Surviving Sundoro

Tertatih-tatih mendaki Gunung Sundoro di malam hari, sampai puncak 12 jam kemudian.

Saya bukanlah pendaki gunung, meski sudah pernah sampai ke puncak Gunung Krakatau dan Gunung Bromo. Buat saya, gunung itu terlalu tinggi dan terlalu berat untuk didaki, apalagi oleh fisik saya yang kecil. Namun melihat dua gunung, Sundoro dan Sumbing, berjejer begitu dekat di sisi kiri jalan yang kami lalui dari kota kecil Parakan, Temanggung, saya mendadak ingin naik gunung lagi.

“Beberapa bulan lalu Laboca pernah mendaki Sundoro memakai sepeda, sukses sampai ke puncak. Beritanya masuk koran dan televisi,” kata Umar, teman yang mengantar saya dan Arif ke Temanggung ini untuk meliput panen tembakau. Laboca adalah klub bersepeda yang Umar ketuai, di Borobudur, Kabupaten Magelang.

Saya tersentak. Mendaki gunung setinggi 3.138 meter dengan bersepeda, bagaimana caranya? Dikayuh dari bawah sampai ke puncak? “Oh, tidak,” Umar tertawa. “Waktu mendaki ya sepeda dipanggul. Baru saat turun, sepeda dinaiki.”

Wah, orang ‘gila’ mana yang mau melakukan hal seperti itu? Membawa kamera saja repot, apalagi memanggul sepeda! Tapi memang akhirnya 7 dari 21 orang yang bersepeda itu sampai ke puncak Sundoro dan turun lagi, meski Umar sendiri termasuk dalam kelompok yang tak sampai ke puncak. Hmm, kalau orang bisa naik gunung sambil membawa sepeda, tentu medan pendakian itu tidak begitu sulit, pikir saya.

Umar kemudian menyarankan kami untuk mendaki dari Desa Sigedang, di lembah sisi barat Gunung Sundoro. Sisi ini tampak lebih landai kemiringannya dibanding sisi lainnya. Sigedang juga sudah berada di ketinggian sekitar 1.700 m, jadi sudah ‘separuh jalan’. Jalur pendakian dari selatan yang lebih umum, yakni Kledung Pass, tepat di tengah lembah antara Sundoro-Sumbing, malah lebih rendah, sekitar 1.335 m.

Umar memberi tahu nama juru kunci Gunung Sundoro yang ada di Sigedang, kepada siapa kami perlu minta izin dan mencari pemandu pendakian. Sore hari, saya dan Arif diantar ke Sigedang oleh Pak Bukhori dan Pak Budi memakai sepeda motor. Letak desanya di punggungan gunung di sisi barat Sundoro, di pertemuan dengan Gunung Butak. Desa ini sudah masuk wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Pak Amin, sang juru kunci, adalah lelaki berperawakan kecil berusia sekitar 50 tahun. Ia pria Jawa yang mengerti betul tentang Sundoro, hingga ke sisi-sisi mistisnya.

“Sumbing dan Sundoro itu gunung kembar, kakak-beradik. Yang Sumbing itu lelaki dan sang kakak, sementara Sundoro itu perempuan, sang adik,” tuturnya serius. Menurutnya, nama yang benar adalah Sundoro, bukan Sindoro. Sun itu artinya ‘kesenangan’, sedangkan ndoro artinya ‘orang besar’. Jadi Sundoro artinya tempat bagi orang-orang yang senang menjadi orang besar. Makanya gunung ini sering menjadi tempat orang bertapa. Dan setiap malam 1 Syura atau tahun baru Islam, ribuan orang mendaki Sundoro untuk berdoa dan memohon berkah.

Pak Amin menasihati, kalau mendaki Sundoro, jangan pernah mengeluh, karena nanti akan dipanjangkan rutenya dan makin lama sampai di puncak. Kalau menemui binatang apapun selama pendakian, jangan diganggu. “Kalau mendengar suara aum harimau, jangan panik atau lari! Sebab itu sebenarnya suara dari gua tempat orang bertapa. Tidak semua pendaki bisa mendengar aum atau melihat orang yang bertapa. Hanya orang tertentu saja.” Kami, tentu saja memperhatikan betul apa yang beliau ucapkan, karena kami juga ingin menghormati kepercayaan masyarakat setempat dan tidak ingin celaka.

