunan Jam Gadang, yang digembok, berada di sisi timur.

Bukittinggi juga kota yang kecil. Pusat kotanya bisa dicapai hanya dengan jalan kaki. Museum Bung Hatta, Rumah Makan Simpang Raya, ada di sekeliling Jam Gadang. Jalan utama di kota ini, Jl. Ahmad Yani, merupakan pusat kafe dan hotel-hotel kecil. Sedangkan Jl. Sudirman, pusat makan di malam hari, juga hanya 5 menit dengan berjalan kaki dari sini.

Hari libur akhir pekan membuat suasana Jam Gadang sore itu ramai sekali oleh para pengunjung yang duduk-duduk atau berfoto, serta para pedagang. Bendi-bendi pun berjejer menunggu penumpang. Memang tak ada air mancur atau burung-burung dara di sini, namun keramahan kota ini segera menyapa saya. Zainal, pedagang gelembung busa, menjadi kenalan pertama saya. Wajahnya mengingatkan saya kepada tukang cukur langganan saya di Duren Tiga, yang berasal dari Pariaman.

Bangunan Jam Gadang dibuat tahun 1926 di masa kolonial Belanda. Bangunan lima tingkat ini puncaknya berujud rumah bagonjong, rumah adat Minangkabau, yang sering juga disebut rumah gadang. Tingkat dua menjadi tempat tidur para penjaganya. Konon, Jam Gadang yang berdiameter 80 cm ini merupakan hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris kota Bukittinggi waktu itu. Rook Maker lalu memerintahkan arsitek dan pemborong lokal, Yazid Abidin dan Haji Moran, untuk membuat bangunannya, yang setinggi 26 meter dan menghabiskan biaya 3.000 gulden.

Bangunan Jam Gadang ini sangat unik, karena dibuat tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur dan pasir putih. Adonan itu dipakai sebagai perekat batu-batu, baik untuk fondasi bangunan maupun untuk dinding bangunan.

Jam Gadang dilihat dari Hotel Bukittinggi HillsTanda waktu jamnya juga unik, karena berangka Romawi dan angka empatnya tertulis IIII, bukan IV. Bagi warga Bukittinggi, Jam Gadang menjadi penunjuk waktu yang setia.  Setiap jam, jam ini berdentang sebanyak waktu yang ditunjukkannya, dan setiap setengah jam berdentang lagi sebanyak satu kali. Konon, dulu keluarga Bung Hatta memanfatkan jam ini untuk mengukur ketepatan waktu atas jasa pengiriman barang yang mereka tekuni.

Kabut Ngarai Sianok

Sekitar 50 meter di selatan Jam Gadang ada Jl. Panorama. Berjalan kaki selama lima menit menyusuri jalan ini, saya sampai di Taman Panorama, di mana terdapat Lubang Jepang dan pemandangan Ngarai Sianok.

Ngarai atau canyon yang terbentuk akibat adanya gerakan turun kulit bumi jutaan tahun lalu ini, kini menjadi lembah yang subur, dikelilingi tebing-tebing tegak lurus dengan ketinggian 100-150 meter. Dengan panjang sekitar 15 kilometer, ngarai ini berkelok-kelok dari selatan di Koto Gadang sampai kota Palupuah di utara. Ngarai di sisi kiri hanya ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, dengan latar belakang Gunung Singgalang dan Marapi. Sedangkan di sisi kanan terdapat perkampungan penduduk dan jalan raya yang menuju Koto Gadang, pusat kerajinan perak. Dasar lembahnya yang lebar dialiri Batang (sungai) Sianok yang berair jernih, hingga terlihat dasar sungainya. Bila airnya agak banyak dan deras, sungai ini sering menjadi ajang kegiatan off-road yang menantang nyali.

Semuanya tampak kecil dibandingkan ukuran Ngarai SianokJika kita berjalan ke arah barat di areal taman ini, beberapa pelukis memajang lukisan yang umumnya berujud pemandangan ngarai. Lukisan itu punya ciri khas, yakni berlatar belakang hitam dengan sapuan garis-garis lukisan berwarna putih dan emas. Tak jauh dari sini ada menara pandang, agar lebih jelas melihat keindahan ngarai. Sore menjelang magrib itu, sepanjang ngarai diselimuti oleh kabut yang tipis. Monyet-monyet kecil berlompatan dari pepohonan di dekat menara.

Di dalam taman, di dekat pintu masuk, sebenarnya juga ada  Lubang Jepang, sebuah terowongan yang dibuat oleh tentara Jepang di saat Perang Dunia II. Panjangnya sekitar 750 meter dan berbelok-belok, sekitar 2 meter dibawah permukaan tanah kota Bukittinggi. Mulut terowongan tak hanya di taman ini saja, namun juga ada beberapa tempat seperti di tebing Ngarai Sianok, di samping Museum Bung Hatta, dan di kebun binatang. Di dalam terowongan terdapat kamar-kamar, mulai dari kamar untuk rapat, tempat makan, hingga kamar para orang Indonesia yang menjadi tahanan. Ada juga sebuah lubang yang dijadikan tempat pembuangan korban yang telah menjadi mayat. Hiih! Karena sudah menjelang magrib, tawaran untuk masuk lubang itu dengan terpaksa saya tolak….

Perut yang keroncongan minta segera diisi, dan saya mampir ke RM Simpang Raya. Tanpa dipesan, pelayan segera menghidangkan nasi dan berpiring-piring lauk-pauk. Tapi untuk minumnya, saya bingung, karena ada beberapa pilihan yang sama-sama aneh: jus pinang (buah pinang muda diblender bersama susu dan teh), ampiang dadiah (susu kerbau fermentasi dan kerupuk ketan lembek), supradin gaduik (susu kerbau fermentasi plus suplemen multivitamin), dan tomat top. Akhirnya saya pesan tomat top.

Tomat Top yang memang topSaya menyantap gulai ginjal sapi dan gulai gajeboh, yakni daging sapi yang sangat berlemak, yang digulai tanpa santan. Begitu minumannya datang, saya kaget. Di dalam gelas minum yang besar, selain menyembul potongan-potongan tomat, juga ada… dua bulatan kuning telur setengah matang. Kelihatannya, minuman ini terdiri atas susu, sedikit sereal, potongan tomat rebus –yang bau langu-nya terasa sekali– dan dua butir telur ayam kampung.  Bau langu tomatnya sih, masih bisa ditahan. Tapi kuning telurnya? Akhirnya kuning telur itu satu persatu saya telan, baru kemudian sisanya saya seruput sambil menutup hidung. Sukses!

Efeknya baru terasa setengah jam kemudian. Begitu saya nongkrong lagi di Jam Gadang, belakang kepala saya menjadi sakit sekali, nyut-nyutan. Jangan-jangan karena saya terlalu banyak menyantap kolesterol? Meski masih sore, terpaksa saya kembali ke hotel dan tidur. Saya tidak berani minum obat, khawatir nanti efeknya malah buruk. Mungkin ini balasannya, terlalu berani mencoba-coba makanan baru….

Ke Pasar Kepagian

Sehabis subuh, saya langsung keluar hotel. Dari dua mesjid terdengar dua ceramah dalam bahasa yang berbeda. Yang satu bahasa Minang, yang satu bahasa Indonesia (kemudian saya tahu, yang satu dari Mesjid Raya, yang satu lagi dari Mesjid Agung). Jalanan berkabut, dan udara dingin menusuk-nusuk tulang pipi saya. Tapi tak apalah, karena saya ingin melihat bagaimana aktivitas dagang orang-orang di Pasar Atas Bukittinggi. Menurut informasi seorang teman di Jakarta yang katanya berasal dari Bukittinggi, pagi-pagi para ibu sudah berduyun-duyun ke pasar.

Pagi yang sendu di atas Jam GadangTapi… kok sepi? Dan, di mana pasarnya? Sampai saya menyusuri Jalan Sudirman, tidak ada tanda-tanda orang mau ke pasar. Yang ada hanya satu-dua orang tengah jogging. Karena bingung, saya kembali ke Jam Gadang dan bertanya ke seorang lelaki yang tengah mendorong gerobak, yang ternyata seorang penjual soto padang. “Ooh, Pasar Atas? Ya, di sini ini tempatnya!” jawab lelaki yang bernama Iwan itu. Kalau mau ke Pasar Lereng tinggal ke sana, kalau turun terus sampai ke Pasar Bawah.”

