Pattaya without Red District
Kuta-nya Thailand ini memoles diri agar lepas dari citranya sebagai kota untuk ‘pria dewasa’.
Setiap mendengar kata ‘Pattaya’, orang-orang yang suka traveling biasanya cenderung berpikiran minor. Kesan bahwa Pattaya adalah kota untuk adult entertainment, tempatnya para pensiunan bule menghabiskan duitnya dengan gadis-gadis lokal, masih masih agak susah dihapus. Ini tak bisa dilepaskan dari sejarah tempat ini. Dulu, di era Perang Vietnam, Pattaya menjadi pangkalan serdadu Amerika Serikat, baik yang hendak bertugas maupun menunggu dijemput pulang. Pattaya yang tadinya hanya sebuah desa kecil di sisi timur Teluk Thailand pun kemudian berkembang menjadi gemerlap, hingga sekarang.
Banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah Thailand untuk menghilangkan kesan wisata ‘negatif’ tersebut. Salah satu caranya dengan memperbanyak obyek-obyek wisata yang bisa dinikmati semua kalangan usia, baik anak-anak, keluarga, maupun para traveler muda yang ingin mencari sesuatu yang unik, yang tak jauh dari Bangkok. Pattaya memang hanya 150 km arah tenggara Bangkok, dan bisa dicapai dengan berbagai macam transportasi.
Kota Pattaya tidaklah besar. Mungkin kalau di Bali, seperti daerah Kuta dan Legian yang digabung jadi satu. Jalan utamanya, Na Kluea Road, merupakan pusat keramaian. Jalan ini berbatasan langsung dengan Pattaya Beach yang berpasir putih dan rimbun. Orang lokal menyebut pantai melengkung sepanjang 3 km ini Amphoe Bang Lamung. Sedangkan di sisi lainnya berdiri hotel-hotel bintang empat dan lima, dan mal-mal. Bersama gang-gang cabangnya, jalan ini juga menjadi pusat kafe, night club, karaoke, pub, dan berbagai hiburan malam.
Jangan khawatir kalau baru pertama ke Pattaya, tapi tidak tertarik dengan pantai maupun kehidupan malamnya. Berbagai pilihan wisata berikut pasti tidak akan habis dikunjungi kalau hanya punya waktu weekend saja:
Pattaya Floating Market
Lokasinya berada di pinggir jalan raya Sukhumvit Road di daerah Nongprue, Banglamung, di utara sebelum masuk kota Pattaya. Pasar terapung yang buka mulai jam 10 pagi hingga tengah malam ini tidak seperti di Damnern Saduang Floating Market di selatan Bangkok, atau pasar terapung di Banjarmasin yang penjualnya mendayung perahu sambil jualan, namun lebih menyerupai desa mini di mana bangunan-bangunannya yang dibuat dari kayu melingkar mengelingingi sebuah danau kecil. Para penjual umumnya berada di rumah-rumah terbuka itu, sedangkan yang mangkal memakai perahu hanya beberapa pedagang saja, utamanya pedagang sosis.
Segala pernak-pernik khas Thailand dijual di tempat ini, termasuk sabun-sabun dari mangga, jepit rambut, bantal, sandal etnik, suvenir Pattaya, hingga makanan seperti bakpia, yang a must try bagi penggila cemilan ini.
Carved Buddha Mountain (Khao Chi Chan)
Letaknya agak di luar Pattaya, di sebuah taman yang besar dan indah, dengan kuil-kuil, kolam, dan paviliun-paviliun untuk bermeditasi. Udara di sini sejuk karena letaknya di daerah perbukitan.
Daya tarik utamanya adalah image Buddha yang sedang duduk, yang diukir dari emas, dan dipahat di dinding bukit setinggi 130 meter. Image ini dibuat sebagai hadiah peringatan 50 tahun berkuasanya King Bhumibol Adulyadej, raja Thailand. Sang Raja sendiri menamai image ini Maha Wachira Utta Mopat Satsada, yang artinya ‘Buddha yang berbudi luhur dan mulia’.
Ripley’s Believe It or Not Museum
Pastinya kita sudah pernah melihat acara Ripley’s Believe It or Not di televisi, yang isinya berbagai hal yang aneh-aneh dari seluruh dunia. Kalau mau melihat gambaran, bukti fisik, maupun foto-fotonya, datanglah ke museumnya di Pattaya ini, tepatnya di lantai 2 Royal Garden Plaza.
