Surga Baru di Sisi Barat Bromo

Bagi yang suka treking maupun berburu foto-foto keren, sisi barat Bromo adalah surga yang menanti untuk dijelajahi. Jangankan turis, petualang pun jarang yang ke sini.

Tulang pipi saya mendadak terasa membeku, dan saya mesti merapatkan lagi penutup kepala dan syal yang telah bergeser akibat terpaan angin dini hari dan juga guncangan motor yang disetiri Mas Suwik, yang melaju di jalan tanah berdebu. Seluruh badan saya tertutup rapat, hanya segaris mata saja yang tersisa untuk mencoba mengamati apa yang ada di sekeliling. Namun yang saya temui hanya gelap pekat dinding bukit di sisi kiri, dan rerimbunan pohon yang memagari jalan yang hanya cukup untuk satu sepeda motor ini dari jurang yang dalam di sisi kanan. Satu-satunya hiburan pemandangan hanyalah jalur jalan setapak di depan yang tersorot lampu sepeda motor, dengan debu-debunya yang sepertinya sudah beterbangan lebih dulu sebelum roda motor kami sampai. Tonggeret dan serangga-serangga malam lainnya masih ramai bernyanyi, seperti tak terusik oleh deru motor kami.

Jalan Belanda, dengan Gunung Batok yang membayang seperti lukisan di kejauhan.

Saya, yang membonceng Mas Suwik tak bisa membayangkan tiga motor lain di belakang kami yang berjalan berurutan, mengirup debu yang ditimbulkan motor kami. Sekarang memang bulan Juli, dan musim kering sepertinya hampir berada di puncaknya. Tapi sepertinya bagi mereka hal itu sudah biasa karena saya dengar mereka bermotor sambil bercakap-cakap.

Kami dalam perjalanan dari Desa Ngadas Kidul menuju Pertigaan Samad, di mana dari titik itu nanti kami akan melanjutkan dengan treking berjalan kaki, menyusuri pinggiran tebing patahan bukit di sisi barat Bromo. Yang akan treking empat orang, yaitu saya, teman saya Donny yang berasal dari Malang, serta Pak Mul dan Pak Kliwon. Keduanya warga desa Ngadas Kidul yang akan menjadi pemandu kami. Pak Mul dibonceng anak sulungnya, Danton, Pak Kliwon dibonceng Mas No, sedangkan Donny dibonceng Mas Mur. Sejak pukul 3 dini hari tadi mereka sudah berkumpul di dapur rumah Pak Mul untuk menghangatkan diri dan minum kopi, dan pukul 4 tepat kami pun bergerak.

Jalan tanah yang kami susuri ini oleh masyarakat Tengger yang mendiami kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru disebut sebagai ‘Jalan Belanda’. Jalan tanah yang relatif datar karena memotong pinggang gunung ini menjadi penghubung masyarakat dari Desa Mororejo yang ada di punggung Gunung Mungal (2.480 mdpl) di sisi  barat Gunung Bromo, dengan desa-desa di punggung Gunung Iderider (2.527 mdpl) seperti Desa Ngadas Kidul dan Desa Ranupani, di sisi selatan Gunung Bromo. Kalau harus melalui Penanjakan lalu turun ke Lautan Pasir akan lebih lama karena mereka harus memutar.

Selain penduduk lokal Kawasan Tengger, jarang sekali orang melalui Jalan Belanda ini.

Disebut Jalan Belanda karena dulu pemerintah kolonial Belanda bermaksud membuat perkebunan teh di daerah ini. Sama polanya seperti perkebunan teh di daerah Puncak, Jawa Barat, dengan jalan-jalan datar di dalamnya untuk memudahkan pengangkutan teh. Cuma saat itu sudah keburu terjadi Perang Dunia II, sehingga proyek itu tak terwujud. Jalur-jalur jalan tanah di ketinggian sekitar 2.300 mdpl yang sudah jadi itu pun terbengkalai, dan hanya penduduk lokal Tengger yang memanfaatkan jalur sepi ini sebagai jalan pintas. Setahun lalu saya pernah membonceng Pak Mul menyusuri jalan ini hingga ke Mororejo dan Wonokitri, dan memang, saat siang hari pun kami hanya berpapasan dengan dua pengendara sepeda motor lokal yang melintas. Tak ada para pesepeda ataupun klub motor trail yang lewat, apalagi rombongan turis. Sisanya hanya ada kabut, desau angin dingin, dan Gunung Batok serta asap kawah Bromo yang mengepul di kejauhan.