Sayang sekali, Pak Amin tidak mau menjadi pemandu kami, untuk pendakian yang rencananya kami lakukan besok malam. Arif, yang pernah mencapai puncak Gunung Semeru, menyarankan saya untuk mendaki malam hari karena menurutnya tidak panas, jadi kami tidak cepat capai dan haus. Setelah kami bujuk-bujuk, akhirnya Pak Amin mengizinkan putranya, Adi, menjadi pemandu kami.

Adi adalah seorang bapak muda yang baru berumur 22 tahun, hampir separuh usia saya. Sewaktu masih bersekolah di Wonosobo, karena kehabisan uang saku, akhirnya ia mendaki Sundoro dari Kledung Pass, lalu turun ke Sigedang. Waktu yang dibutuhkan? “Naik 4 jam, turun 3 jam,” senyumnya bangga. Namun yang lebih gila lagi adalah cerita Adi tentang seorang temannya yang mendaki Sundoro dari Kledung Pass dan turun ke Sigedang dengan mengendarai… sepeda motor! “Tentu saja setelah turun, motornya jadi berantakan, hahaha!”

Besok paginya saya dan Arif membeli penutup kepala serta jerigen plastik untuk diisi air, karena di rute pendakian nanti tidak ada sumber air. Jam 6 petang, kami sudah duduk lagi di rumah Pak Amin, menunggu jam pemberangkatan, jam 10 malam. Karena saya bukan pendaki, Adi akan memilih cara mendaki yang ‘sangat santai sekali’, dan jam 10 diambil dengan perhitungan dalam 8 jam kami sudah mencapai puncak dan melihat sunrise.

Kebetulan, di rumah Pak Amin ada rombongan pendaki dari Karawang yang baru saja turun dari Sundoro. Terdiri dari 5 orang anak muda yang sebelum mendaki Sundoro sudah terlebih dahulu mendaki Sumbing, untuk naik Sundoro mereka perlu waktu 6 jam dan turun 3 jam. Saya pun menghibur diri,  bahwa saya pasti bisa sampai puncak. Kalaupun perlu waktu 8 jam untuk naik dan 5 jam untuk turun, itu sudah sangat bagus.

Lupa Kompor

Tanpa banyak persiapan, saya, Arif, dan Adi berangkat begitu waktu menunjuk pukul 10 malam. Saya hanya membawa backpack berisi kamera, sebotol air, serta jaket hujan. Arif hampir sama, minus jaket hujan. Adi-lah yang membawa dua jerigen berisi 10 liter air, beberapa macam camilan, mi instan, serta kopi.

Melewati jalan desa, lalu jalan utama yang beraspal, langit gelap tanpa bulan, namun cukup cerah karena terlihat bintang di langit. Udara yang dingin menjadi tidak begitu terasa karena kami berjalan. Namun jalan yang menanjak kemudian menghentikan langkah saya untuk istirahat dulu mengatur nafas. Adi, yang hanya memakai sandal jepit, hanya tertawa.

Kami mengambil jalan pintas dan kini memasuki kebun teh. Headlamp saya nyalakan, dan baru kemudian kelihatan debu beterbangan dari jalan setapak yang dilewati Adi, sehingga saya mesti menutup hidung.

Kami akhirnya sampai ke Pos I, di dalam kebun teh, sebuah bangunan beratap yang cukup luas, berlantai semen. Saya mengatur napas, sambil melihat lampu-lampu rumah di Desa Sigedang sana. Kami kemudian sampai ke Pos II, yang juga masih di dalam perkebunan teh, berupa bangunan tanpa atap. Lalu Pos III, juga masih di kebun teh. Kali ini posnya agak besar, seperti gudang, dan beratap. Untuk sampai ke pos ini bagi saya sebenarnya bukan hal yang mudah. Dari tadi saya sudah berhenti beberapa kali. Tidak saya kira, ternyata baru sampai sini saja sudah capek. Sempat terpikir, saya akan sampai di pos ini saja, biarlah Adi dan Arif yang melanjutkan pendakian. Tapi kok rasanya malu.