Oalah, rupanya Pasar Atas itu hanya beberapa meter saja dari Jam Gadang! Itu lho, bangunan dua tingkat yang ada patung harimau di depannya. Saya tidak mengira tempatnya sedekat itu. Sebab kalau melihat di peta, lokasinya agak jauh. Kenapa tadi sore saya tidak bertanya ke orang-orang ya? Dan satu lagi, kenapa jam segini pasarnya masih sepi, tidak ada orang sama sekali?

“Wah, jangan bandingkan pasar di sini sama di Jakarta, Mas,” lelaki yang pernah beberapa tahun berdagang di Pasar Kebayoran Lama itu tertawa. “Kalau di Jakarta, jam 12 malam pasar sudah ramai. Tapi di sini, pasar baru mulai buka jam 8 pagi….”

Saya cuma bisa tersenyum kecut. Begini nih, akibatnya, kalau sok teu.

Sarapan Ekstra Pedas

Untuk mengobati kekecewaan, saya memotret-motret lagi suasana Jam Gadang di pagi berkabut itu. Ternyata, kalau pagi baru ketahuan bahwa tempat ini kotor sekali, banyak sampah berserakan. Petugas kebersihannya ‘panen’ karena banyak sampah botol plastik. Lalu saya pun berjalan kaki lagi ke Ngarai Sianok untuk memotret sunrise.

Tapi, lagi-lagi saya kecewa. Setelah menunggu hampir satu jam di atas menara pandang di Taman Panorama, matahari tidak muncul-muncul juga dari balik bukit. Padahal saya ingin mengabadikan pemandangan saat matahari menyinari rumah-rumah dan sungai yang ada di lembah di bawah sana.

Pagi itu, matahari dan juga lembah tertutup oleh kabut –atau mungkin asap akibat kebakaran hutan di Riau, yang sampai ke Bukittinggi. Jadi kurang menarik juga untuk difoto. Hanya jalan raya yang menuju Koto Gadang saja terlihat agak jelas di bawah sana, dan sesekali dilewati mobil serta sepeda motor.

Untunglah, ketika turun dari menara, saya bertemu Pak Mansyur dan Pak Malin, yang sedang jalan-jalan pagi dan menikmati suasana ngarai. Usia keduanya sekitar 70 tahun, dan mereka warga asli Bukittinggi. Waktu itu, sesuai rencana, saya akan pergi ke Koto Gadang untuk melihat kerajinan perak dan makan gulai bebek, makanan khas kota itu. Lalu diteruskan ke Danau Maninjau. Saya bertanya apakah ada ojek, angkutan umum, atau mobil sewa yang bisa mengantar saya ke sana.

“Ojek ada, dan bisa mengantar Mas ke Koto Gadang, tapi tak akan mau mengantar sampai ke Danau Maninjau, karena jaraknya terlalu jauh. Lagi pula ojek belum tentu berani melewati turunan di Kelok 44,” jelas Pak Masyur. ”Kalau mau ke Maninjau, lebih baik naik bis Harmonis jurusan Bukittinggi-Maninjau dari terminal Aur Kuning.”

Pak Malin juga menjelaskan, sekarang kerajinan perak di Koto Gadang –kota asal tokoh perintis kemerdekaan  Haji Agus Salim dan ekonom Emil  Salim– tidak seperti dulu lagi.  “Kotanya sepi, karena penghuninya banyak yang merantau,” jelas Pak Malin. Keinginan saya mengunjungi kota itu pun menjadi surut. Tapi bagaimana dengan gulai bebeknya, yang katanya merupakan makanan khas Koto Gadang?

“Di dekat rumah tingkat itu,” tunjuk Pak Mansyur ke arah rumah bercat putih di dekat jembatan di dasar ngarai, ”ada satu warung makan yang menyajikan gulai bebek khas Koto Gadang. Bahkan warungnya sudah terkenal ke mana-mana. Jadi Mas tidak perlu pergi jauh-jauh.”

Wah, bagus sekali, Tapi, bagaimana saya bisa ke sana? Ngeri juga saya melihat lembah curam tegak lurus di bawah kaki saya.

Ternyata saya tidak harus merosot atau bergelantungan di tali, karena di dekat pintu masuk taman di sebelah barat, ada jalan pintas menuju jalan raya di bawah. Saya pun menuruni undak-undakan dari beton, kira-kira seratus meter ke bawah. Kalau naik dari bawah, lutut saya pasti sudah lemas ketika sampai di atas. Untung monyet-monyet yang tadi banyak berkeliaran di sini, sekarang tidak ada lagi.

Rasanya jauh melampaui tampilannya yang sederhanaSetelah sempat bertanya kepada seorang ibu di pinggir jalan, sampai juga saya di warung makan yang dimaksud Pak Mansyur, pas di belokan yang menuju jembatan. Warungnya seperti warung makan padang yang biasa saya temui di pinggir jalan di Jakarta. Di kaca etalase tempat memajang makanan itu tertulis: Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai.

Pagi itu, sekitar pukul 7.30, warung yang berisi beberapa meja dan kursi-kursi plastik itu masih sepi, tak ada yang makan, meski kata pemiliknya, Bu Nini (62) warung itu buka dari jam 6 pagi hingga 7 malam. “Biasanya ramai kalau jam makan siang,” tutur ibu berbadan subur ini.

Kaca tempat memajang makanan itu terlihat kosong, baru ada 2 baskom besar berisi gulai itiak serta wadah untuk sambal cabe hijau. Memang ada menu lain selain gulai itiak, tapi saat itu belum matang. Yang dimaksud itiak (itik) adalah bebek, bukan mentok atau angsa. Sedangkan lado mudo adalah cabe keriting hijau, bukan cabe rawit.

Warung gulai ini sudah berdiri sejak tahun 1985. Meski tampilannya sangat sederhana dan tidak punya cabang, gulai bebek di sini sangat terkenal tak hanya di Bukittinggi. Bahkan para pelancong dari Jakarta banyak yang mampir ke sini untuk membawa oleh-oleh gulai bebek ketika mereka pulang. Di dinding warung, dalam bingkai warna emas, terpampang ulasan mengenai warung ini oleh sebuah harian ibu kota.

Saya pun segera memesan gulai dan kopi hitam. Tak lama, pesanan saya pun datang: sepiring nasi pulen mengepul, sepiring irisan mentimun, satu potong gulai bebek yang permukaannya penuh dilumuri sambal cabe hijau, dan segelas kopi hitam berbau harum. Sambal cabe hijaunya digerus lembut sekali, tidak seperti sambal cabe hijau di warung padang, yang digerus kasar. Menu yang sederhana sekali, tapi, hmmm… air liur saya sepertinya sudah mau menitik dari sudut mulut.

Saya cuil daging bebek yang berminyak dan lunak itu, saya campur dengan nasi, lalu segera saya santap memakai tangan. Hmmm… aroma daging bebeknya sedikit samar dan tanpa bau amis, dagingnya lembut sekali. Pantas saja gulai ini terkenal hingga ke Jakarta.

Rasa pedas yang menyergap mulut segera saya netralkan dengan kopi panas, dan ternyata ini memang cara yang dianjurkan Bu Nini. “Kopinya asli dari Bukittinggi, namanya kopi Bukit Apit. Daerahnya di belakang rumah sakit di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah barat. “Makan gulai itik sebaiknya memang dengan minuman panas. Kalau dengan minuman dingin, rasa pedas cabe akan makin terasa,” tutur ibu dari 5 putra dan 1 putri yang semuanya sudah menikah ini.

Melihat banyaknya cabe yang dilumurkan ke gulai, tadinya saya khawatir juga, jangan-jangan nanti saya diare. Apalagi saya memakannya pagi-pagi. “Kalau sambalnya dari cabe rawit, memang bisa bikin ‘bocor’ (diare). Tapi kalau pakai lado mudo tidak. Coba saja buktikan,” Bu Nini menenangkan saya.

Setiap hari, rata-rata warung Bu Nini  memerlukan 20 ekor bebek, yang ia beli dengan harga Rp 25 ribu per ekor. Kalau ada pesanan khusus, dalam sehari Bu Nini bisa menghabiskan 60 ekor bebek.

Tidak mudah untuk mencari bebek-bebek ini, sebab bebek yang hendak dipotong harus memenuhi spesifikasi khusus, yakni hanya bebek jantan dan berumur 6 bulan. “Kalau bebek betina baunya tidak enak,” jelas Bu Nini. “Kalau kemudaan, kami susah membuang bulu-bulunya. Lagipula dagingnya cepat hancur kalau dimasak. Sebaliknya, kalau ketuaan dagingnya alot.”