Sekarang kami mengulangi rute itu lagi, tapi hanya sampai di persimpangan yang disebut Pertigaan Samad. Dari situ kami akan memotret matahari terbit, dilanjutkan dengan treking menyusuri tepi patahan Gunung Mungal menuju jalan aspal Penanjakan yang ada di ujung barat laut.

Hampir satu jam bermotor, kami akhirnya sampai di pertigaan itu. Hari masih remang tanah, dan para driver dan pemandu kami memarkir motor dan asyik mengobrol sambil merokok, dengan tetap menyelimutkan sarung yang diikat di leher mereka untuk melawan dingin. Saya dan Donny menuruni bukit, mencari lokasi untuk menyiapkan kamera mengantisipasi terbitnya matahari. Di depan kami, sekitar 200 meter tegak lurus ke bawah, membentang lembah luas, tertutup seluruhnya oleh kabut putih yang menggenang layaknya kapas raksasa. Ujung lembah itu di kejauhan sana adalah bayangan Gunung Widodaren yang melengkung memanjang dari selatan lalu ke barat dan utara, menyambung ke Gunung Bromo yang puncak kawahnya mengepulkan asap kelabu tak henti-henti, dan berakhir dengan Gunung Batok yang berbentuk seperti kerucut terpotong.

Sunrise istimewa yang jarang orang bisa melihatnya dari titik ini.

Semburat oranye cahaya matahari yang membias dari belakang Gunung Batok akhirnya makin lama makin terang, dan sang surya yang kami tunggu-tunggu pun muncul sempurna dari gigiran utara gunung itu dengan warnanya yang keemasan. Perlahan cahaya terangnya mengusir genangan kabut yang ada di bawah kami.

Menurut saya, melihat sunrise dari titik kami ini lebih indah daripada kalau melihatnya dari Bukit Cinta di Penanjakan. Tapi tentu saja, kalau yang dicari efek bias cahaya mataharinya supaya bisa melihat Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru berderet ke belakang, di titik kami dan juga di Bukit Cinta Penanjakan tidak akan mendapatkannya. Orang mesti melihat dari Bukit Kasih -bergeser ke timur dari Bukit Cinta- atau lebih ke timur lagi ke Bukit King Kong atau Penanjakan I.

Para driver andal yang mengantar kami menyusuri Jalan Belanda.

Keempat pengemudi yang mengantar kami sudah pulang ke Ngadas Kidul, dan kini kami tinggal berempat. Saya, Donny, Pak Mul, dan Pak Kliwon. Kami sarapan dan ngopi dari bekal nasi bungkus yang dibuatkan Bu Mul tadi pagi, lalu bersiap-siap untuk treking. Bukit di utara kami dengan jalur treking berupa jalan setapak yang tertutup ilalang adalah tujuan pertama kami. Entah berapa bukit di pinggiran Gunung Mungal ini akan kami daki. Yang jelas medannya bakal naik-turun, tidak datar dan bisa pakai motor seperti Jalan Belanda tadi.

Tapi…

“Kayaknya saya salah bawa gear nih,” kata Donny, sambil menimbang-nimbang kamera DSLR besar di tangannya, dengan lensa telenya yang berwarna putih. Tripod dan tas kamera besar yang saya duga isinya peralatan lengkap memotret, seperti ragu-ragu hendak diangkatnya.

Ooh, saya tahu maksudnya. Pasti dia tidak akan mau -atau tidak mampu- treking menanjak yang entah akan berapa lama waktunya, dengan beban seberat itu di pundaknya! Hahaha!

Menanjak bukit pertama, dengan matahari seperti sudah di atas kepala.