Berjalan kembali, kebun teh kini sudah berganti menjadi padang alang-alang. Jalan menaik, tapi masih cukup landai. Lampu-lampu di desa yang ada di sisi barat, di Dataran Tinggi Dieng, memberi hiburan tersendiri. Tadi kami melihat hanya satu kelompok lampu saja. Semakin berjalan naik, desa-desa yang kami lihat semakin banyak. Ada satu desa yang posisinya tinggi sekali. Kami masih harus mengangkat kepala untuk melihat lampu-lampunya.

Kami sampai di Pos IV, berupa bangunan berdinding anyaman bambu, beratap rumbia, dan berlantai tanah. Kata Adi, ini pos terakhir, dan setelah ini jalan mulai menanjak. Kami beristirahat sebentar, menyalakan api dari kayu-kayu sisa, dan membuka bekal. Saat itulah kemudian Adi sadar kalau ia lupa membawa panci dan kompor parafin! Berarti tidak akan ada sarapan mi instan dan kopi panas besok pagi….

Sudah dua jam dari kami berangkat, namun kata Adi ini baru seperempat perjalanan. Jadi kami berjalan lagi, dan saya makin sering berhenti untuk mengambil nafas. Di sekeliling jalan setapak yang kami lalui hanya ada ilalang setinggi paha, serta satu-dua pohon yang cukup besar dan tinggi. Tampaknya pohon-pohon tinggi ini dibiarkan sebagai penanda jalan. Lainnya berupa pokok kayu dan batang pohon-pohon yang sudah mati akibat ditebangi. Kalau mendaki siang hari pasti panas, karena tidak ada tempat untuk bernaung.

Kami melewati sederetan pohon di kanan kami, yang daun-daunnya seperti punya lapisan bulu. Ketika lampu kami menyorotnya, ternyata di atas daun-daun salah satu pohon itu terdapat banyak sekali belalang kecil namun panjang, seukuran batang korek api, yang sedang kawin. Kami heran sekali, karena proses kawin itu hanya terjadi di salah satu pohon, dan tak hanya dilakukan sepasang belalang, melainkan puluhan pasang. Teringat kata Pak Amin untuk tidak mengganggu apapun, kami hanya dua kali saja mengambil gambar, lalu meneruskan pendakian.

Desa di Dieng yang kelihatan tinggi tadi, lama-lama kelihatan makin rendah, dan kini tampak sama tingginya dengan tempat kami berdiri. Untunglah, cuaca kali ini cukup bersahabat. Menurut Adi, kadang terjadi angin dan hujan badai di Sundoro ini. “Satu-satunya cara kalau itu terjadi, kita mesti berlindung di ceruk-ceruk tanah.”

Sunrise di Lereng

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 4 pagi, dan menurut Adi, kami baru mencapai separuh jalan. “Tampaknya kita tak akan bisa menikmati sunrise di puncak.” Okelah, tidak apa-apa, pikir saya. Tadi saya sudah hampir menyerah, tapi toh akhirnya sampai ke sini juga. Yang penting sampai ke puncak, tapi tak perlu harus saat sunrise.

Rasa kantuk membuat saya memutuskan untuk istirahat. Adi mencari tempat yang agak datar, menutupinya dengan rumput-rumput kering, lalu menggelar sarung di atasnya untuk alas tidur. Sebagai selimut, sleeping bag Arif kami pakai untuk bertiga, tidur berimpitan. Saya langsung pulas.

Entah sudah berapa lama saya tidur, tiba-tiba Adi membangunkan saya. “Mau lihat sunrise?” Oh, tentu saja! Ternyata sekarang jam 5.30, atau sebenarnya saya baru tidur satu setengah jam! Hari sudah terang tanah, dan semburat matahari merah tampak di sisi timur laut kami. Jadi sudah pasti kami tak bisa mengejar sunrise dari puncak gunung. Melihat matahari merah perlahan-lahan muncul dari samping Gunung Ungaran di kejauhan sana, sudah cukup membuat hati senang. Mungkin itu sebabnya orang mau mendaki gunung. Sunrise dari ketinggian ternyata berbeda dengan jika melihatnya dari pantai atau dataran rendah.