Kalau kita ke sini, pasti deh, akan betah berlama-lama (karena tentu saja, sambil berfoto-foto). Museum ini mempunyai lebih dri 300 koleksi yang aneh-aneh, mulai dari wanita suku Sara dari Chad-Afrika, yang mulutnya sampai dower karena ditaruh piring di atasnya, sehingga ia tidak menarik lagi untuk diculik para pemburu dari suku lain. Ada juga orang yang berkaki tiga (mungkin ini yang menjadi ide munculnya merek sebuah minuman penyegar?), orang paling gendut dan paling kurus sedunia, sampai orang yang bisa menekuk lidahnya ke belakang. Bersiap-siaplah juga dengan berbagai kuis dan keanehan lain di Infinity Maze. Ripley’s buka setiap hari pukul 11 sampai 23 malam. Cek di www.ripleysthailand.com
Tiffany’s Show
Pertunjukan kabaret ladyboys (waria) ini sering dibanding-bandingkan dengan Alcazar (www.alcazarpattaya.com), pertunjukan serupa yang juga sama-sama terletak di Pattaya Road. Sebagaimana pertunjukan kabaret ladyboys lain seperti di Phuket maupun Bangkok, di Tiffany’s (www.tiffany-show.co.th) semua pemainnya waria, dan setiap malam mereka mengangkat tema-tema yang berbeda. Misalnya saja sewaktu saya menonton, temanya adalah Shanghai Girl, dengan sebuah frame besar seorang gadis memakai cheongsam sebagai latar belakang panggung.
Tidak ada cerita di pertunjukan ini, yang ada hanya lipsync menyanyikan berbagai jenis lagu. Setiap ganti lagu, ganti pula kostum dan tata lampu serta tata panggung pemain-pemain itu. Sayangnya, belum ada lagu Indonesia yang dinyanyikan di pertunjukan ini. Dengar-dengar sih sebentar lagi bakal ada lagunya Rhoma Irama yang dinyanyikan di sini.
Yang unik, Tiffany’s ini setiap tahun mengadakan lomba pemilihan Putri Tiffany. Nah, si putri yang super cantik ini, bersama-sama para pemain yang perform malam itu, berfoto-foto bareng pengunjung seusai pertunjukan. Disarankan, setelah berfoto, pengunjung memberikan tips, minimal 100 baht (1 baht sekitar Rp 300), meskipun ada juga yang hanya memberi 50 baht.
Sanctuary of Truth
Bangunan besar yang bergaya Thailand ini terletak di tepi Pantai Wong Phrachan, di daerah Laem Ratchawet, Pattaya sisi utara. Yang unik dari stuktur seperti kuil ini, keseluruhan konstruksinya dibuat dari kayu, dan tanpa memakai pasak besi sama sekali. Untuk menegakkan tiang dan menyambung-nyambung dindingnya, digunakan sistem kuncian dari kayu juga, yang akan ditunjukkan pemandu kuil ini kalau kita berkunjung.
Dibangun tahun 1981 atas prakarsa Laek Wiriyaphan, Sancturay of Truth (www.sanctuaryoftruth.com) ini setiap detilnya diukir dengan indah. Pembangunan kuil ini berawal dari visi pendirinya bahwa peradaban manusia itu berkembang karena adanya landasan filosofi dan religi. Pembangunan kuil ini diperkirakan berlangsung selama 80 tahun. Jadi sekarang masih dalam tahap pembangunan, dan kita bisa melihat para pekerjanya yang berasal dari Provinsi Isaan tengah memahat kayu-kayu bangunan.
Jangan lupa berfoto-foto di depan patung Nabi Isa dan Nabi Muhammad, yang digambarkan sebagai ‘anak’ dari Dewa Shiwa. Juga, mintalah pemandu mengantarkan ke bagian dengan patung-patung dewa yang mewakili tiap hari lahir. Jangan kaget kalau kepribadian kita bisa ditebak oleh si pemandu, dengan mengetahui hari lahir kita.
Oh ya, meskipun ukiran-ukiran di sini dipengaruhi kebudayaan India, Laos, Thailand, dan Cambodia, dan sepertinya pengaruh Hindu kuat sekali, namun tempat ini bersifat universal dan siapa saja dan dari agama mana saja boleh datang untuk belajar filosofi, mengagumi keunikan ukiran-ukirannya, maupun berfoto-foto.