Akhirnya kamera dan lensa itu dimasukkan ke dalam ranselnya, dan akan dibawa oleh Pak Kliwon. Sementara tripod dan juga kamera saya akan dibawa Pak Mul. Donny hanya membawa ponsel dan sebotol air, sementara saya hanya membawa kamera poket dan juga sebotol air. Kayaknya saya juga tidak akan memakai kamera DSLR lagi di trip ini. Selain berat, tadi saya lihat tas kamera yang saya geletakkan sewaktu memotret sunrise, ternyata sudah diselimuti lapisan debu. Waduh, pasti kamera saya juga sudah kemasukan debu nih, dan mesti dibawa ke tempat servis kamera setelah pulang nanti. Makanya saya akan memakai kamera poket saja. Kalaupun kemasukan debu ya, sudah nasib.

Mendaki bukit yang pertama ini rasanya seperti menyongsong matahari, karena kini matahari seperti di atas bukit. Sinarnya menerangi ilalang yang sebagian menguning dan sebagian meranggas, dan menyisakan garis hitam jalur treking yang sebagian tertutup ilalang setinggi lutut itu. Kami berjalan satu-satu dengan jarak yang agak berjauhan agar tidak mengirup debu yang beterbangan akibat langkah kami. Pak Kliwon paling depan, diikuti Donny, saya, dan Pak Mul. Tapi akhirnya seperti biasa, saya yang tercecer paling belakang, karena memang harus memfoto-foto, meski alasan yang lebih tepat sebenarnya adalah untuk meredakan nafas yang tersengal-sengal.

Selesai menanjak bukit pertama dikuti dengan menuruni bukit, naik bukit lagi, turun lagi. Tapi jalur trekingnya masih di tepi patahan bukit dengan lembah di kanan kami yang kini tanpa kabut lagi. Hanya aliran awan debu kelabu yang mengapung di atas kami, yang berasal dari asap kawah Bromo. Debu kelabu itu menghalangi pandangan kami ke arah Gunung Iderider di selatan sana, dan Gunung Semeru yang hanya terlihat puncaknya, jauh di belakang. Lembahnya sendiri kini seperti mozaik, dengan warna tanah bercampur hitam, abu-abu, dan kelokan jalur jalan berwarna putih, mengular dari ujung lembah di sepanjang kaki Gunung Widodaren hingga menghilang di balik tikungan menuju Gunung Batok. Sepertinya itu jalur jalan kaki atau jalur trek sepeda motor. Entah berapa puluh kali ukuran lapangan bola lembah itu, saking luasnya. Tapi kami tidak akan turun ke sana karena memang tujuan kami menyusuri tepian tebing sisi barat Bromo ini.

Debu asap Bromo menghalangi pandangan kami ke puncak Gunung Semeru.

Jalur treking yang kami lalui ini dipakai oleh penduduk kawasan Tengger untuk mencari rumput ataupun jamur, dan Pak Kliwon sudah bertahun-tahun menjelajahi kawasan ini, makanya beliau kami pilih sebagai pemandu. Pak Mul, yang mantan kepala desa Ngadas Kidul, lebih berperan sebagai logistik dan porter. Sebab meski beliau penduduk asli di sini, dia mengaku belum banyak menyusuri kawasan Taman Nasional ini. Tapi karena dia mulai bergerak di bidang pariwisata dengan menyewakan jip dan juga rumahnya sebagai homestay, mau tidak mau dia mesti ikut mengiringi tamunya. Pernah, dua tahun lalu, beliau juga menemani saya menyusuri bibir kawah Bromo hingga ke Lautan Pasir Atas, dengan dipandu tetangganya, Pak Puliono. Baru kemudian saya tahu bahwa itu juga pengalaman pertama Pak Mul ke Lautan Pasir Atas. Jangan-jangan, yang treking kali ini pun pengalaman pertamanya, hahaha!

“Treking ini nanti melewati Jurang Ndingklik, dan ujungnya di jalan aspal yang ke Penanjakan,” tutur Pak Kliwon. “Kalau jalan santai ya, mudah-mudahan pukul 12 kita sudah sampai di sana.”

Tanpa sadar saya mengelap peluh di kening. Pukul 12, berarti kami akan treking selama… 5 jam? Glek. Saya menelan ludah, dan membuka botol minum untuk meredakan haus.