Bebek-bebek itu dia peroleh dari berbagai penyalur, mulai dari Padang, Sicincin (pusat telur asin di Sumatra Barat), Lubuk Alung, dan sekitar Bukittinggi. “Kadang ada orang yang datang membawa 1 atau 2 ekor bebek ke warung.”

Untuk cabe, setiap hari Bu Nini butuh 6 kilo. Cabe itu mesti dihaluskan secara manual, memakai ulekan batu yang besar. Untuk membuatnya lembut sekali seperti diblender, Bu Nini minta bantuan orang lain, yang dia beri upah Rp 10 ribu. Bagi orang yang sudah berpengalaman, satu kilo cabe rata-rata membutuhkan waktu 15 menit. Kenapa tidak digiling memakai blender saja? ”Kalau digiling pakai mesin rasanya jadi asin.”

Untuk memasak gulai, Bu Nini dibantu adik laki-laki dan dua anaknya. Satu anaknya lagi membantu melayani pembeli di warung. Suaminya, Anwar (78), bertugas ke pasar membeli bumbu-bumbu dan kayu bakar. Agar gulainya enak, kayu yang dipakai pun tidak sembarangan, melainkan kayu dari pohon kayumanis.

Bebek yang sudah disembelih lalu direndam dalam air panas, kemudian dicabuti bulunya. Pekerjaan mencabuti bulu ini butuh waktu sekitar 15 menit per ekor. Bebek lalu dibakar di atas bara api, hingga keluar minyaknya. Setelah itu bebek dicuci dan dipotong-potong menjadi empat bagian, lalu dicuci lagi dan ditiriskan  hingga agak kering. Baru kemudian dimasak bersama bumbu-bumbu di dalam kuali, menggunakan api besar hingga matang. Kuali yang dipakai harus kuali besar dari tanah liat, karena kalau memakai kuali dari logam menurut Bu Nini rasanya jadi tidak enak.

Setelah bumbu meresap, proses masak diteruskan dengan memakai api kecil hingga daging bebek melunak. “Untuk memasak gulainya sendiri butuh waktu sekitar 4 jam,” tutur Bu Nini. Tak heran, untuk penyiapan gulai bebek ini dimulai sejak sore hari sebelumnya.

Tak terasa, gulai di piring saya sudah tandas, sisa tulang-tulangnya saja. Saya tinggal menghabiskan kopi untuk menghilangkan rasa pedas yang masih menyengat di mulut. Seorang ibu berpakaian pegawai negeri dan seorang pria turun dari mobil dan mereka pun memesan gulai. Tak lama kemudian, keduanya sudah sibuk menyantap gulai, dan keringat mulai keluar dari dahi. Setelah membayar makanan, saya pun minta pamit. Perut rasanya kenyang sekali, tanpa ada tanda-tanda mau ‘berontak’.

Sore hari, ketika saya kembali ke hotel, Jhoni menanyakan saya sarapan di mana. Saya bilang, saya sarapan gulai bebek di ngarai.

“Astaga, Mas berani makan gulai itik pagi-pagi? Nggak diare?”

“Nggak tuh,” jawab saya. “Malah rasanya saya jadi tahan lapar. Padahal tadi saya tidak makan siang, dan bepergian hingga ke Payakumbuh dan Batusangkar. Saya baru makan lagi menjelang magrib.”

“Mas makan apa saja, dan bayar berapa?”

Lalu saya jelaskan apa yang saya makan. Semuanya Rp 17.500.

“Waaah… murah sekali! Biasanya kalau Bu Nini tahu yang makan itu tamu dari hotel, dia mahalin. Mungkin dia tahu Mas penulis, jadi dimurahin…”

“Mungkin juga. Atau mungkin Bu Nini senang saya ajak ngobrol, sampai-sampai dia salah menghitung, hehehe!”

Buah Pinang, Obat Kuat

Seharian ke Payakumbuh, ke air terjun Lembah Harau, lalu ke Istana Pagaruyung di Batusangkar membuat perut saya lapar sekali. “Nanti kita mampir ke RM Pergaulan, ada ayam batokok dan teh telur pinang yang enak,” kata Eka dan Afrizal, supir dan co-driver angkot yang hari itu saya ‘bajak’ untuk mengantar saya.

Kalau mau kuat harus berani pahitRM Pergaulan terletak di daerah Manggih (manggis), tak jauh dari batas kota Bukittinggi yang ke arah Payakumbuh. Ayam batokok adalah ayam kampung yang daging bersama tulangnya digepuk, lalu digoreng dengan bumbu dan sedikit minyak. Hampir sama dengan dendeng batokok, cuma ayam batokok hanya ada di restoran ini.

Ayamnya enak sih, cuma agak alot. Yang enak malah sambal lado mudo,  serta terong goreng, yang terasa seperti daging. Teh telur pinangnya? Semula, minuman yang terdiri atas teh panas, 5 butir buah pinang muda, 1 kuning telur bebek, gula, dan susu kental manis yang diblender itu saya kira akan terasa pahit. Ternyata tidak. Hanya rasa sepet saja yang tertinggal di langit-langit mulut, selebihnya rasa manis dan bau harum seperti kalau minum STMJ.

“Orang-orang di Pariaman biasa makan buah pinang muda untuk obat kuat. Minuman ini khasiatnya juga sama,” kata Eka. Ah, nggak aneh. Di Jawa, buah pinang alias jambe juga dikunyah bersama tembakau untuk ‘obat kuat’ gigi, kata saya dalam hati. Tapi, bukankah rasanya pahit sekali? Kenapa di sini tidak pahit?

“Oh, itu karena air yang dipakai khusus,” kata Lili, penjaga warung, tanpa mau menjelaskan airnya dari mana. Karena penasaran, saya memotek satu dari setangkai buah pinang hijau segar yang tergeletak di dapur minuman. Saya gigit satu kali, air yang keluar rasanya segar sekali. Gigitan kedua, baru terasa sedikit sepet. Gigitan ketiga, ya ampun, rasanya pahit sekali!

Buah pinang itu langsung saya buang ke tempat sampah. Eka dan Afrizal tertawa terpingkal-pingkal.

Makan Gratis di Uni Lis

Esok siangnya, sebelum ke kerajinan bordir Hj. Rosma di Bonjo Panampuang, sekitar 10 km timur Bukittinggi, saya mampir dulu ke warung nasi kapau Uni Lis di Pasar Lereng  –kini disebut Pasar Wisata. Warung ini sangat terkenal di Bukittinggi, dan siang itu penuh oleh orang makan.

Ramai tapi sedikit asinTapi… ternyata sayur rebung, kol, dan kacang panjangnya terlalu asin menurut lidah saya. (Bisa saja tidak asin bagi anda, jadi coba saja mampir ke sini kalau ke Bukittinggi). Yang rasanya agak netral hanya  gulai usus sapi yang berisi campuran telur dan tahu yang dilumatkan. Terpaksa, nasi sepiring berisi lauk dan sayur ‘campursari’ itu tidak saya habiskan.

Untung, setelah saya memotret Uni Lis, dengan latar belakang foto-foto pejabat yang pernah makan di warung itu –mulai dari B.J. Habibie, Abdul Latief, Tarmizi Taher,  hingga Mari Pangestu– beliau tidak mau menerima uang saya, alias saya mendapat makan siang gratis! Ada-ada saja, hahaha!

Lomba Makan Pensi

Saat hendak pulang ke Padang, saya kembali diantar Jhoni. Kali ini kami hendak mampir dulu ke Koto Gadang dan Danau Maninjau. Mudah-mudahan makanan di Maninjau nanti enak, harapan saya.

Setelah mampir ke Koto Gadang untuk melihat-lihat kerajinan perak, dan ternyata benar kotanya memang sepi, kami langsung ke Danau Maninjau, 34 km arah barat Bukittinggi. Maninjau adalah daerah asal tokoh Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan H.R. Rasuna Said.

Kami melewati Kelok 44. Orang sini menyebutnya Kelok Ampek Puluh Ampek. Ada 44 kelokan tajam yang dimulai dari nomor paling tinggi di atas, hingga nomor satu ketika hendak sampai ke Danau Maninjau yang terletak di bawah.

Lagi-lagi kabut. Hanya itu yang bisa dilihat sepanjang Kelok 44, sehingga pemandangan permukaan danau yang indah di bawah, tidak nampak sama sekali. Ketika sampai di pinggir danau juga sama, semuanya berwarna abu-abu. Kami segera mencari makanan khas Maninjau, yakni ikan bilih dan kerang (remis) pensi. Keduanya berasal dari danau. Ternyata kami harus mencarinya pada orang yang berjualan di pinggir jalan, karena restoran-restoran di pinggir danau belum tentu menyediakannya.

