Prime Park Hotel Bandung Best Getaway on Weekdays

Ingin menikmati Bandung dengan lebih santai, menyenangkan, dan berkesan? Menginaplah di Prime Park Hotel dan jelajahi Bandung saat weekdays.

Kabut putih masih belum beranjak meninggalkan pagi, dan dari rooftop Prime Park Hotel Bandung di lantai 12 ini, saya bisa melihat kabut itu menyelimuti kota Bandung di bawah sana hingga jauh sekali ke selatan. Di belakang saya, kabut juga masih melingkupi bukit-bukit yang memagari Bandung dengan kawasan Lembang.

Bandung berselimut kabut pagi, dilihat dari rooftop Prime Park Hotel Bandung.

Namun orang-orang nampaknya sudah sibuk menuju kantor masing-masing, terlihat dari kesibukan lalulintas di Jalan Mustofa di depan hotel. Maklumlah, ini hari Senin. Saya saja yang terlambat untuk menginap di sini, Baru kemarin sore saya check in.

Struktur bangunan hotel yang tinggi di bagian timur menghalagi saya melihat sinar matahari pagi yang perlahan mengusir kabut. Jadi saya habiskan waktu sebelum sarapan ini untuk berendam di kolam renang di lantai ini, hanya ditemani seorang staf hotel yang tengah mengganti bantal daybed. Tak saya duga, pagi yang mulai terang dan berlangit biru itu ternyata diiringi embusan angin dingin dari utara, memaksa saya untuk segera keluar dari kolam renang. Saya sempat melongok gym yang ada di lantai ini juga. Meski hanya ada dua treadmill, beberapa dumbel, dan sebuah tivi layar datar, tapi pemandangan ke luar ruangan itu sangat memanjakan mata di saat pagi cerah begini.

Taman depan yang cantik dan asyik buat foto-foto.

Saya agak telat untuk sarapan pagi di Terrace Café di lantai 2. Tadi mendadak saya ingat kalau Senin pagi ada serial Game of Thrones di HBO, jadi saya nonton dulu sekalian menghangatkan badan di kamar. Kamar deluxe yang saya inapi di lantai 7 menawarkan pemandangan kota juga. Meskipun tidak ada bathtub seperti di kamar tipe executive dan suite, tapi saya memang jarang juga mandi lama-lama. Dan meskipun para tamu yang sarapan hanya memenuhi separuh kapasitas resto, saya kagum dengan banyaknya pilihan menu sarapan di sini. Selain menu-menu Indonesia seperti nasi goreng, semur daging dan kentang, bubur ayam, hingga bubur kacang hijau, juga ada egg corner, toast bread, aneka salad, buah dan jus, pasta, sushi, serta berbagai jenis roti.

A gym with a view!

Menurut seorang teman, menu-menu a la carte resto ini juga enak-enak, dan itu memang terbukti di waktu berikutnya saat saya dinner dan lunch keesokan harinya. Menu-menu lokal seperti Soto Bandung, Mi Kocok, Mi Jawa, tak hanya kaya bumbu namun juga punya porsi yang besar, cukup untuk dimakan berdua.

Senin siang ini saya akan mengobrol dengan Public Relations Prime Park Hotel Mbak Fine Endah Wirawati, dan Corporate Public Relations Manager PP Hospitality, Mbak Ari Eka Putri. PP Hospitality adalah hospitality management yang mengelola Prime Park Hotel Bandung. Saya juga mengobrol dengan seorang teman lama di Bandung yang datang ke hotel. Kami mengobrol sambil menunggu dua teman lain dari Jakarta, Donna Imelda (www.ayopelesiran.com) dan Bartian Rachmat (www.bartzap.com) yang juga akan menginap di sini. Saya mencoba memainkan satu set angklung yang ada di lobi. Tapi memainkan lagu ‘Ibu Kita Kartini’ yang notnya paling mudah pun saya masih salah-salah, sampai malu sendiri, hahaha!

Kami lalu bersama-sama melihat beberapa fasilitas hotel bintang 4 yang satu grup dengan Park Hotel Jakarta dan PP University (Hotel) di Puncak ini. Dua hotel lain di dalam satu grup yang kini masih dibangun adalah Prime Park Hotel & Convention di Lombok dan Palm Park Hotel di Surabaya.

Kamar executive yang sangat lega.

Prime Park Hotel memilki 127 kamar, dan kamar executive serta suite-nya membuat saya iri. Yang executive luasnya 44 meter persegi, atau dua kali luas kamar deluxe. Kesan luas masih terasa meski ada penambahan sofa dan meja kerja di ruang tidur, serta bathtub dengan pemandangan pegunungan di kamar mandi. Yang suite lebih luas lagi, karena memiliki dua kamar tidur, living room terpisah, serta kamar mandi dengan bathtub dan toiletries yang lebih berkelas.