Mas Donny dan Pak Mul yang lebih banyak saya foto. Bagaimana mungkin kami melewatkan kesempatan untuk selfie di tempat seperti ini?

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Meski harus banyak berhenti dan terengah-engah, kami sangat dimanjakan oleh keindahan lansekap pagi ini. Meski tanpa pohon-pohon tinggi, ditambah matahari yang cetar membahana tanpa penutup awan sepotong pun, namun angin dan udara dingin di ketinggian ini cukup meminimalkan keringat. Saat berada di puncak bukit, di sisi kiri kami bisa melihat puncak Gunung Arjuna dan deretan pegunungan di sekelilingnya, anggun di bawah langit biru. Saat menuruni bukit, maka padang rumput, ilalang kering, dan pohon-pohon pakis yang berselimut debu, membentang luas di depan, hingga bertemu dengan lembah, Gunung Bromo, Gunung Batok, dan punggung-punggung pegunungan yang perlahan menghilang ditelan kabut putih. Beberapa pohon edelweis saya temui, meski tak sebanyak seperti di lereng Gunung Batok yang pernah saya daki.

Kalau kamera poket hasil fotonya seperti ini, untuk apa bawa kamera DSLR yang berat?

Saya membayangkan, kawasan ini pasti surga buat para fotografer lansekap, fotografer prewedding, atau fotografer fashion yang memakai model. Dari tadi, memotret dengan kamera poket saja hasilnya membuat mulut menganga. Kalau tahu begini, tadi saya mestinya tidak perlu bawa kamera DSLR, pikir saya.

Menikmati lansekap keren Gunung Arjuna dari kejauhan.

Hari makin siang, dan di sebuah puncak bukit kami menjumpai sebuah makam, tak jauh dari patok penanda dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru berkode ‘BTS M4’. Entah makam siapa dan sejak kapan ada di sini, tapi menurut Pak Mul mungkin makam penduduk Desa Mororejo yang ingin dimakamkan di situ. Saat kami menuruni bukit, kami bertemu dua lelaki yang sedang ngarit, mencari rumput untuk pakan sapi. Mereka Mas Slamet dan Mas Karwo, dari Desa Mororejo. Masing-masing membawa motor butut yang sudah tidak karuan bentuknya. Saya heran, bagaimana cara mereka membawa rumput dengan motor itu naik-turun bukit di jalan setapak? Kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan.

Patok dari Taman Nasional. Mereka sudah lebih dulu ke sini, hahaha!

Kami mendaki bukit lagi, lalu menuruni bukit yang cukup curam, diikuti menanjak bukit sesudahnya yang nyaris vertikal. Ini rupanya yang disebut Jurang Ndingklik. Mudah-mudahan ini bukit terakhir yang kami daki.

Dalam kondisi apapun, alur-alur Gunung Bromo selalu indah untuk difoto.

Menyusuri jalur datar, kami menemukan sebuah rangka bangunan yang terbengkalai. Mungkin bekas sebuah saung atau gardu pandang, karena dari sini pemandangan indah langsung mengarah ke Gunung Batok. Beberapa menit dari situ, di sebuah tikungan datar kami menemukan tugu sesajian, yang berselimut kain putih dan kuning. Di sebuah ceruk tanah di sampingnya, ada sesajian berupa kembang tujuh rupa, satu badan utuh ayam bakar (glek!), serta beberapa sisir pisang ranum. Orang Suku Tengger yang umumnya beragama Buda Jawa -mirip dengan Hindu Bali- menamakan tempat sesajian ini padmasari, dan ada di beberapa sudut kawasan Tengger ini.  Saya pernah melihatnya ada di puncak Gunung Batok dan di pintu masuk jalur pendakian Gunung Widodaren.

Jurang Ndingklik, yang diikuti dengan menanjak bukit terjal.

Pak Mul berdoa sebentar di sini, sementara saya mengambil dua buah pisang untuk mengganjal perut. Kita memang boleh memakan sesajian itu, asal secukupnya saja dan sebelumnya ‘meminta izin’ kepada yang ‘menunggu’ tempat itu.