Makan daging yang 'seuprit' saja susah bener“Beli masing-masing 2 ribu rupiah saja,” saran Jhoni. Saya mendapat dua bungkus pepes ikan bilih, dan sebungkus besar pensi. Padahal kalau di Bukittinggi, ikan bilih ini mahal, lho. Satu kilo ikan bilih Danau Maninjau yang sudah diasap, harganya Rp190 ribu per kilo, sementara ikan bilih dari Danau Singkarak hanya Rp 60 ribu per kilo.

Kami mampir ke sebuah warung makan, lalu memesan nasi dan sayur saja, karena kami sudah membawa lauk sendiri. Pepes segera ludes, tapi masalah timbul saat memakan pensi. Remis kecil bewarna kehitaman dan berdaging putih kusam ini lezat sekali. Apalagi bumbunya juga enak, asin-asin pedas. Tapi jumlahnya itu lho, buanyak sekali! Mungkin ada ribuan pensi. Kalau pensinya membuka semua sih, gampang menghabiskannya. Tapi ini pensinya hampir semuanya menutup. Untuk membuka satu cangkangnya saja perlu waktu lima menit. Lhah, perlu berapa jam menghabiskan pensi yang saya beli ini?

“Ah, paling lima belas menit,” kata Jhoni.

Memang, kalau saya kesulitan setengah mati mengorek isi pensi, tidak demikian halnya dengan Jhoni. Kecepatan makannya lima kali lipat saya. “Kalau makan pensi jangan dipegang. Begini nih, caranya.”

Dia lalu mencontohkan. Pensi yang diambil itu ia setengah lempar ke mulut, lalu dengan cepat pensi itu diposisikan sehingga bagian yang membuka menghadap ke atas, lalu gigi atas membukanya, dan isinya disedot dengan bantuan lidah. Cangkang pensi yang sudah kosong itu jatuh begitu saja ke piring seperti keluar dari mesin pengupas otomatis.

Saya berusaha meniru, tapi kebanyakan tetap saja gigi saya ‘terpeleset’ di permukaan cangkang pensi yang tipis dan bergerigi. Kadang malah gigi saya menekan terlalu keras sehingga cangkangnya malah pecah dan mengotori mulut.

Mbak Eka, yang punya warung, rupanya memperhatikan ‘perjuangan’ saya. “Susah ya, Mas, mbukanya?”

Ho-oh, angguk saya kecut.

“Saya juga ada tuh pensi, di rak atas. Sudah kupasan kok…”

Oalah maaak, kenapa tidak bilang dari tadi!

Perjalanan ke bandara Padang, meskipun bakal lebih lama, saya lalui sambil senyum-senyum. Saya pasti akan ke Bukittinggi lagi. (T)

Catatan:
Artikel ini sudah cukup lama, sehingga mungkin data tentang harga sudah tidak valid lagi. Tapi mudah-mudahan isi ceritanya masih menarik untuk dibaca.

 

 

 

Posted by Teguh Sudarisman in Archipelago, Weekend Trips, 6 comments
The Smart Elephants

The Smart Elephants

Satu-satunya tempat di mana gajah diajari untuk memberi hormat, menaikkan bendera, melukis, dan bermain musik.

Liburan yang bermanfaat dengan berlatih menjadi pawang gajah.Jalan yang dilalui bis saya terpotong oleh aliran air dari sebuah sungai kecil dengan lebar tak lebih dari dua meter. Posisi jalan yang menurun ketika terpotong oleh sungai itu membuat bis agak menukik saat terendam ke air, dan ketika roda depan bis hendak naik dari aliran air, bis pun sedikit goyah dan sreeekk… bagian tengah badan bis bergesekan dengan jalan.

“Sebenarnya ini bukan jalan yang biasa dilalui orang yang ingin ke Pusat Konservasi. Area ini untuk trekking gajah. Tapi karena ini lebih cepat, dan sebentar lagi ada elephant show, maka kita melalui jalan ini,” kata Ms. Cha, pemandu kami.

Di kanan-kiri jalan yang kami lalui hutan jati merimbun. Kami lalu sampai ke sebuah kubangan besar yang tampaknya menjadi area mandi para gajah. Namun hanya ada sedikit air di sini, sebagian besar berupa tanah lumpur yang masih kelihatan basah. Akhirnya, kami sampai di area yang cukup lapang, di mana terdapat gajah-gajah yang ditambatkan pada pohon-pohon jati, gubuk-gubuk beratap rumbia, para mahout (pelatih gajah) yang tengah bersantai, serta deretan kursi-kursi panjang dari kayu, seperti di teater terbuka.

Setiap hari makan minimal 100 kilogram rumput.Sekelompok turis kulit putih yang terdiri dari ibu, ayah, dan anak-anak yang masih kecil, tampak tengah dilatih oleh para mahout yang lain. Mereka berpakaian biru-biru tua, sementara para mahout berpakaian biru muda. Satu anak di antaranya setengah terlelap dalam dekapan seorang mahout, di atas seekor gajah yang masih muda.

Begitu saya duduk di salah satu bangku panjang, seorang mahout senior memberi aba-aba dalam bahasa Thai. Segera saja para gajah itu berbaris rapi, lalu menunduk dan memberi hormat. Dengan aba-aba sekali lagi, para gajah itu berdiri tegak kembali. Yang menakjubkan, para gajah itu juga mau menuruti perintah para turis –yang memberi aba-aba dalam bahasa Thai– untuk melakukan apa yang diiginkan sang turis: menundukkan badan, menekuk kaki depan sehingga si turis dapat naik ke punggung gajah, merebahkan diri, lalu dengan satu tepukan di punggung, mereka bangun lagi.

Asyik juga bermain dengan gajah.“Gajah dewasa ini beratnya bisa mencapai 3,5 ton dan makan minimal 100 kilogram rumput per hari,” kata si mahout senior. Menurutnya, jika gajah tidak makan selama 3-4 hari, ia bisa mati kelaparan. Jika gajah sakit dan tidak bisa bangun dengan kekuatannya sendiri, ia hanya bisa bertahan hidup 24 jam, sebab berat badannya sendiri akan mengganggu fungsi organ-organ dalam.

“Mereka benar-benar hewan yang menakjubkan! Padahal kami baru menjalani training mahout tadi pagi!” seru Alice, yang bersama suaminya Ted dan ketiga putranya dari Kanada, akan ikut mahout training di sini selama 2 hari.

Tekuk kaki, beri hormat kepada penonton.Begitu penjelasan mahout senior selesai, para gajah dan mahout pun berbaris, karena kini tiba saatnya untuk elephant show! Senin sampai Jumat, acara ini diadakan pukul 10 dan 11, sedangkan di hari libur ditambah lagi pada pukul 13.30.

Di area terbuka yang jauh lebih besar, telah ramai oleh para turis dewasa maupun anak-anak. Mengikuti suara dari sebuah speaker dari seorang perempuan yang entah bersembunyi di mana, gajah-gajah itu melakukan lagi atraksi yang tadi sempat kami lihat ‘preview’-nya. Kali ini ditambah dengan mengerek bendera, menarik dan memindahkan balok-balok kayu, hingga kemudian melukis (gambarnya gajah juga) serta… bermain musik.

Melukis self-portrait.Yang bermain musik adalah gajah-gajah yang tergabung dalam The Thai Elephant Orchestra, yang disebut-sebut sebagai orkestra pertama di dunia di mana gajah bermain musik secara ‘serius’. Para gajah ini pernah rekaman dan CD pertama dirilis tahun 2001, yang mendapat sambutan sangat meriah. Sekarang orkestra ini tengah menyelesaikan album kedua yang disebut Elephonic Rhapsodies, dan didukung oleh 12 gajah pemusik. Jenis instrumen-instrumen musiknya pun bertambah.

Homestay untuk Turis

Sudah pantas membentuk Elephant Philharmonic Society.Saat ini ada sekitar 72 gajah di pusat konservasi yang luasnya 500 hektar ini. Gajah-gajah yang bersekolah di Mahout and Elephant Training Center adalah yang sudah berusia 3-4 tahun, dan sekolah itu berlangsung hingga mereka berusia 11-12 tahun. Setelah lulus, sebagian gajah akan dikirim ke hutan yang dikelola oleh Thai Elephant Conservation Center (TECC) –sekarang disebut National Elephant Institute (NEI)– untuk membantu gajah-gajah lain mengangkut kayu.