Bias sinar matahari akhirnya menerangi juga desa-desa berkabut di Dataran Tinggi Dieng, dan kami mulai bisa melihat jelas Gunung Rogojembangan di kejauhan, yang bentuknya menyerupai bangunan Candi Borobudur. Kami sarapan seadanya, dan begitu mendengar raung sirine pabrik teh di bawah sana, sebagai penanda pukul 6.30 pagi, kami meneruskan pendakian. Saya meninggalkan tas dan isinya, dan hanya membawa kamera saja. Satu jerigen air juga ditinggalkan, untuk meringankan beban.

Jalur pendakian kini berganti menjadi tanah yang berbatu-batu, dan makin menanjak. Mungkin dulu jalur ini merupakan aliran sungai. Pohon-pohon menyerupai lamtoro berjejer di kiri-kanan. Yang disayangkan, terlihat juga bekas-bekas pohon ditebang, yang menunjukkan bahwa para pencari kayu sampai juga ke tempat setinggi ini.

Di atas kami ada tonjolan bukit mengarah ke utara yang berbentuk seperti hidung. Itu, kata Adi, dinamakan Cungur Petruk (hidung Petruk), mengacu pada nama seorang abdi yang berhidung panjang dalam epik Bharatayuda. “Kalau kita sudah melewati itu, berarti kita sudah mendekati puncak.”

Sudah terengah-engah mendaki, dan akhirnya Cungur Petruk kini di sisi kiri-bawah kami, tanda-tanda puncak gunung belum terlihat juga. Setiap kali saya bertanya, “Masih jauh?”, Adi menjawab, “Sebentar lagi. Itu, di atas puncak pepohonan.” Kemudian saya tahu, ternyata Adi hanya menghibur saya. Sebab logikanya, karena gunung itu ketika ke atas makin mengerucut, maka saat mendaki, kita tidak akan bisa melihat bagian puncaknya, kecuali kita sudah sampai di puncak! Saat masih di tengah perjalanan, yang terlihat hanya langit di atas pepohonan, dan itu yang dibilang Adi sebagai puncaknya.

Pasar Setan

Matahari mulai terasa hangat, ketika akhirnya kami sampai ke sebuah batu besar, yang menurut Adi sebagai ‘batu penanda’ kami hampir mencapai puncak. Awan-awan putih tampak di bawah tempat kami berdiri. Kali ini mungkin ia benar, karena di sekeliling kami hanya ada rumput ilalang, dan tanaman edelweiss yang berbunga hijau kekuningan dan berbau harum.

Tanaman edelweiss makin banyak kami temui, dan saya makin bersemangat, meski saya akhirnya baru sampai di sebuah dataran rata satu jam kemudian. Inilah tempat yang disebut Pasar Setan. Disebut demikian, karena di malam tertentu, jika pendaki sampai ke sini malam hari, seringkali terdengar bunyi ramai seperti orang sedang bertransaksi di pasar, meski tidak tampak satu orang pun. Itu sebabnya masyarakat lokal menganggap, yang sedang bertransaksi adalah para setan.

“Tapi,” kata Adi, “di saat malam 1 Syura, tempat ini berubah menjadi pasar manusia, karena banyak peziarah datang ke sini untuk berdoa dan mencari berkah. Para pedagang kaki lima juga berjualan sampai ke sini, mencari rezeki dari orang-orang yang berdoa!” Saya hampir saja tertawa, kalau tak ingat bahwa bagi sebagian orang, bisa saja tempat ini dianggap sakral.

Di Pasar Setan terdapat tiga patok batu tempat sesajian, yang ada di sisi barat, tenggara, serta utara. Juga ada tempat pemancangan bendera, yang biasa dipakai para pendaki untuk upacara memperungati hari kemerdekaan 17 Agustus di sini. Tapi sekarang tiang benderanya tidak ada. “Terus, di mana puncak Sundoro?” tanya saya.

“Ya ini, puncaknya!” teriak Adi. “Kawahnya di depan sana, di balik gerumbul pohon-pohon itu!” Saya melihat jam, ternyata sudah jam 10 pagi. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!