Saya meneruskan perjalanan sambil makan pisang dan memutar lagu-lagu house music dari ponsel, agar sedikit melupakan kaki yang sudah gempor dan sakit-sakit di ujung jarinya. Hingga tiba-tiba…

Di balik gerumbul pohon cantigi yang posisinya di atas jalur treking, saya mendengar suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Saya menguatkan langkah, menyibak gerumbul pepohonan itu, dan… aha! Saya melihat Pak Mul sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita yang tengah duduk di besi pembatas jalan, di sisi sebuah jalan aspal! Di belakang wanita itu, tampak Gunung Batok di bawah sana, dengan Lautan Pasir di sekelilingnya.

Alhamdulillah, berarti treking kami sudah atau hampir selesai, karena kami telah sampai di jalan aspal yang menuju Penanjakan. Turis-turis yang ingin melihat sunrise Bromo dan memakai jip selalu lewat jalur ini. Tapi karena sekarang sudah pukul… 11.30, dan juga jalan aspal di bagian bawah ada yang longsor, hanya motor saja yang bisa lewat jalur ini. Wanita tadi tengah menunggu suami dan anaknya yang akan menjemput.

Tumben Pak Kliwon mau difoto-foto dekat Padmasari.

Pak Mul sudah mengontak Danton untuk menjemput kami dengan jip, dan ternyata Danton sudah menunggu kami di Lautan Pasir, di dekat tempat parkir dan penyewaan kuda.

“Saya dan Pak Kliwon akan jalan kaki ke sana. Pak Teguh dan Mas Donny sebaiknya naik ojek saja, soalnya jauh,” saran Pak Mul.

Akhirnya ketemu jalan aspal!

“Iya Pak, kami naik ojek saja,” jawab saya dengan cepat. Tadi saya mencoba berjalan kaki di jalan aspal yang menurun pun ternyata capek sekali. Bisa-bisa nanti saya tersungkur karena lutut sudah tidak punya tenaga lagi. Belum ditambah menyusuri Lautan Pasir sejauh kira-kira dua kilometer, dengan matahari di atas kepala. Bisa-bisa saya pingsan, hahaha! Saya dan Donny pun menyewa dua ojek, masing-masing membayar Rp 50.000 untuk diantar ke tempat parkir jip.

Akhirnya, sembari menunggu Pak Mul dan Pak Kliwon, saya dan Donny kini bisa meluruskan kaki sambil ngopi di tempat parkir ini, meski itu tak lama. Mendadak saja datang badai pasir dan saya pun sia-sia menutup gelas kopi saya, hahaha!

Kuda, jip, dan kopi yang tercampur badai pasir.

Pak Mul dan Pak Kliwon datang berjalan kaki dengan wanita tadi, yang kini bersama anak perempuan dan suaminya, yang mendorong motor. Ternyata motornya mogok, padahal mereka mau ke Ranupani, yang masih satu jalur dengan arah kami pulang, ke Ngadas Kidul. Ibu dan anak itu pun ikut jip kami, sementara sang suami akan mencari bantuan di sini, siapa tahu ada yang bisa memperbaiki motornya.

Jip pun perlahan melaju, meninggalkan kepulan debu kemarau bulan Juli, yang makin lama makin mengaburkan pandangan kami ke pegunungan di barat sana yang tadi baru kami susuri…. [T]

 

Boks:
Menjelajah Bromo dari Ngadas Kidul

Pak Mulyadi, pemandu langganan saya menjelajah kawasan TNBTS.

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) bisa dicapai melalui Surabaya atau Malang. Saya lebih suka lewat Malang karena lebih dekat dan lebih cepat, serta banyak destinasi lain seperti candi, kebun apel, dan beberapa air terjun, yang bisa disinggahi di rute Malang-Ngadas Kidul ini. Desa Ngadas Kidul ini terletak di sisi  selatan Gunung Bromo, dengan pemandangan lepas ke arah Gunung Semeru. Belum ada hotel atau penginapan di sini, jadi pilihannya adalah menginap di rumah penduduk, misalnya di rumah Pak Mulyadi. Selain menyediakan kamar-kamar untuk menginap, keluarga beliau juga menyediakan makan, mempunyai jip dan motor yang bisa disewa untuk menjelajah kawasan TNBTS, dan juga menjadi pemandu.