Namun Training Center ini hanya salah satu dari banyak program yang dijalankan NEI. Proyek-proyek lain misalnya sekolah khusus untuk para dokter hewan, proyek penglepasan kembali gajah ke hutan, rumah sakit gajah, riset bank sperma gajah, klinik berjalan untuk gajah, dan pembuatan produk-produk dari kotoran gajah. Untuk meningkatkan turisme, diadakan program homestay bagi turis yang ingin belajar menjadi mahout atau sekadar menaiki dan trekking dengan gajah. Tersedia program homestay dari 1, 3, 6, hingga 10 hari.

Tebu yang keras langsung lahap dimakan.Untuk program 1 hari, sebagai contoh, kita diajari cara menaiki gajah, menonton pertunjukan gajah, belajar membuat biogas dan kertas dari kotoran gajah, mengunjungi rumah sakit gajah, serta memandikan gajah. Biayanya 3,500 baht per orang. Untuk program 10 hari, ditambah lagi dengan menggiring gajah dari hutan, menangani gajah sakit, mengajari gajah membawa batang-batang kayu di hutan, serta tinggal di hutan selama 2 hari. NEI juga menjadi tempat belajar para mahout dari berbagai negara lain, termasuk dari Indonesia. Training ini menghabiskan waktu minimal 10 hari hingga beberapa bulan.

Rumah Sakit Gajah

Banyaknya gajah di Thailand yang menjadi hewan peliharaan (domesticated) membuat gajah rentan mengalami masalah kesehatan. Di NEI terdapat rumah sakit gajah, dan saat ini ada empat ‘pasien’ yang mempunyai problem berbeda.

Melatih para mahout dari berbagai negara, termasuk Indonesia.Satu gajah ditempatkan secara terpisah dan diikat dengan rantai besi serta diberi infus. Ia tampak kurus, matanya sayu sekali. Di kaki belakang kanannya tampak luka yang besar dan bulat, menonjol kekuningan. Gajah besar ini dengan lemah beberapa kali mesti menggerakkan kakinya yang sakit itu untuk menghindarkan diri dari serbuan lalat.

“Gajah ini mengalami kecelakaan sewaktu mengangkut kayu di hutan dan tulang kakinya patah. Sudah beberapa kali kami operasi, tapi selalu saja tumbuh daging baru pada luka bekas patahan tulang itu,” jelas Dr. Taweepoke Angkawanish, salah satu dari lima dokter gajah di NEI. “Kami tak bisa mengamputasinya, karena dengan cara itu gajah menjadi tak bisa berjalan. Dari pengalaman kami, dengan diamputasi, mereka akan lebih cepat mati.”

Meski nampaknya gajah ini lemah, namun kata dokter yang sudah 10 tahun bertugas di pusat konservasi ini, ia mesti sangat hati-hati. “Gajah terluka ini pernah membunuh satu orang sebelum dibawa ke sini.”

Tiga gajah lain di kandang yang berdekatan, mempunyai problem berbeda. Yang satu, kaki kanan depannya dibalut perban, karena terluka akibat menginjak ranjau darat di perbatasan Thailand-Laos. Dua gajah lain diserahkan oleh pemiliknya dalam kondisi mengalami malnutrisi karena tidak diberi makan secara benar. “Ukuran fisik kedua gajah ini lebih kecil dari seharusnya, karena otot mereka tidak berkembang,” tambah Dr. Taweepoke, “namun ini sudah lebih baik daripada ketika datang ke sini dua bulan lalu.”

Mr. Taweepoke si dokter gajah.Hari ini sang dokter tampak sangat sibuk, karena hanya ia yang bertugas. Dokter gajah yang lain ada yang berlibur, ada juga yang bertugas di Mobile Veterinary Clinic, pergi ke daerah terpencil. “Lebih mudah dan lebih baik jika kami yang mendatangi gajah yang sakit, daripada membawanya ke sini, karena pasti akan memberi stres tambahan bagi gajah itu.” Taweepoke segera bergegas meninggalkan kami begitu ia diberitahu seorang staf untuk segera menangani seekor gajah yang akan melahirkan.

Untuk mencegah punahnya hewan mamalia ini, sejak tahun 1999 para dokter hewan di NEI bekerja sama dengan Kasetsart University meneliti kemungkinan mengawetkan sperma gajah untuk program inseminasi buatan. Sejauh ini program itu telah berlangsung sukses. Salah satu bayi gajah jantan yang ada di kandang dekat rumah sakit, lahir Maret lalu dari hasil inseminasi buatan. Meski sang ibu kandung dari gajah kecil itu tidak mau merawatnya, ia kini dirawat oleh gajah lain, Pampaung, yang ternyata sangat sayang kepadanya. Sekurangnya, masa depan bayi ini telah aman, karena ada sang ibu tiri dan orang-orang NEI yang akan melindunginya…. (T)

National Elephant Institute
(Thai Elephant Conservation Center)
Km 28-29 Lampang-Chiang Mai Highway
Hangchat District, Lampang 52000, Thailand
Telephone: +66 (054) 228108, 228034
Facsimile: +66 (054) 231150
info@thailandelephant.org
www.thailandelephant.org

Posted by Teguh Sudarisman in Tempting Neighbors, Weekend Trips, 0 comments
One Fine Day in Malacca

One Fine Day in Malacca

Aku yang dulu
Bukanlah yang sekarang
Dulu ditendang
Sekarang ku disayang
Dulu dulu dulu ku menderita
Sekarang aku bahagia…

Hampir saja saya tertawa mendengar lagu ini. Ini kan lagu yang sering dinyanyikan anak-anak pengamen di Jakarta. Koq tiba-tiba kini saya mendengarnya di Malaka, Malaysia, saat saya naik beca yang disupiri Diah.

Dutch Square pusat keramaian MalakaSepertinya Diah yang berambut cepak dan agak tomboy ini adalah satu-satunya penarik beca wanita di sini. Tadi, di depan Christ Church, banyak berjejer beca hias, menawarkan jasa kepada turis-turis yang memenuhi pelataran landmark kota Malaka ini.  Saya meminta mereka mengantar ke Hotel Hatten tempat saya menginap,  beca-beca itu minta 20 ringgit (sekitar Rp 72 ribu) yang menurut saya mahal untuk jarak tempuh ke hotel yang hanya 150 meter. Saya menawar 10 ringgit tapi mereka tidak mau, sampai akhirnya saya berjalan dan bertemu Diah, dan ia mau 15 ringgit.

Tulisannya memang beca, tanpa huruf ‘k’. Bentuknya seperti becak di Siak-Pekanbaru, dengan si supir menggenjot pedal dari samping kanan penumpang. Tapi di sini kelebihannya sepeda dihias dengan tudung seperti sayap kupu-kupu dan hiasan renda berbentuk lambang love, lengkap dengan boneka-boneka Hello Kitty. Warna beca umumnya pink, merah, oranye, atau kuning. Saat malam, lampu-lampu kecil yang menghiasi becak ini menyala dengan meriah. Dan satu lagi. Setiap beca dilengkapi speaker yang dihubungkan dengan handphone jadul yang diletakkan di kantong di dekat stang beca. Sewaktu saya naik, Diah mengambil hp ini dan menekan-nekan tombolnya, kemudian terdengarlah lagu itu.

Beca Malaka yang unik dan cantikDiah merupakan salah satu dari puluhan penarik beca yang ikut merasakan dampak positif booming pariwisata Malaka. Terlebih sejak kota bersejarah ini, bersama dengan kota George Town di Penang, masuk dalam UNESCO World Heritage Site pada 7 Juli 2008. Hotel-hotel megah kini berdiri di Malaka, begitu juga ruko-ruko baru untuk mengakomodasi kegiatan bisnis dan wisata yang meningkat. Untungnya, pembangunan ini tidak mengganggu kawasan-kawasan bersejarah yang menjadi kebanggaan Malaka.

Keramaian kota Malaka sebenarnya hanya berpusat di kawasan Dutch Square di mana Christ Church dan Stadhuys terletak, beserta area-area di dekatnya seperti Jonker Street, Menara Taming Sari, Benteng Porta de Santiago, dan Gereja St. Paul. Kesemuanya bisa dikunjungi dengan berjalan kaki. Area ini penuh oleh para turis Eropa dan Asia. Setiap hari, jalan-jalan yang relatif sempit di area ini disesaki oleh manusia dan juga mobil-mobil pribadi dan bus-bus wisata.

