Say It with Orchid
Mencari berbagai anggrek yang eksotik tak perlu jauh-jauh. Jakarta-lah tempatnya.
Meski terletak di pinggir jalan raya, sepertinya kompleks berpagar kawat ini sepi saja. Apalagi, bagian dalam masih dipagari tembok bata merah dan gapura bali, sehingga tidak kelihatan aktivitas di kavling-kavling penjual anggrek. Padahal kalau sedang ada pameran anggrek, katanya tempat ini ramai sekali. Tapi saya masuk saja, karena Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) ini satu-satunya tempat pengembangan dan pembudidayaan anggrek terpadu di Indonesia.
Di kiri-kanan saya kini ada kavling-kavling kios anggrek, dengan pemiliknya sedang menyiram dan memindah-mindahkan pot. Pandangan saya terantuk pada gedung Graha Puspa Pesona, yang ternyata bisa disewa untuk resepsi pernikahan, dan bisa menampung 1.200 orang. Di TAIP ini tak hanya ada 20 kios anggrek dan gedung resepsi ini saja. Di kompleks seluas 4,5 hektar ini juga ada tempat parkir, musala, showroom penjualan bibit dan kelengkapan berkebun, gedung pengelola, green house untuk menumbuhkan bibit, ruang kursus –masyarakat umum boleh ikut– dan laboratorium.
Di kios-kios inilah kita bisa menemukan berbagai jenis bunga anggrek yang indah, yang dijejer di meja-meja dari papan. Keanekaragaman warna bunganya terlihat mencolok dengan daunnya yang tebal dan hijau serta akarnya yang bersulur-sulur. Ada anggrek yang wangi, ada juga yang tidak berbau. Ada Anggrek Bulan yang berwarna putih, ada pula anggrek yang berwarna ungu dan juga kuning. Ada anggrek Kantong Semar, Anggrek Meksiko, Bulbophyllum, Phalaenopsis, yang diletakkan di tempat teduh di kios. Tapi ada juga yang diletakkan di bawah sinar matahari seperti Anggrek Macan yang setinggi 2 meter.
Menurut Eko, penjaga salah satu kios, anggrek-anggrek ini ada yang dari jenis lokal seperti anggrek jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, hingga anggrek papua. Tapi ada juga anggrek impor dan anggrek hibrida (hasil persilangan). Kita bisa membelinya untuk dipelihara di rumah. Harganya bervariasi mulai dari Rp 25.000 sampai Rp 300.000. Anggrek Macan yang tinggi tadi, ditawarkan dengan harga Rp 10 juta!
Ada juga kios lain yang mengkhususkan diri untuk pasar ekspor. Ada lho, kios yang setiap bulan bisa mengekspor 4.000 batang anggrek. Di kios nomor 11, Suharto Orchids, kita bisa menemukan juga anggrek-anggrek unik, seperti Anggrek Kantong Semar, Anggrek Pita dari Meksiko, dan puluhan anggrek lain yang unik, hasil persilangan. Karena banyaknya jenis anggrek silang baru, kadang mencari nama latinnya juga sulit. Anak dari Pak Suharto itu, meski sudah mengeluarkan 4 buku tentang anggrek, tak juga bisa menemukan nama keluarga dari anggrek yang saya tanyakan!
Kios My Orchids khusus menjual bibit-bibit anggrek. Di sini dijual mulai dari bibit yang ada di dalam botol dengan harga Rp 75.000-125.000, sampai bibit yang di pot-pot kecil. Kios seluas 500 meter persegi ini menjual hingga 20 ribu bibit anggrek, baik dari spesies asli maupun persilangan. Bibit-bibit itu didapatkan dari Malang, Bogor, Sukabumi, dan dari laboratorium TAIP.
Untuk menyilangkan, cukup mudah. Randy dari My Orchids menunjukkan caranya. Benang sari dari bunga yang akan menjadiinduk persilangan diambil. Lalu benang sari dari anggrek lainnya diambil, dan dimasukkan ke bunga induk ini. Sekitar 2 minggu, ketika tepung sari sudah terbentuk, anggrek induk ini dibawa ke laboratorium untuk ditumbuhkan dan diperbanyak menjadi bibit. Bibit inilah yang kemudian diletakkan di dalam botol-botol hingga bertunas. ”Tapi untuk melihat hasil persilangannya, kita mesti bersabar menunggu sampai 2 tahun, saat bunga itu mekar,” tutur Randy. Waduh, lama benar ya?
Dibanding bunga lain, anggrek memerlukan perawatan yang lebih khusus. Dari mulai media tanamnya yang khusus berupa lumut kering, arang, ataupun pakis –kadang mesti didatangkan dari Medan, bahkan diimpor dari Taiwan– hingga metode penyiraman, pemupukan, dan pengaturan suhu dan kelembaban. Karena itu di TAIP juga ada kios-kios maupun showroom yang khusus menjual semua pernak-pernik pembudidayaan anggrek ini. Secara berkala, TAIP juga mengadakan pameran, demo budidaya anggrek, kursus, sampai seminar dan talkshow. Mengaku pecinta anggrek? Harus ke sini! (T)
Mal, Klon dan Botol Saos
Cikal-bakal TAIP ini sebenarnya sudah ada sejak 1974, yakni di lokasi yang kemudian menjadi… Mal Taman Anggrek. TAIP lalu pindah ke kompleks TMII dan diresmikan pada 20 April 1993. Meski satu kompleks dengan TMII, TAIP dikelola oleh yayasan yang berbeda, yakni Yayasan Harapan Kita.
Di sini, selain warna-warni anggrek yang memanjakan mata, masih ada lagi hal yang lebih unik. Mintalah izin ke Kepala Lab, Budi Rustanto, untuk diantar melihat-lihat proses perbanyakan anggrek dengan teknik hibridisasi dan kultur jaringan – yang mirip proses kloning. Suasananya seperti masuk lab pertanian, dengan banyak sekali bibit anggrek hasil klon itu dijejer dan ditumpuk dalam rak-rak, semuanya ada di dalam, bukan labu erlenmeyer, tapi… dalam botol bekas saus kecap atau saus sambal!
”Misi kami melestarikan dan mengembangkan anggrek, dan juga menjaga agar biaya perbanyakan bibit itu tetap rendah. Jadi mengapa mesti pakai yang mahal, kalau yang murah saja tersedia melimpah?” jelas Pak Budi. Tentu saja, botol-botol itu sebelumnya sudah dibersihkan dan disterilisasi.
Taman Anggrek Indonesia Permai
Jl. Raya TMII (samping Tamini Square)
Pinang Ranti, Jakarta Timur 13560
Tel. 021-8404111, 8404141, Fax. 021-8404024