Untuk tarif menginap termasuk makan, juga tarif sewa jip, semuanya bisa dinegosiasikan. Biaya transportasi memang cukup mahal di kawasan ini. Dengan berwisata secara berombongan -misalnya 5 orang yang cukup untuk 1 jip- biaya traveling akan lebih murah. Pak Mulyadi dan putranya sangat berpengalaman sebagai pemandu dan bisa memberikan saran itinerary untuk menyesuaikan dengan keinginan dan lama waktu kunjungan. Kontak beliau melalui nomor 0812-3024-2304 atau 0812-4994-3394.

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.

42 comments

deddyhuang.com

istimewa sekali ya mas Teg ke Bromo. Aku suka mengejar sunrise semacam ada spirit baru dalam memaknai kehidupan.

Tak ku sangka kamu doyan music house 😀

Teguh Sudarisman

Kalau lagi ngetrek atau naik gunung memang sukanya denger musik-musiknya Inna, Ace of Base, DJ Sammy gitu-gitu Mas. 😀

Emakmbolang

Beberapa kali ke bromo, sering camp juga di sekitaran gunung batok. Pernah juga touring motoran dari bromo ke Ranu pane tapi masih penasaran sama jalur Belanda in. Apa ini Jalur ngadas yang tembus ke Malang itu ya…???

Teguh Sudarisman

Kalau yg Ngadas tembus ke Malang sih jalan aspal besar yang juga dipakai orang-orang yang mau mendaki Semeru. Yg Jalan Belanda ini dari Ngadas tembus ke Mororejo. Mesti lihat Google Earth. 😅

widi achmad gozali

indahnya..
Kang, saya ingin perjalanan seperti itu, dari jakarta ke malang ya, trus bagusnya naik trvel dari bawah apa jurusan tengger dulu? any ide?

Teguh Sudarisman

Dari Malang jarang angkot ke Ngadas, kecuali angkutan sayur ke Ngadas atau Ranupani (itu jalur yang sama juga yang dipakai untuk mendaki Semeru). Kalau rombongan, lebih baik kontak Pak Mul yang di artikel itu untuk antarjemput Malang-Ngadas dan juga eksplor Bromo.

Sip nuhun kang, kalo saya mungkin seneng jalan menyendiri, paling ditemani pemandu. Sambil menghayati alam untuk lebih banyak bersyukur.
Nuhun pisan kang. Nanti coba kontak langsung ke Pak Mul 🙏🙏

Teguh Sudarisman

Siapp. Selamat menjelajah dan menghayati alam. 🙂

artikel traveling

wah emang enak nih yang jalur ini.. lagi banyak juga di bahas di youtube hehehe. Mau mampir ahh nanti ke sana

Teguh Sudarisman

Siapp. Jangan lupa minta bantuan pemandu lokal Mas. Misal Pak Mul yang ada di artikel itu.

endang cippy

Selama treking habis berapa botol air?

Teguh Sudarisman

Mungkin sekitar 2 liter.

endang cippy

Terima kasih infonya. 😊🙏
Aku suka foto-fotonya 😍😍😍😍

Teguh Sudarisman

Hatur nuhun sudah mampir & beri komentar. Please share ke teman yang suka bertualang. Thanks.

endang cippy

Artikelnya sudah di share 🙆. Kali aja
teman-teman mainku mau lewat jalur ini.
Aku nunggu di culik sama mereka 😄😆

Teguh Sudarisman

Hahay siiipp. Thanks!

Aih sayah belum eksplor Bromo seperti ini. Semoga suatu hari bisa nyusuri jejak ini

Teguh Sudarisman

Siapin fisik sama smartphone aja Mas dah cukup buat foto-foto. Dah keren dari sononya soalnya tinggal jepret aja. 😃

Enche Tjin

Keren! Selalu mencari tempat baru yg menarik 🙂 Jadi ingin mencoba jalur trekingnya mas Teguh.