Banyaknya situs warisan dunia di sini, ditambah banyaknya godaan lain seperti toko-toko kecil yang menjual aneka makanan dan suvenir membuat kota ini tak akan cukup hanya dijelajahi dalam satu atau dua hari. Namun kalau punya waktu yang sempit, tempat-tempat berikut pun akan membuat kunjungan kita di Malaka berkesan dan penuh warna.

Dutch Square

Di sini terletak gedung Stadhuys (balai kota) yang berwarna merah salmon, dengan dindingnya yang tebal. Gedung yang mulai tahun 1982 difungsikan sebagai Museum of History and Ethnography ini dibangun di masa kolonial Belanda (saat itu masih VOC – Kongsi Dagang Hindia Timur) pada tahun 1650. Fungsinya sebagai pusat administrasi maupun tempat tinggal resmi gubernur.

Christ Church yang berdekatan dengan air mancur Queen VictoriaSetelah menjadi museum, bangunan ini menyimpan koleksi benda-benda bersejarah sebelum masa kesultanan hingga sekarang. Di antaranya kostum-kostum dan kerajinan yang dibuat oleh orang Portugis, Belanda, Melayu, dan China, termasuk sebuah lemari belanda yang terbuat dari kayu hitam dengan ukiran lambang VOC, juga kamar pengantin bergaya China, kostum pengantin, sampai porselen-porselen yang antik dan indah.

Yang agak disayangkan, sekarang Stadhuys sedang direnovasi, konon sampai Apil 2014.  Para pedagang kakilima yang semula menempel di dinding bangunan ini bergeser memenuhi halaman Christ Church sehingga agak merusak pemandangan, terutama bagi yang mau berfoto-foto. Hal lain yang agak mengganggu adalah banyaknya bis dan mobil wisata yang memasuki jalan-jalan di depan Dutch Square. Sepertinya akan lebih menyenangkan kalau area ini dikhususkan untuk wisata jalan kaki.

Christ Church Melaka 1753

Gereja landmark Malaka ini juga berwarna merah salmon, dan merupakan  gereja Protestan yang dibangun Belanda tahun 1741, namun butuh 12 tahun untuk menyelesaikannya. Yang unik adalah tempat Injil-nya yang dibuat tahun 1771 dari kuningan, sedangkan lonceng gereja dibuat tahun 1608 dan sebelumnya menjadi lonceng di gereja lain. Di atas altar tergambar adegan Makan Malam Terakhir yang disusun dari tegel-tegel berglazur. Beberapa bagian lantainya dibuat dari batu nisan yang masih dihiasi tulisan Portugis dan Armenia.

Gereja ini menjadi gereja Anglikan sejak Inggris menguasai Malaka tahun 1795, hingga sekarang. Ratu Elizabeth II dan keluarganya pernah menghadiri kebaktian di gereja ini saat mereka mengunjungi Malaka tahun 1972.

Clock Tower dan Air Mancur Ratu Victoria

Di depan Christ Church berdiri sebuah menara jam, yang dibangun tahun 1886 oleh Tan Jiak Kim sebagai penghormatan kepada ayahnya, Tan Beng Swee. Yang disebut terakhir ini adalah seorang tokoh Malaka yang menghibahkan 62 hektar tanahnya untuk dijadikan pemakaman China di Jelutong. Jam aslinya dibuat di Inggris, namun tahun 1982 diganti dengan jam dari Jepang sebagai peringatan saat masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945.

Berdampingan dengan menara jam ini adalah Queen Victoria Fountain yang terbuat dari marmer Inggris. Air mancur ini dibuat tahun 1904 oleh masyarakat Malaka untuk memperingati Diamond Jubilee Ratu Victoria dari Inggris, yang berkuasa dari tahun 1837 hingga 1901.

Porta de Santiago

Porta de Santiago yang masih tersisa dari Benteng A FamosaPintu gerbang benteng ini dulu merupakan bangunan yang paling mencolok di masa pendudukan Portugis (1511-1641), dan menjadi bagian dari benteng yang disebut Aforteleza. Dibangun oleh Alfonso d’Albuquerque tahun 1512, benteng berbentuk pentagon ini digunakan untuk menahan serangan dari Sultan Malaka maupun tentara Aceh. Saat perang dengan Belanda, benteng ini rusak parah namun kemudian diperbaiki oleh Belanda, terlihat dari adanya logo VOC dan tulisan ‘Anno 1670’ di bagian atas gerbang.

Saat Inggris mengambil alih Malaka tahun 1795, mereka berniat merubuhkan benteng ini dan memindahkan pusat perekonomian ke Penang. Tujuannya, kalau ada yang menyerang dan menguasai Malaka, mereka dengan mudah bisa merebutnya kembali. Namun atas perintah Sir Stamford Raffles yang menjadi gubernur jendral Inggris di Singapura, bagian gerbang benteng ini, yang disebut A Famosa, tetap dipertahankan sebagai monumen.

St. Paul’s Hill

Tepat di belakang benteng, di sebuah bukit kecil yang menjadi titik tertinggi di kota Malaka, berdiri reruntuhan gereja St. Paul. Bangunan yang tiga perempat bagiannya tidak beratap ini –kecuali di bagian belakang yang ada bekas makam St. Francis Xavier– dipenuhi dengan batu-batu nisan besar yang bersandar di dinding.

Salah satu batu nisan makam-makam di reruntuhan St. PaulGereja ini dibangun tahun 1521 oleh Duarte Coelho dan didedikasikan sebagai Church of Our Lady of the Hill, setelah ia selamat dari serangan bajak laut di Laut China Selatan. Penginjil St. Francis Xavier berdiam dan memberikan khotbah di gereja ini tahun 1545. Ketika ia meninggal tahun 1553 di China, jenazahnya disemayamkan di gereja ini selama 9 bulan sebelum dipindahkan ke Goa, India. Sebuah patung pualam St. Francis didirikan di depan reruntuhan gereja ini pada tahun 1953.

Ada cerita unik mengenai patung ini. Tahun 1614, Paus di Roma meminta tangan kanan St. Francis dipotong dari jasadnya, dan dikirim ke Roma untuk diabadikan. Konon, saat pergelangan tangan itu dipotong, darah mengucur deras meskipun St. Francis sudah meninggal 62 tahun sebelumnya. Setelah Sr. Francis dinobatkan sebagai Santo tahun 1622, potongan tangan tersebut tinggal tulang-belulang. Namun jasadnya di Goa masih utuh sampai saat itu.

Seorang seniman di dekat patung St. Franciscus Xaverius di depan St. PaulTahun 1952, untuk menyambut perayaan empat abad misi St. Francis Xavier, dibuatlah patungnya di depan Gereja St. Paul. Sebuah patung pualam dipesan dari Italia dan dipahat oleh pematung terkenal G. Toni. Namun di malam sebelum perayaan, terjadi hujan lebat dan sebuah pohon tumbang menimpa patung tersebut. Patungnya utuh, namun anehnya pergelangan tangan kanannya putus. Sampai sekarang patung itu masih berdiri di depan Gereja St. Paul.

Di belakang gereja ini juga ada kompleks pemakaman kecil untuk orang-orang Belanda. Salah satunya adalah makam Jan Van Riebeck, salah satu gubernur Malaka dan juga pendiri komunitas Belanda di Cape of the Good Hope di Afrika Selatan. Yang sebaiknya jangan dilewatkan adalah melongok karya-karya seniman lukis jalanan di pelataran gereja ini. Lukisan-lukisan cat air tentang keindahan Malaka, dijual dengan harga 35 ringgit, dan bisa ditawar.

Jonker Street

Suasana Jonker Street di dekat Monumen 608 Tahun Kedatangan Cheng HoMelewati Jembatan Tan Kim Seng dari Dutch Square, sampailah kita ke Jonker Street alias Jalan Hang Jebat. Jalan  yang ditandai dengan monumen berbentuk kapal untuk memperingati 608 tahun pelayaran Cheng Ho ini merupakan kawasan pejalan kaki yang paling ramai di Malaka. Keramaian makin bertambah saat Jumat, Sabtu, dan Minggu malam karena diadakan pasar malam di jalan yang sempit ini. Di siang hari pun, jalan ini kedua sisinya dipenuhi toko-toko mungil menjual aneka suvenir, kafe-kafe, restoran, dan pedagang makanan. Keramaian makin bertambah karena mobil-mobil diperbolehkan masuk ke jalan ini.