Delapan meeting room dan satu ballroom di hotel ini bisa memenuhi berbagai keperluan rapat, seminar, hingga resepsi pernikahan dengan 350 tamu. Selain itu juga ada business center, Kanaya Massage di lantai 9 yang menyediakan pijat, scrub, facial hingga refleksologi, dan ruang karaoke khusus untuk para tamu. Yang terakhir ini masih dalam persiapan untuk difungsikan.

Pagi dan sore hari, waktu terbaik untuk berenang di sini.

Salah satu nilai plus Prime Park Hotel adalah lokasinya yang lebih dekat dengan beberapa tempat wisata budaya, alam, kerajinan, dan wisata belanja di Bandung. Saya akan mencoba mengunjungi tempat-tempat itu dalam kunjungan ke Bandung kali ini.

Pukul 3 sore, kami berlima meluncur ke pusat wisata budaya sunda yang paling terkenal di Bandung, yakni Saung Angklung Udjo, di Jl. Padasuka 118. Saya sudah lama sekali ingin ke sini tapi entah mengapa selalu tidak jadi. Mungkin karena beberapa kali ke Bandung aktivitas saya kebanyakan di daerah Braga atau Sersan Bajuri yang cukup jauh dari lokasi saung ini. Beruntung akhirnya sore ini keinginan itu bisa terlaksana.

Tak hanya angklung, tapi juga menyanyi dan tarian dari berbagai provinsi.

Rasanya tidak perlu diperkenalkan lagi Saung Angkung Udjo ini, karena namanya sudah mendunia dan menjadi kebanggaan Indonesia. Dedikasi sang pendiri, Udjo Ngalagena, diteruskan anak-anaknya dan para murid di saung ini dalam bentuk pertunjukan musik, tari dan nyanyi dengan angklung, yang diadakan setiap hari. Senin sampai Jumat diadakan pukul 15.30, Sabtu pukul 13.00 dan 15.30, sedangkan Minggu pukul 10.00 dan 15.30. Dengan membayar Rp 60.000 per orang, pengalaman 1,5 jam mengenal, bernyanyi, dan bermain angklung di sini sungguh berharga.

Aktivitas petang berlanjut dengan mengunjungi pusat factory outlet di Jalan Riau yang berjarak 10 menit berkendara dari hotel. Kami tidak belanja, dan akhirnya berhenti di Dakken Coffee & Resto untuk ngopi, ngemil, dan foto-foto. Menyenangkan sekali di Dakken ini, karena bentuk restonya yang rumah belanda kuno dengan banyak ruangan, serta halaman dalam yang luas. Kami pulang ke hotel karena ingat mesti dinner di Terrace Café. Dan itu tadi, porsi menu kafe hotel ini yang besar, membuat kami sangat kenyang dan segera mengantuk.

Di Dakken lebih lama foto-fotonya daripada ngopi dan ngemil.

Setelah sarapan pagi, kami meluncur ke Bukit Moko atau Bukit Bintang, melalui rute ke Saung Angklung Udjo, terus ke utara sekitar 30 menit. Udara pagi yang cerah kini makin sejuk dan pemandangan berganti menjadi kebun-kebun sayur dan kota Bandung yang kini terlihat menghampar di bawah sana. Tidak mengejutkan jika di hari kerja ini pengunjung bukit adalah anak-anak sekolah SMA yang mungkin membolos atau sekolahnya masuk siang. Dan dualisme nama bukit itu baru terjawab dari info seorang bapak penduduk lokal di sini.

Nama Bukit Moko berasal dari nama Warung Moko yang berpemandangan bagus karena langsung berhadapan dengan patahan lembah di bawahnya. Sayang pemiliknya mensyaratkan setiap orang yang masuk area warung itu mesti membayar Rp 25 ribu, dan tidak ada fleksibilitas atau keringanan. Jadi kami mencari spot yang lain saja. Dan ternyata Bukit Bintang adalah spot yang lebih tinggi dari warung itu, lebih rimbun dengan pohon-pohon pinus, dan cukup berjalan kaki 100 meter. Jadi kami pun ke sini.

Menyehatkan jiwa raga dengan trekking di Bukit Bintang.

Untuk masuk Bukit Bintang ini setiap pengunjung membayar Rp 15 ribu, yang sepadan dengan apa yang didapat: hutan pinus yang instagrammable banget, Dermaga Bintang di sisi selatan, Puncak Bintang dengan camping ground di sisi utara, beberapa toilet, dan jalur trekking bagi yang mau mengeksplorasi tempat ini. Ada beberapa spot wisata lain di area ini, seperti Patahan Lembang, Sindang Geulis, dan Curug Cileat. Kami cukup berfoto-foto dan mengisi paru-paru dengan udara segar di bawah bintang raksasa, ikon tempat ini.