-5 Icebar
Kalau suka clubbing tapi ingin sesuatu yang berbeda, datanglah ke -5 Icebar (www.minus5pattaya.com) di Amari Nova Suites di Soi Petchtrakool. Letaknya bersisian dengan klub The Bed Pattaya (www.thebedpattaya.com), karena keduanya dimiliki oleh orang yang sama.
-5 Icebar ini mengadopsi konsep seperti Ice Bar yang ada di Swedia, di mana seluruh lantai, dinding, pahatan patung, sampai gelas kecil untuk minumannya, terbuat dari es. Besar barnya sekitar 4×4 meter saja, dan sebelum masuk, kita mesti memakai jaket khusus yang menutup dari kaki hingga kepala. Di dalam bar hanya ada seorang bartender yang tugasnya menyediakan Absolut Vodka, sementara DJ-nya berada di ruang lain yang terpisah. Pengunjung hanya diberi waktu 20 menit di dalam bar es ini, supaya tidak beku. Karena dinginnya itulah, tak heran jika yang disajikan vodka, dengan gelasnya yang langsung bisa dibuang begitu isinya sudah habis ditenggak.
Kalau sudah dari sini, sekalian saja mampir ke The Bed Pattaya, yang hanya berbeda pintu depan. Di klub ini, pengunjung bisa duduk-duduk atau tiduran di kasur putih panjang yang melingkari meja bartender yang ada di tengah. Kadang meja ini disulap menjadi panggung kalau di klub ini diadakan fashion show. Suasananya mirip dengan di White Room di Bed Supperclub Bangkok, hanya saja di Pattaya ini kasurnya tidak bertingkat. (T)
BOKS:
Mencapai Pattaya
Dengan mobil, hanya perlu 1,5 jam dari Bangkok untuk sampai ke Pattaya, melalui jalan express Bangkok-Chon Buri. Kalau memakai bis umum, diperlukan waktu 2,5 jam dari Eastern Bus Terminal di Ekamai, Bangkok. Bis AC dari terminal ini berangkat setiap 40 menit, mulai pukul 5 hingga 23. Bisa juga berangkat dari Terminal Bis Kamphaeng Phet II Road tak jauh dari Chatuchak Market Bangkok. Bis berangkat setiap 30 menit mulai pukul 4.30 hingga 20. Atau kalau mau langsung dari Bandara Suvarnabhumi Bangkok, tersedia bis ke Pattaya dari pintu keluar bandara di Lantai Dasar.
Menginap di Mana?
Pattaya mempunyai banyak sekali hotel hingga penginapan murah. Tak perlu khawatir untuk go show, tinggal mencari di cabang jalan Pattaya Road di pusat kota. Di sini banyak penginapan dengan tarif yang terjangkau. Bisa juga cek di situs www.tourismthailand.org.
Jangan Lupa Cicipi:
Kao Lam (ketan dalam bambu). Penganan gurih dari ketan yang dibakar dalam potongan bambu ini mirip dengan lemang kalau di Indonesia. Cuma di Pattaya ini ada beberapa macam. Ada yang dari ketan putih, ketan hitam, atau ketan putih dengan isi kacang hitam. Penganan ini paling banyak ditemui di rest area di tengah perjalanan antara Bangkok-Pattaya, dan dijual di emperan toko-toko. Berbeda dengan lemang yang bekas gosong bakarannya masih dibiarkan, di Pattaya ini lapisan bambu gosongnya sudah dikupas dengan parang, jadi penampakannya lebih bersih. Coba perhatikan bagaimana penjualnya membelah bambu itu untuk mengeluarkan isinya.
Satu penanganan lagi yang tak jauh dari ketan adalah Khao Niaow Ma Muang (dessert ketan-mangga). Di Pattaya banyak dijual di pinggir jalan di area yang menjadi foodcourt. Saat dijual, mangganya masih utuh dan baru dikupas kalau ada pembeli. Lalu mangga dan ketan ditaruh dalam stirofoam, dengan tambahan santan dibungkus (bisa dituang langsung kalau mau). Sebenarnya jenis dessert mangga ini ada di mana-mana, tapi di Pattaya lebih asyik karena bisa dimakan sambil jalan-jalan menikmati suasana malam.