Saya sempat masuk ke restoran Bistro 1673 yang dikelola sebuah keluarga peranakan. Pizza homemade buatan mereka terkenal enak. Namun saya hanya bisa tersenyum saat membaca menu-menu makanan camilan, yang ternyata tidak ada bedanya dengan cemilan di Indonesia: kue lapis, kue talam, kue ubi kayu, dan minumannya… es cendol.

Menara Taming Sari

Naiklah dan lihat keseluruhan kota MalakaIni juga salah satu pusat keramaian yang tak jauh dari Dutch Square. Tepatnya, di samping Stadion Dataran Pahlawan. Diluncurkan tahun 2008, menara dengan lantai putar ini mempunyai ketinggian 110 meter. Dengan naik Taming Sari ini kita bisa melihat keseluruhan kota Melaka, karena ketika bagian bulatan menara ini naik, ia juga sambil berputar sehingga pengunjung yang duduk di dalamnya bisa melihat pemandangan 360 derajat kota Melaka. Dari sini kita juga bisa tahu bahwa sebagian wajah kota Malaka mulai dipenuhi bangunan-bangunan modern, mulai dari Hotel Hatten, Hotel Equatorial, stadion Dataran Pahlawan, dan ruko-ruko di pinggir pantai. Laut, pulau-pulau di sekitar Malaka, pelabuhan, hingga bagian depan Christ Church juga terlihat.

Sisi modern Malaka dari Menara Taming Sari 2Sekali naik, menara putar ini bisa memuat 66 penumpang, dan lama dari naik hingga turun lagi 7 menit. Menara Taming Sari buka dari pukul 10 pagi hingga 10 malam, dengan harga tiket 20 ringgit.

River Cruise

Menikmati Malaka dengan ikut river cruise akan memberikan pengalaman tersendiri, terlebih saat malam hari. Rute awalnya dari Jeti Muara di belakang Royal Navy Museum, tak jauh dari replika kapal Portugis. Perahu motor yang dilengkapi empat baris tempat duduk itu diawaki seorang pengemudi dan seorang pemandu tur. Beruntung sekali kalau kita mendapat pemandu yang berpengalaman dan humoris seperti Bernard Goonting (55) yang mengaku sudah menjadi pemandu selama 42 tahun. Artinya ia sudah memandu sejak usia 13.

River Cruise yang mesti dicoba terutama saat malamMula-mula kita akan melewati Jembatan Tan Kim Seng yang menghubungkan Jonker Street dan Dutch Square, terus ke Padang Nyiru di mana kita bisa melihat Gereja St. Francis Xavier dengan dua menaranya yang bergaya Gothic. Lalu kita melewati jembatan Kampung Jawa dan Jembatan Hang Tuah yang berdekatan dengan Pirate Park dengan Eye on Malaka.

Di kedua sisi sungai rumah-rumah berjejer dengan rapi, lengkap dengan jalan kecil yang sangat nyaman untuk berjalan kaki ataupun bersepeda. Hal lain yang mengesankan, saat perahu melewati bawah jembatan-jembatan ini, suara si pemandu menjadi bergema karena dipantulkan dinding-dinding jembatan. Di saat yang sama, kita bisa mendengar bunyi cericit banyak sekali burung Indian Myna yang suaranya mirip burung walet, meski kita tidak tahu mereka sedang bertengger di mana.

Kita lalu akan melewati Kampung Morten yang rumah-rumahnya bergaya melayu berwarna cokelat muda, dan banyak dipakai sebagai homestay. Sepertinya akan asyik kalau di waktu mendatang bisa menginap di sini. Cruise berakhir di Jeti Taman Rempah, dan perahu kemudian berbalik lagi ke Jeti Muara. Namun sebelum berbalik, Bernard mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ dengan berbagai bahasa. Yang membuat saya tertawa, ternyata ucapan selamat tinggal dalam bahasa Indonesia adalah ”Daaahhh!”

Kegiatan river cruise juga dilakukan pagi dan siang hari. Air Sungai Malaka sudah melalui penyaringan berkali-kali, sehingga bening kehijauan dan bebas dari sampah. Biayanya 15 RM untuk orang dewasa dan 7 RM untuk anak-anak, di bawah 2 tahun gratis.

Malaka memang penuh warna. Kalaupun misalnya punya waktu sehari semalam saja, kita dapat menikmati hampir semuanya, karena semua lokasi dan atraksi wisatanya berdekatan. (T)

 

BOKS 1:
Inspirasi dari Seekor Pelanduk

Malaka didirikan tahun 1396 oleh Parameswara, seorang pangeran dari Palembang yang menyingkir karena negerinya diserang Majapahit. Saat sedang beristirahat di bawah sebatang pohon dalam perjalanannya mencari negeri baru, ia melihat seekor pelanduk putih yang dengan gagah berani melawan seekor anjing yang menyerangnya, hingga anjing itu tercebur ke sungai. Parameswara melihat itu sebagai pertanda baik, dan ia pun mendirikan kerajaan baru di lokasi itu, dan ia menjadi raja dengan gelar Sultan Iskandar Shah. Nama Malaka diambil dari nama pohon tempat ia beristirahat, yang tak lain merupakan pohon indian gooseberry. Buahnya sebesar anggur hijau namun teksturnya keras dan berasa pahit-sepat.

Replika kompleks Kesultanan MalakaEra Kesultanan Malaka berakhir pada tahun 1511 ketika Malaka diduduki Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Saat itu Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Shah, sultan ketiga. Sang Sultan menyingkir ke Perak dan anaknya, Sultan Kassim, menjadi sultan pertama negeri Perak. Upaya keturunan (atau yang mengaku sebagai keturunan) sultan tidak pernah berhasil mengklaim kembali tahta Kesultanan Malaka, sehingga Malaka menjadi salah satu dari 4 negara bagian Malaysia yang tidak dipimpin oleh sultan melainkan gubernur (bersama negara bagian Penang, Sabah, dan Serawak). Mungkin ini sebuah ironi, karena dari Malaka-lah konon menjadi cikal-bakal kesultanan-kesultanan lain di Malaysia.

Portugis menguasai Malaka hingga 1641. Belanda kemudian merebutnya dan menguasai sampai tahun 1795. Inggris kemudian mengambil alih. Tahun 1818 Malaka dikembalikan lagi ke Belanda oleh Inggris, namun pada tahun 1824 Malaka dikembalikan ke Inggris oleh Belanda, dengan imbalan Bengkulu. Malaka sempat jatuh ke pendudukan Jepang selama masa 1942-1945, lalu kembali dikuasai Inggris, dan kemudian menjadi bagian dari Malaysia yang merdeka pada 31 Agustus 1957.

Kepopuleran Malaka sejak dahulu sebagai pelabuhan perdagangan laut, dan dikuasainya Malaka oleh bangsa-bangsa yang berbeda membuat Malaka punya kebudayaan yang unik, percampuran dari Melayu, China (yang dikenal sebagai budaya ‘peranakan’ atau ‘Baba dan Nyonya’), India, Portugis, Belanda, dan Inggris. Bahkan di Malaka ada satu kampung yang dinamai Kampung Jawa.

 

Posted by Teguh Sudarisman in Tempting Neighbors, Weekend Trips, 8 comments
The Prince’s Legacy

The Prince’s Legacy

Berawal dari keinginan Pangeran Norodom Sihanouk untuk mempunyai tempat menginap yang layak bagi tamu-tamunya, kini guesthouse itu menjadi sebuah resor eksklusif, Amansara.

Serasa dibawa kembali ke masa lampau.Staf resor yang menjemput saya di pintu kedatangan Bandara Siem Reap itu dengan sopan membukakan  pintu mobil Mercedes Benz 322, sementara sang supir dengan sigap membukakan bagasi untuk menaruh kopor saya. Saya sempat tertegun, karena baru kali ini dijemput dengan sebuah Mercedes antik saat hendak menginap di sebuah resor. Jok-jok mobilnya masih empuk, bersaput sarung warna putih. Sebuah radio tua di tengah-tengah dashboard, berdampingan dengan setir yang sama tuanya, mengingatkan saya pada film-film tentang era 60-an.

Sepanjang jalan, kanan-kiri berupa pedesaan yang menyerupai desa-desa di Jawa saat musim kemarau, kusam berdebu, dan bertanah kemerahan. Namun ini tak lama, karena mobil lalu memasuki kota dengan suasana yang lebih ceria. Saat melewati bangunan berpagar tembok putih memanjang, mobil pun memperlambat kecepatan, lalu melewati sebuah gerbang yang dibuka perlahan oleh seorang penjaga. Pohon-pohon teduh menaungi area ini, dengan kerikil-kerikil kecil menutupi seluruh permukaan halaman.