Sebelum pulang ke hotel, kami mampir dulu ke Rumah Batik Komar di Jl. Cigadung Timur Raya 1 Nomor 5, atau sekitar 10 menit berkendara kalau dari hotel. Komarudin Kudiya, pemilik rumah batik ini, adalah seorang doktor di bidang desain, dan namanya pernah tercatat di buku Guinness Book of World Records atas prestasinya menyelimuti Gedung Sate Bandung dengan kain batik yang dibentangkan tanpa putus. Saya mengenalnya sepuluh tahun lalu saat meliput batiknya yang lain di Trusmi, Cirebon, dan juga pernah ke Cigadung ini saat membawa rombongan trip dalam rangka workshop travel writing.

Satu dari sekitar 4.000 koleksi cap batik Rumah Batik Komar.

Kunjungan singkat yang tadinya hanya untuk temu kangen dan melihat-lihat rumah batik ini, akhirnya jadi berpanjang-lebar. Mas Komar mengajak kami melihat proses pembuatan cap batik, serta melongok perpustakaan cap batiknya yang mencapai 4.000 buah. Satu cap harganya antara Rp 1-1,5 juta. Jadi koleksi capnya itu bernilai… hitung sendiri. Oh ya, rumah batik ini juga menjadi tempat tur wisata batik maupun tempat belajar membatik. Sebagian kursus membatik diadakan gratis, misalnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Mas Komar lalu ‘memaksa’ kami belajar men-cap batik di atas kain polos seukuran saputangan, dilanjutkan dengan mencanting. Dan kami menurut saja, hahaha! Ternyata tidak mudah mencanting itu, karena harus teliti mengikuti garis pola batiknya, dan juga jangan sampai malam atau lilin batik yang panas itu jatuh mengotori kain atau kena tangan. Proses mewarnai dan mengeringkan batik hasil latihan kami itu lalu dilanjutkan oleh karyawannya. Daan… kami pun pulang dengan oleh-oleh saputangan batik hasil karya kami sendiri. Benar-benar pengalaman mendadak yang sangat berkesan.

Tadaaa! Mbak Ari dengan saputangan hasil kursus kilat membatik.

Saat check out di hotel dan menjelang pamit, saya masih sempat mencicipi menu makan siang Paket Merdeka yang sedang dipromosikan hotel selama Agustus ini. Menu seharga Rp 72 ribu ini berupa tumpeng beras merah-putih beserta lauk udang balado, sate telur puyuh, sambal goreng, urap, dan dua macam sambal. Minumnya jus merah-putih yang terdiri dari jus stroberi dan soda susu, plus whipping cream. Jadi jangan salahkan saya jika selama di perjalanan pulang Bandung-Jakarta itu sebagian besar waktunya saya habiskan dengan tidur, karena capek dan kekenyangan. [T]

Prime Park Hotel Bandung
Jl. P.H.H. Mustofa 47-57, Bandung 40214
Tel: 022-8777-2000
E-mail: reservationbandung@primepark.co.id
Website: www.primepark.co.id

BOKS:
Contoh Itinerary Menginap Semalam di Prime Park Hotel Bandung:

Hari 1:
13.00 Check in lalu makan siang di Terrace Cafe
14.30 Renang di rooftop
15.00 Ke Saung Angklung Udjo
18.00 Ke Factory Outlet di Jl. Riau (Martadinata) sekalian makan malam di Dakken Coffe & Resto
20.00 Menikmati street art di Jl. Asia-Afrika, tiduran di Alun-alun Masjid Bandung, ngopi di Rustic Coffee Jl. Cikapundung
22.00 Istirahat

Hari 2:
06.00 Menikmati sunrise dari rooftop hotel
06.30 Sarapan di Terrace Cafe
07.00 Ke Bukit Bintang
10.00 Ke Rumah Batik Komar di Cigadung
11.30 Kembali ke hotel
12.00 Check out
13.00 Pijat atau facial di Kanaya Massage
15.00 Beli oleh-oleh di Kartikasari di Dago atau depan Stasiun KA
17.00 Kembali ke Jakarta dengan kereta atau shuttle service.

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

6 comments

Annie Nugraha

I missed this moment.

Suka banget sama foto taman dan swimming pool nya. So tempted

Teguh Sudarisman

Hehehe tenang Mbak Annie, masih akan ada staycation lainnya. 😃😃

Siti mudrikah

Kangen saung angklung udjo.
Kalo ke bandung aku nginep drumah temen, sekali-kali pengen staycation juga huhuuu

Teguh Sudarisman

Samaaa! Masih pingin datang ke Saung Udjo lagi, masih kurang 😃😃. Di Prime Park Hotel ini enak krn dekat, sekitar 5 menit aja pakai mobil dr Saung.

deddyhuang.com

aku suka kamar mandinya, pas lihat postingnya mas Bartian ada bathup yang kece..

Teguh Sudarisman

Oooh, iya bathtub-nya kece. Kayaknya berendem sehari semalam nggak mau keluar dari situ. 😀

Leave a Reply