Teguh Sudarisman

Cukup bawa mirrorless atau smartphone aja Mas. Jangan kayak teman saya bawa satu backpack full gear. Akhirnya cuma minta dibawain sama pemandunya. 😅😅😅

Ahh Bromo… bucket list aku yang belum kesampaian dari tahun kapan :))
Dulu rencana ke Bromo pas nikah. Udah punya anak tetep gak jadi2. Kalah banget aku sama turis2 mancanegara yang udah berkali2 😀

Teguh Sudarisman

Belum sekalipun?? Ter-la-lu. Aku udah 5 kaliiii! 😅😅😅

Alhamdulillaahi
bisa ikuti alur ceritanya
seakan ikut wisata
thank’s mas Teguh

Teguh Sudarisman

Trekingnya relatif lebih ringan daripada ndaki Gunung Batok. Mau nyoba Mas?

Rina susanti

keren angle2 foto2nya….layak juara

Teguh Sudarisman

Thanks pujiannya yang bikin klepek-klepek, Mbak Rina Susanti. ❤

Setelah baca artikel ini, memang betul aku harus mengulang Bromo. Foto gunungnya itu seperti berada di negeri entah di mana…

Teguh Sudarisman

Hihihi iya. Aku aja pingin ke sini lagi mengulangi foto-foto dan bikin video. 😅😅

Menikmati sekali foto dan ceritanya, terharu, lewat penuturan mas teguh, gunung bromo jadi semakin indah *peluk gunung bromo

Teguh Sudarisman

Peluk yang nuliiiss! Ehh.. 😅😅

Selamat ya Mas Teguh atas kemenangannya. Keren tulisannya, cuma utk Bromo…sy ikut jalur turis kebanyakan aja deh 😀

Teguh Sudarisman

Thanks Indri. Awal-awalnya ya ikuti jalur turis. Yang kedua dan seterusnya tambah penasaran untuk eksplor sisi Bromo yang lainnya. Begitu seterusnya sampai aku ke situ 5 kali. 😅😅

Annie Nugraha

Keren banget Mas Teguh. Takjub sama foto2 dan kisah perjalanannya.

Trekking 5jam? Aaeehh kalo saya mending pulang aja dah hihihi #manjakumat

Congratz ya Mas. Tulisan ini sdh menginspirasi. Walau entah kapan saya berani berpetualang spt ini. 10 jempol buat MasTeg

Teguh Sudarisman

Iya 5 jam sampai lutut kopong wkwkwkwkwk! Tapi kayaknya kalo trekking sambil diiringi lagu Skyscraper-nya Demi Lovato (yang pas kudengerin sambil balas komen ini) kayaknya pas deh, ngetrek sambil menghayati lagunya wkwkwkwk!

Aku bisa ikut larut dalam pengalaman Mas Teguh pas baca artikel ini dari awal sampai akhir dan pengen banget nyoba jalur trekking yang ini. Duh,, ngumpulin temen share biaya jip dulu nih

Teguh Sudarisman

Iya, asyiknya ke Bromo berempat atau berlima biar sewa jipnya murah dan bisa gantian motoin. 😅😅

Syaifuddin sayuti

Jadi kangen trekking lagi. Tulisanmu jadi racun mas. Jadi kepengen.

Selamat ya sudah jadi jawara. Tulisanmu Memang pantas menang.

Teguh Sudarisman

Yakin Mas masih kuat treking 5 jam hahaha! Bisa dhing Mas, nggak kayak naik gunung koq.

Dengan Blog seperti ini, memang layak untuk mendapatkan Juara Pertama untuk Kategori Blogger di ‘Anugerah Pewarta Wisata 2017’

Boleh dong aku ikut bangga punya temen kayak kamu …. co cuiiit

Kapan dirayakan di BANDUNG

Ajak aku kapanpun kalau jalan lagi
walaupun aku belum tentu mampu untuk mendampingi
karena levelmu terlalu tinggi

Teguh Sudarisman

Tumben kamu bisa nulis puitis melankolis kinyis-kinyis gitu Den 😅😅. Tanggal 25 Nov lalu ke Bandung tapi nggak ke mana-mana karena hujan terus. Awal Januari mungkin ke Bandung lagi.

Fardelyn Hacky

Fotonya bagus-baguuuuus… diambil pakai kamera apa tu Mas Teguh?

Teguh Sudarisman

Pakai kamera poket Canon Ixus 200 IS aja. DSLRnya dimasukkan tas aja karena banyak debu.

Leave a Reply