Mercy 322 yang masih terawat baik.Saya, seperti banyak orang yang pertama sampai ke tempat ini, mungkin tidak menyangka kalau bangunan di balik tembok ini dulu adalah sebuah guesthouse milik Pangeran Norodom Sihanouk (Alm.), raja dan kepala negara Kamboja pada saat itu.

Setelah Kamboja merdeka tahun 1953,  negeri ini mulai berbenah dan membangun di segala bidang, termasuk membangun jalan, jembatan, rumah-rumah sakit, dan gedung-gedung pemerintah. Para arsitek muda Kamboja kembali dari Prancis untuk ikut membangun negeri, dan membawa semangat baru dalam desain bangunan, yang disebut New Khmer Architecture. Aliran desain ini memadukan budaya tradisional Kamboja dan gaya modern yang tidak ada sebelumnya.

Kolam renang utama, gabungan dua kolam lama.Saat inilah, seorang arsitek Prancis, Laurent Mondet, yang sudah tinggal di Kamboja sejak masa kolonial Prancis, ditugaskan oleh Sihanouk untuk membangun dua guesthouse negara. Pertama Villa Princiere di Siem Reap, dan satu lagi di Kep, di provinsi Kampet, Kamboja Selatan.

Berbeda dengan bangunan-bangunan lain milik kerajaan yang berkesan mewah, kompleks Villa Princiere bergaya sangat modern namun low-profile. Bagian depan berupa bagunan penerima tamu berbentuk setengah lingkaran, lalu ruang makan keluarga, sebuah bangunan besar berbentuk lingkaran untuk tempat makan para tamu, dua buah kolam renang di tengah-tengah, dan empat suite yang menempati sudut-sudut lainnya.

Sebelumnya, Siem Reap sudah mempunyai Provincial Royal Residence yang menjadi tempat menginap saat Sihanouk mengadakan kunjungan kerja. Jadi, pembangunan Villa Princiere tampaknya untuk memenuhi kebutuhan tamu dan keluarga yang lebih bersifat kasual. Diketahui kemudian, anak-anak Sihanouk lebih sering tinggal di sini. Pangeran Ranariddh, Putri Buppha Devi, dan Putri Macha Phan, tinggal di sini saat liburan sekolah. Pangeran Sihanouk sendiri dikabarkan tidak pernah menginap di sini.

The Dining Room yang dulu ruang makan para tamu.Tahun 1964, hanya 2 tahun setelah Villa Princiere berdiri, Sihanouk menyerahkan villa ini ke sebuah lembaga pemerintah, SOKHAR, yang menangani beberapa hotel milik pemerintah. Mungkin salah satu alasannya, karena saat itu pariwisata Siem Reap tengah berkembang. Jumlah turis yang berkunjung ke Angkor Wat –10 km utara Siem Reap– meningkat pesat, sementara kebutuhan akan hotel yang layak masih kurang. Villa Princiere pun digabung ke dalam manajemen yang mengelola Grand Hotel d’Angkor. Empat suite yang sudah ada dirombak menjadi 12 kamar hotel, dengan tarif US$ 18.30 per malam, tarif termahal di Siem Reap saat itu. Di masa ini, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman, Prince Raimondo d’Orsini dari Italia, serta aktor Peter O’Toole, pernah menginap di Villa Princiere.

Kolam renang dan The Dining Room di masa Khmer Merah.Terjadinya kudeta tahun 1970 membuat Sihanouk terpaksa mencari suaka ke Beijing, dan pemerintahan Lon Nol yang berkuasa mengambil alih Villa Princiere dan merubahnya menjadi Villa Sokha. Namun keadaan keamanan yang memburuk membuat pariwisata Siem Reap kolaps. Di akhir tahun yang sama, Villa Sokha ditutup.

Dengan berkuasanya Khmer Merah mulai tahun 1975, villa ini berubah menjadi kamp tentara, dan ruang makannya digunakan sebagai dapur umum. Dalam sebuah catatan Sihanouk saat mengunjungi Siem Reap ketika ia  menjadi tahanan rumah, ia menyebut kondisi villa saat itu sebagai ‘tidak mungkin bisa diperbaiki lagi’.

Diusirnya Khmer Merah oleh tentara Vietnam tahun 1979 diikuti dengan dibukanya kembali Grand Hotel d’Angkor dan Villa Princiere –yang kini dinamai Villa Apsara– sebagai hotel. Kamar-kamar di villa ini dibagi lagi menjadi dua, menjadi 24 kamar. Di tahun-tahun awal, villa ini hanya untuk menerima para pejabat pemerintah dari Phnom Penh. Namun setelah pariwisata menggeliat kembali, tahun 1986 villa ini menerima tamu-tamu wisatawan.

Amansara Pool Suite saat senja.Tahun 1989, tentara Vietnam ditarik dari Kamboja, dan Pangeran Norodom Sihanouk kembali ke Kamboja. Namun pemilu berikutnya memunculkan Hun Sen sebagai pemenang, dan kepemilikan Villa Apsara kembali jatuh ke tangan pemerintah yang berkuasa. Pemberlakuan keadaan darurat tahun 1997 membuat Villa Apsara sekali lagi terlantar. Interior maupun struktur bangunannya rusak parah.

Kondisi ini akhirnya berubah pada tahun 2002. Grup hotel Amanresorts membeli tempat ini dari pemerintah Kamboja, dan mengubah namanya menjadi Amansara, yang berasal dari kata ‘aman’ (damai) dan ‘apsara’ (bidadari penari). Renovasi keseluruhan villa ini bukan sekedar membuka sebuah resor baru bagi grup hotel ini, namun yang lebih penting adalah mengembalikan lagi masa keemasan Kamboja.

Kejutan di Sore Hari

Resepsionis yang melihat saya datang, menyambut dengan menangkupkan kedua tangan dan mengucapkan ‘Choom reap sua’. Tebakan saya, artinya ‘selamat datang’. Ia mengajak saya melihat-lihat ruang makan keluarga, yang kini berganti fungsi menjadi perpustakaan. Melewati kolam renang yang kini menjadi satu membentuk seperti lekukan pinggang, saya menuju ruang makan besar, The Dining Room. Pilar-pilar dari batu kali –sebuah ciri bangunan tahun 60-an yang saya suka– menghiasi ruangan yang berbentuk lingkaran besar. Di belakangnya adalah sebuah halaman rumput yang teduh dan kompleks 12 pool suite yang mempunyai kolam renang sendiri-sendiri.

Tiang batu kali menghias koridor antar-suite.Di samping kiri ruang makan ini, menyusuri selasar yang membentuk huruf U, adalah kompleks 12 suite awal yang ada sejak Villa Princiere difungsikan sebagai hotel. Lagi-lagi, tiang-tiang dari batu kali menyapa, dikombinasikan dengan warna dinding suite yang krem lembut, serta kursi-kursi rotan dan bunga anggrek putih di setiap pintu. Benar-benar seperti kembali ke masa silam, atau tepatnya, seperti saya kembali ke masa kecil dulu. Di belakang ini, ada kompleks bangunan baru Amansara Spa, dengan dinding dalam yang menghadap ruang spa berhiaskan relief-relief payung kerajaan dari periode Angkor.

Namun kejutan yang tak terlupakan datang di sore hari. Mencari tempat bersantai dari   lelah yang mendera setelah mengunjungi kompleks Angkor Wat, saya menikmati kue-kue dan white wine di The Dining Room. Baru saja duduk, salah satu waitress datang menggandeng tangan seorang wanita tua tunanetra, yang lalu didudukkan di sofa di depan saya.

Ruang makan yang sepi ini menjadi tambah hening begitu sang wanita tua itu melantunkan sebuah lagu Kamboja. Saya tak mengerti sepatah kata pun syairnya, namun irama lagu yang menyayat hati itu membuat saya berhenti menyesap wine, dan ikut hanyut dalam kesedihan, membayangkan masa-masa getir yang pernah dialami negeri ini. Thank God, keadaan telah kembali normal, dan kini saya, dan terutama rakyat Kamboja, bisa kembali menikmati masa-masa indah di Siem Reap dan Angkor Wat.

 

Amansara
Road to Angkor, Siem Reap
Kingdom of Cambodia
Tel: (855) 63 760 333
Fax: (855) 63 760 335
E-mail: amansara@amanresorts.com
www.amanresorts.com

Catatan: Foto 2-7 Dok. Amanresorts

Posted by Teguh Sudarisman in Check In, Luxe Stay, 2 comments