Cuaca mendung, sehingga pandangan ke semua arah kurang begitu baik. Kalau cerah, di sebelah utara kita bisa melihat laut Jawa, di sebelah timur Gunung Merapi dan Merbabu, di sisi tenggara Gunung Sumbing, dan di sisi barat Gunung Slamet. Namun ini tak mengurangi kegembiraan saya. Saya berlari melewati padang kecil rumput kering, melewati banyak pohon bunga edelweiss di kiri-kanan, dan sampai di gerumbul pepohonan di depan. Kawah Sundoro membentang di bawah, berupa cekungan sedalam kira-kira 100 meter dan membentuk lubang memanjang dari barat laut ke tenggara. Di dasar kawah yang tidak aktif ini terlihat tanah lapang, yang saat musim kering dipakai pendaki untuk berkemah atau bermain bola. Saat musim hujan, kawah ini berubah menjadi danau.

Kami tidak turun ke dasar kawah karena mendung mulai menebal. Sebentar lagi pasti hujan, pikir saya, jadi kami mesti cepat-cepat turun dari puncak. Lagipula, kami tidak menemukan rombongan pendaki lain, meski ini hari minggu. Ataukah mereka sampai puncak lebih dulu, dan sudah turun?

Meski sempat heran pada diri sendiri begitu melihat jalur turun yang seperti nyaris vertikal, kami tak sempat berpikir lagi, karena kabut tebal mulai bergerak ke arah kami. Ditambah lagi, jam 7 petang nanti saya dan Arif harus sudah sampai di Bandara Adisucipto Jogjakarta untuk kembali ke Jakarta. Kota Temanggung yang menjadi base camp kami berjarak 3 jam perjalanan dari Jogja, ditambah perjalanan dari Desa Sigedang sekitar 1 jam, jadi kami harus sudah sampai di titik awal pendakian maksimal jam 3 sore. Dengan kata lain, kami hanya punya waktu 5 jam untuk turun gunung. Kalau tidak, kami akan ketinggalan pesawat!

Beberapa kali saya dan Arif jatuh terduduk akibat terpeleset saat menginjak tanah berdebu di atas batu yang kami injak, tapi kami terus berjalan karena kabut tebal yang menyelimuti kami berubah menjadi gerimis. Kami juga harus menemukan kembali tas yang kami tinggal di tempat kami tidur. Untungnya, dengan instingnya yang kuat sebagai orang gunung, Adi berhasil menemukannya kembali. Gerimis dan kabut tebal kemudian menjadi hujan lebat, dan Arif basah kuyup karena ia tidak membawa jaket hujan. Ditambah lagi karena tidak makan nasi sejak tadi malam, Arif tampak lemas dan kuyu. Namun kami harus terus berjalan, di perjalanan turun yang ternyata seperti tak habis-habisnya. Saya sendiri heran, mengapa saya bisa berjalan sampai sejauh ini.

Melewati Pos IV, kami mendengar suara azan dari masjid di desa bawah, pertanda hampir mendekati jam 3. Kalau diteruskan berjalan sampai rumah Pak Amin, pasti kami akan kehabisan waktu. Arif pun mengontak Pak Bukhori dan Pak Budi untuk menjemput kami di Pos III. Untunglah, keduanya sudah standby di rumah Pak Amin, dan mereka langsung bergerak dengan motornya.

Kami akhirnya sampai kembali ke kebun teh, dan begitu bayangan Pos III tampak di kejauhan, kami pun semakin mempercepat langkah. Selamat tinggal, Sundoro!

Posted by Teguh Sudarisman

- Travelblog ini berisi cerita-cerita perjalanan Teguh Sudarisman. Artikel-artikel dalam blog ini sudah dimuat di berbagai media seperti Garuda, JalanJalan, femina, Pesona, CitaCinta, Liburan, escape!, Area, TravelXpose, LionMag, Batik Air, Kalstar, dan sebagainya. Sebagian telah diterbitkan menjadi buku 'Travel Writer Diaries 1.0'. Artikel dan foto dalam blog ini dilindungi Hak Cipta. Dilarang mengambil atau mengutip sebagian atau seluruh isi blog ini tanpa izin tertulis dari Penulis.